Início / Romansa / Menantang Kasta / Orang Yang Paling Mengerti

Compartilhar

Orang Yang Paling Mengerti

Autor: Erna Azura
last update Data de publicação: 2026-05-08 20:42:11

Langit masih gelap.

Sinar matahari belum benar-benar muncul, hanya semburat jingga tipis yang mulai membelah ufuk timur.

Area kolam renang apartemen pun masih sepi.

Belum banyak penghuni yang turun. Belum ada suara anak-anak. Belum ada riuh percakapan para penghuni.

Hanya suara air yang sesekali beriak dan embusan angin pagi yang menyentuh permukaan kolam.

Satria duduk sendirian di salah satu kursi santai dekat tepi kolam.

Rambutnya masih basah sehabis berenang.

Kaos abu-abu tipis menemp
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado
Comentários (4)
goodnovel comment avatar
Nina Tantina
Satria & Kaluna pasti bisa memulai usaha sendiri di Bandung , misalnya pemasok sayur2an & buah2an yg fresh , dari bawah & suatu saat mencapai puncak sukses secara Satria & Kaluna adalah orang2 pintar , baik & jujur , biar ayah Kama liat kesuksesan mereka walau dijegal sana sini...
goodnovel comment avatar
rianur378
merasa konglomerat,,,
goodnovel comment avatar
Ami tsamarat
iya bener... pulanglah sat... kamu bisa kembangkan aset yg kamu punya di bandung.... jangan menyerah sat... mungkin kali ini rezki kamu di bandung... istri om kaivan aja sukses nya di bandung loh... diselundupkan dulu dan berjaya jadi arsitek keren
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Menantang Kasta   Berjuang Untuk Anak Dan Istri

    Sejak kabar bahagia itu muncul—suasana rumah berubah menjadi jauh lebih ramai.Ibu beberapa kali menangis sendiri sambil tersenyum.Bapak berkali-kali mengucap syukur.Ratu bahkan sudah sibuk searching nama bayi padahal usia kandungan Kaluna saja belum jelas berapa minggu.Sedangkan Satria masih terlalu diam.Kaluna yang paling mengenalnya tentu sadar.Pria itu bahagia. Tampak bahagia.Namun di balik sorot mata hangatnya—ada ketakutan besar yang sedang dia sembunyikan.Dan Kaluna tahu persis ketakutan itu berasal dari mana.Kehamilan ektopik sebelumnya masih membekas.Terlalu sulit dilupakan. Siang harinya—mereka memutuskan pergi ke rumah sakit untuk memastikan kondisi kandungan Kaluna.“Aku ikut!” seru Ratu cepat.“Enggak usah.”Satria menjawab tegas sambil mengambil kunci mobil.Ratu mengerucutkan bibir.“Iiih jahat.”Kaluna tertawa kecil. “Doain aja ya.”Ratu akhirnya mengangguk pasrah.

  • Menantang Kasta   Kabar Bahagia

    Perjalanan pulang menuju Bandung terasa jauh lebih tenang.Kaluna tertidur di bahu Satria hampir sepanjang penerbangan.Sementara Satria hanya diam menatap keluar jendela kecil pesawat.Langit sore perlahan berubah jingga.Dan setelah sekian lama—dadanya terasa sedikit lebih ringan.Tentang ayah Kama.Tentang pekerjaan.Tentang harga dirinya.Entah kenapa … semua mulai terasa menemukan jalan.***Udara dingin Lembang langsung menyambut ketika mobil yang Satria kemudikan berhenti di depan rumah.Belum sempat Satria turun dengan sempurna—pintu rumah sudah terbuka lebih dulu.“Lunaaa!”Ibu keluar sambil tersenyum lebar.Bahkan celemek masaknya masih menempel di tubuh.Kaluna langsung tertawa kecil.“Buuuu….”Mereka berpelukan hangat.“Aku bawa oleh-oleh untuk Ibu, ayah dan Ratu.” Kaluna mengangkat paperbag di tangannya.“Waa … jadi ngerepotin.” Ibu tampak berbinar.“Enggak lah, ‘kan buat mertua kesayangan.”Sementara bapak menyusul keluar rumah sambil dengan sarung y

  • Menantang Kasta   Hari Terakhir Di Bali

    Hari terakhir di Bali datang terlalu cepat.Pagi itu langit Pulau Dewata begitu cerah.Langit biru tanpa awan membentang di atas laut yang berkilau terkena matahari.Dari balkon cottage mereka—Kaluna berdiri sambil memeluk tubuhnya sendiri.Dress tidur satin putihnya tertiup angin pantai.Rambut panjangnya bergerak lembut.Matanya menatap laut lepas dengan senyum kecil.Sementara di belakangnya—Satria baru keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut menggunakan handuk.“Kamu ngapain bengong sendiri di sana, sayang?” tanyanya.Kaluna menoleh lalu tersenyum.“Aku lagi nyimpen memori.”Satria mengernyit. “Memori apa?”Kaluna berjalan mendekat.Tangannya melingkar di leher pria itu.“Memori kalau kita pernah bahagia banget di Bali.”Satria tertawa kecil.“Kita memang enggak bahagia di Lembang?”“Bahagia.” Kaluna cepat menjawab. “Banget malah.”“Terus?” Satu alis Satria terangkat.“Tapi ini beda.” Kaluna mendongak. “Ini pertama kalinya aku benar-benar ngerasa .…”

  • Menantang Kasta   Tampak Bahagia

    Pagi di villa privat itu dimulai dengan suara deburan ombak dan cahaya matahari Bali yang menembus tirai putih transparan.Satria membuka mata lebih dulu.Tangannya masih melingkar erat di pinggang Kaluna.Wanita itu masih tertidur di dadanya.Rambut panjangnya sedikit berantakan.Bibirnya sedikit terbuka.Dan entah kenapa—setiap pagi melihat wajah itu, dada Satria selalu terasa penuh.Tangannya naik. Menyingkirkan anak rambut di wajah Kaluna. Lalu mengecup keningnya lama.Cup.Kaluna menggeliat pelan. Bulu matanya berkedip.“Sayaang .…” Suaranya masih serak.Membuat Satria tersenyum.“Bangun yuk.”Kaluna justru memeluknya lebih erat. “Lima menit lagi.”Satria terkekeh. “Nanti sepupu kamu nikah tanpa kamu.”Kaluna langsung membuka mata.“Ya ampuuun, enggak boleh!”Dan sukses membuat Satria tertawa.Sekitar pukul empat sore—semua keluarga besar Gunadhya sudah berkumpul di area pantai pribadi.

  • Menantang Kasta   Tawaran Bisnis

    Sekitar empat puluh menit perjalanan dari bandara—iring-iringan mobil keluarga besar Gunadhya akhirnya memasuki kawasan resort privat di tepi laut Bali bagian selatan.Gerbang kayu ukir khas Bali terbuka perlahan.Patung batu dengan bunga kamboja menghiasi sisi kanan kiri jalan.Suara deburan ombak mulai terdengar semakin jelas.Dan ketika mobil berbelok melewati deretan pohon kelapa—Kaluna sampai membulatkan mata dengan bibir tersenyum.Dia benar-benar merindukan Bali. Di hadapan mereka berdiri sebuah kawasan villa privat yang benar-benar luar biasa.Bukan sekadar resort.Melainkan private estate.Beberapa cottage mewah berdiri berjajar menghadap laut.Dinding kayu ulin berpadu kaca full height.Kolam renang infinity memantulkan cahaya jingga matahari senja.Jembatan-jembatan kayu kecil menghubungkan tiap cottage.Dan yang paling membuat Kaluna terdiam membeku adalah hamparan pasir putih dan pantai pribadi sejauh mata memandang.Satria ikut terdiam menikmati keindahan

  • Menantang Kasta   Semakin Sulit Membenci

    Pagi itu udara Lembang terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Mungkin karena musim kemarau akan segera tiba.Kabut masih turun tipis di antara pepohonan ketika lampu kamar Satria dan Kaluna sudah menyala sejak subuh.Kaluna berdiri di depan lemari sambil menggigit bibir bawah.Tangannya sibuk memilih dress.Yang ini terlalu formal.Yang itu terlalu terbuka.Yang satu lagi terlalu mencolok.“Aduh….” Kaluna mendesah pelan.Sementara di atas ranjang—Satria duduk sambil memakai jam tangan.Tatapannya mengawasi tingkah istrinya sejak tadi.“Sayang.”“Hm?”“Kita ke nikahan… bukan fashion week.”Kaluna langsung menoleh.“Eeeh, Iya sih… tapi aku mau keliatan paling keren.”Satria terkekeh pelan. “Apa mau beli yang baru nanti di Jakarta?”Kaluna menggelengkan kepala. “Enggak usah, pemborosan.”Satria bangkit dari tepi ranjang.Langkahnya mendekat.Tangannya naik meraih satu dress satin berwarna sage green dari tangan Kaluna.“Pakai ini saja kalau begitu, ini baru ‘kan… bel

  • Menantang Kasta   Pelukan Hangat

    Langkah mereka pelan ketika kembali dari restoran dekat pantai menuju bangunan utama resort.Malam Bali terasa hangat saat itu. Angin laut masih berembus lembut membawa aroma asin yang samar.Satria berjalan di samping Kaluna, kedua tangan mereka saling bergandengan.Sesekali Satria menoleh ke s

  • Menantang Kasta   Akan Selalu Dekat

    Mobil berhenti di depan lobi gedung utama AG Group.Satria turun lebih dulu seperti biasa. Ia memutari mobil dan membuka pintu untuk Kaluna.“Nona.”Kaluna turun dengan gerakan anggun, seolah hari itu hanyalah hari kerja biasa.Tidak ada yang akan menyangka bahwa beberapa jam

  • Menantang Kasta   Tak Ingin Melepaskan

    “Nona, hari ini jadwal kita akan mengunjungi proyek—“ Brifing singkat Satria terjeda.“Sekarang aja, langsung … biar enggak bolak balik,” potong Kaluna.“Baik Nona.” Diam-diam Satria mengirim pesan kepada kepala proyek kalau jadwal kunjungan sang CEO dimajukan.Pagi itu udara di lokasi proyek

  • Menantang Kasta   Tidak Pernah Berubah

    Keesokan paginya gedung anak perusahaan AG Group yang dipimpin Kaluna terlihat jauh lebih hidup dari biasanya.Balon-balon perusahaan dengan warna emas dan biru tergantung di beberapa sudut lobi. Booth bazar berdiri berjajar di area taman belakang gedung. Musik ringan mengalun dari panggung

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status