Share

Mencintai Guru Galak
Mencintai Guru Galak
Penulis: Khadijah Aisyah

Guru Galak

Semua murid yang ada di halaman sekolah dan di kantin berbondong-bondong masuk ke dalam kelas. Sebab bel sudah berbunyi yang menandakan jam pelajaran akan segera dimulai.

Namun, tidak dengan Via, gadis berusia 19 tahun itu masih santai berjalan masuk ke dalam sekolah. Langkahnya terhenti saat seorang guru muda berdiri di hadapan dia dengan sorot mata tajam.

"Kamu terlambat lagi!" seru Rizal.

"Terlambat dari mana, Pak? Saya sudah sampai di sini saat bel berbunyi," protes Via pelan. Entah kenapa, sang guru sangat galak padanya sejak awal dia masuk sekolah ini.

Rizal diam, kemudian membawa Via menuju lapangan sekolah dan meminta gadis itu untuk berjemur sampai jam istirahat tiba.

Hal itu membuat Via tidak terima, karena dia sudah sampai di sekolah sebelum bel berbunyi. Namun, Rizal tetap menghukumnya.

"Kenapa Bapak mala menghukum saya? Padahal, saat bel berbunyi saya sudah tiba di sekolah!" protes Via, karena Rizal memberikannya hukuman padanya.

Gadis itu sama sekali tidak takut akan tatapan Rizal yang sangat tajam dan mengerikan. Sebab, mereka berdua tidak pernah akur. Bahkan, selalu bertengkar saat di sekolah.

"Di sini saya guru kamu! Lagipula, tadi saya lihat saat bel berbunyi, kamu masih di luar gerbang!" sahut Rizal ketus.

Via terus mengumpat pria itu dalam hatinya dengan bibir yang komat-kamit, membuat Rizal menghampiri sang murid dan memegang tangan gadis itu dengan kuat.

"Sakit Rizal!" jerit Via sambil terus memberontak agar tangannya terlepas.

"Kamu pasti mengumpat saya, 'kan?" tanya Rizal kesal sambil menghempaskan tangan Via dengan kuat.

Membuat Via mengumpat pria itu secara gamblang. "Dasar guru galak stres, PSIKOPAT!"

Bahkan, Via juga menginjak kaki sang guru sehingga Rizal meringis kesakitan akibat ulahnya muridnya itu.

"Bapak jangan KDRT ya! Nanti akan saya laporkan ke polisi!" ancam Via sambil mengelus tangan yang digenggam oleh Rizal tadi.

"Emangnya kita sudah menikah, KDRT? Sekarang kamu berjemur sampai jam istirahat tiba!" seru Rizal kesal. Kemudahan, dia langsung pergi dari sana.

Via terus mengumpat pria itu dalam hatinya, dia merasa sangat sial mendapatkan guru seperti Rizal yang selalu marah-marah padanya.

"Dasar guru galak! liat aja nanti apa yang aku buat!" gram Via sambil terus menatap bendera dibawah teriknya matahari langsung.

Setelah Rizal tidak melihat dirinya lagi, Via bergegas pergi dari sana. Padahal, hukumannya belum berakhir. Gadis cantik itu duduk di bangku yang berada di bawah pohon mangga besar.

"Lihat saja Rizal galak! Apa yang sudah aku berbuat," kekeh Via sambil menidurkan tubuh di bangku panjang itu.

Via tertidur pulas di bangku panjang itu, sampai tidak menyadari ada Rizal tengah duduk di sampingnya yang tengah memperhatikan dia.

"VIA ANASTASYA!" teriak Rizal keras.

Spontan Via langsung terbangun dan berdiri sambil menaikan tangan ke atas kepalanya. Rizal sebagai pria normal sangat terganggu dengan posisi sang murid yang berdiri, dan dia dengan jelas menatap ke arah rok mini gadis itu.

Rizal berkali-kali menelan saliva, dan membayangkan gua lele dibalik rok mini berwarna abu-abu tersebut. Kemudian, pria itu menarik tangan Via, membuat sang murid kehilangan keseimbangan terjatuh tepat di pahanya.

Via membulatkan mata dengan sempurna dan menatap wajah Rizal, membuat pria itu tidak bisa menahan keperkasaannya. Kemudian mendorong sang murid, sehingga gadis cantik tersebut jatuh ke tanah.

"Dasar mesum!" jerit Via sambil bergegas bangun.

"Jaga mulut kamu ya! Saya bukan cowok mesum!" bantah Rizal.

"Wah, Anda tidak mau mengaku. Padahal, jelas-jelas tadi saya merasa ada yang mengganjal di celana Bapak," sahut Via secara gamblang.

Rizal langsung memegang tangan Via, membuat gadis itu terkejut. Untuk apa sang guru memegang tangannya dengan kuat. Astaga! guru muda ini memang benar-benar sangat mesum, pikir Via.

"Lepasin Pak!" teriak Via.

Namun, Rizal tidak melepaskan tangannya dan membawa dia masuk ke dalam ruangan guru.

"Kamu lihat ini apa!" bentak Rizal.

"Laptop," sahut Via cepat.

Rizal juga tahu kalau itu sebuah laptop. Namun, yang diperlihatkan bukan benda itu. Melainkan rekaman CCTV yang memperlihatkan Via tengah mengempeskan kedua ban motor miliknya.

"Bapak mau merayu saya di sini? Maaf ya Pak, walaupun Anda ganteng, tetap saya tidak mau, kalau masih galak!" elak Via, agar Rizal tidak mempermasalahkan rekaman CCTV tersebut.

"Saya tidak punya waktu untuk meladeni kamu. Walaupun kamu suka sama saya. Lagipula saya sudah mau menikah. Jadi, buang jauh-jauh anganmu itu!" balas Rizal yang tak mau kalah dari Via.

Via menggelengkan kepalanya, karena dia tidak menyukai guru galak itu. Kemudian, ia hendak kabur. Namun, Rizal berhasil menarik tangannya. Membuat posisi mereka sangat dekat.

"Apa Pak lihat-lihat? Suka, 'kan Anda sama saya!" goda Via, membuat Rizal langsung melepaskan tangannya.

"Kamu jangan terus memancing saya ya! Sekarang kamu lihat rekaman CCTV itu!" seru Rizal.

Diluar dugaan pria itu Via membalas, "Untuk apa saya melihat rekaman itu lagi, karena memang saya yang melakukannya!"

Rizal menggelengkan kepala, melihat Via. Bukannya minta maaf malah terang-terangan bangga sudah melakukan kejahatan tersebut.

"Saya tidak mau tau, sekarang kamu harus tanggung jawab!" ancam Rizal.

Namun, bukannya takut Via malah menantang sang guru, "Emangnya saya memperkosa Bapak, sampai harus bertanggung jawab segala?"

"VIA ANASTASYA!" bentak Rizal.

"Iya Pak," sahut Via cepat, sambil menatap wajah sang guru dengan wajah meledek.

Rizal sangat kesal pada Via, karena gadis itu terus-menerus meledeknya dan langsung menghampiri sang murid. Kemudian, memegang tangannya.

"Lepaskan! Sakit tau!" jerit Via.

"Tidak akan, saya mau memperlihatkan kemesuman yang kamu ucapkan tadi," sahut Rizal.

Spontan membuat Via gugup mundur dengan perlahan, dan Rizal terus mendekatinya sampai gadis itu menabrak meja dan mengetikan langkah.

Rizal tersenyum, dan menahan kedua tangan Via. Membuat gadis itu tidak bisa kabur lagi darinya.

"Kenapa? Kamu takut sama saya?" tanya Rizal pelan.

Via terdiam, karena dia mengagumi ketampanan Rizal saat pria itu berbicara dengan nada lembut padanya barusan.

Ya Tuhan, ternyata Rizal sangat tampan kalau dia tidak galak. Namun, sayang, pria ini selalu galak tidak pernah lembut pikir Via.

"Ternyata cuma omongan kamu aja yang besar. Tapi, nyalinya tidak ada!" Rizal membantu Via merapikan penampilan gadis itu.

Karena dia tidak ingin orang lain berpikir yang bukan-bukan tentang mereka berdua. Via terus memperhatikan Rizal, rasanya dia sangat terpana melihat ketampanan sang guru galak tersebut.

Rizal menatap Via yang sejak tadi hanya bengong terus melihat ke arahnya. "VIA ANASTASYA!" Gadis itu langsung tersadar dari lamunannya dan reflek memeluk sang guru dengan erat.

"Rizal, Via, apa-apaan kalian berdua?!"

Bersambung.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status