Share

Motor butut

Via spontan langsung melepaskan pelukannya, karena kehadiran kepala sekolah. Terlihat pria itu sudah salah paham dengannya dan Rizal.

Kepala sekolah itu berjalan menuju mereka berdua, kemudian menatap Via dan Rizal secara bergantian dengan tajam.

"Apa yang kalian berdua lakukan di sini?!" tanya Pak Edwin ketus penuh selidik.

"Saya ingin menghukum Via. Pak," jawab Rizal dingin.

Edwin menggelengkan kepala, kemudian meminta agar Rizal dan Via berdamai. Sebab, mereka berdua seperti kucing dan tikus. Tidak pernah akur selama ini.

"Saya tidak sudi! Berdamai dengan guru galak itu. Pak Edwin," ujar Via pelan sambil menatap ke arah Rizal.

"Saya juga tidak sudi! Kamu pikir, saya mau berdamai dengan murid seperti kamu! Tidak pernah disiplin!" sahut Rizal yang tidak mau kalah dari sang murid.

"CUKUP!" bentak Pak Edwin.

Via dan Rizal langsung diam dan menatap ke arah Kepala sekolah. Kemudian, mereka diberikan pilihan mau berdamai atau dikeluarkan dari sekolah ini.

Hal itu membuat Rizal tidak punya pilihan dan berdamai secara pura-pura, agar mereka tidak dikeluarkan dari sekolah ini.

"Mulai sekarang kita berdamai ya!" Rizal berucap dengan sangat lembut sambil memeluk Via.

Kemudian dia berbisik, "Kamu jangan baper ya! Saya bersikap manis hanya di depan Pak Edwin saja!"

"Kamu pikir saya sudi berdamai dengan Anda. Tidak!" balas Via dengan berbisik agar Pak Edwin tidak mendengar.

Kepala sekolah itu tersenyum, dia senang akhirnya tikus dan kucing sudah berdamai. Setelah mendengar ancamannya.

"Saya sangat senang melihat kalian berdamai," ujar Pak Edwin lembut.

Rizal dan Via melepaskan pelukan mereka, dan tersenyum kepada kepala sekolah agar sandiwara keduanya aman.

"Kami permisi dulu ya Pak! Kelas sudah mau mulai," pamit Rizal sambil menggandeng tangan Via keluar dari ruangan guru.

Rizal membawa Via masuk ke dalam kelas, karena dia belum selesai minta pertanggung jawaban dari gadis itu yang sudah membuat ban motornya kempes.

Setelah sampai di kelas, Rizal menghempaskan tangan Via membuat gadis itu terhuyung ke samping.

"Rizal! Brengsek kamu!" teriak Via kesal.

Sebab, dia hampir saja menabrak meja akibat pria itu menghempaskan tangannya dengan kasar.

"Kamu yang brengsek! Marah kepada saya. Tapi, balas dendam pada motor saya!" balas Rizal ketus.

Via membuang pandangannya ke arah lain. Karena dia benar-benar sangat kesal pada guru galak itu. Ya, walaupun pria itu tampan, tetapi ia tidak menyukai kegalakannya.

"Kalau kamu tidak mau bertanggung jawab, saya akan memberitahumu kepala sekolah kalau kita tidak berdamai, dan dikeluarkan dari sekolah ini!" ancaman Rizal membuat Via takut.

Sebab, dia baru tiga bulan pindah ke sekolah ini. Yang benar saja ia harus berpindah ke sekolah lain, kalau Pak Edwin mengeluarkannya.

"Baiklah, saya akan tanggung jawab. Puas?!" kesel Via.

Rizal tidak menjawab ucapan Via, karena apa yang dia mau sudah didapatkan. Pria itu duduk di bangku dan bel berbunyi. Semua murid berbondong-bondong masuk ke dalam kesel.

"Anak-anak, kerjakan tugas kalian! Jika ada yang ingin tidur, silahkan keluar dari sini!" Rizal menatap ke arah Via saat mengatakan hal itu.

Terlihat jelas kalau pria itu tengah menyindir Via yang sering kali tidur di dalam kelas saat Rizal mengajar.

Namun, Via sama sekali tidak peduli. Sebab, dia tidak tersindir akan ucapan Rizal dan mengerjakan tugas yang diminta guru galak tersebut.

Setelah selesai mengerjakan tugas masing-masing, semua murid bergegas pulang. Sebab, jam belajar mereka sudah habis. Namun, tidak dengan Via, karena gadis itu harus membuat moto Rizal seperti semua.

"Anda gila ya! Mana mungkin saya mendorong motor butut ini ke bengkel!" seru Via.

"Hei! Enak saja mengatakan motor saya butut!" sahut Rizal kesal motornya dihina oleh Via.

Padahal, dia baru membeli motor itu beberapa bulan lalu. Namun, dimata Via butut.

"Sekarang kamu dorong motor saya, sampai bengkel di depan sana!" perintah Rizal.

Via sangat kesal mendorong motor butut Rizal. Sebab, ia tidak pernah memegang motor sama sekali, karena biasanya selalu naik mobil.

Via ngos-ngosan mendorong motor Rizal sampai di bengkel yang tidak jauh dari sekolah mereka. Kemudian, dia duduk sambil mengatur nafas karena sangat lelah.

"Sialan tuh guru galak, cuma ngeliat muridnya doang! Emang gak ada pikirannya!" kelas Via.

Rizal hanya diam melihat Via kelelahan, kemudian dia mengambil motornya yang sudah selesai. Setelah itu, menatap Via.

"Hei! Mau pulang atau tetap di sini?" tanya Rizal ketus.

"Maaf Bapak Rizal yang terhormat, saya tidak mau naik motor butut itu! Nanti supir menjemput saya," sahut Via sombong.

Rizal tersenyum simpul, karena supir yang menjemput Via sudah pulang. Sebab, dia mengatakan gadis itu akan pulang bersamanya sebelum sang murid keluar dari kelas tadi.

"Dasar brengsek!" kesal Via berlari menghampiri Rizal.

Kemudian, menginjak kaki pria itu sehingga Rizal meringis dan meninggalkan gadis itu sendirian di bengkel.

"RIZAL BRENGSEK!" teriak Via kesal sambil terus menatap kepergian Rizal yang sudah menjauh.

Gadis cantik itu berjalan sambil terus menelpon sang papa. Namun, sayang sekali tidak bisa. Bahkan, supirnya juga tidak bisa dihubungi.

"Ini semua karena Rizal brengsek itu!" kesal Via.

Gadis cantik itu berhenti tepat di bangku tunggu bis, sambil terus menghubungi sang papa walaupun tidak bisa. Dia berharap ada temannya yang lewat dan membonceng dirinya.

Namun, sayang sekali, setelah 30 menit duduk tidak ada orang yang dikenal lewat. Bahkan, sekarang jalanan ini sangat sunyi. Membuat Via sangat takut dan cemas.

"Kalau sampai terjadi sesuatu padaku, Rizal harus bertanggung jawab," gumam Via sambil berjalan.

Tiba-tiba saja ada seseorang pria bertubuh kekar menghentikan motor tepat di hadapannya. Membuat Via sangat takut, melihat tato di sekujur tubuh pria itu.

"Siapa kamu? Mau apa berhenti di sini?!" tanya Via dengan nada bergetar.

"Jangan galak-galak adik manis, di sini abang antar pulang," sahut pria itu.

Via langsung berlari dan pria itu mengejarnya, membuat Via benar-benar sangat takut dan terus mengumpat Rizal. Gadis itu tersandung dan jatuh ke trotoar, kepalanya terluka mengeluarkan darah.

"Apa ini?!" teriak Via, dan gadis itu pingsan karena fobia darah.

Pria bertubuh kekar itu tertawa puas, karena Via pingsan dan memudahkan dia membawanya. Namun, saat hendak mengangkat gadis cantik itu.

Tiba-tiba saja pria itu dipukul oleh seseorang dari belakang, membuat dia meletakan Via kembali dan menoleh.

"Jangan apa-apakan anak murid saya?" teriak Rizal.

"Jangan ikut campur kau!" teriak pria itu.

Rizal langsung memberikan pukulan bertubi-tubi pada pria itu sampai pingsan. Kemudian, dia menghampiri Via dan membawa sang murid pergi dari sana.

Bersambung.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status