LOGINPintu kamar terbuka pelan.Aroma sabun dan udara dingin seketika ikut masuk bersama langkah Satria.Rambut pria itu masih sedikit basah.Kaos hitam membalut tubuh atletisnya yang baru selesai mandi.Sementara handuk kecil masih tersampir di bahunya.Kaluna yang sejak tadi berbaring sambil scroll media sosial refleks mendongak.Matanya berubah lembut.“Hai ganteng.” Kaluna menyapa.Satria tersenyum. “Kalau sekarang, kamu mau dipeluk?” sindir Satria karena tadi saat pulang, Kaluna mengatainya bau ketek dan memaksanya untuk mandi, katanya baby yang meminta.Kaluna tertawa, merentang kedua tangan. “Mauuuuu.” Satria tersenyum sembari mendekat, duduk di tepi ranjang lalu memeluk Kaluna.“Malem banget sih pulangnya, sayang.” Kaluna menggerutu.“Macet tadi dari Ciwidey.”Kaluna menjauhkan tubuhnya sedikit. Dia mendongak.“Capek banget ya?”Satria tidak langsung menjawab, dia menatap hangat Kaluna selama beberapa det
“Pak, istirahat dulu.”Satria menurunkan topinya lalu masuk ke dalam gazebo jati yang ada di pinggir ladang.Matahari siang itu cukup terik meski udara Lembang tetap terasa dingin.Beberapa pekerja mulai berkumpul untuk makan siang.Tak lama kemudian—seorang pegawai datang membawa rantang besar dan termos teh hangat.“Titipan dari ibu sama neng Luna.”Bapak tersenyum kecil mendengarnya.“Wah pasti enak-enak ini makan siang kita.” “Kalau ibu sama Kaluna masak mah enggak pernah gagal.” Satria menimpali.Pegawai itu membantu menurunkan rantang.Aroma ayam goreng lengkuas langsung menyeruak begitu tutupnya dibuka.Ditambah sambal terasi, tumis genjer, tahu goreng, dan lalapan segar.“Kaluna enggak ikut?” tanya bapak sambil mengambil nasi.Satria menggeleng pelan.“Tadi pagi mual lagi.”Raut wajah bapak berubah khawatir.“Ngidam?”“Mungkin kecapekan.” Satria mengembuskan napas pelan. “Kemarin masih maksa bantu sortir.”“Makanya jangan dibiarin.”Satria terkekeh kecil.
“Pak Tisnaaa!”Suara seorang pria membuat bapak yang sedang memeriksa selang irigasi refleks mengangkat pandangan. “Oh Mang Ujang.”Pria paruh baya itu berjalan mendekat sambil tertawa lebar. “Wah sekarang mah kebun-kebun di sini jadi sibuk terus ya.”Bapak balas terkekeh kecil. “Syukurlaaaah.”Pagi itu suasana perkebunan memang jauh lebih hidup dibanding biasanya.Beberapa petani terlihat mondar-mandir membawa hasil panen.Ada yang sedang memetik paprika.Ada yang menyortir lettuce.Sebagian lagi sibuk memasukkan tomat cherry ke box ventilasi khusus.Dan hampir semua pembicaraan mereka sekarang hanya tentang satu nama.Satria.“Anak pak Tisna ayeuna mah hebat pisan.”“Katanya kirim sayur sampai Amerika.”“Stroberi mang Darsa kemarin habis semua diborong.”“Harganya juga bagus.”Bahkan beberapa petani yang dulu sempat hampir menyerah berkebun kini mulai semangat lagi.Karena setelah sekian lama—akhirnya sekarang hasil panen mereka dihargai layak.Satria tidak pernah m
Dan kini tinggal Satria, Kaluna, dan Ratu di meja makan.Sunyi cukup lama. Di bawah meja, Kaluna menggenggam tangan Satria.Satria menoleh dan melalui tatapan, Kaluna meminta Satria mengambil peran.Tiba-tiba Ratu tertawa kecil, suaranya terdengar pecah.“Kayanya aku terlalu banyak mimpi ya?”“Jangan ngomong begitu.” Satria menimpali cepat.Ratu mengangkat pandangan. Pipinya sudah basah, berulang kali dia mengusapnya kasar. Marah.“Aku cuma pengen jadi wanita karir sukses, A.”Satria menatap adiknya lama.“Buat apa aku mati-matian kuliah kalau ujungnya cuma sampai sini.”Satria mengusap kepala adiknya. “Kalau itu memang yang kamu mau .…”Ratu menahan napas. “… Aa dukung.”“Serius?” Sorot mata Ratu kini lebih kuat,Satria mengangguk.“Serius.”“Tapi bapak enggak akan setuju.” Ratu merengek.“Biar Aa yang ngomong.”Kaluna tersenyum.Sementara Ratu benar-benar tampak ingin meraung.Satria melanjutkan dengan tenang.“Kamu enggak salah punya mimpi besar.”Ratu mengan
“Sayaaang ….”Satria yang baru saja mengambil nasi langsung menoleh menatap istrinya. “Kenapa sayang?”Kaluna tersenyum kecil sambil menunjuk lauk di meja makan. “Kayanya sayur asem ibu hari ini enak banget.”Ibu sedang menuang teh dan beliau langsung terkekeh. “Loh baru juga lihat belum nyobain.”“Feeling baby.” Kaluna mengusap perutnya santai.Seketika meja makan dipenuhi tawa kecil.Suasana rumah malam itu memang terasa hangat.Weekend membuat semuanya sedikit lebih santai.Hari ini Satria akhirnya pulang lebih cepat dari workshop.Bapak juga tidak pergi lagi ke ladang selepas magrib.Mereka akhirnya benar-benar makan malam lengkap bersama setelah sebulan lebih sibuk dengan proyek Alterio Corp.Sampai tiba-tiba, “Ratu pulaaaaang!”Suara itu terdengar dari arah depan rumah.Semua menoleh ke arah ruang tamu sampai Ibu spontan berdiri.“Ratu?”Sosok Ratu masuk ke ruang makan sambil membawa tas ransel besar dan map tabung di tangannya.Wajahnya sumringah sekali.“Ibuuu
Namun bahkan setelah tengah malam beranjak larut—Satria masih sibuk membuka laptop.Membuat checklist. Menyusun timeline. Menghubungi paman Elan. Mengatur area workshop yang akan ditampilkan.Dan keesokan paginya—dia sudah pergi lagi sebelum Kaluna benar-benar bangun.“Yang ini jangan dipajang di depan.”Satria menunjuk salah satu kursi rotan yang finishing-nya sedikit belang.Pekerja workshop langsung mengangguk cepat.“Siap, Pak.”Suasana workshop pagi itu benar-benar sibuk.Lebih sibuk dibanding biasanya.Beberapa pekerja mulai membersihkan area produksi.Sebagian lagi merapikan display furniture.Sementara paman Elan tampak mondar-mandir sambil terus memberi instruksi.“Meja yang itu pindahin!”“Area oven dibersihin lagi!”“Serbuk kayunya sapu yang rapi!”Satria sendiri berdiri di tengah workshop sambil memegang tablet.Tatapannya fokus memperhatikan setiap detail. Mulai dari pencahayaan.Kerapihan. Display sample. Sampai alur produksi.Karena dia tahu—orang-oran
Kaluna terbangun dari tidurnya yang nyenyak, tidak ada lagi begadang, pikirannya sudah tenang sekarang setelah dia memenangkan tender dari klien Jepang.Punggungnya menegak, mengangkat kedua tangan meregangkan tubuh.Dia lantas turun ke lantai satu setelah mencuci wajah.Weekend di mansion Gunad
Ruang rapat lantai dua puluh satu terasa lebih dingin dari biasanya.Empat perwakilan perusahaan Jepang duduk dengan postur tegak, tablet dan dokumen terbuka rapi di depan mereka. Para direksi anak perusahaan AG Group yang Kaluna pimpin terlihat duduk di sisi lain meja panjang, tegang namun
Ruang rawat VIP itu sunyi.Kaluna tertidur setelah infus bekerja.Satria duduk di sofa dekat jendela. Laptop terbuka. Slide presentasi terpampang.Ia memeriksa ulang angka.Mengoreksi tata bahasa.Menandai potensi pertanyaan yang mungkin muncul dari klien Jepang.Sesekali ia melirik ke arah r
Presentasi dengan klien besar dari Jepang tinggal hitungan hari. Ruang CEO berubah seperti markas perang.Meja panjang penuh dengan berkas, grafik, catatan tangan, sticky notes warna-warni, dan iPad yang tidak pernah benar-benar mati.Kaluna sedang berdiri di depan layar proyektor, mengulang s







