Share

Pria Lain

Author: Erna Azura
last update publish date: 2026-03-07 10:05:33

Pagi itu berjalan terlalu normal dan justru itu yang membuat Kaluna merasa tidak normal.

Kaluna keluar dari lift dengan langkah tenang. Blazer peach, rambut diikat rendah. Wajahnya kembali dingin dan profesional seperti keputusan yang ia buat beberapa hari lalu meski hatinya berkata lain.

Satria terlihat berdiri di belakang meja sekretariat.

“Selamat pagi, Nona.”

“Pagi.”

Ritme mereka kembali formal bahkan terlalu formal.

Hari itu ada agenda meeting, semua sudah berkumpul saat Kaluna masuk
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
virna putri
wah wah wah..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menantang Kasta   Restu Dengan Syarat

    Satria memindahkan kaki Kaluna agar melingkar di pinggangnya, sementara bokongnya maju mundur menghentak Kaluna dari atas.Desahan merdu Kaluna menggema di seantero kamar di apartemen Satria.Tubuh mereka dipenuhi peluh setelah bergulat cukup lama di atas ranjang tanpa sehelai benang pun.Dan kini, suara pertemuan antar kulit nyaris meredam desahan Kaluna ketika Satria menaikkan tempo hentakannya sambil melengkungkan punggung demi bisa meraup puncak dada Kaluna.Sementara itu, Kaluna merespon dengan menggerakan bokongnya dari bawah yang tentu saja menambah sensasi kenikmatan bagi mereka berdua.Hingga beberapa saat kemudian Kaluna menahan nafas, gelombang kenikmatan menghantamnya begitu dahsyat.Di saat bersamaan Satria merasakan miliknya dijepit kuat.Satria mengerang panjang tanpa memelankan tempo hentakan.Desahan Kaluna tadi telah berubah jadi jeritan kecil menandakan kalau Satria berhasil memuaskannya.Kaluna lalu tertawa pelan, melesakan wajahnya di leher Satria.“Kena

  • Menantang Kasta   Langkah Pertama

    Pintu ruang kerja utama terbuka tanpa suara keras.“Permisi, Pak.”Suara itu tenang, tapi cukup untuk membuat pria di balik meja besar pimpinan tertinggi AG Group mengangkat pandangan.Kama menatap lurus ke arah pintu.“Masuk.”Bu Nia melangkah masuk dengan membawa sebuah map tipis di tangannya. Wajahnya profesional seperti biasa, tapi ada sesuatu yang berbeda—lebih berat.Ia berhenti di depan meja.“Pak Kama, ada hal yang perlu saya sampaikan.”Kama menyandarkan punggungnya ke kursi.“Silakan.”Bu Nia menarik napas pelan sebelum akhirnya bicara.“Pak Satria mengajukan resign.”Hening.Satu detik.Dua detik.Tatapan Kama berubah tajam. Nafasnya mulai memburu.Dia tidak terkejut tapi lebih ke … tersulut.“Apa?” Suaranya rendah. Tapi berbahaya.“Surat pengunduran dirinya sudah masuk ke sistem HR pagi ini, Pak.”Kama berdiri dari kursinya ketika itu juga.Gerakannya cepat.Kasar.“Kapan?” Kama memastikan.“Pagi ini, Pak.” Bu Nia menjawab lugas.“Apa alasan dia men

  • Menantang Kasta   Minta Dukungan Sana-Sini

    Kaluna langsung menghubungi Kanaya setelah dia masuk ke dalam kamar.“Halo … tumben lo telepon.” Kanaya menjawab panggilan telepon.“Kak … gue mau nikah sama Satria.” “Hah? Satria siapa? Pacar baru? Anak konglomerat mana?” Kanaya lupa.Kaluna memejamkan mata sekilas bersamaan hembusan nafas berat.“Waktu itu Brian pernah ngadu ke Ryley, katanya ketemu lo sama pacar lo di Bali … dia bukan yang lo maksud Satria itu?” “Iya ….” Kaluna menjawab.“Waw … cepet banget Sis, itu ‘kan hampir setahun lalu pas lo baru-baru putus.” “Ayah enggak setuju ….” Suara Kaluna lemah.“Kenapa?” Kanaya terdengar tidak terima.“Karena dia sekretaris gue ….”Hening sesaat.“Ah gila lo, ya pantesan aja ayah enggak setuju … lagian kenapa harus sama sekretaris sih? Selera lo rendah banget ….” Kanaya memang suka bicara seenak jidatnya.“Tapi dia tulus cinta sama gue, Kak … gue juga mencintai dia … dan dia manusia, kenapa sih? Apa yang salah?” Suara Kaluna tercekat.“Karena lo ceweknya, Lun … kalau

  • Menantang Kasta   Tidak Ada Restu

    “Aku akan bicara sama ayah malam ini,” kata Kaluna sembari melepas seat belt.Satria mengangguk, menangkup wajah Kaluna menggunakan kedua tangan, menarik wajahnya demi bisa memberikan kecupan di kening.“Apa perlu aku ikut?” Satria lantas bertanya.“Ayah udah bicara sama kamu, sekarang giliran dia bicara sama aku ….” Kaluna mengembuskan nafas panjang.“Tadinya aku mau ajak kamu datang baik-baik ke ayah dan bunda.”Satria tersenyum lembut, tangannya terulur mengusap pipi Kaluna menggunakan punggung jari.“Mungkin memang ini yang terbaik.”Kaluna mengangguk. “Kamu hati-hati ya pulangnya.”Kaluna mencondongkan sedikit tubuhnya, mengecup pipi Satria.“Love you,” kata Kaluna sebelum akhirnya turun.Satria tidak langsung pergi, dia menunggu hingga Kaluna masuk ke dalam mansion.Dan ketika Kaluna sudah berada di depan pintu, dia berbalik, melambaikan tangan setelah itu mendorong pintu.Barulah Satria mengemudikan kendaraannya pulang ke apartemen.Tidak memakai kendaraan kantor k

  • Menantang Kasta   Berjuang

    Pintu ruang kerja Kaluna terbuka.Satria masuk seperti biasa—membawa iPad, wajah tenang, langkah terukur.Dan Kaluna tersadar kalau hari itu ada yang berbeda.Tidak ada tatapan hangat yang biasanya selalu muncul begitu mata mereka bertemu.Tidak ada senyum tipis yang hanya mereka pahami berdua.“Agenda jam dua sudah siap?” tanya Kaluna tanpa mendongak dari layar MacBook.“Sudah.” Jawaban Satria singkat. Terlalu singkat.Kaluna mengangkat kepala.Biasanya Satria akan menjelaskan detail. Memberi tambahan. Bahkan menyelipkan komentar kecil yang membuat suasana jadi terasa ringan.Hari ini tidak, hanya satu kata.Sunyi.Kaluna menyipitkan mata sedikit.Ia bangkit dari kursinya, berjalan pelan mendekat ke arah Satria yang berdiri di depan meja.“Pak Satria lagi hemat kata ya hari ini?” Nada suaranya ringan tapi mengandung sindiran halus.Satria hanya mengangguk kecil. “Enggak, Bu.”“Enggak?” Kaluna mendekat lagi. Lebih dekat.“Bu?” Tangannya naik, merapikan kerah kemeja Sat

  • Menantang Kasta   Tawaran Dan Ancaman

    Satria baru saja selesai mengolah tubuh di gym ketika mendapati Kama duduk di kursi loby apartemennya.Dia langsung mempercepat langkah mendekat, tidak ada keraguan apalagi takut.Pimpinan tertinggi AG Group sekaligus calon mertuanya ada di gedung apartemennya—siapa lagi yang dicari kalau bukan dia?“Pagi Pak Kama,” sapa Satria setelah langkahnya berhenti di depan ayah Kama.Ayah Kama mendongak kemudian bangkit dari sofa.“Ada yang mau saya bicarakan,” katanya dingin.Satria tahu ini tentang apa dan dia akan menghadapinya.“Silahkan ke unit apartemen saya, Pak.” Satria merentangkan tangan mempersilahkan.Kama jalan duluan ke lift disusul Satria setengah langkah di belakangnya.Tidak ada yang bersuara kita mereka berada di dalam lift yang kosong tersebut.Kama menatap Satria dari pantulan pintu lift yang seperti cermin dan tampang sang sekretaris tampak tenang, terkendali seperti biasa.Kama akui kalau Satria memiliki nyali yang besar karena pasti pria itu sudah bisa mendu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status