MasukMARIA
- 2 Hanya Tanggung Jawab "Maria," panggil Rangga kian merunduk begitu dekat dengan wajahnya. "Iya," jawab Maria yang tidak mungkin pura-pura tak mendengar. Selama ini Maria sangat peka dengan suaminya. Tidak ada panggilan yang lambat dijawabnya. Ia membalikkan tubuh setelah menarik napas panjang supaya air matanya tidak jatuh. Kemudian duduk. Apa sang suami akan memberitahu tentang kabar bahagianya yang sebentar lagi akan menjadi ayah? "Ada apa, Mas? Mau kubuatin kopi? Tadi sore aku belum sempat bikinin." "Tidak usah. Sudah jam delapan malam. Ada yang ingin aku omongin." Dada Maria berdebar kencang. Rasa perih juga mengguncang di dalam sana. Ah, sampai kapan ia bisa bertahan dalam posisi seperti ini. "Ngomong apa?" suara Maria bergetar. "Ada kabar bahagia?" "Oh, iya. Apa itu?" Jantung Maria kian berpacu. Ia harus siap mendengarkan kabar bahagia bagi Rangga, tapi pasti perih untuk dirinya. "Mulai Senin depan, aku sudah resmi menjabat sebagai Manajer Operasional," ucap Rangga. Matanya menatap Maria. "Pihak direksi sudah menandatangani SK pengangkatanku sore tadi di kantor." Maria merasakan gelombang kehangatan yang menjalar di dadanya. Mata yang semula redup itu kini berbinar. Ada rasa bangga yang meledak, sebuah naluri istri yang ingin melihat suaminya sukses dalam kariernya di industri otomotif yang kompetitif itu. Kini satu mimpi telah terwujud. "Alhamdulillah, Mas. Itu berita luar biasa," bisik Maria. Suaranya bergetar dan tanpa ia sadari pelupuk matanya mulai menggenang. "Selamat ya, Mas. Kamu memang layak mendapatkannya setelah semua kerja kerasmu." Rangga tersenyum sambil mengangguk. "Terima kasih. Ini semua juga karena doa-doamu." Maria menyeka air mata. Antara sedih dan bahagia. Jauh di lubuk hatinya sempat ketakutan. Tadi mengira Rangga akan membuka pembicaraan tentang Tamara dan kehamilannya. Ia memang sudah tahu, tapi belum siap mendengarnya dari mulut sang suami. Ia memang pernah memberikan izin yang paling menyakitkan dalam hidupnya. Mempersilakan Rangga menikahi Tamara setahun setelah mereka menikah. Bayangkan baru satu tahun berumah tangga, masih momen saling adaptasi, tapi Rangga memberikan 'madu' untuknya. Rangga tak akan kesulitan menafkahi mereka. Selain bekerja pada perusahaan otomotif, Rangga juga punya lahan dari orang tuanya yang dikelolanya sendiri dengan mempekerjakan orang. Yaitu kebun cengkeh. Sejak masih kuliah, pria itu sudah rajin bekerja. "Bapak dan Ibu pasti sangat bahagia mendengar ini, Mas. Besok pagi mampirlah ke sana untuk membagi kabar gembira ini." Rumah orang tua Rangga memang berada di desa. Sementara Rangga mengajak Maria tinggal di sebuah perumahan di kota Kediri. "Besok pulang kerja saja aku ke sana." "Iya." Hening beberapa saat. Kemudian Maria kembali memandang suaminya yang masih diam. "Apa ada hal lain yang ingin Mas sampaikan padaku?" Mereka saling pandang. Kemudian tanpa kata-kata Rangga bergerak mendekat. Ia tidak meminta dengan lisan, tapi gerakannya menunjukkan sebuah instruksi yang tidak bisa ditawar. Ia menagih haknya malam itu. Maria memenuhi kewajibannya sebagai istri dengan patuh, meski hatinya berdarah. Meski sudah dua tahun ini ia harus berbagi dengan wanita lain. Setelah semuanya usai, Rangga bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Sementara Maria termenung. Sampai kapan ia bisa bertahan seperti ini? Secara logika, Maria memiliki alasan untuk pergi. Ia memiliki gelar sarjana dan bisa mencari pekerjaan. Ia punya hak untuk menggugat cerai atas ketidaknyamanan ini. Namun bayangan Pak Ali, bapak mertuanya yang kini terkulai lemah karena penyakit ginjal, selalu menjadi alasan Maria untuk bertahan. Keluarga Rangga ini penyelamat hidupnya. Mereka orang-orang yang menyayangi dan melindunginya saat ia kehilangan segalanya di usia anak-anak. Menyekolahkan Maria hingga sarjana. Pak Ali memang orang berada. Dia tuan tanah yang lahannya di mana-mana. Bagaimana mungkin ia menghancurkan hati Pak Ali dan Bu Hasna dengan kabar bahwa putra kebanggaan mereka telah berpoligami secara rahasia. Diam-diam memasukkan wanita lain dalam pernikahan yang mereka restui. Biar nanti Rangga sendiri yang memberitahu orang tuanya. Pak Ali dan Bu Hasna sangat menghargainya. "Maria, kalau kamu ingin ke Gereja. Pergilah. Tapi setelah selesai langsung pulang, ya." Hal ini selalu diucapkan setiap hari Minggu pagi atau Sabtu sore. Pikiran Maria melayang pada kenangan beberapa tahun silam. Rangga ini sosok yang ia puja bukan hanya karena ketampanannya, tapi karena kesalehannya. Maria masih ingat bagaimana getaran suara Rangga saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang sanggup menggetarkan sanubarinya. Setelah mualaf, Rangga yang sering mengajari dan membimbing lidahnya mengeja huruf hijaiyah, membetulkan makhrajnya. Dan mengajarinya bacaan salat. Kalau di TPQ kurang fokus, karena banyak anak-anak yang sedang belajar mengaji. Rangga yang membimbingnya menghatamkan Al Qur'an. Mereka selalu mengaji di bawah pengawasan Bu Hasna. Namun kini ada kenyataan lain yang terasa begitu pahit. Lelaki yang dianggapnya sebagai guru lalu menjadi imam, justru menjadi orang yang memberinya luka paling bernanah. "Aku tidak akan menceraikanmu, Maria. Aku tahu aku salah, tapi aku tetap tahu tanggung jawabku sebagaimana amanah Bapak dan Ibu. Aku akan tetap menjagamu dan selalu berusaha untuk adil padamu," ucap Rangga kala itu. Kalimat itu adalah vonis mati bagi hati Maria. Tanggung jawab. Hanya itu yang tersisa. Maria hanyalah sebuah 'amanah' yang harus dijaga demi orang tua, sementara Tamara adalah 'keinginan' yang dikejar Rangga dengan nafsu dan cinta. "Tidurlah," kata Rangga setelah kembali dari kamar mandi dan naik ke pembaringan. Dan akhirnya lelaki itu tidur dengan nyenyak seolah tidak ada beban di pundaknya. Sementara Maria harus bergelut dengan badai di dalam hatinya. Ia menyentuh dadanya yang terasa sesak. Keikhlasannya mulai terkikis oleh kenyataan. Terlebih sekarang Tamara sedang hamil, meski Rangga belum memberitahunya. Ia mencintai Rangga dengan teramat sangat. Tapi ia mulai bertanya-tanya, apa ia akan mengorbankan seluruh hidupnya demi tetap bertahan disamping Rangga yang telah berbagi hati. Oh, dia tidak berbagi hati. Tapi hati pria itu memang untuk Tamara. Maria tidak mendapatkan apa-apa selain rasa tanggung jawab. Cepat atau lambat, mertuanya pasti juga bakalan tahu tentang rahasia besar suaminya. 🖤LS🖤 "Nak Maria, kenapa melamun?" tanya Bu Hajah Nafisah yang menghampirinya. Saat itu Maria ikut jamaah salat Maghrib di masjid, tampak masih diam dengan mukena yang baru dilepasnya. "Ada yang ingin saya tanyakan, Bu." "Tentang apa? Ayo, tanya saja." Bu Nafisah tahu kalau Maria seorang mualaf. Dia masih banyak belajar dan sering bertanya tentang Islam. Maria masih terdiam. Dia ragu. Apakah hal ini nanti tidak menimbulkan kecurigaan di hati wanita setengah baya itu? "Lipat dulu mukenanya, kita duduk di serambi sambil nunggu salat isya." "Ya, Bu." Maria buru-buru melipat mukena dan sajadahnya. Membenahi jilbab kemudian menyusul Bu Nafisah yang sudah lebih dulu duduk di serambi samping. Maria tidak takut terlambat pulang, karena malam ini Rangga tidak akan pulang ke rumahnya. "Ada apa?" tanya Bu Nafisah dengan suara lembut. "Bu, apa sebenarnya itu poligami?" Next ....Di koper itu ada buah stroberi berukuran lebih kecil dari yang dimakan Ibrahim waktu itu, buah aprikot, peach, ceri hitam, blueberry, hingga plum ungu yang menggugah selera. Semua jenis buah yang tergolong langka atau berharga mahal jika dicari di Indonesia, sengaja diborong oleh Rangga dari supermarket Nagoya."Stlobeli!" pekik Ibrahim girang.Rangga tersenyum puas melihat binar bahagia anak dan istrinya. Mereka akhirnya menikmati buah-buahan segar itu bersama-sama di ruang tengah setelah Siti mencuci bersih sebagian buah. Tentu saja mereka tidak menghabiskannya sendiri. Maria membagi buah-buahan itu ke dalam beberapa wadah terpisah. Untuk pengurus panti, sebagian lagi disisihkan untuk dibawa saat mudik ke Kediri minggu depan.Untuk bos dan rekan kerja di kantor, Rangga membeli beberapa cindera mata khas Jepang, kipas lipat sutra, dan pajangan dinding tradisional.Sejak kedatangannya di bandara pagi tadi, Rangga sebenarnya memendam rasa gemas yang luar biasa. Ia belum bisa 'menyenggo
"Eh, A'im, sebentar, Sayang. Jangan ke sana dulu," potong Maria dengan sigap menahan pinggang putranya. "Papa masih di dalam, A'im nggak boleh masuk ke sana. Tunggu di sini ya, sebentar lagi Papa keluar."Ibrahim melonjak-lonjak tidak sabar, tatapan matanya terus mengikuti pergerakan Rangga yang kini sedang mengantre di pintu sensor terakhir. Begitu Rangga melangkah melewati pintu kaca otomatis dan resmi menginjakkan kaki di area penjemputan, Maria langsung melepaskan dekapannya.Bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya, Ibrahim langsung melesat berlari kencang membelah kerumunan orang, mengabaikan Siti yang sempat memekik saat mengikuti Ibrahim dari belakang. "Papaaa!"Melihat anak yang amat dirindukannya, Rangga spontan melepaskan pegangan kopernya. Ia langsung berjongkok, membuka lebar kedua lengannya untuk menyambut tubuh Ibrahim yang langsung menubruk dada bidangnya. Rangga mengangkat tubuh putranya, memeluknya teramat erat seolah ingin menumpahkan seluruh rindu yang menyiksa
MARIA - 53 KangenJarum jam baru menunjukkan pukul empat pagi dan azan Subuh belum berkumandang. Suasana di Malang masih diselimuti kabut yang dingin, membawa hawa sejuk khas pegunungan yang menusuk tulang. Di dalam kamar yang hening, Maria bergerak pelan-pelan mengganti popok Ibrahim yang sudah penuh, lalu memakaikan celana panjang yang hangat untuk perjalanan jauh.Siti juga sudah terbangun. Ia dengan sigap menyiapkan sebotol susu hangat, dan beberapa perlengkapan untuk dibawa ke Surabaya.Namun gerakan Maria rupanya mengusik kenyamanan tidur Ibrahim. Merasa tidurnya terganggu, bocah itu mulai merengek. Maria segera merengkuh tubuh anaknya, menepuk-nepuk punggungnya lembut untuk menenangkan. "Anak pintar jangan menangis. Pagi ini kita mau pergi naik mobil, lho. A'im, ikut nggak?""Naik mobil?" Ibrahim tertarik lalu memandang bundanya. "Iya.""Mau jalan-jalan?" tanyanya antusias dan tangan kecilnya mengucek mata."Iya.""Ke mana, Bunda?" "Kita mau menjemput Papa di bandara. Hari
"Mas, hati-hati," pesan Maria dengan mata yang mulai berembun. Dia begitu sedih setelah tahu siapa Zein. Pria itu mengangguk, lalu melaju dengan motornya meninggalkan panti.🖤LS🖤"Pak Pradipta nggak bisa ngasih nomernya Aisyah, Tam. Aku dah nyoba minta kemarin." Susi memberitahu Aisyah saat mereka ketemuan sepulang kerja. Janjian di kafe seperti biasanya. "Alasannya apa nggak mau ngasih?" tanya Tamara terlihat sangat kecewa."Aku nggak tahu. Pak Pradipta cuman bilang nggak bisa ngasih nomer orang sembarangan. Ya, mungkin saja Aisyah ini orangnya tertutup. Lihat saja cara berpakaiannya. Dia pakai cadar juga. Mungkin membatasi pergaulan.""Masa sih?" Tamara tidak percaya. "Padahal Aisyah ramah banget.""Kalau untuk urusan pekerjaan pasti ramah. Sebab dia dituntut profesional. Aisyah ini dah nikah belum, sih?" tanya Susi sambil mengaduk jusnya.Tamara mengedikkan bahunya. "Aku juga belum tahu. Makanya aku pengen temenan sama dia.""Kamu samperin aja ke kantornya pas pulang kerja. Mun
Zein menoleh menatap Maria dengan senyum di bibirnya. "Aku tahu hukumannya, Aisyah. Bisa dipecat atau bahkan dianggap berkhianat. Tapi aku menceritakan ini semua murni karena aku teramat mempercayaimu. Aku tahu rahasia ini aman bersamamu, dan tidak akan pernah sampai ke telinga siapapun. Cukup di kamu saja.""Terima kasih sudah mempercayai saya, Mas. Percayalah, akan saya jaga rahasia ini. Bahkan dari Mas Rangga. Cukup saya saja yang tahu." Ini sebuah janji Maria. Ia akan menjaga rahasia Zein dari siapapun.Padahal seorang intelegen pun, tidak boleh membuka identitas aslinya di hadapan kekasih, atau calon istrinya. Itu sudah sumpah. Kecuali kalau mereka sudah menikah nanti. Tapi Zein begitu percaya padanya yang notabene tidak ada hubungan spesial dengan pria itu. Tanpa sadar, sebenarnya mereka begitu dekat."Pokoknya di mana pun Mas Zein berada, sesekali kirim kabar ke saya. Nggak apa-apa, Mas Rangga paham kalau Mas Zein sangat berjasa dalam hidup saya dan A'im. Toh kita hanya bertany
MARIA - 52 Nama Samaran Maria kaget dengan ucapan Zein yang lempeng dan santai. Hatinya terasa tercubit hebat. Rasa sedih yang mendalam mendadak menyergap, mengabaikan jarak sopan yang biasa ia jaga. Detik itu juga sepasang netra Maria mulai berkaca-kaca, digenangi air mata yang tertahan di sudut pelupuk."Kenapa Mas Zein ngomong seperti itu? Jangan bercanda dengan hal-hal yang menyangkut nyawa, Mas," kata Maria dengan suara bergetar dan ada nada cemas.Zein mengalihkan pandangannya sejenak pada Ibrahim dan beberapa anak yang kembali ke aula untuk bermain di sana, lalu kembali menatap Maria. "Aku tidak sedang menakut-nakutimu, Aisyah. Memang begitu risiko mutlak dari pekerjaan yang kupilih. Sejak awal, kontrak mati itu sudah dijelaskan dengan sangat gamblang ketika aku memutuskan masuk di badan intelijen khusus bagian kriminal. Musuh yang kami hadapi bukan pencuri jemuran atau ayam, melainkan sindikat internasional yang berbahaya, jaringan pengedar narkoba, dan para mafia yang tidak
MARIA- 3 Apa itu poligami?"Bu, apa itu sebenarnya poligami?" Maria bertanya dengan suara lirih, karena di serambi depan ada beberapa orang bapak-bapak yang duduk ngobrol. Suami Bu Nafisah pun ada di sana.Bu Nafisah, sosok yang disegani di komplek perumahan itu tersentak kecil. Ia menatap Maria d
MARIA- 1 Delapan Minggu "8 Minggu." Tangan Maria gemetar memegang hasil pemeriksaan atas nama Ny. Tamara yang ditemukan di dashboard mobil.Dada wanita yang mengenakan pasmina biru itu berdegup kencang. Matanya juga memanas. "Oh, jadi dia hamil," ujarnya lirih lantas melipat kembali kertas itu da
"Sebelum ke sini, A'im sudah pernah diajak pergi ke mana?" tanya Rangga menoleh pada Maria."Belum," jawab Maria singkat.Ini kali pertama dalam hidup Ibrahim, bocah itu menginjakkan kaki di sebuah tempat wisata megah seperti ini. Selama ini, Maria hanya mengajaknya berjalan-jalan di taman kota yan
MARIA- 29 Jalan-jalan "Ulfa, panggilin Mbak Aisyah dan A'im, ya. Bilang kalau Pak Rangga datang." Bu Halimah menyuruh seorang anak kelas lima SD untuk memanggil Aisyah, setelah wanita itu mempersilakan Rangga masuk ke ruang tamu panti."Ya, Bu," jawab Ulfa terus berlari ke arah belakang."Mas Ran







