Share

bab 252. Kata Maaf

last update publish date: 2025-08-20 23:51:18

Heru masih menatap Maryam yang sedang berbicara dengan seorang wanita separuh baya. Sementara pria muda yang datang bersama wanita separuh baya itu, berdiri di dekat Maryam sembari merangkul bahu Maryam. Sepertinya Maryam sudah cukup kepayahan berdiri, karena kakinya masih sakit, maka dia kembali duduk di kursi roda. Wanita separuh baya itu menciumi Maryam, bahkan pria muda itu juga mencium kepala Maryam yang tertutup jilbab.

Bu Farida sudah selesai diinterogasi oleh penyidik. Sejak awal pengac
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mencintai Seorang Climber   bab 356. Ibu Susu

    “Kemarin dulu kan, waktu saya datang ke rumah kamu, saya sudah kasi uang buatmu. Jumlahnya cukup besar, lho, saya kira cukup untuk biaya hidupmu selama sebulan.”Demikian suara Ibu Marianne yang sempat terdengar oleh Marco. Kemudian ada lanjutannya.“Apa? Kamu kecopetan? Memangnya kamu mau pergi ke mana, sampai kecopetan? Kamu naik angkot? Oh, naik bus kota. Mestinya kamu naik taksi, duit dari saya kan, cukup banyak! Kamu bawa semua uang saat naik bus kota? Ya ampun!”Ada suara notifikasi ke ponsel Ibu Marianne.“Maisaroh, saya ada calling yang urgent, nanti kita bahas lagi masalahmu.”Marco lekas turun dari tangga, berjalan beberapa langkah hingga tiba di ambang pintu ruang setrika. Bu Marianne menuruni tangga dengan perlahan, lantas dia berjalan di teras. Tentu saja dia melihat Marco yang berdiri di depan ruang cuci dan setrika.“Marco, kamu sudah pulang. Kok, Mama enggak dengar suara mobilmu masuk garasi?”“Aku naik motor, Ma. Ehm, Mama ngapain naik ke tempat jemuran, malam-malam b

  • Mencintai Seorang Climber   bab 355. Kuncen

    Marco dan Maryam mendatangi rumah almarhum kakeknya. Rumah itu ditempati oleh salah seorang paman Marco beserta keluarganya. Jika ada keluarga besar Wiratama yang meninggal, biasanya akan dibawa dulu ke rumah tersebut. Kerabat yang mau melayat dan menghadiri pemakaman, akan diarahkan ke rumah kakeknya Marco. Karena rumah kakek cukup dekat dengan lokasi pemakaman keluarga.Ketika Marco tiba di rumah itu, pamannya sedang di kantor. Marco berbincang dengan istri pamannya. Marco menanyakan bagaimana kondisi bayinya menjelang dimakamkan, apakah sudah tampak kaku?Istri pamannya menjawab, “Biasanya kan, jenazah ditaruh di rumah ini sebentar, istilahnya disemayamkan, untuk memberi kesempatan pada keluarga yang melayat agar bisa melihat wajahnya yang terakhir kali. Tapi Kakakmu tidak begitu, dia langsung bawa bayinya ke makam, langsung dikubur.”“Kenapa begitu?” tanya Marco.“Waktu itu pamanmu juga menanyakan, kenapa seperti itu? Kakakmu malah menangis, bilang tidak tega kalau bayi yang baru

  • Mencintai Seorang Climber   bab 354. Menemukan Kebohongan

    Pagi itu Marco mengantar Maryam ke rumah sakit, untuk periksa bekas operasi caesar. Sepanjang perjalanan, Maryam lebih banyak diam, merenung dengan wajah bingung. Dia seperti baru menyadari bahwa jarak yang ditempuh menuju rumah sakit tempatnya melahirkan, bisa dikatakan sangat jauh, untuk ukuran Kota Bandung di mana rumah sakit bertebaran di banyak lokasi. Marco juga tidak banyak bicara, karena khawatir salah ucap, membuat Maryam semakin merasa bersalah. Atau kalaupun rasa bersalah itu telah hilang, bisa saja berganti dengan perasaan bahwa dirinya sebagai seorang wanita belum pantas menjadi seorang ibu, sehingga bayi yang dilahirkannya tidak selamat. Intinya perasaan dan pikiran Maryam sedang ada di ambang yang paling sensitif, kesedihannya mulai mengarah pada penghakiman terhadap dirinya sendiri.Ketika hendak mendaftarkan Maryam di loket, Marco teringat tentang asuransi kesehatan swasta, yang pernah dikatakan oleh Maryam.“Mana kartu asuransi kesehatan itu?”Maryam menggeleng, “E

  • Mencintai Seorang Climber   bab 353. Melihat Bayi

    Dua hari kemudian, seluruh urusan Black Falcon Automotive sudah diserahkan kepada Marco. Zakki bilang melalui telepon kalau dirinya dan istri sudah berangkat ke Jakarta, mau mampir dulu ke rumah mertuanya, sebelum mendatangi lokasi kerjanya yang baru, di Serang, Banten.Pak Ardi sudah kembali bekerja di kantornya. Demikian juga Bu Marianne, kembali sibuk di dunia fashion. Bu Marianne sedang mempersiapkan acara peragaan busana. Bahkan dia menginap di butiknya, katanya untuk memeriksa hasil kerja para penjahit yang sedang membuat gaun-gaun eksklusif untuk peragaan busana.Pagi itu Bu Marianne tidak menemani sarapan, karena sejak kemarin dia ada di butiknya, belum pulang. Ada ART untuk menyiapkan makan. Marco dan Pak Ardi sarapan berdua.“Pa, Kang Zakki kan, sudah pergi. Apakah dia sempat menunjukkan bayinya ke hadapan Papa?”“Belum, katanya nanti saja kalau bayi itu sudah diambil dari ibunya, diberikan ke Anita. Barulah Zakki mau bikin acara syukuran bayi, mungkin di rumah barunya di Se

  • Mencintai Seorang Climber   bab 352. Salah Nama?

    Marco mendengar papanya dan Zakki sedang membicarakan istri muda Zakki, yang baru melahirkan. Zakki bilang bayinya ada bersama istri mudanya itu. Marco merasa hal itu bukan urusannya, dan jika dirinya nimbrung, mungkin Zakki bakal merasa malu, atau kikuk. Marco memilih tidak segera masuk ke ruang kerja papanya, dia berdiri dekat pintu yang sedikit terbuka.Zakki bicara, “Dia janda, punya dua anak dari pernikahan pertamanya. Suaminya meninggal.”“Nah, sudah tahu dia janda dengan dua anak, terus kamu tambah anak dia jadi tiga. Dan sekarang malah kamu jandakan lagi! Kasihan atuh.”“Sudah perjanjian dari awal Pa, kalau anak sudah lahir, kami berpisah. Dia akan mendapat sejumlah materi.”“Tidak ada wanita yang mau menjadi janda, apalagi untuk kedua kalinya. Lagipula, kamu bilang dia tinggal di kampung. Status janda di kampung itu masih dianggap aib, bikin malu keluarga, dan wanita yang bersangkutan biasanya dipandang remeh banget sama banyak pria di kampung itu.”“Terus aku harus bagaimana

  • Mencintai Seorang Climber   bab 351. Terlalu Jauh

    Marco dan Maryam sedang dalam perjalanan kembali ke Bandung. Mobil yang mereka tumpangi melewati sebuah rumah sakit yang lokasinya berada di Kota Bandung, tapi dekat perbatasan dengan Kabupaten Bandung. Marco tidak percaya waktu Maryam mengatakan bahwa di rumah sakit itulah dia melahirkan.Marco menatap Maryam yang duduk bersamanya di jok tengah mobil. “Maryam, kamu yakin, melahirkan di rumah sakit itu?”“Iya, karena aku kontrol kehamilan juga di rumah sakit itu.”“What?!” Marco lebih kaget lagi, “siapa yang membawamu kontrol kehamilan di rumah sakit itu?”“Ehm ... setelah aku dijemput ke Bandung, mulanya mamamu yang bawa aku periksa kandungan, tapi di rumah sakit bersalin yang dekat kompleks perumahan Mama. Lalu bulan berikutnya, Teh Anita yang mengantar aku kontrol kehamilan, tapi ke rumah sakit yang tadi terlewati itu.”“Jadi Anita yang membawamu ke rumah sakit itu?”“Iya. Memangnya ada apa dengan rumah sakit itu, Bang? Kenapa Abang kayak yang kaget?”“Aku kaget karena rumah sakit

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status