LOGINMARIA
- 4 Maria "Assalamu'alaikum," ucap Maria pada bapak dan ibu mertuanya yang duduk di kursi teras. Juga pada bapak sopir yang duduk agak menjauh. "Wa'alaikumsalam. Kamu dari Masjid, Nduk?" Bu Hasna bertanya sambil menerima uluran tangan menantunya. "Iya, Bu. Maaf, membuat Bapak sama Ibu menunggu." "Nggak apa-apa. Kami juga barusan nyampe. Rangga belum pulang kerja?" Dada Maria berdegup kencang. Dia takut untuk berbohong, tapi juga takut untuk bicara jujur. Baru kali ini mertuanya datang, pas kebetulan Rangga tidak di rumah. "Mas Rangga ke luar kota, Bu," jawab Maria sambil membuka pintu rumah dan mempersilakan mereka masuk. "Ke mana?" tanya Bu Hasna. Duh, ke mana, ya? Maria benar-benar gugup. "Ke Blitar, Bu." Akhirnya Maria menyebut nama kota itu. Kota di mana sekarang Rangga berada untuk mengunjungi Tamara. Ingin rasa hati bicara yang sebenarnya, tapi melihat kondisi mertuanya, Maria tidak tega. "O, ya sudah. Tapi kamu berani sendirian di rumah?" "Berani." Maria tersenyum. "Bapak dan Ibu dari rumah?" tanyanya. "Barusan nganterin Bapak check up. Alhamdulillah, perkembangannya jauh lebih baik." "Alhamdulillah." Maria memandang Pak Ali yang tersenyum padanya. Bapak mertuanya terlihat lebih segar sekarang. Dia lelaki yang irit bicara, tapi sangat baik. Maria hendak ke belakang untuk membuatkan minum, tapi dilarang oleh Bu Hasna. Tidak usah, karena mereka juga mau pulang. Setelah berbincang beberapa menit, mereka akhirnya pamitan. Maria masih mematung di teras, meski suara mobil mertuanya sudah tidak terdengar lagi. Kemudian ia melangkah gontai masuk rumah. Diambilnya ponsel yang sejak tadi ditinggalkan di meja ruang keluarga. Ada beberapa pesan masuk dari Rangga. [Maria, kamu sudah makan?] Beberapa menit kemudian disusul pesan selanjutnya. [Kamu ke mana?] [Maria.] [Maria, kenapa tidak menjawab pesan?] Maria menarik napas berat. Sungguh terasa sesak sekali dadanya. "Kenapa kamu nggak sekalian jahat saja sama aku, Mas. Biar aku bisa pergi tanpa ingat balas budi, nggak mengingat lagi bahwa kamu yang membimbingku beribadah dengan benar. "Atau ceraikan saja aku. Bukankah Tamara sudah hamil anak kalian? Sedangkan tiga tahun menikah, aku nggak kunjung hamil. Ini bisa kamu jadikan alasan, Mas. Aku nggak apa-apa. Penting kamu yang mengambil keputusan itu." Akhirnya Maria terisak juga. Teringat semua kebersamaan mereka semenjak masih kanak-kanak, remaja, hingga dewasa, dan menikah. Wanita itu beranjak ke belakang untuk membasuh wajah. Baru kembali duduk dan membalas pesan suaminya. [Maaf, Mas. Aku baru pulang dari Masjid.] Selesai mengetik, Maria meletakkan ponselnya sambil menunggu benda itu berpendar sebagai tanda adanya balasan. Akan tetapi sampai malam tetap sepi. Pasti lagi sibuk sama yang di sana. Tamara butuh perhatian karena dia sedang hamil. Rangga juga tidak bisa selalu ke sana, karena pernikahan itu masih rahasia. Makin perih saja hati Maria. "Ya, Allah. Jika ini jalanku, berikan ketenangan dalam hatiku. Kalau memang ada pilihan lain yang terbaik, berikan petunjukmu." 🖤LS🖤 Malam itu Rangga baru saja kembali setelah tiga malam bersama Tamara. Bau parfum yang berbeda, sorot mata yang lebih lelah, dan aura asing itu selalu dibawa Rangga pulang ke rumah ini. Namun Maria tetaplah Maria. Dengan kesabaran yang nyaris menyayat hati, ia menyendokkan nasi hangat dan lauk ke piringnya Rangga. Maria tetap terlihat riang. Senyumnya terkembang sempurna meski hatinya sangat perih. Ia tekan dalam-dalam rasa cemburu dan sakitnya. Rangga menatap wajah teduhnya Maria, lalu mulai menyuap makanan dalam diam. Maria terus bercerita, mengisi kekosongan dengan kabar-kabar ringan, berusaha menciptakan suasana bahwa mereka adalah pasangan normal yang sedang berbagi cerita di penghujung hari. "Oh iya, Mas. Dua hari yang lalu, Bapak dan Ibu mampir ke sini," ujar Maria tenang. Gerakan tangan Rangga terhenti di udara. Matanya yang tajam menatap Maria dengan kilat kecemasan yang tak mampu ia sembunyikan. "Bapak ke sini? Terus kamu bilang aku di mana?" "Aku bilang Mas sedang ada tugas ke luar kota. Ke Blitar," jawab Maria santai sembari mengunyah pelan. Rangga tertegun. Blitar? Kenapa dari sekian banyak kota, Maria memilih Blitar? Apa Maria memang sengaja membuka jalan untuk membongkar rahasianya? "Jangan khawatir, Mas. Aku nggak akan cerita apapun pada Bapak dan Ibu. Mas lah yang punya kewajiban memberitahu beliau. Mau sampai kapan kita sembunyikan hal ini. Nggak selamanya aku bisa menutupinya. "Kenapa Mas nggak jujur saja sama Bapak dan Ibu. Pernikahan Mas dengan Mbak Tamara nggak mungkin untuk sementara. Jadi mau sampai kapan dirahasiakan. Beliau akan lebih terluka jika tahu dari orang lain, atau tahu saat semuanya sudah terlambat," suara Maria tidak meninggi, justru terdengar datar dan biasa, padahal sakit dihatinya luar biasa. Rangga diam sambil terus makan. Tiga hari di Blitar, ia sudah didesak oleh mertuanya agar segera meresmikan pernikahannya dengan Tamara sebelum kehamilannya membesar. Padahal mereka sejak awal tidak menuntut akan hal ini. Tamara pun bisa terima hanya menjadi istri siri, yang penting menikah dengan Rangga. Kala itu terlihat begitu tulus. Namun semuanya berubah setelah wanita itu hamil. "Maria kan belum hamil, sedangkan Tamara akan memberimu anak, Nak Rangga. Tolong pikiran ini. Anak itu nanti butuh identitas resmi." Mamanya Tamara bicara demikian sebelum ia berangkat kerja tadi pagi. Keheningan kembali merayap, lebih berat dari sebelumnya. Rangga memandang Maria. Wanita yang begitu tulus mencintainya, yang ia lukai namun tetap melayaninya dengan sempurna sebagai istri. Ada rasa bersalah yang menghantam dadanya. Akhirnya makan malam itu berakhir dalam kesunyian. 🖤LS🖤 Pagi itu setelah Rangga berangkat kerja, Maria beres-beres rumah. Saat sedang menyapu ruang tamu, bel rumahnya berdenting. Ia segera mengenakan bergonya dan melangkah keluar. Saat membuka pintu, ada mobil warna silver berhenti di luar pagar. Dan di teras seorang wanita berdiri sambil memandangnya. "Maaf, Ibu mencari siapa?" tanta Maria dengan sopan. "Benarkah ini rumahnya Nak Rangga Fathurrahman?" "Benar. Ibu, siapa, ya? Kebetulan Mas Rangga sudah berangkat kerja. Saya istrinya." Maria tetap menjaga keramahannya. "Oh, kamu yang bernama Maria?" "Iya. Ibu, ini siapa, ya?" "Saya Arsi, mamanya Tamara. Saya ingin bicara dengan Nak Maria." Wanita itu bicara dengan nada lugas. Sambil memindai wajah cantiknya Maria. Maria terkejut. Sejenak dia bingung, harus menerima wanita itu atau tidak. Sosok yang bisa saja lebih menyeretnya dalam pusaran luka. Akhirnya Maria mengisyaratkan tangan ke arah kursi kayu di teras. "Silakan duduk, Bu." Bu Arsi duduk dengan punggung tegak, tidak sedikit pun terlihat canggung. Ia meletakan tas kulitnya di pangkuan. "Pasti Nak Rangga sudah cerita kalau Tamara sedang hamil, kan?" tanya Bu Arsi tanpa basa-basi. Bahkan sambil tersenyum tanpa memikirkan perasaan Maria. Next ....Sore itu mereka mengantarkan Zahra, Zein, dan baby Nuh ke Bandara Dhoho. Sedangkan Bu Hindun sudah kembali ke Malang siang tadi.Naima menciumi sang cucu dan Zahra. "Jaga diri kalian baik-baik," pesannya."Iya, Bun."Akhirnya Zein dan Zahra pamitan. Mereka melangkah untuk check in. Semua barang sudah masuk ke bagian bagasi.Zahra tersenyum sambil melambaikan tangan pada keluarganya yang masih berdiri di ujung sana.🖤LS🖤Tinggal di Jakarta, Zahra menjalani kehidupan seperti biasanya. Sebagai istri dan ibu. Bagi Zein yang penting Zahra memperhatikan putra mereka. Makanya Zahra jarang masak kecuali pas Zein libur. Membersihkan rumah juga dibantu sang suami. Dua bulan kemudian, SK pindah tugas di kantor diterima Zein. Jadi dia tidak lagi meninggalkan istri dan anaknya sampai berhari-hari. Hanya saja panggilan tugas mendadak di tengah malam, itu sudah biasa. Zahra pun sangat memahaminya.Ia tetap aktif di kegiatan Bhayangkari sambil membawa anaknya. Baby Nuh bisa diajak kerjasama dan ja
Di kamar, Zein merengkuh tubuh Zahra erat-erat, mendaratkan kecupan lama di kening sang istri. "Dua bulan lagi, Sayang. Kalian ikut Mas ke Jakarta.""Iya.""Tunggu Mas sampai menjemput kalian."Zahra mengangguk sambil tersenyum tulus, menyandarkan pipinya sebentar di dada bidang Zein. Ia akan menuruti kata bunda dan papanya. Sebab sadar kalau belum sanggup merawat Nuh sendirian di sana tanpa bantuan. Bayinya masih terlalu kecil. Lagipula mengurus bayi baru lahir membutuhkan stamina ekstra.Zein lantas membungkuk di boks bayi, mengelus lembut pipi putranya yang tertidur pulas, lalu menciumnya pelan-pelan. "Papa tugas dulu, ya. Jangan rewel."Akhirnya dengan langkah berat, Zein meninggalkan kamar lalu turun dan menuju kendaraan yang akan mengantarnya ke Bandara. Ia pamitan pada kedua mertuanya. Dan Elvaro yang ikut mengantarkan ke Dhoho.🖤LS🖤Sebulan kemudian kabar bahagia kembali menghampiri keluarga Emir. Aurel di Surabaya mengabari kalau sedang hamil empat minggu. Dia dilanda mabuk
"Iya. Dia selalu tidur bersamaku di sini. Di sofa itu." Zahra memandang sofa. "Sekarang ada di kamar sebelah. Sebab aku bilang kalau Mas mau pulang."Untuk beberapa lama mereka duduk sambil memandangi baby Nuh. Zahra cerita keseharian mereka yang belum diceritakan pada sang suami. Zahra kemudian menidurkan bayinya ke dalam boks.Zein menarik tangan Zahra, membimbing istrinya untuk berbaring bersama di atas ranjang. Mereka saling memeluk.Seperti biasa, Zein tak pernah menceritakan misi yang baru saja diselesaikannya. Dia hanya cerita sewajarnya. Sesuatu yang aman Zahra ketahui.Pria itu menatap lekat wajah istrinya, mengusap helai rambut yang menutupi pipi Zahra. "Sayang, Mas cuma dapat cuti empat hari. Lusa Mas sudah harus kembali ke markas."Raut sedih sempat terlintas di paras Zahra, tapi ia selalu paham dan akhirnya mengangguk pelan. "Iya, nggak apa-apa. Aku mengerti. Mas sudah cerita kemarin di telepon, kan? Walaupun sebentar, tapi masih sempat pulang nyambangi kami. Mas, pasti c
Zein- 27 TamatPerjalanan panjang itu tak bisa membuat Zein tertidur. Ia naik kereta api menuju Surabaya. Nanti akan menyambung kereta lokal ke Tulungagung. Sebab tidak ada kereta yang direct langsung ke kota marmer itu. Di tengah gemuruh roda kereta, matanya terkunci pada layar ponsel. Memandangi foto dan rekaman video singkat Baby Nuh yang dikirimkan istrinya. Bayi mungil berparas tampan itu menimbulkan rasa hangat yang membakar dadanya. Kepulangan kali ini didapatkan penuh perjuangan. Tiket pesawat pagi ludes, membuatnya tak punya pilihan selain menempuh perjalanan darat yang menguras tenaga.Dan cuti kali ini teramat singkat. Zein hanya mengantongi izin empat hari. Rasa ingin segera memboyong Zahra dan Nuh ke Jakarta membubung tinggi, bahkan Zahra sempat bersikeras ikut. Akan tetapi nasehat para orang tua menghalangi keputusan mereka. Mengurus bayi baru lahir sendirian di ibu kota tanpa ART jelas bukan perkara mudah. Mereka harus bersabar hingga Nuh genap berusia tiga bulan.Puk
Tepat pukul satu dini hari, lengkingan suara tangis bayi pecah menggema, membelah keheningan malam di klinik itu.Sebentar kemudian seluruh rasa sakit yang membakar tubuh Zahra menguap tanpa sisa. Naima seketika membungkuk, merangkul tubuh putrinya yang terkulai lemas bersimbah peluh. Keduanya tumpah dalam tangis keharuan. Dokter yang menangani mengucapkan selamat.Seorang bayi laki-laki tampan dengan berat 3,5 kilogram telah lahir sehat dan sempurna usai sembilan jam perjuangan yang hebat.Usai penanganan pasca persalinan, Bidan mempersilakan keluarga masuk untuk mengazani sang bayi. Bidan menyodorkan bayi mungil berbedong kain biru muda itu pada Emir.Pria itu tersenyum sambil merengkuh cucunya. Kemudian ia mengambil ponsel di saku celananya. "Tunggu sebentar, Bu Bidan."Emir mencoba menghubungi Zein, lalu mengubah panggilan ke mode panggilan video. Panggilan itu diangkat hanya dalam satu kali dering. Layar ponsel menampilkan wajah Zein yang sembap dan tegang. Dia pun tidak tidur sa
Zahra mengusap lembut perutnya dan berbisik pada sang buah hati. "Nggak apa-apa ya, Nak. Papa lagi ada tugas. Kita berdua kuat, ya?"Ucapan itu dibalas spontan oleh sang buah hati. Tendangan kecil dari dalam perutnya sebagai bentuk respon dari bayinya.Sejak awal ia sudah memprediksi bahwa peluang Zein untuk pulang sangatlah tipis. Kendati ia dikelilingi support system yang begitu luar biasa di rumah ini, kekosongan di sisi hatinya tak bisa dibohongi.Beberapa malam terakhir, Zahra kian sulit memejamkan mata akibat rasa pegal yang menjalar hingga ke tulang punggung. Di tambah dengan rasa cemas yang tak kunjung surut. Memahami kegelisahan sang putri, Naima izin pada suaminya untuk menemani Zahra tidur setiap malam."Bun, temani Papa saja. Nanti kalau ada apa-apa, Zahra bisa nelepon Bunda." Zahra merasa tak enak hati dengan papanya. Pria itu masih terbilang muda. Baru juga setengah abad. Bundanya belum genap usia 50 tahun. Jelas ia paham kebutuhan biologis suami istri."Nggak apa-apa. P
MARIA- 5 Pukulan Telak"Akhirnya Nak Rangga memiliki keturunan," ujar Bu Arsi dengan bangganya.Maria tidak menjawab. Ia hanya duduk di kursi seberang, menyatukan kedua jemarinya di pangkuan. Ia memilih untuk menjadi pendengar yang pasif, dengan dada yang bergemuruh hebat. "Begini, Nak Maria," la
MARIA- 3 Apa itu poligami?"Bu, apa itu sebenarnya poligami?" Maria bertanya dengan suara lirih, karena di serambi depan ada beberapa orang bapak-bapak yang duduk ngobrol. Suami Bu Nafisah pun ada di sana.Bu Nafisah, sosok yang disegani di komplek perumahan itu tersentak kecil. Ia menatap Maria d
MARIA- 7 Di Persimpangan "Di mana Mama, aku ingin bicara?" suara Rangga datar tapi menyimpan amarah. Dia baru saja masuk rumah mertuanya, di mana istrinya tinggal. Tamara yang menyambut suaminya dengan daster sutra tipis, tersenyum manja. Ia melingkarkan lengan di leher Rangga, lalu mendaratkan
MARIA- 6 Ingin Berpisah "Kenapa kau tutupi kelakuan gila suamimu, Maria?" tanya Radit dengan suara penuh getar emosi pada Maria yang membantu Rangga bangkit dan duduk di kursi."Jangan pernah diam kalau itu menyakitimu. Diammu itu bukan kesabaran. Itu adalah cara kau membiarkan dirimu hancur send







