Home / Urban / Menantu Kuli / X. Mira murka

Share

X. Mira murka

Author: Leva Lorich
last update Last Updated: 2025-01-05 09:56:19

Dua pemuda itu menyerang Willy secara bersamaan, masing-masing dengan tinju yang meluncur dari arah berlawanan. Dalam hitungan detik, mereka sudah berada dalam jarak serang.

Willy tidak sempat berpikir. Sekali lagi, tubuhnya bergerak sendiri, seolah naluri pertahanannya mengambil alih. Ia melangkah ke samping dengan gesit, menghindari pukulan pertama, sementara tangan kirinya terangkat untuk menangkis tinju yang datang dari arah lain. Gerakannya cepat, hampir tidak terlihat, tetapi sangat akurat.

Sebelum salah satu dari mereka sempat melancarkan serangan lagi, Willy melancarkan sebuah tendangan rendah yang menyapu kaki salah satu pemuda, membuatnya jatuh tersungkur ke tanah. Pemuda itu mencoba bangkit, tetapi sebelum ia berhasil berdiri, Willy sudah bergerak ke arah yang lain.

Pemuda kedua mencoba menyerang dengan sebuah tendangan lurus, tetapi Willy memutar tubuhnya dengan lincah, menghindari serangan itu. Dengan sebuah pukulan cepat ke perut, pemuda itu kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk, meringis kesakitan.

Delia menutup mulutnya dengan tangan, terkejut dengan apa yang baru saja ia saksikan. Ia tahu Willy terlihat cukup tangguh, tetapi ia tidak pernah menyangka bahwa Willy mampu melumpuhkan dua orang dengan begitu mudah.

Di sisi lain, Tomey yang menyaksikan semuanya berdiri terpaku, tidak percaya dengan apa yang terjadi. Ia tidak pernah melihat kedua temannya, yang biasanya cukup percaya diri dalam berkelahi, dikalahkan dengan begitu cepat.

"Apa-apaan ini?" Tomey bergumam, wajahnya memerah karena marah dan malu.

Namun, amarahnya mengalahkan rasa takut. "Kalian benar-benar tidak berguna!" bentaknya pada kedua temannya yang masih berusaha bangkit dari tanah.

Kini hanya tersisa Tomey sendiri, tetapi ia masih memiliki keberanian untuk maju. Dengan tinju yang sudah terangkat, ia berjalan mendekati Willy. "Jangan pikir kau bisa lolos dengan mudah!" katanya dengan nada penuh keyakinan.

Willy tetap diam, matanya menatap Tomey dengan tenang. Delia mencoba menghentikan Tomey. "Sudah cukup, Tomey! Kau hanya mempermalukan dirimu sendiri!"

Namun, Tomey tidak mendengarkan. Dengan teriakan penuh emosi, ia melancarkan sebuah pukulan lurus ke arah wajah Willy.

Sekali lagi, tubuh Willy bergerak seperti rumput yang tertiup angin, lincah dan fleksibel. Ia menghindar ke samping, membuat pukulan Tomey meleset. Sebelum Tomey sempat menarik kembali tangannya, Willy memutar tubuhnya dengan sebuah gerakan melingkar dan menggunakan bahunya untuk mendorong tubuh Tomey.

Tomey kehilangan keseimbangan dan jatuh terjengkang ke tanah. Ia mencoba bangkit, tetapi sebelum ia sempat berdiri, Willy sudah berada di depannya. Dengan gerakan tenang, Willy menempatkan kakinya di tanah, menghalangi Tomey untuk menyerang lagi.

"Sudah cukup," kata Willy dengan suara yang rendah tapi penuh otoritas.

Tomey terdiam, terengah-engah, dan wajahnya yang memerah berubah menjadi pucat. Ia menyadari bahwa ia tidak memiliki kesempatan untuk menang melawan Willy.

Di sekitar mereka, beberapa mahasiswa yang masih berada di gerbang kampus mulai berkumpul, menyaksikan kejadian itu dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Beberapa bahkan mulai merekam dengan ponsel mereka. Situasi ini semakin mempermalukan Tomey, yang selama ini dikenal sebagai orang yang berkuasa di kampus.

Dengan susah payah, Tomey akhirnya berdiri, dibantu oleh kedua temannya. Ia menatap Willy dengan penuh kebencian, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

"Aku tidak akan melupakan ini," kata Tomey dengan suara dingin, sambil menunjuk ke arah Willy. "Kau akan menyesal karena telah mempermalukanku."

Delia maju selangkah, matanya tajam menatap Tomey. "Kau yang mempermalukan dirimu sendiri, Tomey. Jangan salahkan orang lain."

Tomey tidak menjawab. Ia hanya menggeram pelan sebelum berbalik dan pergi bersama kedua temannya, langkah mereka terlihat tertatih-tatih.

---

Saat suasana mulai mereda, Willy menghela napas panjang, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Ia tidak tahu bagaimana ia bisa melakukan semua gerakan itu. Ia merasa tubuhnya bergerak sendiri, tanpa kontrol penuh dari pikirannya.

Delia menyentuh lengan Willy dengan lembut. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya, nada suaranya penuh kekhawatiran.

Willy mengangguk pelan. "Saya baik-baik saja, Delia. Apakah kamu terluka?"

Delia menggeleng. "Aku baik-baik saja. Tapi kau... aku tidak tahu kau bisa bertarung seperti itu. Kau seperti profesional."

Willy hanya tersenyum kecil, tidak tahu harus menjawab apa. Ia juga merasa bingung dengan kemampuan yang tiba-tiba muncul dalam dirinya.

"Sudah, ayo kita pergi dari sini," kata Delia akhirnya. "Aku tidak ingin berada di sini lebih lama."

Willy mengangguk, dan mereka berdua kembali ke mobil.

---

Perjalanan pulang dari Universitas Arsaka terasa cukup hening. Willy fokus mengemudikan Mini Cooper biru milik Delia, sementara Delia duduk di kursi penumpang dengan tatapan kosong ke luar jendela. Namun, setelah beberapa menit berlalu, Delia memecah keheningan.

“Terima kasih, Willy,” katanya pelan.

Willy menoleh sejenak sebelum kembali memusatkan perhatian pada jalan. “Untuk apa, Delia?” tanyanya sopan.

Delia menghela napas. “Untuk tadi. Kau melindungiku dari Tomey. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kau tidak ada.”

Willy hanya tersenyum kecil. “Sudah tugas saya melindungimu, Delia.”

Namun, Delia menggeleng perlahan. “Bukan hanya itu. Entah kenapa... meskipun kita baru bertemu hari ini, aku merasa kau adalah orang yang bisa diandalkan. Mungkin aku terlalu cepat menilai, tapi... aku merasa ada sesuatu yang berbeda tentangmu.”

Willy tidak menjawab. Kata-kata Delia membuatnya sedikit gugup, tetapi ia tetap berusaha menjaga ekspresi wajahnya tetap netral.

Sesampainya di rumah keluarga Haldi, lampu-lampu di ruang tamu menyala terang. Dari balik jendela besar, Willy bisa melihat Mira dan Haldi duduk di sofa, menunggu dengan ekspresi serius. Hatinya mulai terasa tidak nyaman.

“Kita sudah ditunggu,” kata Delia dengan nada cemas, memperhatikan hal yang sama.

Willy hanya mengangguk, lalu memarkir mobil dengan hati-hati di garasi sebelum keluar dan membukakan pintu untuk Delia. Keduanya berjalan masuk ke rumah, dan suasana tegang segera menyambut mereka.

“Duduk di sini,” kata Mira dengan nada dingin begitu Delia dan Willy masuk. Tangannya menunjuk ke kursi kosong di seberang mereka.

Willy dan Delia menurut, meskipun Willy sudah bisa menebak apa yang akan terjadi.

“Jadi, kau pikir kau bisa melakukan apa saja hanya karena kami mempekerjakanmu?” kata Mira, langsung menyerang Willy dengan kata-kata tajam.

Willy tetap diam, mencoba membaca situasi sebelum memberikan tanggapan.

“Orang tua Tomey baru saja meneleponku!” Mira melanjutkan, suaranya meninggi. “Mereka bilang sopir kami, yang tidak tahu diri, berani-beraninya menganiaya anak mereka di depan umum! Apa kau tahu betapa memalukan dan berbahayanya ini untuk reputasi keluarga kami?”

Delia mencoba berbicara. “Bu, itu bukan salah Willy. Tomey yang...”

“Diam, Delia!” potong Mira tajam. “Kau tidak perlu membela dia.”

Delia terdiam, meskipun wajahnya menunjukkan ketidaksetujuan.

Haldi yang duduk di samping Mira menatap Willy dengan ekspresi kecewa. “Kami mempekerjakanmu untuk melayani keluarga ini, Willy, bukan untuk membuat masalah.”

Willy merasa panas di dadanya, tetapi ia berusaha menahan diri. Dengan suara yang tenang, ia berkata, “Saya hanya melindungi Nona Delia, Pak. Tomey memaksa beliau untuk pergi bersamanya meskipun sudah menolak. Ketika saya mencoba membawa Nona Delia pergi, dia menyerang saya terlebih dahulu.”

Mira mendengus sinis. “Itu bukan urusanmu! Kau tidak punya hak untuk ikut campur dengan siapa Delia pergi atau tidak pergi!”

“Bu, itu tidak adil!” Delia kembali mencoba membela Willy. “Kalau bukan karena dia, aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Tomey itu kasar dan memaksa!”

Namun, Mira tidak peduli. “Delia, aku sudah bilang diam!”

Haldi menghela napas panjang. “Intinya, Willy, tindakanmu tidak bisa diterima. Sebagai karyawan, kau seharusnya tahu batasan. Kami tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi. Mengerti?”

Willy menundukkan kepala. “Saya mengerti, Pak,” jawabnya pelan, meskipun hatinya terasa seperti dihimpit batu besar.

---

Setelah pertemuan itu selesai, Willy berjalan kembali ke ruang belakang dengan langkah berat. Ia merasa dihantam oleh rasa kecewa yang mendalam. Mira terlalu keras dan tidak masuk akal, sementara Haldi hanya mengikuti keputusannya tanpa mempertimbangkan sisi lain.

Di dapur, Bu Din yang sedang membereskan piring makan malam menatap Willy dengan prihatin. “Kamu tidak apa-apa, Wil?” tanyanya lembut.

Willy hanya tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, Bu. Terima kasih.”

Namun, saat ia tiba di kamar kecilnya, ia tidak bisa menahan diri lagi. Duduk di tepi ranjang, ia menundukkan kepala, memegang rambutnya dengan kedua tangan. Ingin rasanya menjambak rambutnya sendiri.

“Kenapa semuanya jadi seperti ini?” gumam Willy pelan.

Hari kedua di rumah keluarga Haldi ternyata jauh lebih berat dari yang ia bayangkan. Willy mulai merasa bahwa mungkin ia tidak akan bertahan lama di tempat ini.

Willy menatap nanar daun pintu kamarnya, "Sebaiknya aku pergi saja dari rumah ini sekarang juga. Keluarga tidak logis!"

###

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menantu Kuli   L. Berdiri Di Puncak

    Gedung pencakar langit Rumah Sakit Golden Healthy berdiri dengan megahnya di pusat Kota Arsaka, memantulkan cahaya matahari pagi pada dinding kacanya yang berkilauan. Pagi ini, suasana di lobi utama tampak jauh lebih sibuk dan tegang dibandingkan hari-hari biasanya. Barisan dokter spesialis, perawat dengan seragam putih bersih, hingga jajaran direksi berpakaian formal telah berdiri rapi membentuk pagar ayu yang panjang. Mereka semua sedang menunggu kedatangan sosok misterius yang menurut kabar hukum terbaru telah menjadi pemilik tunggal sekaligus Direktur Utama mereka yang baru. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyangka bahwa sosok yang akan muncul adalah pemuda yang selama ini dianggap tidak memiliki pengaruh apa pun di kota tersebut.Iring-iringan mobil mewah berwarna hitam mengkilap perlahan memasuki pelataran gedung. Mobil paling depan berhenti tepat di depan pintu lobi, dan seorang pengawal dengan sigap membukakan pintu belakang. Willy melangkah keluar dengan setelan jas c

  • Menantu Kuli   XLIX. Lonjakan Drastis

    Pandangan Ben Dino seketika beralih sepenuhnya ke arah Willy, meninggalkan koran yang tadi ia baca di samping meja. "Katakanlah, Nak. Kami semua mendengarkan. Apakah ini mengenai masalah rumah tangga kalian, atau ada hal lain yang mendesak?" tanya Ben Dino dengan sorot mata yang penuh perhatian."Ini bukan soal masalah rumah tangga, Ayah. Ini adalah sesuatu yang berkaitan dengan masa depanku dan juga kejutan yang baru saja aku terima kemarin," jawab Willy sambil menatap mata ayah angkatnya dengan penuh ketegasan."Kelihatannya sangat serius. Apakah kau sedang butuh modal bisnis atau semacamnya?" tanya Sano sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak tertarik dengan pembukaan Willy yang tidak biasa."Bukan modal, Kak. Ini jauh lebih besar dari itu. Aku sendiri pun masih merasa seperti di dalam mimpi saat pertama kali mengetahuinya," sahut Willy sambil melirik Delia sejenak untuk mencari kekuatan tambahan."Kalau begitu, ceritakanlah sekarang agar kami tidak mati penasaran. Apa yan

  • Menantu Kuli   XLVIII. Sarapan Harmonis

    Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah tirai besar di kamar utama, memantulkan binar keemasan pada lantai marmer yang bersih. Willy terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan dibandingkan malam sebelumnya, seolah beban berat yang sempat menghimpit dadanya telah luruh bersama keringat dan pergumulan hangat bersama Delia. Ia menoleh ke samping, mendapati istrinya sedang merapikan rambut di depan cermin besar setelah mereka berdua selesai mandi bersama untuk membersihkan sisa-sisa kelelahan tadi malam. Ritual mandi pagi itu tidak hanya menyegarkan fisik mereka, tetapi juga semakin mempererat ikatan batin yang sempat tegang karena tekanan rahasia dari sistem cahaya."Apakah kau sudah merasa lebih siap untuk menghadapi Ayah pagi ini?" tanya Delia sambil memulas sedikit lipstik di bibirnya yang ranum.Willy mengangguk mantap sambil mengenakan kemeja santai namun tetap terlihat rapi dan berwibawa. "Berkat ide cemerlangmu semalam, aku merasa jauh lebih percaya diri

  • Menantu Kuli   XLVII. Solusi Delia

    Willy menatap istrinya dengan pandangan yang berusaha terlihat setegar mungkin, meskipun di dalam hatinya ia merasa sangat berdebar karena harus mempertahankan kebohongan besar ini. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya kembali membuka suara dengan nada yang sangat serius."Entah itu terdengar sangat aneh di telingamu atau sama sekali tidak masuk akal bagi logika siapa pun, kenyataannya memang sudah seperti itu adanya, Delia," ujar Willy sambil menatap lekat kedua mata istrinya.Ia menjelaskan bahwa segala bentuk administrasi dan pembuktian hukum sudah berada di tangannya tanpa ada satu pun celah yang bisa diperdebatkan lagi oleh pihak mana pun."Aku tidak sedang mengigau atau mencoba menciptakan lelucon yang tidak masuk akal di malam hari ini. Aku benar-benar pemilik sah Golden Healthy sekarang," tambah Willy dengan nada suara yang sedikit lebih rendah namun sangat menekan.Delia terdiam selama beberapa saat, mencoba mencerna intensitas yang terpancar dari raut wajah suaminya ya

  • Menantu Kuli   XLVI. Pembicaraan Serius

    MOHON MAAF KEPADA SEMUA PEMBACA KARENA SELAMA INI PENULIS VAKUM. TAPI, MULAI HARI INI CERITA AKAN KEMBALI DILANJUTKAN. Langkah kaki Willy terasa berat saat ia menyusuri jalan setapak di taman belakang kediaman mewah milik Ben Dino. Udara malam yang dingin menyapu permukaan kulitnya, namun tidak mampu mendinginkan gejolak pikiran yang sedang melanda. Di dalam kepalanya, sistem cahaya yang bersemayam dalam tubuhnya seolah terus berdenyut, mengingatkan Willy bahwa ia kini bukan lagi sekadar pemuda biasa yang menumpang di rumah orang kaya. Secara hukum dan administratif, ia telah menjadi pemilik tunggal dari Rumah Sakit Golden Healthy, sebuah institusi medis papan atas yang namanya sangat disegani di Kota Arsaka. Namun, kekayaan dan kekuasaan yang datang secara instan itu justru membawa beban moral yang besar. 'Bagaimana mungkin aku menjelaskan hal ini kepada ayah yang telah memberikan segalanya, tanpa membocorkan rahasia tentang sistem yang menjadi sumber kekuatanku?' gumam

  • Menantu Kuli   XLV. Harta Karun

    Bab XLV: Harta KarunWilly menaiki ojek motor dengan cepat, menuju rumah warga tempat mobilnya dititipkan. Sambil menikmati hembusan angin sore yang menyapu wajahnya, ia merasa puas dengan kejadian sore tadi. Willy tak sabar ingin segera menceritakan perkelahiannya dengan anak buah Tomey kepada Delia. Ia ingin istrinya tahu bahwa pria yang selama ini mendekatinya, ternyata tak lebih dari sekedar pengecut yang hanya berani bertindak ketika memiliki banyak anak buah di sisinya.Setelah mengambil mobilnya, Willy meluncur di tengah kemacetan kota Arsaka. Langit sudah mulai gelap dan jalanan padat dengan kendaraan yang berdesakan. Ia menyalakan lampu hazard saat laju kendaraan benar-benar melambat. Tak seberapa lama waktu berjalan, ponselnya bergetar di dashboard, itu adalah panggilan masuk dari Ben Dino."Halo, Ayah?" Willy menjawab panggilan sambil tetap fokus pada lalu lintas."Nak, kamu ada di mana? Malam ini Ayah ingin mengajakmu menjenguk seorang teman lama yang sedang sakit. Ayah s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status