LOGIN
"Ardika, turun untuk terima kematianmu!"Harimau Saltim tidak melihat murid-murid Organisasi Snakei itu lagi, dia mengangkat kepalanya, lalu berteriak dengan marah ke arah lantai atas Gedung Glori. "Bukankah kamu sangat arogan saat menyiksa adikku? Kenapa sekarang kamu jadi pengecut begitu?""Apa kamu pikir dengan bersembunyi, aku sudah nggak bisa menghabisimu?"Suara teriakan penuh amarah Harimau Saltim menggema di seluruh Gedung Glori.Sangat jelas bahwa pembunuh berpengalaman yang sudah sangat terkenal ini, kali ini amarahnya benar-benar sudah tersulut oleh Ardika.Kyoko adalah adik kandungnya, tetapi setelah Kyoko jatuh ke tangan Ardika, malah telah disiksa hingga tak berbentuk.Dia ingin sekali mencincang-cincang Ardika, menghabisi pria tersebut.Di lantai sembilan Gedung Glori, sorot mata Ardika berubah menjadi dingin. Dia pun berencana untuk bangkit dan turun ke lantai bawah."Lanjutkan minum teh saja."Namun, Kirbi malah menghentikan Ardika. Dia menatap lawan bicaranya dan berk
Menghadapi lawannya yang tewas dengan mengenaskan dan terluka parah, sama sekali tidak ada gejolak emosi apa pun yang terlihat di wajah Harimau Saltim. Dia tetap menerjang maju tanpa ekspresi sambil mengayunkan pedang dalam genggamannya.Kilatan pedang terpancar ke mana-mana, aura pedang pun menyebar ke mana-mana.Dua orang murid Organisasi Snakei yang baru saja menyeka darah di wajah mereka dan pandangan mereka menjadi jelas kembali, tiba-tiba saja mendapati dada mereka sudah terluka, darah segar menyembur keluar."Syuu!"Tepat pada saat ini, tiga bilah pedang tajam melesat pada saat bersamaan, kilatan ketiga pedang tersebut seakan-akan menyatu menjadi satu, memblokade semua sudut menghindar Harimau Saltim.Kekuatan tiga orang murid Organisasi Snakei ini tidak bisa ditandingi oleh sekelompok orang sebelumnya.Selain itu, saat mereka bertiga bekerja sama, kekuatan serangan mereka sangatlah tajam, membuat orang kesulitan untuk bernapas.Tidak peduli Harimau Saltim menghindar ke arah man
Hati sekelompok anak muda murid Aula Hukum itu pun seperti diliputi perasaan lega.Pantas saja di saat Kirbi jelas-jelas tahu Ardika sedang membantai orang-orang Keluarga Sirwanto di bawah sana, pemimpin mereka itu tetap duduk tenang saja, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan turun tangan.Ardika tersenyum dan berkata, "Oh, kalau begitu, boleh dibilang aku juga berutang budi pada sosok Tuan itu karena telah membantuku menyingkirkan sebuah masalah?"Kirbi tidak menjawab pertanyaan ini, dia langsung bertanya, "Kamu boleh pertimbangkan dulu penawaranku."Sambil tersenyum tipis, Ardika menggelengkan kepalanya dan berkata, "Nggak perlu dipertimbangkan lagi. Pak Kirbi sendiri juga sudah bilang, jadi manusia itu yang paling penting adalah kekuatan.""Maksudmu, dengan kekuatanku aku nggak pantas untuk merekrutmu?" Kirbi langsung mengerutkan keningnya.Ardika hanya tersenyum tipis sebagai tanggapan.Tiba-tiba saja, senyuman di wajahnya memudar, dia mengalihkan pandangannya ke arah wak
Begitu kata-kata itu keluar dari mulut Ardika, ekspresi beberapa orang pria dan wanita itu langsung berubah drastis. Sementara itu, Cahdani juga dengan kooperatif melemparkan sebuah karung kain dalam genggamannya. Saat itu juga, kepala manusia yang berlumuran darah berguling keluar.Ya, kepala manusia itu tidak lain adalah milik Jemi yang mati secara tidak wajar.Beberapa orang anak muda itu menatap kepala manusia tersebut, lalu melemparkan sorot mata tidak percaya ke arah Ardika.Mereka sama sekali tidak menyangka, Jemi yang setengah jam yang lalu masih mengobrol santai dengan Kirbi di sini, kini telah tewas dengan kepala terpisah dari jasadnya.Pantas saja Ardika begitu percaya diri, merasa dirinya bisa duduk sejajar dengan Kirbi.Juga tidak heran Kirbi sangat mengakui kemampuan Ardika."Tegas dan kejam, sangat bagus."Kirbi menatap Ardika, seolah-olah sangat puas melihat penampilannya itu. Dia berkata dengan tenang, "Sekarang ini anggota cabang Gotawa terlalu banyak, efektivitas ker
Namun, yang membuat mereka terkejut adalah, Ardika bisa menahannya hingga akhir.Tidak hanya itu saja, pada akhirnya pria itu bahkan menyerang balik pemimpin mereka, menghancurkan kecapi kesayangan Kirbi tepat di bawah pengawasan Kirbi.Mungkinkah orang ini bahkan lebih kuat dibandingkan Vita?Mereka menatap Ardika dengan tatapan terkejut.Adapun mengenai mengatakan Ardika lebih kuat dibandingkan Kirbi?Maaf, pemikiran itu tidak pernah tebersit dalam benak mereka sama sekali.Tepat pada saat ini, Kirbi mengangkat tangannya.Beberapa orang anak muda itu langsung bersikap normal kembali, menangkupkan tangan mereka pada Kirbi dengan penuh hormat, lalu melangkah mundur dua langkah.Saat ini, Kirbi menyipitkan matanya, mengamati Ardika dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Pada akhirnya, dia berkata, "Hmm, lumayan.""Aku nggak menyangka dalam kunjunganku ke ibu kota provinsi kali ini, aku bahkan bisa bertemu dengan anak muda level ini.""Nggak perlu menyebutkan kekuatan dulu, hanya dengan
"Keluar!"Ardika mengedipkan matanya pada Vita.Vita berbalik dalam diam, lalu menerjang keluar dengan langkah kaki agak terhuyung-huyung.Kirbi melirik Ardika sekilas, jari-jarinya tetap menari-nari di atas kecapi."Bergerak, bergerak. Serentak, serentak. Menerkam, menerjang, terkam!"Suara kecapi yang kacau, tetapi berirama itu menyelimuti seluruh tempat tersebut seperti badai.Ardika merasakan dirinya juga seperti dikirim ke medan perang itu.Melihat rekan seperjuangan tumbang, gugur satu per satu. Kuda perang juga tewas satu per satu.Tidak tahu berapa lama sudah berlalu, peperangan sudah berakhir. Teriakan membunuh yang menggelegar itu sudah hilang.Tidak tahu berapa lama sudah berlalu, rekan seperjuangan kala itu, telah menjadi tumpukan tulang yang tidak bisa dikenali identitasnya lagi.Bahkan kuda perang yang telah setia menemani selama bertahun-tahun, pada akhirnya juga mati karena usia yang sudah tua setelah terdengar suara isak tangis terakhirnya.Pada akhirnya, hanya seberka







