LOGINRoni, pemuda desa yang merantau ke Jakarta demi mengubah nasib, tak pernah menyangka hidupnya akan berubah begitu cepat. Ketampanan dan sikap polosnya justru membuat banyak wanita terpikat—mulai dari ibu kos cantik yang kesepian, wanita karier yang menggoda, hingga janda-janda muda yang haus perhatian. Awalnya Roni hanya ingin bekerja dan hidup sederhana. Namun pesona para wanita itu menyeretnya ke dalam hubungan-hubungan terlarang yang penuh godaan dan rahasia.
View More"Hei, apa yang kamu lakukan di sini? Jangan-jangan kamu mau mencuri?" seru seorang wanita mengagetkan roni.
Roni langsung menjelaskan. "Bukan, Mbak. Saya hanya berusaha menghindari preman yang mengejar saya. Kalau tidak percaya, saya akan pergi sekarang." Wanita itu mengamati Roni yang tampak ketakutan, lalu bertanya. "Kamu bukan orang sini, ya? Dari kampung, kan?" "Iya, benar, Mbak. Kok Mbak tahu?" tanya Roni. "Hanya menebak," jawab wanita itu sambil tersenyum tipis. Roni memperkenalkan diri. "Nama saya Roni, Mbak. Saya sedang mencari kos-kosan, tapi belum dapat yang sesuai. Harganya mahal sekali, sedangkan uang saya tidak banyak." Wanita itu mendengarkan dengan perhatian. "Oh, kamu mencari kos-kosan, ya? Kebetulan di sini juga kos-kosan, tapi saat ini penuh. Mungkin minggu depan ada yang kosong." "Walah, kalau begitu saya harus cari tempat lain. Hari sudah hampir malam," kata Roni, hendak pergi. "Tunggu," kata wanita itu menghentikan langkahnya. "Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal sementara di rumah saya. Ada kamar kosong untuk sementara waktu. Kota ini tidak aman, apalagi untuk orang baru seperti kamu." "Benarkah, Mbak? Tidak apa-apa?" tanya Roni ragu. "Tidak apa-apa. Ayo, ikut saya," ajak wanita itu. Roni mengikutinya ke dalam rumah. Wanita itu memperkenalkan dirinya. "Ini rumah pribadi saya, dan di belakang adalah kos-kosan milik saya. Kamu bisa tinggal di sini dulu. Panggil saja saya Mbak Maya." "Terima kasih banyak, Mbak Maya. Tapi apa suami Mbak tidak keberatan kalau saya tinggal di sini?" tanya Roni. Maya tersenyum tipis. "Saya sudah lama menjanda, Roni. Jadi tenang saja, saya tinggal sendiri." Roni mengangguk penuh terima kasih. "Baik, Mbak Maya. Sekali lagi, terima kasih." "Kamar mandinya ada di sana, kalau kamu ingin membersihkan tubuhmu. Tidak apa-apa, pakai saja untuk sementara. Itu kamar mandi saya," kata Maya sambil menunjukkan arah kamar mandi kepada Roni. "Terima kasih banyak, Mbak Maya. Saya benar-benar merepotkan Anda," ucap Roni dengan sopan. "Ah, tidak apa-apa. Anggap saja seperti rumah sendiri. Omong-omong, tujuan kamu ke kota ini apa ya, kalau saya boleh tahu?" tanya Maya penasaran. "Saya datang ke kota untuk melanjutkan kuliah, Mbak. Kebetulan saya mendapatkan beasiswa di kampus besar di sini. Selain itu, saya juga ingin mencari pekerjaan," jelas Roni dengan senyum yang membuat Maya terpesona. "Begitu, ya? Tapi hati-hati, ya. Jakarta itu keras. Banyak hal yang mungkin tidak kamu ketahui di sini, apalagi kalau kamu tidak punya kenalan," nasihat Maya dengan nada khawatir. "Iya, Mbak. Untungnya saya bertemu dengan orang baik seperti Mbak, jadi saya merasa lebih tenang," kata Roni sambil tersenyum lagi. Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. Tok! Tok! Tok! "Mbak, apa saya harus bersembunyi? Takutnya nanti mereka berpikiran aneh kalau melihat saya di sini," ucap Roni sedikit panik. "Tidak perlu, kamu tetap di sini saja. Mungkin itu salah satu penghuni kos. Saya akan bukakan pintunya," jawab Maya sambil berjalan ke pintu. Ketika pintu dibuka, seorang pemuda berdiri di sana. "Mbak, ada masalah di kamar saya. Atapnya bocor, air hujan masuk," kata pemuda itu, yang ternyata bernama Bayu. "Oh, begitu. Tunggu sebentar ya, saya akan meminta Pak Hasim untuk memperbaikinya," jawab Maya. Roni yang mendengar percakapan itu segera menawarkan diri. "Maaf, Mbak, tadi saya dengar ada atap yang rusak. Boleh saya lihat?" tanya Roni. "Kamu bisa memperbaiki atap?" Maya terkejut. "Kebetulan, di kampung saya sering memperbaiki atap sendiri kalau rusak. Saya bisa, kok, Mbak," jawab Roni dengan yakin. "Tapi ini sedang hujan, nanti kamu sakit. Lagipula, kamu baru sampai di kota. Istirahat saja, biar nanti tukang kebun saya yang memperbaikinya," saran Maya. "Tidak apa-apa, Mbak. Saya bisa mengatasinya. Ayo, Bayu, tunjukkan di mana atap yang rusak," ucap Roni penuh semangat. Bayu membawa Roni ke kamar yang bocor. Setelah mengambil tangga, Roni memeriksa kerusakannya. Dia menemukan beberapa genteng pecah dan segera menggantinya. Namun, saat berada di atas, dia mendengar suara aneh dari kamar sebelah. "Astaga, suara mereka bisa sekencang itu, ya? Mengalahkan suara hujan di atap," gumam Roni sambil menggelengkan kepala dan tersenyum kecil sebelum turun. "Sudah selesai, atapnya tidak akan bocor lagi," kata Roni kepada Bayu. "Terima kasih, Bang. Oh ya, saya baru pertama kali melihat Anda. Apa Anda orang baru di sini?" tanya Bayu penasaran. "Iya, kenalkan, saya Roni. Saya dari kampung. Kebetulan butuh tempat tinggal di kota, tapi karena di sini belum ada kamar kosong, Mbak Maya mengizinkan saya tinggal sementara," jelas Roni. "Oh, begitu. Katanya yang di kamar sebelah saya mau pulang kampung. Syukurlah. Jujur saja, saya sering terganggu setiap malam dengan suara-suara dari kamarnya," ucap Bayu. Roni tersenyum mendengar itu, teringat suara serupa saat memperbaiki atap tadi. "Memangnya tidak ada aturan di sini soal bawa pasangan ke kos?" tanya Roni heran. "Haha, di sini bebas, Bang. Asal tidak ribut, tidak ada yang melarang," jawab Bayu sambil tertawa. "Pantas saja. Kamu sendiri kenapa nggak ajak pacar biar nggak cuma dengar suara saja?" goda Roni. "Haha, saya ini anak polos, Bang. Belum mikir buat pacaran," jawab Bayu bercanda. Setelah mengobrol sebentar, Roni pamit untuk kembali ke rumah Maya. "Saya mau mandi dulu, Bayu. Badan saya basah kuyup. Besok kita ngobrol lagi, ya," kata Roni. "Baik, Bang. Jangan lupa main ke sini lagi, ya," jawab Bayu ramah. Ketika Roni kembali, Maya langsung memanggilnya. "Roni, ayo makan bersama. Saya sudah masak makanan," ucap Maya. "Astaga, saya merepotkan sekali, Mbak. Tidak perlu, saya bisa beli makanan di luar," jawab Roni merasa tidak enak. "Sudah, ayo sini. Jangan banyak bicara, makan saja," kata Maya sambil tersenyum. Roni melihat ke arah meja makan, namun matanya tanpa sengaja tertuju pada tubuh Maya yang mengenakan pakaian santai. Lekuk tubuh Maya membuatnya sulit mengalihkan pandangan. Maya yang sadar akan tatapan itu hanya tersenyum kecil. Khem! Dia berdehem, menyadarkan Roni yang sedang melamun. Setelah makan malam selesai, Maya meminta bantuan Roni membawa piring ke dapur. "Tolong bawakan piringnya ke dapur. Saya mau mencuci," pinta Maya. Roni menurut. Saat berjalan di belakang Maya, matanya lagi-lagi tertuju pada tubuh Maya yang mengenakan celana pendek. Hasratnya memuncak. Tanpa di duga, Roni memeluk Maya dari belakang. Tangan Roni menyentuh tubuh Maya dengan gemetar. Maya terdiam sejenak, namun bukannya marah, dia malah tersenyum tipis. "Roni... apa yang kamu lakukan?" bisiknya pelan. Roni yang sudah kehilangan kendali hanya bisa berbisik, "Maaf, Mbak... saya tidak bisa menahan diri, bisa gak mbak." Suasana berubah menjadi penuh ketegangan di antara mereka. "Mb... Mbak, izinkan saya melakukannya malam ini saja. Saya sungguh tidak tahan dengan keindahan tubuh Anda," ucap Roni dengan sangat berani, padahal baru saja kenal, tak lagi peduli pada rasa takut atau malu. Hasratnya meluap-luap, dan dia sangat menginginkan Maya. "Roni, kamu baru kenal saya, saya bisa saja teriak loh kalo kamu kurang ajar begini," ucap Maya sambil menatap ke arah Roni, iya walaupun di dalam hati mbak maya juga pengen di sentuh pria setampan Roni, tapi mengingat mereka baru saja kenal maka tidak mungkin dia langsung menerima sentuhan Roni. "hehe, maaf kalo gitu mbak, saya terlalu kurang ajar, maaf ya, soalnya mbak memiliki tubuh yang molek jadi saya tidak bisa menahan diri..," bisik Roni jujur, suaranya berat, matanya tidak lepas dari kemolekan tubuh mbak maya yang mengenakan daster tipis. "tak ku sangka, baru saja kenal sudah di ajak tidur segala, tapi pria ini boleh juga, parasnya tampan, tapi walau begitu dia terlalu cepat gak sih, aku jadi curiga jangan-jangan dia ini penjahat wanita lagi," gumam mbak maya dengan menyipitkan matanya, memperhatikan seluk beluk Roni dari kaki hingga ujung rambutnya. "Hemmm...baik saya maafin, tapi ingat jangan di ulangi lagi , apalagi sampai memeluk saya seperti tadi, mending sekarang pergi beristirahat, kamu pasti capek kan, oh ya terimakasih ya idah bantu benerin gentengnya..."kata mbak maya menghela nafas lalu berbalik lanjut mencuci piring. Roni kembali menatap bokong mbak maya, dalam hati ingin sekali dia menepuknya hanya saja dia tidak seberani tadi setelah mbak maya memarahinya. "huh...bisa-bisanya aku memeluknya seperti tadi, untung dia gak ngamuk kalo ngamuk bisa di penjara aku karena kasus pencabulan..."kata roni dalam hati sedikit menyesal, lalu berbalik menuju kamar yang sudah di siapkan untuknya beristirahat malam ini. Roni seperti tadi itu sebab dia memilki hasrat yang kuat, dimana dia tidak bisa menahan diri jika melihat perempuan seksi di depannya membuat ya sering lepas kendali contohnya seperti tadi, untungnya mbak maya gak terlalu marah dan melaporkannya. lagian gimana roni gak lepas kendali seperti tadi, mbak maya saja mengenakan daster yang super tipis, belahan bokongnya terlihat begitu jelas sekali, di tambah lagi roni baru saja mendengar suara-suara aneh dari penghuni kos saat dia memperbaiki genteng. melihat roni sudah pergi ke kamar mbak maya kembali tersenyum, sentuhan roni saat memeluk dan meremas dadanya tadi masih membekas dalam dirinya. "Hampir aku di buat lepas kendali..." Bersambung....Beberapa hari pun berlalu, hubungan Ali dengan Liona bukannya semakin manis, justru semakin canggung. Apalagi setelah kejadian malam itu, di mana Ali berusaha untuk menahan diri agar tak lagi terulang kejadian yang sama.Sementara Liona, makin hari makin ingin terus tinggal di kampung ini agar selalu dekat dengan Ali. Sayangnya, hari ini dia harus kembali ke Rusia untuk melanjutkan kuliahnya yang tertunda karena liburan. Ya, hari ini dia dan papanya harus kembali ke Rusia.Mendengar kabar itu, Ali tentu merasa sedih, tetapi dia menutupinya dengan caranya sendiri.“Tidak, tidak... aku tak boleh sedih. Bukankah dari awal Liona ke sini hanya untuk berkunjung? Sudah sewajarnya dia kembali ke negaranya pada akhirnya,” gumam Ali setelah Liona memberitahunya bahwa hari ini dia akan kembali ke Rusia.Sungguh berat rasanya bagi Liona meninggalkan kampung ini. Andaikan ada kepastian hubungan antara dia dan Ali, pastinya dia akan lebih memilih tetap tinggal — tak peduli harus melanjutkan kuliahn
Di keesokan paginya, Ali terbangun sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pening, apalagi saat dia membuka mata, rasa nyilu terasa di matanya. Tepat saat dia mengeliat, dia langsung merasakan sebuah tangan melingkar memeluknya, membuatnya langsung menoleh ke samping, di mana dia langsung melihat Liona ternyata tidur di sampingnya sambil memeluknya.Ali bingung, dia tidak tahu apa yang terjadi semalam. Dia benar-benar tak ingat semuanya. Perlahan tapi pasti, dia mencoba melepaskan tangan Liona dari badannya agar Liona tak terbangun. Setelah itu, Ali keluar dari selimut sambil turun dari atas tempat tidur.Tepat setelah itu, Ali seketika dikagetkan dengan kondisi dirinya yang tak memakai pakaian sehelaipun.“Apa-apa yang terjadi semalam? Apa aku? Tidak… ini tidak mungkin…,” gumamnya. Kejadian semalam benar-benar tidak ada sedikit pun diingat oleh Ali. Jawaban dari pertanyaan Ali pun akhirnya terjawab ketika dia tak sengaja melihat bercak merah di atas seprai, membuat matanya langs
Malam harinya, terlihat Ali, Liona, dan papanya bersiap untuk menikmati makan malam bertiga di rumah yang ditempati Liona.“Sebentar, kok bisa makanan seenak ini? Siapa yang buat? Pasti kamu kan, Ali?” tanya papanya Liona, kaget melihat makanan yang dihidangkan terlihat enak-enak sekali, bisa tercium dari wanginya.“Eee… iya, Om. Liona juga yang membantu,” jawab Ali.“Serius? Liona, kamu emang sudah bisa masak nih?” tanya papanya langsung ke Liona, sebab setahunya Liona tak bisa masak. Jangankan memasak, ke dapur saja membantu mamanya waktu di Rusia Liona gak pernah.“Ehehe… iya, Pa. Aku… aku belajar memasak, dan Ali yang mengajariku,” jelas Liona jujur. Ia terlihat sangat senang sekali karena sekarang sudah bisa memasak.“Sebentar, Papa cicipin dulu. Yang mana buatan kamu?” kata papanya, dan Liona pun menunjuk ke arah sup dan pangsit yang ada di atas meja.Papanya langsung mencicipi. “Hmm… serius ini kamu yang buat? Enak sekali loh,” kata papanya memuji hasil masakan putrinya karena
Siang harinya, Tuan Folio akhirnya tiba di kampung itu setelah melewati perjalanan panjang dari Rusia.Melihat papanya tiba, Liona menyambutnya dengan pelukan. Di sana juga ada Roni dan kedua putranya yang menyambut kedatangan Tuan Folio."Hai sayang, bagaimana kabarmu?" tanya papanya sambil memeluk Liona."Baik, seperti yang papa lihat," jawab Liona sambil memeluk erat sang papa."Wah Roni, kau di sini juga? Astaga, aku kira tadi pekerja di ladangmu. Tak kusangka ternyata kamu," kata Tuan Folio saat menoleh ke samping di mana Roni dan kedua putranya berdiri."Dasar, bisanya kau melupakan wajah tampan ini. Bagaimana perjalananmu? Lancarkan?" balas Roni sambil membalas candaan Tuan Folio."Ya, lancar-lancar saja. Kamu sendiri gimana, sehat? Astaga, sudah lama sekali kita tidak bertemu, tak kusangka wajahmu terlihat selalu muda.""Haha... terima kasih. Oya, kenalin ini kedua putraku. Yang ini namanya Ali, dia yang membantuku mengurus bisnis di sini, dan ini adiknya, Xyro.""Halo om, sen
Tiba-tiba Ali meneteskan air mata di saat Liona sedang menatap wajahnya, sepertinya Ali sedang memimpikan sesuatu yang begitu menyedihkannya hingga membuatnya sampai meneteskan air mata. Liona yang sedari tadi menatapnya pun terkejut, ia menjulurkan tangannya hendak mengusap air mata itu. Dan, “Sa
Roni mulai menyentuh dada Miya yang membuat Miya menutup matanya. Saat Roni menyadari bahwa dada Miya besar, dia semakin tidak bisa menahannya. Roni membantu Miya melepaskan bajunya dan mencium lehernya, sementara tangan Miya diarahkan ke sosis hangat Roni, sementara tangan Roni bermain di dada Miy
Pagi itu, Roni mengeluarkan ponsel yang diberikan Bobi kepadanya dari dalam tas dan menanyakan cara menggunakannya. “Miya, tolong dong kamu ajarin dia sampai bisa, ya,” pinta Bobi kepada Miya agar mengajarkan Roni cara menggunakan ponsel. “Baiklah, sini aku ajarin. Begini ya caranya,” kata Miya s
Malam semakin larut, dan suhu semakin dingin terasa karena hembusan angin malam di pantai itu. Namun, Roni dan Miya masih betah mengobrol di depan api unggun yang sudah hampir mati, menyisakan arang yang berpendar samar.Miya mulai bercerita tentang masa kecilnya yang ternyata pernah tinggal di kam
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews