Share

MJM 4

last update publish date: 2026-05-28 09:07:15

MARIA

- 4 Maria

"Assalamu'alaikum," ucap Maria pada bapak dan ibu mertuanya yang duduk di kursi teras. Juga pada bapak sopir yang duduk agak menjauh.

"Wa'alaikumsalam. Kamu dari Masjid, Nduk?" Bu Hasna bertanya sambil menerima uluran tangan menantunya.

"Iya, Bu. Maaf, membuat Bapak sama Ibu menunggu."

"Nggak apa-apa. Kami juga barusan nyampe. Rangga belum pulang kerja?"

Dada Maria berdegup kencang. Dia takut untuk berbohong, tapi juga takut untuk bicara jujur. Baru kali ini mertuanya datang, pas kebetulan Rangga tidak di rumah. "Mas Rangga ke luar kota, Bu," jawab Maria sambil membuka pintu rumah dan mempersilakan mereka masuk.

"Ke mana?" tanya Bu Hasna.

Duh, ke mana, ya? Maria benar-benar gugup. "Ke Blitar, Bu." Akhirnya Maria menyebut nama kota itu. Kota di mana sekarang Rangga berada untuk mengunjungi Tamara. Ingin rasa hati bicara yang sebenarnya, tapi melihat kondisi mertuanya, Maria tidak tega.

"O, ya sudah. Tapi kamu berani sendirian di rumah?"

"Berani." Maria tersenyum. "Bapak dan Ibu dari rumah?" tanyanya.

"Barusan nganterin Bapak check up. Alhamdulillah, perkembangannya jauh lebih baik."

"Alhamdulillah." Maria memandang Pak Ali yang tersenyum padanya. Bapak mertuanya terlihat lebih segar sekarang. Dia lelaki yang irit bicara, tapi sangat baik.

Maria hendak ke belakang untuk membuatkan minum, tapi dilarang oleh Bu Hasna. Tidak usah, karena mereka juga mau pulang.

Setelah berbincang beberapa menit, mereka akhirnya pamitan. Maria masih mematung di teras, meski suara mobil mertuanya sudah tidak terdengar lagi. Kemudian ia melangkah gontai masuk rumah.

Diambilnya ponsel yang sejak tadi ditinggalkan di meja ruang keluarga. Ada beberapa pesan masuk dari Rangga.

[Maria, kamu sudah makan?]

Beberapa menit kemudian disusul pesan selanjutnya.

[Kamu ke mana?]

[Maria.]

[Maria, kenapa tidak menjawab pesan?]

Maria menarik napas berat. Sungguh terasa sesak sekali dadanya. "Kenapa kamu nggak sekalian jahat saja sama aku, Mas. Biar aku bisa pergi tanpa ingat balas budi, nggak mengingat lagi bahwa kamu yang membimbingku beribadah dengan benar.

"Atau ceraikan saja aku. Bukankah Tamara sudah hamil anak kalian? Sedangkan tiga tahun menikah, aku nggak kunjung hamil. Ini bisa kamu jadikan alasan, Mas. Aku nggak apa-apa. Penting kamu yang mengambil keputusan itu."

Akhirnya Maria terisak juga. Teringat semua kebersamaan mereka semenjak masih kanak-kanak, remaja, hingga dewasa, dan menikah. Wanita itu beranjak ke belakang untuk membasuh wajah. Baru kembali duduk dan membalas pesan suaminya.

[Maaf, Mas. Aku baru pulang dari Masjid.]

Selesai mengetik, Maria meletakkan ponselnya sambil menunggu benda itu berpendar sebagai tanda adanya balasan. Akan tetapi sampai malam tetap sepi. Pasti lagi sibuk sama yang di sana. Tamara butuh perhatian karena dia sedang hamil. Rangga juga tidak bisa selalu ke sana, karena pernikahan itu masih rahasia.

Makin perih saja hati Maria. "Ya, Allah. Jika ini jalanku, berikan ketenangan dalam hatiku. Kalau memang ada pilihan lain yang terbaik, berikan petunjukmu."

🖤LS🖤

Malam itu Rangga baru saja kembali setelah tiga malam bersama Tamara. Bau parfum yang berbeda, sorot mata yang lebih lelah, dan aura asing itu selalu dibawa Rangga pulang ke rumah ini.

Namun Maria tetaplah Maria. Dengan kesabaran yang nyaris menyayat hati, ia menyendokkan nasi hangat dan lauk ke piringnya Rangga.

Maria tetap terlihat riang. Senyumnya terkembang sempurna meski hatinya sangat perih. Ia tekan dalam-dalam rasa cemburu dan sakitnya.

Rangga menatap wajah teduhnya Maria, lalu mulai menyuap makanan dalam diam. Maria terus bercerita, mengisi kekosongan dengan kabar-kabar ringan, berusaha menciptakan suasana bahwa mereka adalah pasangan normal yang sedang berbagi cerita di penghujung hari.

"Oh iya, Mas. Dua hari yang lalu, Bapak dan Ibu mampir ke sini," ujar Maria tenang.

Gerakan tangan Rangga terhenti di udara. Matanya yang tajam menatap Maria dengan kilat kecemasan yang tak mampu ia sembunyikan. "Bapak ke sini? Terus kamu bilang aku di mana?"

"Aku bilang Mas sedang ada tugas ke luar kota. Ke Blitar," jawab Maria santai sembari mengunyah pelan.

Rangga tertegun. Blitar? Kenapa dari sekian banyak kota, Maria memilih Blitar? Apa Maria memang sengaja membuka jalan untuk membongkar rahasianya?

"Jangan khawatir, Mas. Aku nggak akan cerita apapun pada Bapak dan Ibu. Mas lah yang punya kewajiban memberitahu beliau. Mau sampai kapan kita sembunyikan hal ini. Nggak selamanya aku bisa menutupinya.

"Kenapa Mas nggak jujur saja sama Bapak dan Ibu. Pernikahan Mas dengan Mbak Tamara nggak mungkin untuk sementara. Jadi mau sampai kapan dirahasiakan. Beliau akan lebih terluka jika tahu dari orang lain, atau tahu saat semuanya sudah terlambat," suara Maria tidak meninggi, justru terdengar datar dan biasa, padahal sakit dihatinya luar biasa.

Rangga diam sambil terus makan. Tiga hari di Blitar, ia sudah didesak oleh mertuanya agar segera meresmikan pernikahannya dengan Tamara sebelum kehamilannya membesar. Padahal mereka sejak awal tidak menuntut akan hal ini. Tamara pun bisa terima hanya menjadi istri siri, yang penting menikah dengan Rangga. Kala itu terlihat begitu tulus. Namun semuanya berubah setelah wanita itu hamil.

"Maria kan belum hamil, sedangkan Tamara akan memberimu anak, Nak Rangga. Tolong pikiran ini. Anak itu nanti butuh identitas resmi." Mamanya Tamara bicara demikian sebelum ia berangkat kerja tadi pagi.

Keheningan kembali merayap, lebih berat dari sebelumnya. Rangga memandang Maria. Wanita yang begitu tulus mencintainya, yang ia lukai namun tetap melayaninya dengan sempurna sebagai istri. Ada rasa bersalah yang menghantam dadanya.

Akhirnya makan malam itu berakhir dalam kesunyian.

🖤LS🖤

Pagi itu setelah Rangga berangkat kerja, Maria beres-beres rumah. Saat sedang menyapu ruang tamu, bel rumahnya berdenting. Ia segera mengenakan bergonya dan melangkah keluar.

Saat membuka pintu, ada mobil warna silver berhenti di luar pagar. Dan di teras seorang wanita berdiri sambil memandangnya.

"Maaf, Ibu mencari siapa?" tanta Maria dengan sopan.

"Benarkah ini rumahnya Nak Rangga Fathurrahman?"

"Benar. Ibu, siapa, ya? Kebetulan Mas Rangga sudah berangkat kerja. Saya istrinya." Maria tetap menjaga keramahannya.

"Oh, kamu yang bernama Maria?"

"Iya. Ibu, ini siapa, ya?"

"Saya Arsi, mamanya Tamara. Saya ingin bicara dengan Nak Maria." Wanita itu bicara dengan nada lugas. Sambil memindai wajah cantiknya Maria.

Maria terkejut. Sejenak dia bingung, harus menerima wanita itu atau tidak. Sosok yang bisa saja lebih menyeretnya dalam pusaran luka.

Akhirnya Maria mengisyaratkan tangan ke arah kursi kayu di teras. "Silakan duduk, Bu."

Bu Arsi duduk dengan punggung tegak, tidak sedikit pun terlihat canggung. Ia meletakan tas kulitnya di pangkuan.

"Pasti Nak Rangga sudah cerita kalau Tamara sedang hamil, kan?" tanya Bu Arsi tanpa basa-basi. Bahkan sambil tersenyum tanpa memikirkan perasaan Maria.

Next ....

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (6)
goodnovel comment avatar
Yani Suryani
orang kedua itu emang gitu, keluarganya juga gak apa" jadi yg kedua tapi lama" merongrong bak lintah penghisap darah
goodnovel comment avatar
Suherni 123
bulshit kalo iya mau di ajakin nikah siri tanpa menuntut apapun,, pasti lama lama ngelunjak
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
bikin Rangga menceraikan Maria aja lah..tahu agama tapi kelakuan jauh dari agama
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 277

    "Makasih banyak, Mbak. Udah mborong di toko kami," ucap Zahra dengan begitu ramahnya.Maria tersenyum sambil meraih goodie bag. "Sama-sama, Mbak. Maaf, anak-anak saya bikin heboh toko.""Tidak apa-apa." Zahra menangkupkan tangannya sambil memperhatikan mereka meninggalkan toko. Kemudian mobil hitam itu melaju pergi.Zahra tidak tahu kalau wanita itu pernah membuat suaminya jatuh cinta. Sosok yang pernah istimewa di hati Zein. Maria dan Rangga baru pulang dari mengunjungi saudara Maria di Tulungagung. Hubungan mereka dan keluarga dari pihak ibunya mulai membaik sekarang ini. Kemudian Zahra kembali sibuk dengan pembeli yang mulai berdatangan. Lima karyawan toko sibuk mengemas pesanan di belakang. Jadi Naima yang muncul dari dalam membantu putrinya meladeni pembeli.🖤LS🖤Untuk mengobati rindu sekaligus menepati janjinya, Zahra memutuskan berkunjung ke Malang. Berangkat diantar oleh sopir pribadi papanya. Zein melarang Zahra mengendarai mobil sendiri karena ia belum pernah melihat lan

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 276

    Komunikasi dengan Zein tetap terjalin, walau sangat dibatasi oleh kerahasiaan tugas. Ada hari-hari di mana ia selalu menerima pesan, tapi tak jarang pula dalam dua puluh empat jam penuh tak ada satu pun pesan dari suaminya. Zahra belajar menundukkan egonya. Meski gelisah menggerogoti ulu hati, ia tahu suaminya sedang bertarung dengan resiko tugas di luar sana.Terkadang saat malam, bayangan sidang BP4R di Jakarta kembali berputar di benaknya. Kalimat tegas pewawancara saat itu seperti terngiang ulang. Harus siap ditinggal kapan saja, siap menjaga rahasia, dan siap menerima kabar buruk apa pun.Zahra menggelengkan kepala pelan, menepis bisikan membahayakan itu. "Nggak deh. Mas Zein pasti baik-baik saja.""Nanti kalau sudah ikut Mas Zein ke Jakarta, Zahra berpikir mau coba jadi akuntan freelance saja, Bun," ujar Zahra sore itu seraya merapikan nota penjualan di meja kasir toko roti. "Aku bisa bekerja dari rumah.""Itu ide yang sangat bagus, Sayang. Gelar sarjana akuntansi milikmu tetap

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 275

    Zein - 19 Pertemuan Tak SengajaMalam ini terasa berbeda bagi Zahra setelah tiga malam ditemani. Kamarnya sunyi. Tiga hari kemarin yang mendadak jadi candu baginya.Zahra menghela napas panjang sambil memeluk guling. Disaat kebanyakan pengantin baru sibuk berbulan madu, ia harus terpisah jarak dari suaminya. Sampai kapan? Zahra pun tidak tahu. Zein bilang tidak lama, tapi yang sebenarnya, entahlah ....Sabar. Menerima Zein sudah menjadi keputusannya sendiri. Mentalnya harus siap dengan segala kondisi dan konsekuensi menjadi istri seorang intelejen.Ponsel Zahra berpendar. Nama My Hubby tertera di layar. Senyum seketika merekah di bibirnya."Assalamu'alaikum.""Wa'alaikumsalam. Sudah sampai rumah?""Sudah, Mas. Setengah jam yang lalu. Ini habis salat langsung rebahan. Mas, sudah sampai.""Baru masuk kamar. Tadi macet perjalanan dari Soeta. Mas, mau beres-beres dulu, ya. Besok pagi Mas mulai dinas. Selamat tidur. I love you, Honey. Assalamu'alaikum.""Wa'alaikumsalam."Panggilan langsu

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 274

    Saat mobil memasuki pekarangan rumah Emir, suasana tampak lengang. Hanya Mak Tam yang di rumah."Bapak sedang di kantor sama Mbak Aurel, Mbak. Kalau Ibu ke toko roti karena lagi banjir pesanan katering, terus Mas El paling sebentar lagi pulang sekolah." Mak Tam memberitahu Zahra."Iya, Mak." Kemudian Zahra menoleh pada Zein. "Mas ke kamar saja dulu, istirahat. Aku mau ke belakang sebentar mengurus baju kotor.""Oke," jawab Zein singkat lantas menaiki tangga untuk ke lantai dua."Mbak Zahra, biar Mak saja yang ngurusin nanti. Tinggal saja disitu," seloroh Mak Tam saat melihat Zahra mengeluarkan baju-baju kotor dari koper."Nggak, Mak. Ini tanggung jawab Zahra. Biar Zahra kerjain sendiri," tolak Zahra sopan. Satu jam berlalu, langkah kaki tergesa terdengar dari arah pintu depan. Aurel pulang lebih dulu dan langsung menuju area cucian di dapur belakang. Melihat saudaranya sedang sibuk menjemur pakaian, raut jahil seketika terbit di wajah Aurel."Aduuhh, yang habis honeymoon mukanya cer

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 273

    Saat malam merayap, suhu dingin pegunungan Batu kian menggigit. Zein dan Zahra duduk berdua di balkon vila, berselimut kain tebal sambil menyesap teh hangat di bawah pendar remang lampu gantung. Zein mendekap istrinya. "Ada yang ingin Mas tanyakan dan ini perlu kita bicarakan.""Tentang apa, Mas?" sahut Zahra lembut."Apa kamu sudah siap kalau kita dikaruniai anak dalam waktu dekat?" tanya Zein penuh kehati-hatian, menyadarkan bahwa topik ini belum pernah mereka bahas sebelumnya.Zahra mengangguk tanpa keraguan, menyunggingkan senyum tulus. "Nggak apa-apa, Mas. Bunda juga sudah bilang, kalau bisa langsung dapat momongan saja.""Oh, ya?""Iya. Bunda menyarankan begitu."Naima memang berkata demikian pada putrinya. Mengingat usia Zein yang sudah berada di pertengahan tiga puluhan.Zein mengukir senyum lega. Alhamdulillah kalau Zahra berpikiran sama. Ia memang berharap segera punya anak. "Semoga tak lama lagi juga ada kebijakan baru dari kesatuan, supaya Mas bisa pindah ke staf kantor sa

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 272

    Zein- 18 Perpisahan Aroma nasi goreng dan seduhan kopi hitam menguar di dapur rumah Bu Hindun pagi itu. Zahra melangkah canggung dan diliputi rasa malu yang membuat pipinya terus merona. Sebagai pengantin baru di hari pertama berada di rumah mertua, rasa serba salah menyergapnya. Terlebih habis subuh tadi ibu mertua memergokinya sedang menjemur handuk dengan rambut yang masih basah.Namun saat Zahra berniat mengiris bawang membantu ART di sudut meja, Bu Hindun justru mengambil alih pisau dari tangannya sambil tersenyum lembut. "Sudah, Nduk, nggak usah repot-repot," ujar Bu Hindun hangat. "Kamu bersiap-siap saja. Tadi Zein sudah bilang sama Ibu kalau mau mengajakmu stay cation semalam.""Nggak apa-apa, Bu. Saya juga biasa membantu Bunda di rumah," jawab Zahra pelan."Nanti-nanti saja kalau mau bantuin di dapur. Sekarang mumpung suamimu belum kembali ke Jakarta, nikmati waktu kalian."Zahra jadi tersipu. Dalam hati sangat bersyukur memiliki mertua yang baik. Ia ingat bagaimana dulu Ne

  • Mencari Jejak Maria   MJM 2

    MARIA- 2 Hanya Tanggung Jawab "Maria," panggil Rangga kian merunduk begitu dekat dengan wajahnya."Iya," jawab Maria yang tidak mungkin pura-pura tak mendengar. Selama ini Maria sangat peka dengan suaminya. Tidak ada panggilan yang lambat dijawabnya.Ia membalikkan tubuh setelah menarik napas pan

  • Mencari Jejak Maria   MJM 1

    MARIA- 1 Delapan Minggu "8 Minggu." Tangan Maria gemetar memegang hasil pemeriksaan atas nama Ny. Tamara yang ditemukan di dashboard mobil.Dada wanita yang mengenakan pasmina biru itu berdegup kencang. Matanya juga memanas. "Oh, jadi dia hamil," ujarnya lirih lantas melipat kembali kertas itu da

  • Mencari Jejak Maria   MJM 7

    MARIA- 7 Di Persimpangan "Di mana Mama, aku ingin bicara?" suara Rangga datar tapi menyimpan amarah. Dia baru saja masuk rumah mertuanya, di mana istrinya tinggal. Tamara yang menyambut suaminya dengan daster sutra tipis, tersenyum manja. Ia melingkarkan lengan di leher Rangga, lalu mendaratkan

  • Mencari Jejak Maria   MJM 6

    MARIA- 6 Ingin Berpisah "Kenapa kau tutupi kelakuan gila suamimu, Maria?" tanya Radit dengan suara penuh getar emosi pada Maria yang membantu Rangga bangkit dan duduk di kursi."Jangan pernah diam kalau itu menyakitimu. Diammu itu bukan kesabaran. Itu adalah cara kau membiarkan dirimu hancur send

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status