LOGIN"Pergi dari rumah ini! Kau hanya noda sialan yang merusak kehormatan keluarga!" Suara Gavin menggelegar, mengusir Monica Althansia dalam kondisi mengandung. Malam itu, di depan ratusan pasang mata elit, dunianya dihancurkan tanpa ampun oleh ayah tirinya sendiri. Namun, Monica menolak menyerah pada takdir. Bersama Javier, pria yang rela mengotori tangan demi melindunginya, ia membangun benteng di dunia bawah. Klub malam eksklusif didirikannya sebagai pusat transaksi gelap para penguasa. Isaac melemparkan selembar kertas tes DNA ke mejanya. "Gavin bukan ayah kandungmu," bisik Isaac dingin. "Dan bayi di rahimmu adalah buruan seluruh Sektor." Seketika, pelarian Monica berubah menjadi perang genetik yang mengerikan. Bayinya memegang kunci kehancuran peradaban mesin buatan Gavin. Di antara kepungan robot, sahabat yang berkhianat, dan rahasia masa lalu. Monica harus bertahan ketika dihantam trauma, tetapi ia bersumpah akan membakar dunia jika ada yang berani menyentuh anaknya.
View More“Aku tidak pernah menganggapmu anakku.”
Suara Gavin terdengar dingin dan tegas. Kalimat itu jatuh di tengah aula megah yang dipenuhi tamu undangan. Lampu kristal berkilauan di langit-langit, memantulkan cahaya ke seluruh ruangan yang kini mendadak sunyi. Monica berdiri di atas panggung. Gaun hitam panjang yang ia kenakan tampak kontras dengan kulitnya yang pucat. Rambut panjangnya tergerai berantakan, memberi kesan liar di tengah kemewahan hang rapi. Tatapan ratusan orang tertuju padanya. Tidak ada yang membela. Jari Monica mencengkram ujung gaunnya. Kain itu kusut di tangannya, tetapi wajahnya tetap tenang. Ia menatap lurus ke depan tanpa sedikit pun menunduk. “Dia adalah kesalahan terbesar dalam hidup istriku,” lanjut Gavin. Pria itu berdiri tegap dengan setelan jas hitam sempurna. Wajahnya tenang, seakan sedang menyampaikan fakta biasa. Tanpa emosi dan tidak ada keraguan dalam dirinya. Bisikan mulai menyebar di antara tamu. Nama besar keluarga itu retak di depan semua orang. Monica mengangkat dagunya tipis, bukan senyum. Melainkan bentuk perlawanan. “Setidaknya katakan semuanya sekaligus,” ucap Monica pelan. Gavin menoleh padanya. Matanya dingin, penuh penilaian. “Kamu selalu menuntut perhatian.” Monica tertawa kecil. Suaranya kering dan tanpa kehangatan. “Aku hanya tidak suka kebohongan yang setengah-setengah.” Beberapa tamu saling bertukar pandang. Kamera ponsel mulai terangkat secara diam-diam. Malam amal itu berubah menjadi tontonan yang tidak direncanakan. Gavin melangkah mendekat. Jarak mereka kini hanya beberapa langkah. “Kau bahkan lebih buruk dari yang mereka lihat.” Monica tidak mundur. Sorot matanya tetap tajam, menahan semua tekanan yang menghantamnya dari segala arah. Di sudut ruangan, Asanta berdiri dengan tubuh gemetar. Gaun elegan yang ia kenakan tidak mampu menyembunyikan ketakutan di wajahnya. Ia ingin bergerak tetapi tidak berani. Monica menangkap itu, tapi ia tidak berharap apapun. “Lanjutkan.” Gavin mengangguk pelan. Ia menoleh ke arah para tamu, memastikan semua perhatian tertuju padanya. “Dia hamil!” Keheningan pecah menjadi gemuruh. Bisikan, keterkejutan, dan sorot mata tajam langsung mengarah ke Monica. Beberapa orang menatap bagian perutnya, mencoba mencari kebenaran dari tuduhan itu. Monica membeku sesaat. Rahasia itu terbuka lebh cepat dari yang ia rencanakan. “Anak tanpa ayah yang jelas” lanjut Gavin tanpa ragu. “Seperti dirinya sendiri.” Kalimat itu menghantam lebih keras dari sebelumnya. Monica menarik napas dalam, dadanya terasa sesak, tetapi ia menolak menunjukkan kelemahan. “Setidaknya aku tidak hidup di balik topeng.” balas Monica, intonasinya tenang, sedikit penuh tekanan. Beberapa tamu terlihat tidak nyaman. Namun sebagian lain justru semakin tertarik. Skandal seperti ini terlalu mahal untuk dilewatkan. Gavin menatap Monica lebih lama. Ada kilatan emosi yang muncul, tetapi ia segera kendalikan kembali "Kau tidak punya tempat lagi di rumah ini,” ucapnya tegas. “Mulai malam ini, kamu bukan bagian dari keluarga ini.” Kalimat itu menggantung di udara, cukup berat bagi yang mendengarnya, dan tidak bisa ditarik kembali. Monica tertawa kecil. “Rumah itu tidak pernah terasa seperti rumah,” katanya. “Jadi, tidak ada yang benar-benar hilang.” Ia melangkah mundur satu langkah. Tumit sepatunya beradu pelan dengan lantai marmer. Di antara kerumunan, Javier berdiri diam. Kemeja putih dan jas rapi yang ia kenakan membuatnya tampak berbeda dari yang lain. Tatapannya penuh ketegangan, seolah menahan sesuatu. Namun, ia segera memalingkan wajah. Ia tidak membutuhkan belas kasihan. Dari sisi lain ruangan, seorang pria bersandar di pilar marmer. Isaac memperhatikan semuanya tanpa ekspresi, matanya mengikuti setiap gerakan Monica dengan tenang. “Usir dia!” perintah Gavin kepada para penjaga. Dua penjaga berbadan besar segera naik ke panggung. Mereka mengenakan setelan hitam dengan earpiece kecil di telinga. Gerakan mereka tegas dan terlatih. Monica tidak melawan, ia menuruni panggung dengan langkah anggun. Setiap langkahnya terdengar jelas di lantai marmer yang mengkilap. Sorot mata orang-orang mengikutinya. Ada yang merendahkan, ada yang penasaran, dan ada yang diam-diam menikmati kehancurannya. Saat melewati Javier, langkah Monica sempat terhenti. Pria itu menatapnya dalam.. “Pergi dari sini!” Monica tidak menjawab, ia hanya menatapnya sebentar, lalu melanjutkan langkah. Kata-kata itu terasa seperti perintah, bukan kepedulian. Pintu besar aula dengan ukiran khas tiongkok terbuka lebar. Udara malam menyambut dengan dingin yang menusuk. Suara musik dari dalam ruangan perlahan teredam saat pintu tertutup kembali. Monica berdiri sendiri di luar, ditemani lampu taman yang menyinari wajahnya yang kini kehilangan topengnya. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan pikirannya yang kacau. Tangannya perlahan bergerak ke perutnya. Sentuhan itu terasa asing, seolah tubuhnya bukan lagi miliknya. Ia menarik napas panjang, tapi dadanya justru terasa semakin sesak. Sesuatu yang tumbuh diam-diam di dalam dirinya ikut merasakan. Ia tidak pernah merencanakan ini. Tidak pernah menginginkan ini. Namun, untuk pertama kalinya malam itu, kebenciannya tidak hanya tertuju pada Gavin. Ada bagian kecil dalam dirinya yang marah pada dirinya sendiri. Monica memejamkan mata sejenak. Ia tidak tahu mana yang lebih menakutkan. Dunia yang ingin menghancurkannya, atau kemungkinan bahwa ia harus melindungi sesuatu di tengah kehancuran itu. Langkah kaki terdengar mendekat dari belakang, perlahan dan pasti. Monica tidak menoleh, ia sudah tahu siapa itu. Ia masih kesal dengan yang terjadi di dalam aula. Semua rencana yang sudah ia susun secara jangka panjang, kini hancur berantakan. “Bisa-bisanya masih berdiri dengan tenang di panggung,” ujar Isaac menghampiri Monica. Monica tersenyum tipis. “Gue nggak punya pilihan lain.” Isaac berhenti di sampingnya. Jas gelapnya rapi, kontras dengan suasana malam yang dingin. Tatapannya lurus ke depan, sama seperti gadis di sampingnya. “Malam ini baru permulaan.” Monica mengangguk pelan. “Gue tahu kok.” Isaac mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah amplop hitam dengan permukaan halus, lalu menyerahkannya tanpa penjelasan. Monica menerimanya, jari-jarinya sedikit gemetar saat membuka segel kecil di ujungnya. Di dalamnya terdapat selembar kertas, hasil tes DNA. Bola matanya bergerak cepat membaca isi dokumen, napasnya tertahan di tenggorokan. Dunia terasa berhenti dalam satu detik yang panjang. Nama di bagian ayah biologis bukan Gavin. Bukan siapapun yang ia kenal. Monica mengangkat kepalanya perlahan, ekspresinya berubah drastis dari marah menjadi sesuatu yang lebih gelap. Isaac menatapnya tanpa emosi. “Kebenaran yang selama ini disembunyikan.” Monica menggenggam kertas itu lebih erat, jantungnya berdetak semakin cepat. Semua yang ia yakini runtuh dalam sekejap. Di bagian bawah dokumen, ada satu tanda tangan. Nama yang membuat darahnya terasa membeku, dan seseorang di dalam aula itu, baru saja tersenyum saat melihatnya pergi."Kapten! Kemudi kanan gak merespons!" Monica berteriak di antara deru angin yang masuk lewat jendela ruang kemudi yang pecah.Kapten tua itu menghantam panel kendali dengan frustrasi, mencoba memaksa tuas hidrolik bekerja kembali. Namun, benda logam itu tetap bergeming, terkunci oleh sirkuit belakang yang telah hangus terbakar."Sirkuit belakang terkena ledakan drone tadi! Kita bergerak melingkar kalau begini terus!" Suara Kapten tua itu meninggi, menyiratkan kepasrahan yang mendalam.Di luar jendela, siluet helikopter faksi Gavin tampak semakin merendah di atas pelabuhan tua.Lampu sorot raksasa dari burung besi itu mengunci geladak kapal, menumpahkan sepasukan robot elite dengan gerakan yang mekanis dan dingin.Suara langkah kaki logam yang berat terdengar berdentang ritmis di atas atap kabin. Menandakan jarak antara mereka dan kematian kini beneran sudah nihil."Gak ada pilihan lain, lo harus pegang kemudi ini, Monica!" perintah Kapten tua itu sambil menarik sebuah senapan mesin ku
Monica terengah-engah, memuntahkan air laut yang sempat tertelan sambil memeriksa bayinya yang basah kuyup di dalam dekapan."Lo beneran belum mati?" tanya Monica dengan suara serak, napasnya naik turun tidak beratur menahan dingin.Javier tidak langsung menjawab, ia sibuk memotong tali tambang dengan pisaunya lalu mengedarkan pandangan ke langit malam. "Kalau gue mati di pipa pembuangan tadi, gak bakal ada yang nolongin lo dari jebakan Isaac, Mon."Monica terdiam, rasa bersalah langsung menusuk dadanya saat nama Isaac disebut oleh mahasiswa koas di depannya ini.Pengkhianatan Isaac di ujung dermaga tadi masih menyisakan luka yang perih, membuat Monica sadar kalau dunia ini beneran sudah setres."Isaac ... dia kerja sama bareng Gavin," bisik Monica dengan rahang mengeras, mencoba menyembunyikan getaran di suaranya."Gue udah menduga sejak awal, jaringan black business gak pernah punya kesetiaan," sahut Javier dingin sambil membantu Monica bangkit berdiri.Sorot lampu helikopter tempur
Rasa dingin yang luar biasa langsung menghantam seluruh permukaan kulit Monica begitu tubuhnya tenggelam ke dalam air laut.Kesadarannya sempat berguncang selama beberapa detik, sementara paru-parunya mulai berontak meminta pasokan oksigen yang nihil.Namun, di tengah kepungan air hitam yang membekukan itu, insting Monica sebagai seorang ibu bergerak jauh lebih cepat daripada rasa takutnya.Tangan kanannya bergerak taktis di dalam air, memastikan dekapan pada bayinya tidak melonggar sedikit pun akibat hantaman ombak bawah laut.Dari atas permukaan air, sorot lampu helikopter faksi Gavin masih terlihat menembus kegelapan laut, menciptakan pilar-pilar cahaya putih yang samar.Monica menahan napas kuat-kuat, memaksa kakinya yang telanjang untuk terus mengayuh menjauh dari area pancaran lampu tersebut.Pikiran Monica berputar cepat di antara rasa pening yang mulai menyerang kepalanya akibat kekurangan udara di dalam air.Ia tahu Gavin pasti akan langsung memerintahkan unit robot air atau
"Pegang anak lo, Monica!" Isaac berteriak keras, suaranya bersaing dengan deru mesin jip yang sudah menjerit di batas maksimal. Monica langsung meringkuk, memeluk bayinya sekencang mungkin di bawah dasbor sambil memejamkan mata erat-erat. Jantungnya berdegup gila-gilaan, siap menghadapi hantaman besar yang sudah terpampang nyata di depan mata mereka. Jip baja itu menghantam gerbang besi pelabuhan tua hingga jebol menjadi dua bagian yang terlempar ke udara. Pecahan kaca dan serpihan logam berterbangan, menggores bodi mobil dengan bunyi decitan yang memekakkan telinga. Kedua robot sentrinel di depan gerbang terlambat merespons, tubuh besi mereka terhantam moncong jip hingga terseret beberapa meter ke lantai beton. Isaac memutar setir dengan cepat, membawa mobil yang kini bagian depannya sudah ringsek itu menerobos area dermaga. "Isaac! Mesinnya keluar asap!" teriak Monica saat me






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews