LOGINMARIA
- 3 Apa itu poligami? "Bu, apa itu sebenarnya poligami?" Maria bertanya dengan suara lirih, karena di serambi depan ada beberapa orang bapak-bapak yang duduk ngobrol. Suami Bu Nafisah pun ada di sana. Bu Nafisah, sosok yang disegani di komplek perumahan itu tersentak kecil. Ia menatap Maria dalam-dalam. "Kenapa tiba-tiba bertanya hal itu, Nak Maria?" Bu Nafisah bertanya dengan suara tenang. Maria tersenyum tipis. "Hanya ingin tahu, Bu. Saya belum memahaminya." Bu Nafisah mengangguk pelan. Masuk akal, pikirnya. Sebagai mualaf, rasa ingin tahu Maria memang selalu tinggi. Namun ada mendung di wajah Maria yang tidak bisa disembunyikan. Bu Nafisah sudah banyak pengalaman, membuatnya bisa membaca raut wajah itu. "Poligami dalam Islam memang diperbolehkan, Nak Maria. Tapi itu bukan sekadar pintu untuk menambah istri." Bu Nafisah mulai menjelaskan dengan nada yang lembut. "Dasarnya ada dalam Surah An-Nisa, di mana seorang lelaki dibatasi maksimal memiliki empat istri. Namun ayat itu diturunkan dengan penekanan yang sangat berat pada satu kata, yaitu adil." Bu Nafisah mengambil jeda sejenak, memastikan Maria menyimak. "Adil dalam hal lahiriah, seperti waktu, nafkah, tempat tinggal, dan perhatian. Dan jika seorang lelaki merasa tidak akan mampu berbuat adil, maka perintahnya tegas, cukup punya satu istri saja. Poligami sebenarnya pintu darurat untuk kemaslahatan sosial, bukan sekadar pelampiasan keinginan. Namun sekarang banyak yang melakukannya karena nafsu. "Soal keadilan perasaan atau cinta, nggak ada manusia yang bisa menyamakan perasaan itu. Hal ini bisa dimaklumi. Tapi suami nggak boleh terlihat condong pada satu istri, hingga mengabaikan yang lain. "Keadilan yang dimaksud itu hanya sebatas keadilan materi yang bisa diukur. Tapi soal hati nggak bisa, Nak Maria." "Ya, Bu," jawab Maria lirih. Secepat itu ia mengingat tanggung jawab yang diberikan suaminya. Dan Rangga mencukupi semua kebutuhannya. Nafkah batin juga rutin, meski itu hanya dilakukan berdasarkan kewajiban saja. Maria menelan ludah. Dadanya terasa perih. "Lalu bagaimana dengan istri pertama yang katanya ada ganjaran besar bagi perempuan yang ikhlas dipoligami?" Bu Nafisah menghela napas panjang. "Banyak yang mengatakan bahwa kesabaran istri yang dipoligami adalah jaminan surga baginya. Sebab ia menekan egonya, menahan cemburunya, dan melapangkan hatinya demi ketaatan pada syariat dan suaminya. Itu adalah mujahadah, sebuah jihad besar bagi perasaan seorang wanita." "Tapi, Bu. Apa ada perempuan yang benar-benar ikhlas? Maksud saya benar-benar nggak merasa sakit sedikit pun?" Pertanyaan itu terdengar seperti keluhan yang penuh emosi. Bu Nafisah tertegun lalu tersenyum. Sorot matanya menyimpan kebijaksanaan yang dalam. "Nak Maria, ikhlas itu letaknya di kedalaman hati yang paling sunyi. Ibu nggak bisa menilai apakah seseorang benar-benar ikhlas atau nggak. Mulut bisa bicara 'aku rela', senyum bisa dipasang di depan manusia, tapi hati hanya pemiliknya dan Allah yang tahu bagaimana isinya. Ikhlas bukan berarti tidak sakit. Ikhlas itu saat kita tetap memilih untuk melangkah di jalan yang diridhai-Nya, meskipun kaki kita sedang menginjak duri yang tajam." Kalimat itu telak menghantam batin Maria. Menginjak duri yang tajam. Itulah yang ia rasakan setiap detik sejak ia mengetahui keberadaan Tamara. Ia tidak hanya menginjak duri, tapi sedang berjalan di atas hamparan bara api. Yang mungkin kelak bisa membakarnya. Maria terdiam. Kepalanya tertunduk merasakan perih dalam dada. Ia ingin berteriak, ingin mengadu bahwa suaminya telah membangun istana lain tanpa meruntuhkan istana sebelumnya, membiarkan Maria tetap tinggal sebagai penghuni, meski yang sebenarnya tak diinginkan. Maria ingin memiliki teman bicara untuk mencurahkan isi hatinya. Tapi itu tak mungkin ia lakukan. Bahkan Tantri yang menjadi teman dekatnya pun tidak tahu. "Nak Maria," panggil Bu Nafisah lembut. "Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu? Mas Rangga ... beliau baik-baik saja, kan?" Maria tersentak. Ia segera mengangkat wajah dan memaksa tersenyum. "Eh, nggak ada apa-apa, Bu. Mas Rangga baik. Dan baru saja naik jabatan jadi Manajer." "Alhamdulillah kalau begitu," sahut Bu Nafisah, meski hatinya masih menyimpan tanya. Di mata wanita itu, Maria dan Rangga ini potret pasangan muda yang ideal. Rangga merupakan sosok lelaki yang sopan, santun dalam bertutur, dan taat beribadah. Setiap kali Rangga sedang tidak dinas luar kota untuk urusan industri otomotifnya, lelaki itu hampir tak pernah absen berjamaah di masjid kompleks. Bagaimana mungkin ada badai di balik pintu rumah yang terlihat begitu tenang? Maria sebagai istri juga taat dan cantik. "Semoga rumah tangga kalian senantiasa rukun dan bahagia, Nak Maria. Segera diberikan momongan yang sholeh dan sholehah." "Aamiin. Bu Hajah, terima kasih banyak untuk doanya." Mata Maria berkaca-kaca. Bu Nafisah tersenyum sambil mengusap punggung Maria. Kemudian seorang Muazin telah bersiap-siap untuk azan karena sebentar lagi waktu salat isya. "Ayo, kita ke dalam." "Iya, Bu. Saya ambil wudhu lagi." Maria bangkit dan beranjak untuk ke tempat wudhu. 🖤LS🖤 Saat berjalan pulang setelah selesai salat Isya, langkah Maria terasa berat. Penjelasan Bu Nafisah tentang keikhlasan terus berdengung di telinganya. Jika ikhlas adalah tentang memadamkan api cemburu demi surga, maka Maria merasa sekarang ia sedang berada di pintu neraka dunia. Ia mualaf, ia mencintai Islam tanpa paksaan siapapun. Tapi ia bertanya-tanya, apakah cinta pada manusia memang harus semenyakitkan ini agar bisa sampai pada cinta-Nya? Maria menarik napas dalam-dalam untuk melonggarkan sesaknya dada. Rumahnya memang paling jauh dari masjid daripada orang-orang yang sering berjamaah di sana. Sebab tidak semua warga kompleks selalu salat berjamaah di masjid. Apalagi yang rumahnya agak jauh. Tapi Maria selalu pergi, karena masih banyak yang perlu ia dalami. Bu Nafisah banyak menjawab pertanyaan tentang sesuatu yang kadang tidak ia mengerti. "Maria, katanya tadi mau mendaras Al Qur'an. Ayo, sekarang saja." Dia ingat saat Rangga sering menyimak bacaannya supaya lancar. "Kamu beneran sudah suci dari haid?" tanya Rangga saat melihatnya berwudhu hendak salat. "Sudah, Mas." "Pastikan benar-benar sudah bersih, ya. Perasaan baru empat hari kamu haid. Kalau sudah keluar cairan putih bening, itu menandakan masa hadirmu sudah selesai." Kemudian Rangga memberitahu cara mengeceknya menggunakan kapas. "Maria, rambutmu masih kelihatan. Coba lihat di cermin. Betulin dulu baru sholat. Pastikan jangan sampai tampak sehelai pun." Dan Maria buru-buru pergi ke depan cermin sesuai yang diajarkan suaminya. Beginilah komunikasi yang dianggap sebagai kemesraan bagi Maria. Bukan ucapan cinta yang menggebu-gebu. Sebab hal itu memang tidak mungkin ada. Cinta Rangga sudah habis buat Tamara. Namun itu sudah ia terima dengan perasaan bahagia. Tapi kenapa, sedikit saja Rangga tidak mau melihat ketulusannya. Hingga tetap menghadirkan wanita lain di antara mereka. Maria mengusap air mata yang merambat ke pipi. Dan saat matanya memandang ke depan sana, ia melihat mobil mertuanya terparkir di depan pagar rumahnya. Maria segera mempercepat langkah. Tapi bagaimana jika mereka nanti bertanya kenapa Rangga belum pulang? Next ....Saat mobil memasuki pekarangan rumah Emir, suasana tampak lengang. Hanya Mak Tam yang di rumah."Bapak sedang di kantor sama Mbak Aurel, Mbak. Kalau Ibu ke toko roti karena lagi banjir pesanan katering, terus Mas El paling sebentar lagi pulang sekolah." Mak Tam memberitahu Zahra."Iya, Mak." Kemudian Zahra menoleh pada Zein. "Mas ke kamar saja dulu, istirahat. Aku mau ke belakang sebentar mengurus baju kotor.""Oke," jawab Zein singkat lantas menaiki tangga untuk ke lantai dua."Mbak Zahra, biar Mak saja yang ngurusin nanti. Tinggal saja disitu," seloroh Mak Tam saat melihat Zahra mengeluarkan baju-baju kotor dari koper."Nggak, Mak. Ini tanggung jawab Zahra. Biar Zahra kerjain sendiri," tolak Zahra sopan. Satu jam berlalu, langkah kaki tergesa terdengar dari arah pintu depan. Aurel pulang lebih dulu dan langsung menuju area cucian di dapur belakang. Melihat saudaranya sedang sibuk menjemur pakaian, raut jahil seketika terbit di wajah Aurel."Aduuhh, yang habis honeymoon mukanya cer
Saat malam merayap, suhu dingin pegunungan Batu kian menggigit. Zein dan Zahra duduk berdua di balkon vila, berselimut kain tebal sambil menyesap teh hangat di bawah pendar remang lampu gantung. Zein mendekap istrinya. "Ada yang ingin Mas tanyakan dan ini perlu kita bicarakan.""Tentang apa, Mas?" sahut Zahra lembut."Apa kamu sudah siap kalau kita dikaruniai anak dalam waktu dekat?" tanya Zein penuh kehati-hatian, menyadarkan bahwa topik ini belum pernah mereka bahas sebelumnya.Zahra mengangguk tanpa keraguan, menyunggingkan senyum tulus. "Nggak apa-apa, Mas. Bunda juga sudah bilang, kalau bisa langsung dapat momongan saja.""Oh, ya?""Iya. Bunda menyarankan begitu."Naima memang berkata demikian pada putrinya. Mengingat usia Zein yang sudah berada di pertengahan tiga puluhan.Zein mengukir senyum lega. Alhamdulillah kalau Zahra berpikiran sama. Ia memang berharap segera punya anak. "Semoga tak lama lagi juga ada kebijakan baru dari kesatuan, supaya Mas bisa pindah ke staf kantor sa
Zein- 18 Perpisahan Aroma nasi goreng dan seduhan kopi hitam menguar di dapur rumah Bu Hindun pagi itu. Zahra melangkah canggung dan diliputi rasa malu yang membuat pipinya terus merona. Sebagai pengantin baru di hari pertama berada di rumah mertua, rasa serba salah menyergapnya. Terlebih habis subuh tadi ibu mertua memergokinya sedang menjemur handuk dengan rambut yang masih basah.Namun saat Zahra berniat mengiris bawang membantu ART di sudut meja, Bu Hindun justru mengambil alih pisau dari tangannya sambil tersenyum lembut. "Sudah, Nduk, nggak usah repot-repot," ujar Bu Hindun hangat. "Kamu bersiap-siap saja. Tadi Zein sudah bilang sama Ibu kalau mau mengajakmu stay cation semalam.""Nggak apa-apa, Bu. Saya juga biasa membantu Bunda di rumah," jawab Zahra pelan."Nanti-nanti saja kalau mau bantuin di dapur. Sekarang mumpung suamimu belum kembali ke Jakarta, nikmati waktu kalian."Zahra jadi tersipu. Dalam hati sangat bersyukur memiliki mertua yang baik. Ia ingat bagaimana dulu Ne
Seiring berjalannya waktu, rasa perih yang sempat menyengat itu perlahan terkikis, berganti dengan gelombang kehangatan yang menjalar nyaman ke seluruh rongga dadanya. Zahra membuka matanya, menatap sepasang mata Zein yang dipenuhi kasih sayang tanpa batas. Ternyata, ketakutan hebat yang selama ini membayangi pikirannya tak semenyakitkan yang dibayangkan ketika berada di dalam dekapan pria yang tepat.Dalam temaram lampu kamar yang menjadi saksi bisu, Zahra menyerahkan mahkota paling berharga dalam hidupnya dengan sukarela. Kamar yang menemaninya tumbuh sejak remaja itu kini mengabadikan kepasrahan utuh seorang istri kepada pria yang telah mengikat janji sucinya di hadapan Tuhan.🖤LS🖤"Ra, cara jalanmu dah nggak kayak kemarin. Hmm, sepertinya dah kena kamu semalam," bisik Aurel lirih saat pagi-pagi sekali mereka bertemu di dapur. Ucapan yang membuat Zahra merinding sekaligus malu. Dia tidak bereaksi atas godaan itu."Aurel, apaan sih kamu," tegur Aprilia. Sosok yang dipanggil tante
Namun dari sekian banyak pertanyaan, Zein berpegang teguh pada sumpah jabatannya. Tidak ada cerita tentang misi demi misi yang sukses dijalaninya. Dia bercerita secara umum. Dan bagi Aurel itu terdengar sebagai tugas yang biasa. Namun Emir jauh lebih memahaminya. Dia tahu sebahaya apa misi yang diemban oleh menantunya. Bahkan mungkin, dirinya lebih tahu ketimbang Zahra."Hati-hati. Apapun tetap pentingkan keselamatanmu," ujar Emir."Iya, Pa."Ketika mertua dan menantu itu duduk ngobrol berdua di teras rumah. Emir mulai membahas hal yang bisa dibilang serius. "Apa kamu nggak bisa pindah tugas ke kantor?""Bisa, Pa. Malah itu siklus normal karier perwira AKP di Polri. Untuk intel seperti saya, lapangan dan kantor itu muter terus. Namanya Mutasi Jabatan Fungsional & Struktural. Biar kami paham dua sisi. Memahami operasi di lapangan juga paham birokrasi di kantor.""Syukurlah. Ada kesempatan kamu bakalan di kantor, kan?""Insya Allah, Pa."Seorang AKP harus punya pengalaman Staf/Kabag bia
Zein- 17 Malam Pertama "Rel, tunggu dulu." Zahra menahan Aurel yang hendak meraih gagang pintu. "Bantuin aku ngelepas kancing di punggungku, dong. Susah banget dijangkau."Aurel berbalik menatap saudaranya dengan lirikan jenaka yang jahil. Ah, ternyata Aurel tak bisa menahan diri untuk tidak jahil. Padahal ia bilang seharian ini akan serius. "Ra, minta tolong sama suamimu saja. Aku mau langsung rebahan di kamar sebelah. Capek banget tubuhku seharian berdiri menyapa tamu." Tanpa menunggu jawaban, Aurel menjeling sejenak, lalu melangkah keluar dan menutup pintu.Zahra menghela napas pelan. Ia kembali duduk di depan meja rias, lalu menyisir rambut hitamnya yang terurai panjang melewati bahu.Namun dadanya kembali berdebar saat daun pintu kembali terkuak. Dari pantulan cermin, muncul sosok Zein dengan senyum hangat yang terukir di bibirnya. Padahal kemarin sore mereka sempat bertemu sejenak sewaktu latihan untuk acara pedang pora.Pria itu termangu di tempatnya berdiri, menatap wanita y
MARIA- 7 Di Persimpangan "Di mana Mama, aku ingin bicara?" suara Rangga datar tapi menyimpan amarah. Dia baru saja masuk rumah mertuanya, di mana istrinya tinggal. Tamara yang menyambut suaminya dengan daster sutra tipis, tersenyum manja. Ia melingkarkan lengan di leher Rangga, lalu mendaratkan
MARIA- 6 Ingin Berpisah "Kenapa kau tutupi kelakuan gila suamimu, Maria?" tanya Radit dengan suara penuh getar emosi pada Maria yang membantu Rangga bangkit dan duduk di kursi."Jangan pernah diam kalau itu menyakitimu. Diammu itu bukan kesabaran. Itu adalah cara kau membiarkan dirimu hancur send
MARIA- 2 Hanya Tanggung Jawab "Maria," panggil Rangga kian merunduk begitu dekat dengan wajahnya."Iya," jawab Maria yang tidak mungkin pura-pura tak mendengar. Selama ini Maria sangat peka dengan suaminya. Tidak ada panggilan yang lambat dijawabnya.Ia membalikkan tubuh setelah menarik napas pan
MARIA- 1 Delapan Minggu "8 Minggu." Tangan Maria gemetar memegang hasil pemeriksaan atas nama Ny. Tamara yang ditemukan di dashboard mobil.Dada wanita yang mengenakan pasmina biru itu berdegup kencang. Matanya juga memanas. "Oh, jadi dia hamil," ujarnya lirih lantas melipat kembali kertas itu da







