Beranda / Urban / Menantu Kuli / XII. Asisten pribadi?

Share

XII. Asisten pribadi?

Penulis: Leva Lorich
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-06 09:48:04

Tepat tengah hari, Willy akhirnya menyelesaikan pekerjaannya di kamar Zalia. Dinding yang keropos hanya sedikit, namun Zalia membesar-besarkan masalah seolah-olah seluruh kamar membutuhkan renovasi total. Willy menghela napas panjang saat mengemasi alat-alatnya, berusaha mengabaikan sisa-sisa kemarahan yang sempat meluap di hatinya.

Tepat saat ia hendak keluar dari kamar, Delia muncul lagi, kali ini membawa sepiring makan siang yang tampak sangat menggoda. Ia melangkah anggun ke dalam ruangan dan menatap Willy dengan senyum khasnya.

“Sudah selesai, ya? Bagus. Sekarang makan dulu,” ujar Delia sambil menyerahkan piring itu kepada Willy.

Willy menatapnya dengan sedikit bingung. “Terima kasih, Nona Delia. Tapi ini terlalu merepotkan.”

Delia tertawa kecil. “Berhenti memanggilku Nona. Panggil saja Delia. Dan ini bukan merepotkan, aku hanya tidak suka melihatmu kelaparan.”

Willy hanya bisa menuruti tanpa banyak bicara. Sambil menikmati makan siangnya, Delia duduk di kursi dan memandangnya.

“Oh, ya,” katanya sambil memandang Willy dengan penuh perhatian. “Hari ini aku tidak ada kuliah. Tadi aku sudah meminta izin pada Ayah untuk menjadikanmu asisten pribadiku kalau kamu sedang tidak ada pekerjaan di rumah.”

Willy tersedak mendengar ucapan itu. Ia menatap Delia dengan mata terbelalak, merasa tidak percaya. “Asisten pribadi?” tanyanya dengan suara bergetar.

Delia mengangguk santai. “Iya, kau akan menemaniku kalau aku butuh. Mudah saja, kan?”

Willy merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Delia adalah anak majikannya, dan ia tidak ingin terlalu dekat dengannya. Ada perasaan aneh yang mulai tumbuh di hatinya, dan itu membuatnya takut.

“Delia, saya rasa...”

“Sudah, tidak perlu banyak alasan,” potong Delia dengan senyum penuh arti. “Sekarang bersiaplah. Aku ingin membeli beberapa alat tulis. Kau harus menemaniku.”

---

Menggunakan Mini Cooper biru milik Delia, Willy duduk di kursi kemudi dengan gugup. Sepanjang perjalanan, Delia tampak santai, menikmati pemandangan dari balik kaca mobil. Sementara itu, Willy hanya fokus pada jalanan, berusaha mengabaikan perasaan aneh yang terus menghantuinya.

Suasana di dalam mobil terasa canggung. Willy memegang setir dengan kedua tangan, fokus pada jalan, sementara Delia duduk santai di kursi penumpang. Beberapa kali Delia mencuri pandang ke arah Willy, tetapi ia hanya tersenyum kecil, tidak ingin terlihat terlalu mencolok.

“Kamu sudah mulai terbiasa bekerja di rumah?” Delia memecah kesunyian, suaranya lembut namun penuh rasa ingin tahu.

Willy menoleh sejenak, lalu kembali fokus ke jalan. “Lumayan, Nona... eh, maksud saya, Delia.”

Delia tertawa kecil mendengar kekakuan Willy. “Kamu masih canggung memanggilku Delia, ya?”

Willy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Maaf, saya hanya tidak terbiasa. Biasanya saya memanggil orang-orang seperti Nona dengan sebutan yang lebih formal.”

“Hmm, itu artinya kamu belum benar-benar nyaman,” kata Delia sambil menopang dagunya dengan tangan. “Aku tidak suka kalau orang-orang terlalu formal. Rasanya ada jarak yang tidak perlu.”

Willy tidak segera menjawab. Ia merasa Delia sangat berbeda dari anggota keluarga Haldi lainnya. Ada sesuatu dalam dirinya yang terasa lebih manusiawi dan hangat.

Delia kembali berbicara, kali ini dengan nada serius. “Willy, aku ingin tanya. Kenapa kamu memutuskan bekerja di rumah kami? Apa tidak berat menghadapi Mama dan kakakku?”

Willy menarik napas panjang, mencoba merangkai kata-kata. “Sebenarnya, saya hanya butuh pekerjaan. Kalau soal berat atau tidak, saya anggap sebagai bagian dari tanggung jawab. Lagi pula, saya tidak punya pilihan lain.”

Delia menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. “Tapi kamu kan bisa mencari pekerjaan di tempat lain. Maksudku, aku lihat kamu pekerja keras dan... kamu punya kelebihan.”

Willy tersenyum kecil, meski pandangannya tetap fokus pada jalan. “Kelebihan saya hanya sederhana, Delia. Mungkin saya hanya beruntung bisa bertahan sejauh ini.”

Percakapan itu membawa suasana yang lebih ringan. Delia merasa ada sesuatu yang menarik dari Willy, ketulusan dan keteguhan hatinya. Sementara itu, Willy berusaha menenangkan pikirannya yang mulai kacau karena kehadiran Delia.

Setelah beberapa saat, Delia kembali berbicara, kali ini dengan nada santai. “Kalau aku ada masalah, kamu akan bantu, kan?”

Willy menoleh sejenak, bingung dengan pertanyaan itu. “Tentu, kalau saya bisa.”

Delia tersenyum lebar. “Bagus. Aku tahu bisa mengandalkanmu, Willy.”

Willy tidak menjawab, tetapi senyuman kecil yang muncul di wajahnya menunjukkan bahwa ia mulai merasa lebih nyaman dengan Delia. Namun, dalam hatinya, ia tahu hubungan ini harus tetap dijaga agar tidak melampaui batas.

Setibanya di toko pusat alat tulis, Delia turun dengan anggun, mengenakan gaun sederhana namun tetap memancarkan aura berkelas. Willy memutuskan untuk menunggu di luar, membiarkan Delia berbelanja sendirian.

Ia memarkir mobil di sudut parkiran, mengamati sekeliling dengan pikiran yang berkecamuk. Namun, sesuatu yang tidak biasa menarik perhatiannya. Di sudut lain parkiran, seorang pria paruh baya tampak terkulai lemas di atas tanah, dikelilingi oleh beberapa orang yang tampak panik.

Tanpa berpikir panjang, Willy membuka pintu mobil dan berlari menuju pria itu. Kerumunan orang sudah mulai ramai, beberapa di antaranya mencoba memberikan bantuan seadanya.

Saat Willy sampai di tempat kejadian, ia mendapati pria itu tampak kesakitan, tubuhnya gemetar dan napasnya tersengal-sengal. Orang-orang di sekitar hanya bisa berspekulasi tanpa berbuat banyak.

“Ini pasti serangan jantung!” seru seseorang.

“Bukan, ini asma! Lihat napasnya,” balas yang lain.

Willy mencoba mendekat, tetapi langkahnya terhenti oleh tatapan merendahkan dari beberapa orang. Seorang wanita muda dengan tas mahal memandangnya dengan tatapan mata yang menyiratkan ketidaksukaan.

“Siapa kau? Apa kau dokter?” tanya wanita itu dengan nada sinis.

Willy menggeleng. “Bukan, tapi...”

“Kalau bukan dokter, jangan sok tahu!” seru pria berkacamata yang berdiri di dekat wanita itu. “Biarkan orang yang ahli saja yang menangani ini.”

Willy mencoba menjelaskan, tetapi suara-suara cemoohan terus menghujaninya.

“Lihat bajunya. Apa dia tahu apa-apa tentang kesehatan?”

"Iya, bajunya sekelas tukang kebun, atau tukang cuci mobil. Dasar orang miskin yang bergaya."

“Orang seperti dia hanya akan memperparah keadaan.”

"Sok hebat. Prett!"

“Pergilah! Kau hanya menghalangi!”

"Jangan biarkan dia mendekat. Yang ada hanya akan memperparah kondisi orang yang sakit itu."

Willy merasakan panas di dadanya. Kata-kata itu menusuknya seperti duri, tetapi ia tidak peduli. Ia melihat penderitaan di wajah pria itu, dan entah bagaimana ia tahu apa yang sebenarnya terjadi.

---

Saat Willy menatap pria itu, sesuatu yang aneh terjadi. Pandangannya menjadi lebih tajam, seolah-olah ia bisa melihat lebih dalam ke tubuh pria tersebut. Dalam bayangannya, ia melihat lambung pria itu yang meradang, dengan luka-luka kecil di dindingnya.

“Itu maag,” bisik Willy pada dirinya sendiri.

Keyakinan itu begitu kuat, meskipun ia tidak tahu dari mana datangnya. Willy berlutut di samping pria itu dan mengulurkan tangannya, berniat menempelkan telapak tangannya ke perut pria tersebut.

Namun, cemoohan dari kerumunan tidak berhenti, bahkan semakin memanaskan daun telinga.

“Lihat, dia mau main-main dengan perut orang itu!”

“Gila! Jangan sentuh dia kalau tidak tahu apa-apa!”

“Kau mau membunuhnya?!”

Willy mengabaikan semuanya. Ia tahu pria itu tidak sedang mengalami serangan jantung atau asma, seperti yang dikira orang-orang. Maag pria itu sudah dalam tahap kronis, menyebabkan nyeri hebat yang menyerupai gejala bronkitis.

Ia hampir menyentuh perut pria itu ketika sebuah suara menghentikan gerakannya.

“Willy!”

Willy menoleh, dan melihat Delia berdiri tidak jauh darinya, menatapnya dengan ekspresi campuran antara bingung dan panik. Teriakannya membuat semua orang terdiam, dan Willy membeku di tempat.

Wajah Willy muram, "Apa aku tidak boleh menolongnya?"

###

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menantu Kuli   L. Berdiri Di Puncak

    Gedung pencakar langit Rumah Sakit Golden Healthy berdiri dengan megahnya di pusat Kota Arsaka, memantulkan cahaya matahari pagi pada dinding kacanya yang berkilauan. Pagi ini, suasana di lobi utama tampak jauh lebih sibuk dan tegang dibandingkan hari-hari biasanya. Barisan dokter spesialis, perawat dengan seragam putih bersih, hingga jajaran direksi berpakaian formal telah berdiri rapi membentuk pagar ayu yang panjang. Mereka semua sedang menunggu kedatangan sosok misterius yang menurut kabar hukum terbaru telah menjadi pemilik tunggal sekaligus Direktur Utama mereka yang baru. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyangka bahwa sosok yang akan muncul adalah pemuda yang selama ini dianggap tidak memiliki pengaruh apa pun di kota tersebut.Iring-iringan mobil mewah berwarna hitam mengkilap perlahan memasuki pelataran gedung. Mobil paling depan berhenti tepat di depan pintu lobi, dan seorang pengawal dengan sigap membukakan pintu belakang. Willy melangkah keluar dengan setelan jas c

  • Menantu Kuli   XLIX. Lonjakan Drastis

    Pandangan Ben Dino seketika beralih sepenuhnya ke arah Willy, meninggalkan koran yang tadi ia baca di samping meja. "Katakanlah, Nak. Kami semua mendengarkan. Apakah ini mengenai masalah rumah tangga kalian, atau ada hal lain yang mendesak?" tanya Ben Dino dengan sorot mata yang penuh perhatian."Ini bukan soal masalah rumah tangga, Ayah. Ini adalah sesuatu yang berkaitan dengan masa depanku dan juga kejutan yang baru saja aku terima kemarin," jawab Willy sambil menatap mata ayah angkatnya dengan penuh ketegasan."Kelihatannya sangat serius. Apakah kau sedang butuh modal bisnis atau semacamnya?" tanya Sano sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak tertarik dengan pembukaan Willy yang tidak biasa."Bukan modal, Kak. Ini jauh lebih besar dari itu. Aku sendiri pun masih merasa seperti di dalam mimpi saat pertama kali mengetahuinya," sahut Willy sambil melirik Delia sejenak untuk mencari kekuatan tambahan."Kalau begitu, ceritakanlah sekarang agar kami tidak mati penasaran. Apa yan

  • Menantu Kuli   XLVIII. Sarapan Harmonis

    Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah tirai besar di kamar utama, memantulkan binar keemasan pada lantai marmer yang bersih. Willy terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan dibandingkan malam sebelumnya, seolah beban berat yang sempat menghimpit dadanya telah luruh bersama keringat dan pergumulan hangat bersama Delia. Ia menoleh ke samping, mendapati istrinya sedang merapikan rambut di depan cermin besar setelah mereka berdua selesai mandi bersama untuk membersihkan sisa-sisa kelelahan tadi malam. Ritual mandi pagi itu tidak hanya menyegarkan fisik mereka, tetapi juga semakin mempererat ikatan batin yang sempat tegang karena tekanan rahasia dari sistem cahaya."Apakah kau sudah merasa lebih siap untuk menghadapi Ayah pagi ini?" tanya Delia sambil memulas sedikit lipstik di bibirnya yang ranum.Willy mengangguk mantap sambil mengenakan kemeja santai namun tetap terlihat rapi dan berwibawa. "Berkat ide cemerlangmu semalam, aku merasa jauh lebih percaya diri

  • Menantu Kuli   XLVII. Solusi Delia

    Willy menatap istrinya dengan pandangan yang berusaha terlihat setegar mungkin, meskipun di dalam hatinya ia merasa sangat berdebar karena harus mempertahankan kebohongan besar ini. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya kembali membuka suara dengan nada yang sangat serius."Entah itu terdengar sangat aneh di telingamu atau sama sekali tidak masuk akal bagi logika siapa pun, kenyataannya memang sudah seperti itu adanya, Delia," ujar Willy sambil menatap lekat kedua mata istrinya.Ia menjelaskan bahwa segala bentuk administrasi dan pembuktian hukum sudah berada di tangannya tanpa ada satu pun celah yang bisa diperdebatkan lagi oleh pihak mana pun."Aku tidak sedang mengigau atau mencoba menciptakan lelucon yang tidak masuk akal di malam hari ini. Aku benar-benar pemilik sah Golden Healthy sekarang," tambah Willy dengan nada suara yang sedikit lebih rendah namun sangat menekan.Delia terdiam selama beberapa saat, mencoba mencerna intensitas yang terpancar dari raut wajah suaminya ya

  • Menantu Kuli   XLVI. Pembicaraan Serius

    MOHON MAAF KEPADA SEMUA PEMBACA KARENA SELAMA INI PENULIS VAKUM. TAPI, MULAI HARI INI CERITA AKAN KEMBALI DILANJUTKAN. Langkah kaki Willy terasa berat saat ia menyusuri jalan setapak di taman belakang kediaman mewah milik Ben Dino. Udara malam yang dingin menyapu permukaan kulitnya, namun tidak mampu mendinginkan gejolak pikiran yang sedang melanda. Di dalam kepalanya, sistem cahaya yang bersemayam dalam tubuhnya seolah terus berdenyut, mengingatkan Willy bahwa ia kini bukan lagi sekadar pemuda biasa yang menumpang di rumah orang kaya. Secara hukum dan administratif, ia telah menjadi pemilik tunggal dari Rumah Sakit Golden Healthy, sebuah institusi medis papan atas yang namanya sangat disegani di Kota Arsaka. Namun, kekayaan dan kekuasaan yang datang secara instan itu justru membawa beban moral yang besar. 'Bagaimana mungkin aku menjelaskan hal ini kepada ayah yang telah memberikan segalanya, tanpa membocorkan rahasia tentang sistem yang menjadi sumber kekuatanku?' gumam

  • Menantu Kuli   XLV. Harta Karun

    Bab XLV: Harta KarunWilly menaiki ojek motor dengan cepat, menuju rumah warga tempat mobilnya dititipkan. Sambil menikmati hembusan angin sore yang menyapu wajahnya, ia merasa puas dengan kejadian sore tadi. Willy tak sabar ingin segera menceritakan perkelahiannya dengan anak buah Tomey kepada Delia. Ia ingin istrinya tahu bahwa pria yang selama ini mendekatinya, ternyata tak lebih dari sekedar pengecut yang hanya berani bertindak ketika memiliki banyak anak buah di sisinya.Setelah mengambil mobilnya, Willy meluncur di tengah kemacetan kota Arsaka. Langit sudah mulai gelap dan jalanan padat dengan kendaraan yang berdesakan. Ia menyalakan lampu hazard saat laju kendaraan benar-benar melambat. Tak seberapa lama waktu berjalan, ponselnya bergetar di dashboard, itu adalah panggilan masuk dari Ben Dino."Halo, Ayah?" Willy menjawab panggilan sambil tetap fokus pada lalu lintas."Nak, kamu ada di mana? Malam ini Ayah ingin mengajakmu menjenguk seorang teman lama yang sedang sakit. Ayah s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status