Home / Romansa / Mencintai Seorang Climber / bab 177. Ada yang Menguntit

Share

bab 177. Ada yang Menguntit

last update publish date: 2025-04-24 23:39:38

Marco tiba di Kota Cirebon saat tengah malam. Dia menuju sebuah penginapan kecil milik kerabatnya, bernama Sunedi. Sebenarnya Sunedi bukan kerabat berdasarkan hubungan darah. Dulunya Sunedi adalah sopir di rumah Pak Waluya, kakeknya Marco. Sudah sejak remaja Sunedi bekerja di rumah Pak Waluya.

Pak Waluya selagi muda adalah PNS Dinas Pertanian Jawa Barat. Pak Waluya pernah bertugas di wilayah Pantura. Di pantura itulah dia bertemu Sunedi, anak yatim tamat SD yang sering datang ke dekat kantor Di
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mencintai Seorang Climber   bab 399. Membawa Pergi Bayi

    Maisaroh muncul lagi ke ruang makan, menggendong anaknya pakai kain jarik. Satu tangan menenteng travel bag.“Saya mau pamit, Tuan, Nyonya.”Pak Ardi yang masih menggendong baby Calvin, menatap wanita itu. “Ini anakmu?”“Iya Tuan, umurnya sudah mau sembilan bulan, di mah sudah dikasi makan bubur.”Pak Ardi memberikan segepok uang pada Maisaroh. “Ini untukmu. Terima kasih ya, kamu sudah merawat cucu saya dengan baik.”Maisaroh tersenyum sumringah saat menerima uang itu. “Terima kasih banyak, Tuan. Saya juga senang mengasuh Calvin, dia anak yang sehat dan cakep.” Maisaroh menoleh ke arah Marco yang berdiri di pojok ruang makan. Dia ingat pria muda itu pernah membayari belanjaannya di sebuah minimarket, ketika dirinya sudah tidak punya uang dan tak ada sisa sembako di rumah.“Dia itu putra Tuan?”Pak Ardi menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Maisaroh. “Iya, dia anak saya. Kenapa memangnya?”“Calvin mirip dengan putra Tuan yang di sana.”Penjaga vila muncul, “Saroh, di depan ada taksi, kata

  • Mencintai Seorang Climber   bab 398. Menyerahkan Bayi

    Marco bicara di hadapan Pak Ardi, “Aku tegaskan Pa, bayi yang dikubur di makam keluarga, bukan anakku, bukan anak Maryam, bukan bayi keturunan Wiratama!”“Lantas bayi siapa itu?” Pak Ardi masih bingung.“Bayi orang lain! Sekarang coba Papa tanyakan pada Kang Zakki, karena dia yang bilang kalau bayinya Maryam meninggal saat lahir. Lantas kenapa bayi yang dikubur itu malah bayi orang lain?”“Kenapa Zakki?”Zakki angkat bahu, “Kenapa apanya, Pa? Itu kan, hasil tes palsu! Bisa-bisanya si Marco aja ....”Marco bicara lagi, sebelum Zakki dan Anita membuat ulah lain untuk mengalihkan pikiran Pak Ardi. “Begini Pa, Kang Zakki mesti mengubur seorang bayi, supaya kentara bahwa bayinya Maryam itu sudah meninggal, dan sudah dikubur. Padahal bayi yang dikubur itu bayi orang lain, karena bayinya Maryam sebenarnya masih hidup!”Anita langsung menyambar peluang bicara, sebelum Pak Ardi buka suara. Anita bicara dengan nada yang lembut, seolah membujuk seseorang yang lagi depresi, “Marco, kakak tahu kam

  • Mencintai Seorang Climber   bab 397. Menyangkal

    Pak Ardi dan Bu Marianne serentak bergerak menghampiri anak-anaknya, ketika melihat Zakki berteriak kesakitan karena lengannya dipelintir oleh Marco.“Lepaskan Marco! Dia kakakmu!” teriak papanya.Marco melepas pegangannya pada lengan Zakki, dengan cara mendorong. Tentu saja dorongan yang bertenaga, membuat tubuh Zakki jatuh terjengkang ke lantai. Anita menjerit, memegangi tubuh suaminya, lantas dia memarahi Marco.“Kamu itu adik macam apa, Marco? Kang Zakki itu kakak sulungmu, yang selalu melindungi kamu waktu kamu masih kecil! Kang Zakki yang selalu mengalah padamu, bahkan memberikan bengkel dan showroom Black Falcon yang sudah berkembang pesat, untuk tempatmu bekerja. Supaya kamu tidak kelihatan seperti orang yang gagal! Lantas seperti ini cara kamu membalas kebaikan kakakmu? Dengan semena-mena kamu menganiaya kakakmu!”“Kang Zakki yang lebih dulu mau memukul aku. Barusan itu aku hanya membela diri!”Anita masih emosi, “Membela diri itu cukup dengan memghindar saja! Tapi kamu senga

  • Mencintai Seorang Climber   bab 396. Bukti Kebohongan

    Zakki merasa tidak senang karena istrinya tiba-tiba muncul di ruang makan, dan langsung nimbrung dalam percakapan, itu pun dengan cara membantah ucapan Pak Ardi,“Anita, sebaiknya kamu bersikap sopan pada orang tua!” tegur Zakki.“Maafkan saya Pa, Ma.” Anita menghampiri kedua mertuanya, mencium tangan mereka.Pak Ardi menatap Anita yang tampak pucat dan lelah. Anita baru saja cuci muka, tidak sempat memoles wajah dengan bedak, karena dia khawatir suaminya salah omong soal bayi itu. Anita tidak mau Pak Ardi terus saja mempertanyakan asal-usul Calvin.Namun yang tidak diduga oleh Anita, alasan dari pertanyaan Pak Ardi soal asal-usul Calvin, soal siapa ibu kandung Calvin, ternyata berkaitan dengan pewarisan perusahaan. Pak Ardi kembali bicara, bahwa dia membangun seluruh bisnisnya dari nol, dengan susah payah. Maka dia tidak mau ada seseorang yang “bawa sial” ikut masuk dalam manajemen perusahaan. Menurut Pak Ardi, anak hasil “khilaf sesaat” adalah seseorang yang bakal bawa sial jika kel

  • Mencintai Seorang Climber   bab 395. Khilaf Sesaat

    Keesokan hari, usai salat subuh, Marco bersiap pergi.“Bang, di luar masih gelap. Mau ke mana?” tanya Maryam.Marco menatap istrinya yang masih pakai mukena, duduk di sajadah, menekuni Alquran. Itulah aktivitas Maryam usai salat subuh. Sering kali Marco melihat mata Maryam yang basah setelah zikir panjang dan membaca Alquran. Mata seorang istri yang merasa dirinya tidak berguna, karena tidak bisa melahirkan bayi yang hidup. Seperti itulah runtuhnya mental Maryam, terpuruk, dan sedang berusaha dibangkitkan lagi semangatnya.Sementara di sana, ada seorang bayi, yang berusaha disembunyikan oleh kakaknya, oleh mamanya. Bayi yang masih dipertanyakan siapa ibu kandungnya. “Aku mau ke vila, kamu mau ikut? Kamu belum pernah diajak ke vila milik keluargaku.” Ingin rasanya Marco mengatakan hal itu, tapi dia berpikir ulang.“Ada keluargaku di vila, mungkin mereka akan membahas tentang bayi itu. Lantas apa yang akan kulakukan ketika aku datang ke hadapan mereka? Aku akan membeberkan semua yang a

  • Mencintai Seorang Climber   bab 394. Kebohongan Harus Diakhiri

    Pak Ardi tidak mengerti, kenapa cucunya tidak boleh dibawa ke rumah.Bu Marianne menjelaskan, “Sekarang sudah malam, Pa. Masak mau membawa bayi ini malam-malam? Biarlah Calvin tinggal di vila ini bersama Maisaroh. Biar bagaimana pun, kita ini kan, orang lain buat Maisaroh. Ibu yang lagi menyusui itu mesti dibuat tenang hatinya, supaya lancar ASI. Vila ini cocok untuk tempat tinggal sementara buat Maisaroh. Di sini sepi, Maisaroh bisa lebih bebas tinggal di sini, lebih tenang. Penjaga vila kan, tinggalnya di paviliun bagian belakang, terpisah dari bangunan yang ditempati oleh Maisaroh. Coba kalau Maisaroh tinggal di rumah kita, dia pasti merasa canggung karena banyak orang.”“Di rumah kita juga ada paviliun yang terpisah dari rumah utama, Maisaroh bisa tinggal di paviliun rumah kita, seolah tinggal di rumah pribadi, enggak campur baur dengan yang lain. Kenapa dia mesti tinggal di vila?”“Udara di sini juga lebih segar dan sehat buat bayi.”“Memangnya udara di rumah kita penuh polusi? T

  • Mencintai Seorang Climber   bab 294. Tentang Kehamilan

    Bu Marianne membawa Maryam untuk tinggal di rumahnya. Dia menempatkan Maryam di sebuah kamar.“Bu, kayaknya kamar ini terlalu besar buat saya.”Luas kamar itu sepertinya sama dengan ukuran rumah emaknya Maryam. Dalam kamar ada tempat tidur ukuran besar, lemari kayu besar, rak buku, beberapa boks pl

  • Mencintai Seorang Climber   bab 293. Kawin Lagi

    Kusmin sedang duduk di teras belakang rumah Erna, yang berhadapan dengan kamar mandi untuk ART, tempat cuci piring, mesin cuci dan area tanpa atap untuk menjemur pakaian. Hari telah gelap karena malam sudah larut. Kusmin sebenarnya letih, ingin berbaring di kamar. Namun dia malas meladeni pertanyaa

  • Mencintai Seorang Climber   bab 292. Mencari Video Panas

    Malam itu Bu Marianne datang ke rumah Erna, diantar oleh sopirnya. Bu Marianne tersenyum melihat Maryam.“Maryam, kamu sedang hamil? Sudah berapa bulan?”“Jalan lima bulan, Bu.”“Bagaimana keadaanmu? Kamu capek ya, setelah perjalanan jauh?”“Iya ... eh, tidak apa-apa, saya baik-baik saja, Bu.”Bu M

  • Mencintai Seorang Climber   bab 291. Pulang Kampung

    Kusmin berniat mengejar pria itu, untuk menanyakan apakah pria itu ketinggalan ponsel. Namun sesaat kemudian, dia teringat bahwa dia sudah kehilangan pekerjaan sebagai juru parkir di pujasera itu. Digenggamnya ponsel itu, memperkirakan harganya jika dijual.“Aku nggak mencuri barang ini, tapi nemu.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status