LOGINHari ketiga Willy di rumah keluarga Haldi dimulai lebih berat dari dua hari sebelumnya. Kekecewaan atas perlakuan Mira dan Haldi masih menyisakan luka di hatinya, tetapi ia mencoba mengalihkan pikiran dengan tugas-tugas yang harus ia kerjakan. Namun, pagi itu, sebelum matahari sepenuhnya naik, pintu kamarnya digedor keras.
“Hey! Bangun kamu!” suara perempuan lantang terdengar dari balik pintu. Willy terbangun dengan tergesa, mengenakan kausnya sebelum membuka pintu. Di hadapannya berdiri seorang wanita cantik dengan raut wajah penuh amarah. Ia mengenakan gaun santai berwarna krem, rambutnya digerai sempurna, dan ekspresinya menunjukkan jelas bahwa ia tidak sedang dalam suasana hati yang baik. “Heh, kamu kuli baru di sini kan? Siapa namamu?” tanyanya dengan nada tinggi. Willy, meskipun masih setengah mengantuk, menjawab sopan. “Nama saya Willy, Nona.” Wanita itu mendengus. “Zalia. Aku anak sulung di rumah ini. Dan aku tidak punya waktu untuk basa-basi.” Zalia menunjuk ke arah kamarnya dengan jari telunjuk yang gemetar karena emosi. “Kamarku kotor! Dindingnya mengelupas, catnya rontok, dan lantainya penuh serpihan. Kenapa kamu tidak cek itu kemarin-kemarin? Apa kerjaanmu di sini cuma tidur dan makan gratis?” Willy menghela napas, mencoba menjelaskan. “Maaf, Nona Zalia. Saya baru bekerja di sini dua hari. Saya belum sempat mengecek seluruh ruangan.” Namun, Zalia tidak mau mendengarkan. “Alasan saja! Dasar orang miskin dan pemalas. Orang sepertimu memang tidak akan pernah paham tanggung jawab!” Kata-katanya terasa seperti cambukan bagi Willy, tetapi ia memilih untuk tetap diam, meskipun hatinya terasa sakit. Suara gaduh itu memancing seorang pria keluar dari kamar. Dengan tubuh tegap dan pakaian santai yang terlihat mahal, Ricky, suami Zalia, muncul dengan ekspresi bosan. “Ada apa ini?” tanyanya, matanya melirik tajam ke arah Willy. “Orang ini, pekerja baru di rumah ini, tidak becus! Kamar kita kotor, dan dia bilang dia tidak tahu apa-apa,” jawab Zalia, menyulut amarahnya. Ricky melangkah mendekat, dan tanpa peringatan, ia menekan kepala Willy dengan telunjuknya. “Hei, kamu dengar? Orang sepertimu harus tahu tempat! Kamu itu cuma pekerja rendahan, tahu? Jangan cari alasan untuk menghindari kerjaanmu!” Willy hanya bisa menunduk, menahan emosi yang membuncah. Ia tahu bahwa jika ia membalas, posisinya di rumah ini akan semakin sulit. “Dasar tolol! Otakmu itu pasti cuma sebesar kacang!” Ricky terus menghina sambil mendorong kepala Willy beberapa kali dengan jari telunjuknya. Zalia tertawa kecil di belakangnya. “Dia memang begitu, Ricky. Pantas saja dia tidak bisa di andalkan. Miskin dan tolol itu paket komplit bagi pecundang semacam dia.” Willy tetap berdiri di depan pintu kamar Zalia, menunduk dengan luka yang menggores hatinya. Namun, sebelum Zalia atau Ricky bisa melanjutkan hinaan mereka, suara langkah cepat terdengar. Bu Din, kepala asisten rumah tangga, datang dengan wajah khawatir. “Non Zalia, Tuan Ricky, ada apa ini?” tanya Bu Din, mencoba meredakan situasi. Zalia mengibaskan tangan. “Bukan urusanmu, Bu Din. Ini antara kami dengan pekerja baru ini.” Namun, Bu Din tidak menyerah. Ia mendekati Willy dan menepuk bahunya dengan lembut. “Kamu tidak apa-apa, Willy?” bisiknya. Willy mengangguk kecil, meskipun matanya masih terlihat suram. “Saya baik-baik saja, Bu.” Bu Din menatap Zalia dan Ricky dengan sorot mata yang penuh keberanian, meskipun ia tahu posisinya. “Mungkin lebih baik kita semua tenang dulu. Willy hanya melakukan tugasnya sesuai yang diarahkan. Kalau ada masalah di kamar, pasti bisa diperbaiki.” Zalia mendengus, tetapi tidak mengatakan apa-apa lagi. Setelah situasi mereda sedikit, Willy kembali ke ruang peralatan untuk mengambil semen, kuas, sendok semen dan bahan lain yang diperlukan untuk memperbaiki dinding di kamar Zalia. Ia datang ke kamar tersebut dengan langkah berat, tetapi tetap berusaha menampilkan wajah tenang. Zalia berdiri di pintu dengan tangan bersilang di dada, memandang Willy seperti seorang pengawas yang mencari alasan untuk memarahi. “Kamu tahu apa yang harus dilakukan, kan?” tanyanya dengan nada meremehkan. Willy mengangguk. “Saya akan memperbaiki dindingnya, Nona. Tapi saya sarankan Anda dan Tuan Ricky pindah ke kamar tamu sementara perbaikan dilakukan. Proses ini mungkin akan sedikit mengganggu.” Namun, bukannya menerima saran itu, Zalia justru tersenyum sinis. “Tidak perlu. Kamu bisa memperbaikinya nanti, setelah aku pergi. Aku tidak mau menghirup debu dari pekerjaanmu.” Willy terdiam, menahan diri agar tidak mengatakan sesuatu yang bisa memperburuk situasi. Ia hanya mengangguk patuh dan berkata, “Baik, Nona.” Zalia memutar matanya dengan sikap malas. “Pastikan semuanya beres sebelum aku pulang lain hari.” Ricky, yang duduk di kursi dekat jendela, menambahkan dengan nada mengejek, “Dan jangan sampai ada noda di lantai. Kalau ada, aku akan pastikan kamu yang membersihkannya dengan lidahmu.” Willy hanya menjawab dengan sopan, “Saya mengerti, Tuan.” Namun, dalam hatinya, ia merasa luka yang ia alami semakin dalam. Hinaan demi hinaan dari Zalia dan Ricky mengingatkannya akan posisi rendahnya di rumah ini, meskipun ia tahu bahwa ia bekerja keras untuk memberikan yang terbaik. Ketika Zalia dan Ricky akhirnya meninggalkan kamar, Willy berdiri sendirian di sana, menatap dinding yang mengelupas dengan perasaan campur aduk. Bukan pekerjaan memperbaiki dinding yang membuatnya berat, tetapi kenyataan bahwa ia diperlakukan begitu rendah oleh orang-orang yang bahkan tidak tahu apa-apa tentang dirinya. --- Hari semakin siang, jarum jam menunjuk pukul 9.30. Di rumah besar keluarga Haldi, suasana terasa lengang. Haldi sudah berangkat bekerja sejak jam 7 pagi, meninggalkan rumah dengan aura serius seperti biasa. Mira, sang nyonya rumah, menghilang bersama teman-teman sosialitanya, sibuk menghadiri acara atau sekedar menikmati kehidupan kelas atas. Willy, seperti yang diperintahkan pagi tadi, sibuk dengan tugas memperbaiki dinding kamar Zalia. Dengan peralatan seadanya, ia menambal dinding yang kulitnya mengelupas, mencoba memastikan setiap sudut terlihat rapi. Meski hatinya masih terasa berat akibat hinaan dan perlakuan buruk dari Zalia dan Ricky, Willy tetap menjalankan pekerjaannya dengan penuh tanggung jawab. Setiap sapuan kuas di dinding terasa seperti cara untuk mengalihkan pikirannya dari semua rasa sakit yang ia rasakan. Tiba-tiba, suara langkah ringan terdengar dari luar kamar. Willy menoleh, namun tak melihat siapa pun. Ia melanjutkan pekerjaannya, berpikir mungkin itu hanya perasaan. Tapi, tak lama kemudian, sebuah suara lembut memecah kesunyian. “Minum dulu, Willy.” Willy menoleh dan terkejut melihat Delia berdiri di ambang pintu. Di tangannya, ia membawa segelas es jeruk segar, yang terlihat begitu menggoda di bawah cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela kamar. Delia tersenyum, senyum yang terasa hangat dan berbeda dari anggota keluarga Haldi lainnya. Ia melangkah masuk dan menyerahkan gelas itu kepada Willy. “Aku tahu mereka pasti menyusahkanmu. Orang-orang di rumah ini memang sudah biasa arogan,” katanya dengan nada penuh pengertian. Willy, yang semula ragu, menerima gelas itu dengan tangan gemetar. Ia merasa aneh mendapat perhatian seperti ini, terutama setelah dua hari yang terasa begitu melelahkan. “Terima kasih, Nona Delia,” ujarnya pelan. Delia tertawa kecil. “Sudah kubilang, panggil aku Delia saja. Tidak perlu formal begitu.” Willy mengangguk sambil menyesap es jeruk itu. Rasanya begitu menyegarkan, seolah mampu menghapus sebagian beban yang menghimpit hatinya sejak pagi. Melihat Willy menikmati minuman itu, Delia duduk di kursi dekat jendela. Ia menatap Willy dengan mata penuh rasa ingin tahu. “Kamu sudah sarapan, Willy?” tanyanya tiba-tiba. Willy terdiam sejenak sebelum menggeleng. “Belum, Nona... eh, Delia. Saya kehilangan nafsu makan,” jawabnya jujur. “Kenapa?” Delia menatapnya dengan ekspresi prihatin. “Apa karena tadi pagi?” Willy hanya mengangguk tanpa mengatakan apa-apa lagi. Ia tidak ingin terlihat lemah atau mengeluh di depan Delia, meskipun kenyataannya ia masih merasa tertekan oleh kejadian pagi itu. Delia berdiri dari kursinya. “Tunggu sebentar, aku akan kembali,” katanya sebelum melangkah keluar dari kamar. Willy hanya bisa menatap kepergiannya dengan bingung. Ia tidak tahu apa yang Delia rencanakan, tetapi hatinya merasa sedikit lebih ringan hanya karena kehadiran gadis itu. Ada sesuatu dalam sikap Delia yang terasa tulus, jauh berbeda dari anggota keluarga Haldi lainnya. Beberapa menit kemudian, Delia kembali dengan membawa sesuatu yang membuat Willy benar-benar terkejut. Ia memegang sepiring nasi lengkap dengan lauk pauk yang terlihat begitu menggugah selera. Bau harum makanan itu langsung memenuhi kamar, membuat perut Willy yang kosong sejak pagi terasa lapar. “Ini untukmu,” kata Delia sambil meletakkan piring itu di atas meja kecil dekat tempat Willy bekerja. “Makanlah dulu sebelum melanjutkan pekerjaanmu.” Willy memandang Delia dengan mata lebar. Ia tidak tahu harus berkata apa. Dalam dua hari terakhir, ia hampir tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh siapa pun di rumah ini. “Delia... ini terlalu berlebihan,” ujarnya pelan. “Saya tidak bisa menerima ini.” Namun, Delia hanya tersenyum. “Anggap saja ini ucapan terima kasihku karena kamu sudah membantuku kemarin. Jangan terlalu banyak berpikir, Willy. Makanlah dulu, biar kamu punya tenaga.” Willy masih terdiam, tidak tahu bagaimana harus merespon. Hatinya dipenuhi berbagai perasaan, syukur, terharu, dan mungkin sedikit bingung. Tetapi pada akhirnya, ia hanya bisa menatap Delia dengan penuh rasa hormat. Willy bergumam dalam hati, "Ini terasa aneh dan penuh tanda tanya. Apa sebenarnya niat Delia dibalik semua ini? Perasaanku mengatakan bakal terjadi hal tak terduga setelah ini." ###Gedung pencakar langit Rumah Sakit Golden Healthy berdiri dengan megahnya di pusat Kota Arsaka, memantulkan cahaya matahari pagi pada dinding kacanya yang berkilauan. Pagi ini, suasana di lobi utama tampak jauh lebih sibuk dan tegang dibandingkan hari-hari biasanya. Barisan dokter spesialis, perawat dengan seragam putih bersih, hingga jajaran direksi berpakaian formal telah berdiri rapi membentuk pagar ayu yang panjang. Mereka semua sedang menunggu kedatangan sosok misterius yang menurut kabar hukum terbaru telah menjadi pemilik tunggal sekaligus Direktur Utama mereka yang baru. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyangka bahwa sosok yang akan muncul adalah pemuda yang selama ini dianggap tidak memiliki pengaruh apa pun di kota tersebut.Iring-iringan mobil mewah berwarna hitam mengkilap perlahan memasuki pelataran gedung. Mobil paling depan berhenti tepat di depan pintu lobi, dan seorang pengawal dengan sigap membukakan pintu belakang. Willy melangkah keluar dengan setelan jas c
Pandangan Ben Dino seketika beralih sepenuhnya ke arah Willy, meninggalkan koran yang tadi ia baca di samping meja. "Katakanlah, Nak. Kami semua mendengarkan. Apakah ini mengenai masalah rumah tangga kalian, atau ada hal lain yang mendesak?" tanya Ben Dino dengan sorot mata yang penuh perhatian."Ini bukan soal masalah rumah tangga, Ayah. Ini adalah sesuatu yang berkaitan dengan masa depanku dan juga kejutan yang baru saja aku terima kemarin," jawab Willy sambil menatap mata ayah angkatnya dengan penuh ketegasan."Kelihatannya sangat serius. Apakah kau sedang butuh modal bisnis atau semacamnya?" tanya Sano sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak tertarik dengan pembukaan Willy yang tidak biasa."Bukan modal, Kak. Ini jauh lebih besar dari itu. Aku sendiri pun masih merasa seperti di dalam mimpi saat pertama kali mengetahuinya," sahut Willy sambil melirik Delia sejenak untuk mencari kekuatan tambahan."Kalau begitu, ceritakanlah sekarang agar kami tidak mati penasaran. Apa yan
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah tirai besar di kamar utama, memantulkan binar keemasan pada lantai marmer yang bersih. Willy terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan dibandingkan malam sebelumnya, seolah beban berat yang sempat menghimpit dadanya telah luruh bersama keringat dan pergumulan hangat bersama Delia. Ia menoleh ke samping, mendapati istrinya sedang merapikan rambut di depan cermin besar setelah mereka berdua selesai mandi bersama untuk membersihkan sisa-sisa kelelahan tadi malam. Ritual mandi pagi itu tidak hanya menyegarkan fisik mereka, tetapi juga semakin mempererat ikatan batin yang sempat tegang karena tekanan rahasia dari sistem cahaya."Apakah kau sudah merasa lebih siap untuk menghadapi Ayah pagi ini?" tanya Delia sambil memulas sedikit lipstik di bibirnya yang ranum.Willy mengangguk mantap sambil mengenakan kemeja santai namun tetap terlihat rapi dan berwibawa. "Berkat ide cemerlangmu semalam, aku merasa jauh lebih percaya diri
Willy menatap istrinya dengan pandangan yang berusaha terlihat setegar mungkin, meskipun di dalam hatinya ia merasa sangat berdebar karena harus mempertahankan kebohongan besar ini. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya kembali membuka suara dengan nada yang sangat serius."Entah itu terdengar sangat aneh di telingamu atau sama sekali tidak masuk akal bagi logika siapa pun, kenyataannya memang sudah seperti itu adanya, Delia," ujar Willy sambil menatap lekat kedua mata istrinya.Ia menjelaskan bahwa segala bentuk administrasi dan pembuktian hukum sudah berada di tangannya tanpa ada satu pun celah yang bisa diperdebatkan lagi oleh pihak mana pun."Aku tidak sedang mengigau atau mencoba menciptakan lelucon yang tidak masuk akal di malam hari ini. Aku benar-benar pemilik sah Golden Healthy sekarang," tambah Willy dengan nada suara yang sedikit lebih rendah namun sangat menekan.Delia terdiam selama beberapa saat, mencoba mencerna intensitas yang terpancar dari raut wajah suaminya ya
MOHON MAAF KEPADA SEMUA PEMBACA KARENA SELAMA INI PENULIS VAKUM. TAPI, MULAI HARI INI CERITA AKAN KEMBALI DILANJUTKAN. Langkah kaki Willy terasa berat saat ia menyusuri jalan setapak di taman belakang kediaman mewah milik Ben Dino. Udara malam yang dingin menyapu permukaan kulitnya, namun tidak mampu mendinginkan gejolak pikiran yang sedang melanda. Di dalam kepalanya, sistem cahaya yang bersemayam dalam tubuhnya seolah terus berdenyut, mengingatkan Willy bahwa ia kini bukan lagi sekadar pemuda biasa yang menumpang di rumah orang kaya. Secara hukum dan administratif, ia telah menjadi pemilik tunggal dari Rumah Sakit Golden Healthy, sebuah institusi medis papan atas yang namanya sangat disegani di Kota Arsaka. Namun, kekayaan dan kekuasaan yang datang secara instan itu justru membawa beban moral yang besar. 'Bagaimana mungkin aku menjelaskan hal ini kepada ayah yang telah memberikan segalanya, tanpa membocorkan rahasia tentang sistem yang menjadi sumber kekuatanku?' gumam
Bab XLV: Harta KarunWilly menaiki ojek motor dengan cepat, menuju rumah warga tempat mobilnya dititipkan. Sambil menikmati hembusan angin sore yang menyapu wajahnya, ia merasa puas dengan kejadian sore tadi. Willy tak sabar ingin segera menceritakan perkelahiannya dengan anak buah Tomey kepada Delia. Ia ingin istrinya tahu bahwa pria yang selama ini mendekatinya, ternyata tak lebih dari sekedar pengecut yang hanya berani bertindak ketika memiliki banyak anak buah di sisinya.Setelah mengambil mobilnya, Willy meluncur di tengah kemacetan kota Arsaka. Langit sudah mulai gelap dan jalanan padat dengan kendaraan yang berdesakan. Ia menyalakan lampu hazard saat laju kendaraan benar-benar melambat. Tak seberapa lama waktu berjalan, ponselnya bergetar di dashboard, itu adalah panggilan masuk dari Ben Dino."Halo, Ayah?" Willy menjawab panggilan sambil tetap fokus pada lalu lintas."Nak, kamu ada di mana? Malam ini Ayah ingin mengajakmu menjenguk seorang teman lama yang sedang sakit. Ayah s







