LOGIN"Pergi dari rumah ini! Kau hanya noda sialan yang merusak kehormatan keluarga!" Suara Gavin menggelegar, mengusir Monica Althansia dalam kondisi mengandung. Malam itu, di depan ratusan pasang mata elit, dunianya dihancurkan tanpa ampun oleh ayah tirinya sendiri. Namun, Monica menolak menyerah pada takdir. Bersama Javier, pria yang rela mengotori tangan demi melindunginya, ia membangun benteng di dunia bawah. Klub malam eksklusif didirikannya sebagai pusat transaksi gelap para penguasa. Isaac melemparkan selembar kertas tes DNA ke mejanya. "Gavin bukan ayah kandungmu," bisik Isaac dingin. "Dan bayi di rahimmu adalah buruan seluruh Sektor." Seketika, pelarian Monica berubah menjadi perang genetik yang mengerikan. Bayinya memegang kunci kehancuran peradaban mesin buatan Gavin. Di antara kepungan robot, sahabat yang berkhianat, dan rahasia masa lalu. Monica harus bertahan ketika dihantam trauma, tetapi ia bersumpah akan membakar dunia jika ada yang berani menyentuh anaknya.
View MoreKiara
I arrive at my favorite coffee shop to find my best friend, Candice, already sitting at our table drinking a frappe. When she sees me, she waves me over with a huge grin on her face. "Damn Candy, you couldn't wait for me?" I scowl playfully at her. She scoffs. "Girl, you know I had to get my caffeine. My boss is killing me with these extra hours." I hang my purse on the back of the chair and go to order. Thankfully, there isn't a long line like usual. Samantha, the barista, greets me with a smile. "Hey Kiara, what can I get you today?" "The usual. A venti vanilla Latte. Two extra pumps of vanilla. Extra hot. Stirred. Add whip cream, please." Yes, don't judge me. I come here so often they know me by name. When you are a writer, coffee becomes your best friend. After my drink is up, I thank Samantha and sit down at our table. Candice is on her phone, and judging by the grin on her face, she's texting her girlfriend. "How's Pat doing?" "Huh?" She's still looking down, her fingers moving a mile a minute. "How is Patricia doing?" I ask a little louder this time. She finally slips her phone back into her purse. "She's good, busy as hell as usual. I just can't wait to fly out next month to visit her." They started dating just before Patricia left for her internship. I can tell the distance is getting to Candy, but she would never admit it. She wants so badly for their relationship to work. Changing the subject to avoid upsetting her, I ask, "so you said you had something to tell me?" She looks confused, but then her green eyes widen with recognition. "Oh yeah. So guess what! My brother is moving back here from Texas. Supposedly, he's finally found an executive position here." My family and I moved to Virginia my senior year of high school. I met Candice in English class on my first day, and we've been tighter than peanut butter and jelly ever since. Throughout our four years of friendship, I've never met her older brother. I've heard plenty about him, though. How he's a huge fuck-up. A selfish asshole. He graduated high school, and abandoned his family to chase after an impossible dream, forcing Candace to step up and finish raising their little brother. She even had to work a part time job in high school to pay the bills because their mom is an alcoholic and completely incapable of managing anything herself. There are always two sides to a story though, and he's never been given the chance to tell his. "How are you feeling about it?" I ask, savoring my perfectly-crafted latte. She grimaces. "I just can't find it in my heart to forgive him. He knew that my mom has been drinking since Dad left when Jeremiah was a baby, and still he abandoned us too." "Maybe give him a chance to explain, see things from his perspective-" "Ki, are you seriously taking his side right now? You don't even know him. He's a dog, a selfish asshole, and a-" "I know. I know. A fuck-up," I sigh deeply, "I'm not taking his side. All I'm saying is just give him a chance to explain himself." She huffs. "Fine. I'll give him five fucking minutes, that's all." She pauses to take a long sip of her frappe. "Are you coming on Friday?" "To what?" "My mom wants to throw him a welcome home party at the house. There will be plenty of food, I know that's a requirement for you," she laughs. "Uh yeah, I guess I'll be there. It's not like I have anything else to do." I was going to tell her about how I just broke up with my boyfriend after I found him cheating with my sister, but I don't want to hear the, "I told you so". At least, not today. She's been telling me for the past year to dump him, but I didn't realize how much of a bum he really was until after the shit-colored glasses were forcefully removed from my eyes when I caught him fucking my sister in MY bed. In MY apartment."Kapten! Kemudi kanan gak merespons!" Monica berteriak di antara deru angin yang masuk lewat jendela ruang kemudi yang pecah.Kapten tua itu menghantam panel kendali dengan frustrasi, mencoba memaksa tuas hidrolik bekerja kembali. Namun, benda logam itu tetap bergeming, terkunci oleh sirkuit belakang yang telah hangus terbakar."Sirkuit belakang terkena ledakan drone tadi! Kita bergerak melingkar kalau begini terus!" Suara Kapten tua itu meninggi, menyiratkan kepasrahan yang mendalam.Di luar jendela, siluet helikopter faksi Gavin tampak semakin merendah di atas pelabuhan tua.Lampu sorot raksasa dari burung besi itu mengunci geladak kapal, menumpahkan sepasukan robot elite dengan gerakan yang mekanis dan dingin.Suara langkah kaki logam yang berat terdengar berdentang ritmis di atas atap kabin. Menandakan jarak antara mereka dan kematian kini beneran sudah nihil."Gak ada pilihan lain, lo harus pegang kemudi ini, Monica!" perintah Kapten tua itu sambil menarik sebuah senapan mesin ku
Monica terengah-engah, memuntahkan air laut yang sempat tertelan sambil memeriksa bayinya yang basah kuyup di dalam dekapan."Lo beneran belum mati?" tanya Monica dengan suara serak, napasnya naik turun tidak beratur menahan dingin.Javier tidak langsung menjawab, ia sibuk memotong tali tambang dengan pisaunya lalu mengedarkan pandangan ke langit malam. "Kalau gue mati di pipa pembuangan tadi, gak bakal ada yang nolongin lo dari jebakan Isaac, Mon."Monica terdiam, rasa bersalah langsung menusuk dadanya saat nama Isaac disebut oleh mahasiswa koas di depannya ini.Pengkhianatan Isaac di ujung dermaga tadi masih menyisakan luka yang perih, membuat Monica sadar kalau dunia ini beneran sudah setres."Isaac ... dia kerja sama bareng Gavin," bisik Monica dengan rahang mengeras, mencoba menyembunyikan getaran di suaranya."Gue udah menduga sejak awal, jaringan black business gak pernah punya kesetiaan," sahut Javier dingin sambil membantu Monica bangkit berdiri.Sorot lampu helikopter tempur
Rasa dingin yang luar biasa langsung menghantam seluruh permukaan kulit Monica begitu tubuhnya tenggelam ke dalam air laut.Kesadarannya sempat berguncang selama beberapa detik, sementara paru-parunya mulai berontak meminta pasokan oksigen yang nihil.Namun, di tengah kepungan air hitam yang membekukan itu, insting Monica sebagai seorang ibu bergerak jauh lebih cepat daripada rasa takutnya.Tangan kanannya bergerak taktis di dalam air, memastikan dekapan pada bayinya tidak melonggar sedikit pun akibat hantaman ombak bawah laut.Dari atas permukaan air, sorot lampu helikopter faksi Gavin masih terlihat menembus kegelapan laut, menciptakan pilar-pilar cahaya putih yang samar.Monica menahan napas kuat-kuat, memaksa kakinya yang telanjang untuk terus mengayuh menjauh dari area pancaran lampu tersebut.Pikiran Monica berputar cepat di antara rasa pening yang mulai menyerang kepalanya akibat kekurangan udara di dalam air.Ia tahu Gavin pasti akan langsung memerintahkan unit robot air atau
"Pegang anak lo, Monica!" Isaac berteriak keras, suaranya bersaing dengan deru mesin jip yang sudah menjerit di batas maksimal. Monica langsung meringkuk, memeluk bayinya sekencang mungkin di bawah dasbor sambil memejamkan mata erat-erat. Jantungnya berdegup gila-gilaan, siap menghadapi hantaman besar yang sudah terpampang nyata di depan mata mereka. Jip baja itu menghantam gerbang besi pelabuhan tua hingga jebol menjadi dua bagian yang terlempar ke udara. Pecahan kaca dan serpihan logam berterbangan, menggores bodi mobil dengan bunyi decitan yang memekakkan telinga. Kedua robot sentrinel di depan gerbang terlambat merespons, tubuh besi mereka terhantam moncong jip hingga terseret beberapa meter ke lantai beton. Isaac memutar setir dengan cepat, membawa mobil yang kini bagian depannya sudah ringsek itu menerobos area dermaga. "Isaac! Mesinnya keluar asap!" teriak Monica saat me






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews