Share

MJM 3

last update publish date: 2026-05-28 09:05:59

MARIA

- 3 Apa itu poligami?

"Bu, apa itu sebenarnya poligami?" Maria bertanya dengan suara lirih, karena di serambi depan ada beberapa orang bapak-bapak yang duduk ngobrol. Suami Bu Nafisah pun ada di sana.

Bu Nafisah, sosok yang disegani di komplek perumahan itu tersentak kecil. Ia menatap Maria dalam-dalam.

"Kenapa tiba-tiba bertanya hal itu, Nak Maria?" Bu Nafisah bertanya dengan suara tenang.

Maria tersenyum tipis. "Hanya ingin tahu, Bu. Saya belum memahaminya."

Bu Nafisah mengangguk pelan. Masuk akal, pikirnya. Sebagai mualaf, rasa ingin tahu Maria memang selalu tinggi. Namun ada mendung di wajah Maria yang tidak bisa disembunyikan. Bu Nafisah sudah banyak pengalaman, membuatnya bisa membaca raut wajah itu.

"Poligami dalam Islam memang diperbolehkan, Nak Maria. Tapi itu bukan sekadar pintu untuk menambah istri." Bu Nafisah mulai menjelaskan dengan nada yang lembut. "Dasarnya ada dalam Surah An-Nisa, di mana seorang lelaki dibatasi maksimal memiliki empat istri. Namun ayat itu diturunkan dengan penekanan yang sangat berat pada satu kata, yaitu adil."

Bu Nafisah mengambil jeda sejenak, memastikan Maria menyimak. "Adil dalam hal lahiriah, seperti waktu, nafkah, tempat tinggal, dan perhatian. Dan jika seorang lelaki merasa tidak akan mampu berbuat adil, maka perintahnya tegas, cukup punya satu istri saja. Poligami sebenarnya pintu darurat untuk kemaslahatan sosial, bukan sekadar pelampiasan keinginan. Namun sekarang banyak yang melakukannya karena nafsu.

"Soal keadilan perasaan atau cinta, nggak ada manusia yang bisa menyamakan perasaan itu. Hal ini bisa dimaklumi. Tapi suami nggak boleh terlihat condong pada satu istri, hingga mengabaikan yang lain.

"Keadilan yang dimaksud itu hanya sebatas keadilan materi yang bisa diukur. Tapi soal hati nggak bisa, Nak Maria."

"Ya, Bu," jawab Maria lirih. Secepat itu ia mengingat tanggung jawab yang diberikan suaminya. Dan Rangga mencukupi semua kebutuhannya. Nafkah batin juga rutin, meski itu hanya dilakukan berdasarkan kewajiban saja. Maria menelan ludah. Dadanya terasa perih.

"Lalu bagaimana dengan istri pertama yang katanya ada ganjaran besar bagi perempuan yang ikhlas dipoligami?"

Bu Nafisah menghela napas panjang. "Banyak yang mengatakan bahwa kesabaran istri yang dipoligami adalah jaminan surga baginya. Sebab ia menekan egonya, menahan cemburunya, dan melapangkan hatinya demi ketaatan pada syariat dan suaminya. Itu adalah mujahadah, sebuah jihad besar bagi perasaan seorang wanita."

"Tapi, Bu. Apa ada perempuan yang benar-benar ikhlas? Maksud saya benar-benar nggak merasa sakit sedikit pun?"

Pertanyaan itu terdengar seperti keluhan yang penuh emosi. Bu Nafisah tertegun lalu tersenyum. Sorot matanya menyimpan kebijaksanaan yang dalam. "Nak Maria, ikhlas itu letaknya di kedalaman hati yang paling sunyi. Ibu nggak bisa menilai apakah seseorang benar-benar ikhlas atau nggak. Mulut bisa bicara 'aku rela', senyum bisa dipasang di depan manusia, tapi hati hanya pemiliknya dan Allah yang tahu bagaimana isinya. Ikhlas bukan berarti tidak sakit. Ikhlas itu saat kita tetap memilih untuk melangkah di jalan yang diridhai-Nya, meskipun kaki kita sedang menginjak duri yang tajam."

Kalimat itu telak menghantam batin Maria. Menginjak duri yang tajam. Itulah yang ia rasakan setiap detik sejak ia mengetahui keberadaan Tamara. Ia tidak hanya menginjak duri, tapi sedang berjalan di atas hamparan bara api. Yang mungkin kelak bisa membakarnya.

Maria terdiam. Kepalanya tertunduk merasakan perih dalam dada. Ia ingin berteriak, ingin mengadu bahwa suaminya telah membangun istana lain tanpa meruntuhkan istana sebelumnya, membiarkan Maria tetap tinggal sebagai penghuni, meski yang sebenarnya tak diinginkan. Maria ingin memiliki teman bicara untuk mencurahkan isi hatinya. Tapi itu tak mungkin ia lakukan. Bahkan Tantri yang menjadi teman dekatnya pun tidak tahu.

"Nak Maria," panggil Bu Nafisah lembut. "Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu? Mas Rangga ... beliau baik-baik saja, kan?"

Maria tersentak. Ia segera mengangkat wajah dan memaksa tersenyum. "Eh, nggak ada apa-apa, Bu. Mas Rangga baik. Dan baru saja naik jabatan jadi Manajer."

"Alhamdulillah kalau begitu," sahut Bu Nafisah, meski hatinya masih menyimpan tanya.

Di mata wanita itu, Maria dan Rangga ini potret pasangan muda yang ideal. Rangga merupakan sosok lelaki yang sopan, santun dalam bertutur, dan taat beribadah. Setiap kali Rangga sedang tidak dinas luar kota untuk urusan industri otomotifnya, lelaki itu hampir tak pernah absen berjamaah di masjid kompleks. Bagaimana mungkin ada badai di balik pintu rumah yang terlihat begitu tenang? Maria sebagai istri juga taat dan cantik.

"Semoga rumah tangga kalian senantiasa rukun dan bahagia, Nak Maria. Segera diberikan momongan yang sholeh dan sholehah."

"Aamiin. Bu Hajah, terima kasih banyak untuk doanya." Mata Maria berkaca-kaca.

Bu Nafisah tersenyum sambil mengusap punggung Maria. Kemudian seorang Muazin telah bersiap-siap untuk azan karena sebentar lagi waktu salat isya. "Ayo, kita ke dalam."

"Iya, Bu. Saya ambil wudhu lagi." Maria bangkit dan beranjak untuk ke tempat wudhu.

🖤LS🖤

Saat berjalan pulang setelah selesai salat Isya, langkah Maria terasa berat. Penjelasan Bu Nafisah tentang keikhlasan terus berdengung di telinganya. Jika ikhlas adalah tentang memadamkan api cemburu demi surga, maka Maria merasa sekarang ia sedang berada di pintu neraka dunia. Ia mualaf, ia mencintai Islam tanpa paksaan siapapun. Tapi ia bertanya-tanya, apakah cinta pada manusia memang harus semenyakitkan ini agar bisa sampai pada cinta-Nya?

Maria menarik napas dalam-dalam untuk melonggarkan sesaknya dada. Rumahnya memang paling jauh dari masjid daripada orang-orang yang sering berjamaah di sana. Sebab tidak semua warga kompleks selalu salat berjamaah di masjid. Apalagi yang rumahnya agak jauh. Tapi Maria selalu pergi, karena masih banyak yang perlu ia dalami. Bu Nafisah banyak menjawab pertanyaan tentang sesuatu yang kadang tidak ia mengerti.

"Maria, katanya tadi mau mendaras Al Qur'an. Ayo, sekarang saja." Dia ingat saat Rangga sering menyimak bacaannya supaya lancar.

"Kamu beneran sudah suci dari haid?" tanya Rangga saat melihatnya berwudhu hendak salat.

"Sudah, Mas."

"Pastikan benar-benar sudah bersih, ya. Perasaan baru empat hari kamu haid. Kalau sudah keluar cairan putih bening, itu menandakan masa hadirmu sudah selesai." Kemudian Rangga memberitahu cara mengeceknya menggunakan kapas.

"Maria, rambutmu masih kelihatan. Coba lihat di cermin. Betulin dulu baru sholat. Pastikan jangan sampai tampak sehelai pun."

Dan Maria buru-buru pergi ke depan cermin sesuai yang diajarkan suaminya.

Beginilah komunikasi yang dianggap sebagai kemesraan bagi Maria. Bukan ucapan cinta yang menggebu-gebu. Sebab hal itu memang tidak mungkin ada. Cinta Rangga sudah habis buat Tamara. Namun itu sudah ia terima dengan perasaan bahagia. Tapi kenapa, sedikit saja Rangga tidak mau melihat ketulusannya. Hingga tetap menghadirkan wanita lain di antara mereka.

Maria mengusap air mata yang merambat ke pipi. Dan saat matanya memandang ke depan sana, ia melihat mobil mertuanya terparkir di depan pagar rumahnya. Maria segera mempercepat langkah. Tapi bagaimana jika mereka nanti bertanya kenapa Rangga belum pulang?

Next ....

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
si maria terlalu banyak drama. klu g bisa ikhlas menerima buat apa bertahan menyakiti diri sendiri. si rangga saja g peduli dg kondisi bapaknya. g usah jadi pahlawan kesiangan maria.
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
walau berat tapi pelan tapi pasti rahasia ini akan terbuka
goodnovel comment avatar
Helmy Rafisqy Pambudi
sakit sich..ya gimn lagi Maria itu yg km mau mencintai sendiri kan..mending cintai diri km sendiri aja baru mencintai orng lain ..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 302

    Sore itu mereka mengantarkan Zahra, Zein, dan baby Nuh ke Bandara Dhoho. Sedangkan Bu Hindun sudah kembali ke Malang siang tadi.Naima menciumi sang cucu dan Zahra. "Jaga diri kalian baik-baik," pesannya."Iya, Bun."Akhirnya Zein dan Zahra pamitan. Mereka melangkah untuk check in. Semua barang sudah masuk ke bagian bagasi.Zahra tersenyum sambil melambaikan tangan pada keluarganya yang masih berdiri di ujung sana.🖤LS🖤Tinggal di Jakarta, Zahra menjalani kehidupan seperti biasanya. Sebagai istri dan ibu. Bagi Zein yang penting Zahra memperhatikan putra mereka. Makanya Zahra jarang masak kecuali pas Zein libur. Membersihkan rumah juga dibantu sang suami. Dua bulan kemudian, SK pindah tugas di kantor diterima Zein. Jadi dia tidak lagi meninggalkan istri dan anaknya sampai berhari-hari. Hanya saja panggilan tugas mendadak di tengah malam, itu sudah biasa. Zahra pun sangat memahaminya.Ia tetap aktif di kegiatan Bhayangkari sambil membawa anaknya. Baby Nuh bisa diajak kerjasama dan ja

  • Mencari Jejak Maria   Season2 -301

    Di kamar, Zein merengkuh tubuh Zahra erat-erat, mendaratkan kecupan lama di kening sang istri. "Dua bulan lagi, Sayang. Kalian ikut Mas ke Jakarta.""Iya.""Tunggu Mas sampai menjemput kalian."Zahra mengangguk sambil tersenyum tulus, menyandarkan pipinya sebentar di dada bidang Zein. Ia akan menuruti kata bunda dan papanya. Sebab sadar kalau belum sanggup merawat Nuh sendirian di sana tanpa bantuan. Bayinya masih terlalu kecil. Lagipula mengurus bayi baru lahir membutuhkan stamina ekstra.Zein lantas membungkuk di boks bayi, mengelus lembut pipi putranya yang tertidur pulas, lalu menciumnya pelan-pelan. "Papa tugas dulu, ya. Jangan rewel."Akhirnya dengan langkah berat, Zein meninggalkan kamar lalu turun dan menuju kendaraan yang akan mengantarnya ke Bandara. Ia pamitan pada kedua mertuanya. Dan Elvaro yang ikut mengantarkan ke Dhoho.🖤LS🖤Sebulan kemudian kabar bahagia kembali menghampiri keluarga Emir. Aurel di Surabaya mengabari kalau sedang hamil empat minggu. Dia dilanda mabuk

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 300

    "Iya. Dia selalu tidur bersamaku di sini. Di sofa itu." Zahra memandang sofa. "Sekarang ada di kamar sebelah. Sebab aku bilang kalau Mas mau pulang."Untuk beberapa lama mereka duduk sambil memandangi baby Nuh. Zahra cerita keseharian mereka yang belum diceritakan pada sang suami. Zahra kemudian menidurkan bayinya ke dalam boks.Zein menarik tangan Zahra, membimbing istrinya untuk berbaring bersama di atas ranjang. Mereka saling memeluk.Seperti biasa, Zein tak pernah menceritakan misi yang baru saja diselesaikannya. Dia hanya cerita sewajarnya. Sesuatu yang aman Zahra ketahui.Pria itu menatap lekat wajah istrinya, mengusap helai rambut yang menutupi pipi Zahra. "Sayang, Mas cuma dapat cuti empat hari. Lusa Mas sudah harus kembali ke markas."Raut sedih sempat terlintas di paras Zahra, tapi ia selalu paham dan akhirnya mengangguk pelan. "Iya, nggak apa-apa. Aku mengerti. Mas sudah cerita kemarin di telepon, kan? Walaupun sebentar, tapi masih sempat pulang nyambangi kami. Mas, pasti c

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 299

    Zein- 27 TamatPerjalanan panjang itu tak bisa membuat Zein tertidur. Ia naik kereta api menuju Surabaya. Nanti akan menyambung kereta lokal ke Tulungagung. Sebab tidak ada kereta yang direct langsung ke kota marmer itu. Di tengah gemuruh roda kereta, matanya terkunci pada layar ponsel. Memandangi foto dan rekaman video singkat Baby Nuh yang dikirimkan istrinya. Bayi mungil berparas tampan itu menimbulkan rasa hangat yang membakar dadanya. Kepulangan kali ini didapatkan penuh perjuangan. Tiket pesawat pagi ludes, membuatnya tak punya pilihan selain menempuh perjalanan darat yang menguras tenaga.Dan cuti kali ini teramat singkat. Zein hanya mengantongi izin empat hari. Rasa ingin segera memboyong Zahra dan Nuh ke Jakarta membubung tinggi, bahkan Zahra sempat bersikeras ikut. Akan tetapi nasehat para orang tua menghalangi keputusan mereka. Mengurus bayi baru lahir sendirian di ibu kota tanpa ART jelas bukan perkara mudah. Mereka harus bersabar hingga Nuh genap berusia tiga bulan.Puk

  • Mencari Jejak Maria   Season2 -298

    Tepat pukul satu dini hari, lengkingan suara tangis bayi pecah menggema, membelah keheningan malam di klinik itu.Sebentar kemudian seluruh rasa sakit yang membakar tubuh Zahra menguap tanpa sisa. Naima seketika membungkuk, merangkul tubuh putrinya yang terkulai lemas bersimbah peluh. Keduanya tumpah dalam tangis keharuan. Dokter yang menangani mengucapkan selamat.Seorang bayi laki-laki tampan dengan berat 3,5 kilogram telah lahir sehat dan sempurna usai sembilan jam perjuangan yang hebat.Usai penanganan pasca persalinan, Bidan mempersilakan keluarga masuk untuk mengazani sang bayi. Bidan menyodorkan bayi mungil berbedong kain biru muda itu pada Emir.Pria itu tersenyum sambil merengkuh cucunya. Kemudian ia mengambil ponsel di saku celananya. "Tunggu sebentar, Bu Bidan."Emir mencoba menghubungi Zein, lalu mengubah panggilan ke mode panggilan video. Panggilan itu diangkat hanya dalam satu kali dering. Layar ponsel menampilkan wajah Zein yang sembap dan tegang. Dia pun tidak tidur sa

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 297

    Zahra mengusap lembut perutnya dan berbisik pada sang buah hati. "Nggak apa-apa ya, Nak. Papa lagi ada tugas. Kita berdua kuat, ya?"Ucapan itu dibalas spontan oleh sang buah hati. Tendangan kecil dari dalam perutnya sebagai bentuk respon dari bayinya.Sejak awal ia sudah memprediksi bahwa peluang Zein untuk pulang sangatlah tipis. Kendati ia dikelilingi support system yang begitu luar biasa di rumah ini, kekosongan di sisi hatinya tak bisa dibohongi.Beberapa malam terakhir, Zahra kian sulit memejamkan mata akibat rasa pegal yang menjalar hingga ke tulang punggung. Di tambah dengan rasa cemas yang tak kunjung surut. Memahami kegelisahan sang putri, Naima izin pada suaminya untuk menemani Zahra tidur setiap malam."Bun, temani Papa saja. Nanti kalau ada apa-apa, Zahra bisa nelepon Bunda." Zahra merasa tak enak hati dengan papanya. Pria itu masih terbilang muda. Baru juga setengah abad. Bundanya belum genap usia 50 tahun. Jelas ia paham kebutuhan biologis suami istri."Nggak apa-apa. P

  • Mencari Jejak Maria   MJM 7

    MARIA- 7 Di Persimpangan "Di mana Mama, aku ingin bicara?" suara Rangga datar tapi menyimpan amarah. Dia baru saja masuk rumah mertuanya, di mana istrinya tinggal. Tamara yang menyambut suaminya dengan daster sutra tipis, tersenyum manja. Ia melingkarkan lengan di leher Rangga, lalu mendaratkan

  • Mencari Jejak Maria   MJM 6

    MARIA- 6 Ingin Berpisah "Kenapa kau tutupi kelakuan gila suamimu, Maria?" tanya Radit dengan suara penuh getar emosi pada Maria yang membantu Rangga bangkit dan duduk di kursi."Jangan pernah diam kalau itu menyakitimu. Diammu itu bukan kesabaran. Itu adalah cara kau membiarkan dirimu hancur send

  • Mencari Jejak Maria   MJM 2

    MARIA- 2 Hanya Tanggung Jawab "Maria," panggil Rangga kian merunduk begitu dekat dengan wajahnya."Iya," jawab Maria yang tidak mungkin pura-pura tak mendengar. Selama ini Maria sangat peka dengan suaminya. Tidak ada panggilan yang lambat dijawabnya.Ia membalikkan tubuh setelah menarik napas pan

  • Mencari Jejak Maria   MJM 1

    MARIA- 1 Delapan Minggu "8 Minggu." Tangan Maria gemetar memegang hasil pemeriksaan atas nama Ny. Tamara yang ditemukan di dashboard mobil.Dada wanita yang mengenakan pasmina biru itu berdegup kencang. Matanya juga memanas. "Oh, jadi dia hamil," ujarnya lirih lantas melipat kembali kertas itu da

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status