Abraham Malik, seorang sniper elit dari pasukan rahasia Indonesia. Dia menerima misi berbahaya: menghabisi seluruh keturunan keluarga Alexander demi hadiah 2 miliar dolar. Menyamar sebagai bodyguard, Abraham mendekati Nona ke-3 putri kesayangan Sultan Caraka Alexander. Namun di balik tugasnya yang mematikan, Abraham terjebak dalam dilema ketika perasaan cinta mulai tumbuh di antara mereka. IG: zoyaalicia_dmitrovka
View More"Komandan ngapain manggil aku?"
Seorang pria berdiri di depan kantor sang komandan di pelatihan tembak, Surabaya. Dia memakai pakaian hitam lengkap dengan baret ungu di kepalanya. Dia merapikan pakaian sebentar, lalu mengetuk pintunya. "Masuk!" Setelah mendengar sahutan dari dalam, dia segera membuka pintu. Dia melangkah masuk mendekati sang komandan yang berdiri membelakanginya. Sang komandan berbalik. "Abraham Malik!" panggil Erick Sanjaya. Abraham Malik, 21 tahun. Dia memiliki perawakan ideal sebagai syarat masuk ke sekolah militer. Tingginya 185 cm dan berat badan 65 kg. Reflek, Abraham menjawab dengan lantang. "Siap, Komandan!" Dia menatap Erick. "Benarkah Anda memanggil saya?" "Kamu sudah dua tahun mengikuti sekolah militer di sini. Kamu juga sudah mengikuti latihan pasukan khusus. Apa kamu puas dengan prestasi yang telah tercapai dalam satu tahun ini?" "Maaf, Komandan. Meskipun saya mengikuti latihan pasukan khusus, tapi saya bergabung di pasukan ini baru satu tahun." Abraham menjawab dengan yakin. Kedua matanya dipenuhi dengan ambisi. "Jadi, saya masih harus terus melatih kemampuan saya," ujar Abraham kemudian. Tatapan Erick penuh dengan tanda tanya. Abraham berusaha menerjemahkannya. Bagaimana pun juga, dia masih ingin belajar dan mencuri beberapa ilmu lagi sampai merasa puas. "Hahaha ...." Erick tertawa. Dia duduk di kursinya sambil melipat kedua tangan. Kemudian, dia membakar rokok. "Untuk seorang pasukan khusus, ego kamu memang tinggi," kata Erick sambil menghisap rokoknya. "Entah itu bisa dibilang ego atau rendah diri. Tapi yang saya tangkap dari cara kamu bersikap dan berbicara, kamu punya ego yang luar biasa dan nggak dimiliki oleh semua orang!" seru Erick kemudian. "Terima kasih untuk pujian Anda, Komandan," sahut Malik. Wajah rupawan dan rambut hitam dengan model khas tentara. Pandangan mata Abraham selalu tajam sama seperti pendengarannya. "Kamu sudah lulus ujian untuk menjadi seorang sniper dengan nilai tertinggi. Kamu juga sudah diberikan kode nama. Saya rasa, kamu tahu!" Seorang sniper harus menguasai latihan tempur dari berbagai medan darat, laut dan udara. Secara total, dia harus mahir latihan tempur, baik jarak dekat maupun jarak jauh. Tentunya, para sniper juga harus menguasai berbagai macam senjata, bahkan lima jenis senjata paling mematikan yang ada di dunia. Selain serangkaian latihan fisik, Abraham telah melalui latihan menembak selama 50 jam. Hasilnya, dia meraih poin tertinggi diantara teman-temannya. "Ya, saya sudah tahu," jawab Malik dengan pembawaan yang tenang. Erick masih berniat ingin bertanya. Jadi, dia tidak segan-segan memberikan pertanyaan kepada Abraham. "Tapi, apa kamu tahu? Tiga hal paling utama untuk menjadi seorang sniper?" Abraham mengangguk. "Kesabaran, cara mengatur pernapasan dan tahan mental." Benar! Semua jawaban Abraham benar. Karena menurut penelitian, tujuh dari sepuluh orang sniper mengalami gangguan jiwa. "Lalu, hal apa yang sangat diharamkan oleh pasukan kita?" tanya Erick lagi. "Membongkar identitas," jawab Abraham, cepat. Dengan IQ di atas rata-rata, Abraham mampu menjawab berbagai pertanyaan dengan mudah dan tepat. Tidak hanya itu, Abraham selalu tepat menghitung kecepatan dan arah angin di manapun dia berada. "Sekarang, kamu sudah resmi menjadi tentara bayaran sesuai keinginanmu. Ingat, akan ada seorang broker yang menghubungi kamu untuk memberitahu tugas pertama dan tugas-tugas selanjutnya!" Menjadi bagian dari salah satu pasukan elit di negaranya sendiri adalah cita-cita Abraham sejak remaja. Sekarang, dia telah sukses meraihnya, bukan? "Siap, Komandan!" Tegas dan lugas. Suara Abraham memiliki cirinya tersendiri. Erick memang sangat menyukainya. Begitu juga dengan teman seperjuangan Abraham. Mereka merasa, Abraham pantas mendapatkan julukan ataupun pujian. Karena semua yang dimiliki oleh sniper melekat pada dirinya. "Bagus. Pergilah, The King!" perintah Erick. Dia memasukkan kedua tangan ke saku celana. Abraham yang semula ingin melangkah pergi, mengurungkan niatnya. Dia terkejut saat Erick memanggilnya dengan kode nama baru. Abraham berbalik dan menatap Erick. Kemudian berkata, "Terima kasih, Komandan." The King, kode nama yang disematkan pada Abraham. Karena kemampuan menembak dan berkamuflase yang dia miliki begitu hebat. Sesuai perintah Erick, Abraham keluar dari kantor dengan membawa beberapa dokumen yang berisi identitas barunya. Karena dia tidak lagi memakai nama Abraham Malik.Jordan yang sedang dalam perjalanan menyusul mobil Rini bersama dengan Felix, merasa ada yang tidak beres pada tuannya. Tidak ada satu pun yang menjawab pertanyaan para agent pria. Rini dan Ayu tenggelam pada kesedihannya masing-masing. "Tuan Felix, tersirat kabar dari Kawe-08. Tuan Sultan mengembuskan napas terakhir ketika Beliau baru tiba di Switzerland beberapa menit lalu," ujar Lingling di saluran Radio Trunking. "Aーapa?! Kok bisa?!" Felix dan semua orang yang berada di saluran Radio Trunking terkejut mendengar berita duka yang disampaikan Lingling. "Apa penyebab dan kapan waktu kematiannya? Bagaimana dengan Nyonya Cathalea?""Beliau tertembak oleh orang tidak dikenal. Polisi setempat sedang melakukan penyelidikan. Nyonya Cathalea, Nona Natasha dan Erick baik-baik saja." Suara Lingling terdengar lemah. "Beliau tertembak pukul 11:00 malam waktu setempat.""Baiklah, saya akan memberitahu kabar duka ini secepatnya kepada Nona Zoya."Felix tidak sampai hati memberitahukan kabar
Zoya, Ayu dan Rini sangat cemas. Mereka tidak saling berbicara. Ayu telah berhasil mengeluarkan amunisi di punggung Aldebaran. Tapi bukan berarti bisa menghentikan darah yang keluar dari bagian punggungnya yang terluka. Segala upaya telah dilakukan Ayu. Namun apalah daya, seorang manusia biasa yang tidak mampu melawan takdir."Kamu nggak bisa menghentikan pendarahannya?!"Zoya berteriak hingga semua orang yang berada di saluran Radio Trunking dapat mendengarnya dengan jelas. Sesekali Zoya menghapus air mata yang keluar. Hatinya benar-benar teriris melihat kondisi Aldebaran melemah di hadapannya. "Nona, saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi, kita nggak punya peralatan yang memadai."Ayu merasa bersalah pada Zoya, Aldebaran dan semua orang. Karena dirinya tidak berhasil menghentikan pendarahan hebat yang dialami Aldebaran.Zoya lagi-lagi mengutuk dirinya sendiri yang menyebabkan Aldebaran terluka. Bodoh dan ceroboh, dua kata yang cocok untuk dirinya. "Bisa-bisanya aku memb
I've come to kill you and I won't leave until you've died! You have to pay for what you've done! ー Thanatos, 2 Billion Dollars.**Dor!Dor!Di malam mencekam, suara letupan senjata api yang menakutkan terdengar jelas di telinga setiap orang yang berada di tempat kejadian. Tepatnya di jalan raya Cibadak yang mengarah ke bandar udara Atang Senjaya. Akbar menembaki kedua kaki Ivanovic. Dia sengaja melumpuhkan kedua kakinya. Karena dia tidak ingin menghabisi nyawa Ivanovic dengan satu kali tembakan. Setidaknya, menyiksa Ivanovic jauh lebih baik untuk mengobati luka di hati Thanatos. "Aaarghhh!" Ivanovic berteriak kesakitan. Senjata yang dia genggam terlepas.Ivanovic tersungkur di tanah bersamaan dengan darah yang keluar dari kedua lututnya. Bruk!Ivanovic kini merasakan sakit yang sama seperti yang dirasakan Ibrahimovich dan Aldebaran sebelumnya. Tidak ada asisten ataupun anak buah yang melindunginya. "Siーsiapa Anda?"Terpancar aura ketakutan dari wajah Ivanovic ketika melihat Ak
Fight for your honor. Fight for your life. And I fight for freedom! But, I keep praying that the sun never rises without you. ー 2 Billion Dollars.**"Kurang ajar!"Bukannya menginjak rem mobil, Rini Emilia justru menginjak pedal gas dengan geram. Dia dengan sengaja menabrak mobil yang di depannya. Tindakan yang dilakukan Rini bukan tanpa alasan, dia dendam karena Ivanovic yang telah menembak tuannya.Duar!Mobil Jaguar Ivanovic pun terdorong kuat ke depan. Rini menggenggam senjata api di tangannya. Tanpa memberikan kesempatan kepada Ivanovic, Rini membuka kaca mobil.Rini mengeluarkan kepalanya dan mengarahkan senjata api ke mobil tersebut.Dor!Dor!Dor!Rini menembaki mobil di depannya dengan membabi buta. Emosi telah membuatnya gelap mata. Dia tidak perduli dengan risiko yang akan dihadapinya. Sadarkah kalian, kematian sangat dekat dengan seluruh makhluk hidup yang bernyawa?Prang!Kaca mobil Ivanovic bagian belakang pecah karena tembakan Rini yang tidak berkesudahan. Ivanovic
"Oke."Akbar maju beberapa langkah mendekati mobil itu. Keadaan mobil yang rusak parah membuat penghuninya kebingungan. Zeno keluar dari mobil dengan tangan kiri memegangi kepala, sedangkan tangan kanannya menggenggam ponsel. Dia mencoba menghubungi anak buahnya untuk mendapatkan pertolongan. "Selamat datang di Neraka, Zeno!" seru Thanatos alias Akbar.Thanatos mengarahkan senjatanya ke punggung Zeno. "Awas, Zeno!" Terdengar lengkingan suara Ivanovic dari dalam mobil. Namun terlambat, Akbar bergerak lebih cepat daripada Zeno.Dor!"Aarghh!"Suara kesakitan yang keluar dari mulut Zeno, terdengar sangat pedih dan memilukan. Akbar berjalan menghampiri mobil Ivanovic dengan membawa senjata api berlaras panjang di bahu kanannya.Zeno menengok ke belakang karena ingin melihat sosok yang sudah menembaknya. Pada akhirnya, tubuh Zeno ambruk ke tanah. Bruk!Dengan sisa tenaga yang Zeno miliki, dia berusaha mengeluarkan senjatanya dari dalam saku. Namun dengan cepat, Akbar meraih senjatany
Brom brom brom!Aldebaran menginjak pedal gas mengikuti arah titik merah pada smartwatch."Tuan, jalanan terjal ini sangat berbahaya.""Benar. Aku nggak sangka mereka melewati jalan ini." Felix khawatir dengan keselamatan Aldebaran. Ia pernah mendoakan Aldebaran berumur panjang ketika melihatnya hancur karena ulah Sultan yang melarang mengejar Zoya beberapa hari lalu. Ponsel Aldebaran menyala. Dia melihat panggilan masuk nomor tak dikenal di layar ponsel. Dia menekan tombol hijau."Siapa ini?""TuーTuan Kells, saya Detektif Lingling.""Benarkah? Kenapa kamu pakai nomor asing?"Lingling berdehem. "Hmm.""What's wrong?""Anda pasti udah tahu, lokasi yang kami kirimkan palsu?""Kalian benar-benar kurang ajar!"Wajah Aldebaran memerah. Tangan kanannya memukul kemudi. Aldebaran tidak lupa menyebar titik lokasi kepada para agent agar seluruh anak buahnya bergerak cepat menyusul dirinya dan Felix."Tenang, Tuan. Semua ini ulah The Legend. Saya sudah menghabisi nyawanya barusan." Lingling
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments