LOGINPertarungan belum berakhir.Justru setelah perubahan itu, semuanya menjadi jauh lebih brutal.Edmundo menggeram dan kembali menerjang. Draven bergerak dari sisi berlawanan, sementara Gio mengambil posisi di belakang mereka. Tiga Alpha menyerang secara bersamaan, seolah sadar bahwa jika memberi Valen satu celah saja, keadaan akan berubah menjadi bencana.Aku menatap mereka. Inderaku menangkap setiap gerakan. Kecepatan mereka meningkat. Namun, kali ini aku mampu mengikutinya.Edmundo mengayunkan cakar membuat aku menunduk. Namun, dari arah kiri dapat kurasakan perubahan angin yang begitu cepat. Draven menyerang. Dengan cepat pula kuputar tubuh, tetapi dari arah belakang muncul Gio. Aku mengangkat tangan.BRAAAK!Serangan Gio tertahan. Aku menggertakkan gigi. Energi emas semakin deras mengalir melalui tubuhku. Energi apa ini. "Belum cukup..." gumamku.Bayangan serigala kuno di belakangku semakin jelas. Perlahan tapi pasti, tubuhku kembali mengalami perubahan.KRAK!Tulang-tulangku berg
Suara itu kembali menggema di dalam kepalaku. Tenang dan dalam. Seolah pemiliknya tidak pernah meragukan bahwa aku masih mampu berdiri.Aku memejamkan mata lebih erat. Sesuatu berdenyut di dalam dadaku. Bukan jantung. Bukan pula energi yang selama ini kukenal, melainkan sesuatu yang jauh lebih tua.Sesuatu yang selama ini tertidur di balik darahku."Apakah kau lupa sesuatu?"Aku menggertakkan gigi. Ingatan samar bermunculan. Sebuah ruangan gelap.Rantai.Darah.Sepasang mata keemasan yang menatapku dari balik kegelapan. Kemudian sebuah suara yang pernah kudengar bertahun-tahun lalu."Jika suatu hari mereka memaksamu berlutut, jangan bangkit sebagai Valen yang mereka kenal."Dadaku bergetar."Bangkitlah sebagai darah yang bahkan mereka takuti."BRAAAK!Sebuah ledakan menghantam tubuhku. Aku terlempar beberapa meter dan menghantam lantai batu."Valen!" Suara Zena terdengar samar melalui mind link.Aku membuka mata. 'Aku tidak apa, Zena.'Edmundo sudah berdiri di depanku, bersiap untuk m
Tubuhku serasa mati rasa, bahkan seluruh kekuatanku terkuras akibat dua serangan mereka yang bersamaan di saat aku melamun. Kuhirup udara sebanyak aku mampu, kembali menata jalan napasku.Untuk beberapa saat aku tidak mampu bergerak dan berpikir, hanya menatap kedua pria itu yang menatapku penuh kemenangan."Bagaimana, Valen. Sebaiknya kau mengalah." Suara Draven terdengar begitu angkuh dan sudah berhasil mengalahkanku."Kali ini nyawamu sudah di ujung tanduk, mungkin akan lebih cepat melayang saat dia muncul." Sambung Edmundo seolah dia tahu ada sosok yang lain.Aku menyeringai, menatapnya penuh misteri. Aku sangat yakin bahwa sosok itu akan membelaku meskipun aku telah berbohong dan menyembunyikan rencana ini.Seluruh ruang utama itu menjadi porak poranda akibat serangan kedua Alpha. Aku berusaha bangkit dengan tenaga yang tersisa. Aroma anyir darah dan lolongan serigala kembali menyapa indera ku.Lolongan ini tidak biasa. Mereka mengabarkan kesakitan yang teramat sangat. Aku sangat
Seberkas sinar perak itu ternyata sebuah anak panah berujung perak kental dan pekat. Daya luncur yang tidak biasa, ini pasti bukan sembarang serigala.Untung saja aku masih sempat bergerak ke samping kanan sehingga anak panah itu melewati lenganku berjarak sangat tipis. Telat sedikit mungkin bukan hanya lenganku yang tergores melainkan jantungku tertusuk ujungnya.'Kau tidak apa, Luna?''Apakah kau melihat pemilik anak panah ini, Zena?''Gelap, hanya bayangan hitam tinggi besar memiliki taring sangat tajam.'"Sepertinya ada yang lebih inginkan kematianmu, Valen.""Ini akan lebih mudah untuk menyingkirkanmu setelah kematian Valen, Edmundo.""Jangan banyak suara, majulah kalian sekaligus. Satu, dua ataupun tiga tidak masalah buatku!"Aku coba menantang mereka secara bersamaan, ini sengaja kukatakan agar seseorang yang sedang sembunyi itu keluar. Namun, hingga waktu yang kuinginkan sosok itu sama sekali tidak tertarik untuk keluar.Sial!'Zena, kerahkan pasukanmu menuju ke gerbang barat.
Aura emas di tubuhku mulai berubah. Kali ini lebih tajam dan dingin, bahkan aku sendiri sedikit terkejut atas perubahan yang begitu drastis. Sesaat kulirik sosok serigalaku yang berdiri tegak di antara tulang 3 dan 4.'Laura inikah....'Dan serigalaku itu tidak bereaksi sedikit pun, hanya menatapku dingin. Tubuhku berisik menerima tatapan itu. Kuhembuskan napas panjang, lalu kembali fokus pada dunia nyata. Dunia yang membesarkanku—dunia serigala. "Ini permainanmu, Draven."Senyum Draven melebar. Akhirnya, setelah beberapa detik bibir pria itu kembali bergerak, "Permainan?"Dia membuka kedua tangannya, lalu mengulum senyum penuh arti. Tatapannya menyapu seluruh kastil. Dan berhenti padaku. "Ini perebutan kekuasaan." Suaranya begitu rendah, tetapi penuh muatan tenaga yang besar. Jantungku berdetak lebih keras. Dia tidak datang untuk membantu Edmundo.Tidak.Dia juga tidak datang untuk menghancurkan Shadow Pack. Setidaknya bukan dengan cara biasa. Draven datang—Untuk mengambil alih.S
Ilusi? Tapi ini sangat nyata, bahkan aku sama sekali tidak melihat adanya celah. Aku kembali memperhatikan mereka.Edmundo menyerang. Draven menghindar. Kemudian—DUAGH!Draven menghantam wajah Edmundo. Kepala Edmundo terpental ke samping.Darah keluar. Namun hanya beberapa detik kemudian—Darah itu menghilang.Tidak ada luka.Tidak ada memar.Seolah pukulan itu tidak pernah terjadi. Aku menyipitkan mata.'Zena.''Aku tahu.''Ini bukan pertarungan biasa.''Apa maksudmu?'Aku belum sempat menjawab. Karena Draven tiba-tiba menoleh. Tatapannya mengarah kepadaku. Dan untuk pertama kalinya—Senyumannya berubah."Valen."Aku tidak menjawab. Edmundo yang tadi masih berdiri beberapa meter darinya mendadak bergerak.SWISH!Cakarnya mengarah tepat ke tubuhku. Aku menghindar. Cakar itu menghantam lantai.BRAAAK!"Jadi akhirnya kau ikut campur juga."Aku menatap Edmundo dingin. Namun, sebelum aku bergerak—Draven sudah muncul dari sisi lain.Tangannya mengarah kepadaku. Aku memutar tubuh.DUAGH!Ser
Hari-hari berikutnya terasa berbeda. Tidak lagi dipenuhi kebingungan seperti awal aku tiba di sini. Setiap pagi dimulai dengan latihan ringan, makan teratur, dan malam yang hening, tetapi penuh kesadaran baru akan tubuhku sendiri.Selang beberapa hari, aku mulai merasakannya. Perubahan itu. Aliran
Perlahan bulir bening mengalir dari sudut mataku, aku menatap pada Gilbert. Pria ini begitu lembut memperlakukan tubuh dan serigalaku hingga dia tidak mempedulikan lagi seluruh aktifitasnya pada Pack.Aku mendesah pelan. Kuulurkan lenganku meraih wajah tampan itu."Percayalah, Amoera. Aku akan sela
Bagai angin topan, tubuhku terhempas begitu saja tanpa daya. Kekuatan ini sangat tinggi, aku masih belum mampu menguasai seluruhnya hingga berakibat fatal pada tubuhku.Perlahan tapi pasti, kucoba bangkit dan berdiri tegak menatap pada sosok Fernandes yang angkuh. Bibir wanita itu melengkung sinis,
Aku bergeming, tubuhku terasa lemas meskipun masih dapat berdiri tegak di hadapan Edmundo. Iya, suara itu milik Edmundo. Sekali lagi dia menolakku."Sudah jauh hari kau kubuang dan melarang untuk masuk ke wilayah Barion Pack. O ho, salah, saat ini Pack tersebut telah berganti nama menjadi The Shado







