Home / Romansa / Menantang Kasta / Sebuah Dinding

Share

Sebuah Dinding

Author: Erna Azura
last update publish date: 2026-03-03 10:59:33

Sementara itu, di ruang CEO, Kaluna menutup pintu lebih keras dari biasanya.

Ia bersandar di baliknya.

Menekan punggungnya ke kayu warna coklat.

Jantungnya masih berdetak kencang.

Tangannya menyentuh pipi sendiri.

Panas.

“Kenapa sih aku jadi kayak anak SMA …,” gumamnya pelan.

Padahal yang dilakukan Satria hanya menahan kepalanya.

Hanya itu.

Tapi tatapan tadi.

Cara ia berkata “Hati-hati.”

Cara napas mereka hampir menyatu.

Itu bukan sekadar sekretaris dan CEO.

Kaluna berjalan menuju
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
sevenseasof7
kaluna trauma.. takut mencinta lagi.. takut salah arti dan takut di tinggal
goodnovel comment avatar
virna putri
Jgn dong, jgn bikin dinding.. biarkan ngalir aja Lun..
goodnovel comment avatar
Ami tsamarat
kalunaaaaaa... baru merasakan perhatian yg tulus ya.... satria mulai baper juga gak ya atau justru profesionalisme nya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menantang Kasta   Lamaran

    Mobil melaju kencang bahkan terlalu kencang.Jalanan Jakarta seperti kabur di mata Kaluna.Air mata mengalir tanpa henti. Tangannya mencengkeram setir.Dadanya naik turun tidak teratur.“Kenapa .…?” Suaranya bergetar.“Kenapa harus aku lagi .…?”Ia tertawa sumbang yang malah terdengar hancur.“Kenapa sih…?” Air mata Kaluna semakin deras.Semua kenangan kembali.Brian. Amanda. Pengkhianatan. Rasa sakit.Dan sekarang terulang lagi.“Aku bodoh…,” gumamnya.“Aku bodoh banget….”Mobil itu akhirnya berhenti di halaman mansion.Kaluna turun tanpa peduli siapa pun yang melihat air matanya.Ia langsung masuk berjalan cepat menuju kamar.Pintu tertutup keras, dan di dalam sana—Kaluna langsung runtuh.Tubuhnya jatuh ke lantai.Tangisnya pecah. Keras. Tanpa ditahan.Seperti seseorang yang akhirnya kehabisan tenaga untuk kuat.“Aku capek…,” isaknya.Tangannya mencengkeram dadanya sendiri.

  • Menantang Kasta   Perempuan Lain

    Langit tiba-tiba berubah gelap ketika mereka keluar dari mall.Hujan turun.Tidak terlalu deras, tapi cukup membuat udara menjadi dingin.Satria mengambil payung dari petugas mall.Lalu membukanya.Kaluna mendekat, merapatkan tubuh dengan Satria tanpa ragu, ia merangkul lengan Satria agar mereka berdua muat berada di bawah satu payung.Satria menoleh sambil tersenyum, dia menikmati momen ini.Mereka berjalan perlahan menuju parkiran.Suara hujan menjadi latar.Langkah mereka selaras.Dan entah kenapa, dia merasa Kaluna menjadi pendiam.Satria meliriknya. “Kamu kenapa?”Kaluna tidak langsung menjawab.Ia menatap ke depan. Lalu berkata pelan, “Kamu tahu enggak…”“Hm?”“Katanya di saat hujan…” Kaluna berhenti sebentar. “… adalah waktu yang paling baik untuk berdoa.”Satria menoleh, menatap Kaluna lekat. Kaluna balas tersenyum kecil. “Tadi aku lagi berdoa.”“Apa?”Kaluna menarik napas pelan. “Aku minta sama Tuhan…” Suaranya lembut. “…supaya kamu jadi suami aku.”Langk

  • Menantang Kasta   Semakin Yakin

    “Parkir di sana aja,” kata Kaluna sembari menunjuk space parkir kosong di depan loby restoran.“Aku antar kamu sampai loby dulu.” “Enggak usah, kita parkir aja dulu nanti barengan ke restonya.”Kaluna tidak ingin memperlakukan Satria seperti driver.Akhirnya Satria menurut dan langsung memarkirkan mobil di tempat yang Kaluna tuduhkan.Setelahnya, mereka berjalan beriringan menuju sebuah resto tempat di mana Kaluna dan teman-temannya janji untuk bertemu.“Aku duduk di meja enggak jauh dari meja kamu,” kata Satria sembari sedikit mencondongkan kepalanya mendekati telinga Kaluna.“Oke.” Kaluna tersenyum lembut sebelum akhirnya mereka berpisah di depan pintu resto.Teman-teman Kaluna menyambut dengan bahagia, mereka sudah cukup lama tidak bertemu mengingat Kaluna menghabiskan hampir sepuluh tahun menuntut ilmu di NewYork.Segera saja, restoran fine dining di pusat kota Jakarta dipenuhi suara tawa perempuan-perempuan berkelas yang sedang mengobati rindu.Kaluna duduk di salah sa

  • Menantang Kasta   Pulang

    Kaluna mengangkat celana dalamnya di tangan kiri dan camisol yang talinya putus di tangan kanan, dua benda itu tampak sobek mengenaskan.Dia sengaja menunjukannya kepada Satria yang sedang merapihkan celana.Satria terkekeh. “Nanti aku belikan yang baru.”“Bukan masalah yang baru, masa aku pulang enggak pakai celana dalam?” Wajah Kaluna mengerut.Satria mendekat mengikis jarak.“Aku minta maaf … tadi aku keburu nafsu.” Jemarinya mengelus pipi Kaluna lembut.Kaluna tersenyum sembari mengigit bibir bawahnya, dia menunduk kemudian menempelkan kening di dada Satria yang bidang.Dan Satria membawa Kaluna ke dalam pelukan.Tidak lama Satria melepaskan pelukan lalu menjauh menuju sudut ruangan, dia meraih blazer Kaluna kemudian memakaikannya.“Kemeja kamu transparan dan kusut jadi pakai ini.” “Satria ….” Kaluna melirih.Tangan Satria yang sedang memakaikan blazer di tubuh Kaluna seketika berhenti.“Luna ….” Satria menatap m

  • Menantang Kasta   Cemburu dan Insecure

    Pintu ruang kerja Kaluna terbuka pelan.Satria masuk dengan langkah tenang seperti biasa. Jasnya sudah dilepas menyisakan kemeja putih yang digulung hingga sikut.Ia berhenti beberapa langkah dari meja Kaluna.“Anda memanggil saya, Nona?”Nada suaranya formal. Terlalu formal.Kaluna yang sedang duduk di belakang mejanya seketika merasakan sesuatu menusuk di dada.Biasanya kalau mereka hanya berdua, Satria akan bersikap jauh lebih santai. Kadang bahkan langsung duduk tanpa diminta, atau melemparkan senyum kecil yang hanya mereka berdua pahami.Tapi sekarang tidak. Jarak itu terasa kembali ada.Kaluna menyilangkan tangan di dada.“Kamu dari mana aja?” tanyanya langsung, dingin dan menyimpan kesal.Satria menjawab tanpa perubahan ekspresi.“Dari kantor notaris di daerah Pluit.”Kaluna mengerutkan kening. “Notaris?” Dia pura-pura tidak tahu.“Masalah pembebasan lahan proyek pesisir kemarin hampir tertunda karena satu dokumen kepemilikan tanah belum dilegalisasi,” jelas Satria

  • Menantang Kasta   Menghindar

    Pagi itu langit Jakarta masih diselimuti warna abu tipis ketika mobil sedan hitam mewah berhenti di depan mansion Gunadhya.Namun bukan Satria yang turun dari kursi kemudi.Driver kantor yang membuka pintu belakang untuk Kaluna.“Selamat pagi Bu.”Kaluna berhenti sepersekian detik sebelum melangkah keluar. Ia menoleh sekilas ke kursi depan mobil, kosong.Tidak ada pria tampan dengan jas rapi yang biasanya sudah berdiri lebih dulu menunggunya.Dada Kaluna terasa aneh.Sejak mereka mulai bekerja bersama, hampir tidak pernah Satria tidak menjemputnya.Kaluna masuk ke mobil tanpa banyak bicara. Sepanjang perjalanan menuju kantor, ia hanya menatap keluar jendela.Jakarta bergerak seperti biasa. Jalanan penuh kendaraan. Lampu merah yang berganti warna. Orang-orang berjalan tergesa.Namun pikiran Kaluna tidak berada di sana.Satu kalimat Satria dari semalam terus terngiang di kepalanya.‘Aku juga cemburu.’Kaluna menghela napas pelan.Rasa bersalah mulai merayap di dadanya.Di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status