Share

3.

Author: Shaveera
last update publish date: 2026-03-24 21:30:01

"Kau sudah bangun, Nona?"

Aku terdiam, kulayangkan pandanganku ke sekitar. Gubug kecil dengan seorang wanita tua berdiri sambil memegang tongkat menatapku penuh khawatir.

"Namaku Giyani, kutemukan tubuhmu lemah tanpa daya di pinggir hutan. Maafkan aku yang tidak mampu menghidupi hingga satu minggu ini," papar wanita itu.

"Berapa lama aku tertidur?" tanyaku.

"Satu minggu ini, dan selama itu aku tidak bisa merawatmu secara maksimal, Nona," jawabnya dengan nada sedih. "Ada kekuatan lain yang lebih menguasai jiwamu," lanjutnya.

Aku tersenyum, lalu berusaha bangkit dari tidur panjangku. Perlahan aku duduk di tepian balai bambu usang dan reyot.

"Apa nama kampung ini?"

"Kampung Mati."

Aku terhenyak kaget saat mendengar wanita tua menyebut nama kampung. Sesungguhnya bukan masalah namanya, tetapi lebih ke cerita asal mula kampung itu.

Ingatanku melayang pada kisah lama, aku merasakan bahwa kampung ini adalah masa laluku. Aku berdiri melangkah menuju ke jendela, lalu kubuka lebar untuk dapat menghirup udara segar pagi hari.

Akan tetapi, ada sesuatu yang menyengat hidungku hingga ingatan itu kembali datang. "Aroma ini seperti aku kenal, apakah dia masih hidup?"

Tiba-tiba kepalaku berputar, pusing yang teramat sangat menusuk kepala. Aku terpejam sesaat, lalu perlahan membuka mata. Sekilas tampak bayangan hitam melesat melewati jendela.

Kuberanikan diri melangkah keluar dari gubug reyot, tetapi wanita tua itu menghalangi langkahku. Aku menghentikan langkah, berbalik menghadapnya dan bertanya, "Ada apa lagi?"

"Kau hendak kemana, di luar udara begitu dingin di awal musim. Aku belum menyiapkan mantel khusus untukmu," kata Giyani.

"Aku tidak butuh mantel, aku hanya ingin memastikan bayangan hitam itu dan aroma ini. Mungkin dia ada di sekitar gubug kamu ini," jawabku.

Wanita tua itu tertegun menatapku, lalu aku kembali melangkah meninggalkannya dalam keadaan bingung. Kulayangkan pandanganku menyapu sekitar hingga kutemukan bayangan hitam di balik pohon pinus yang menjulang tinggi.

"Kau yang di sana, keluarlah!" ujarku dengan suara lantang.

"Kau sudah bangun?" Suaranya sangat khas, "Lebih baik pakai mantel ini dulu, tidak baik seorang gadis keluar di udara dingin!"

Dia berjalan anggun, penuh wibawa sambil merentangkan mantel bulu putih tebal hingga akhirnya langkahnya terhenti tepat di depanku. Dengan lembut dipakaikan mantel itu pada tubuhku.

Aku terhenyak, lengannya yang kekar terbalut kain satin berwarna hitam, rahang yang kuat dengan bola mata berwarna abu kecokelatan menatapku hangat setelah selesai melakukan itu. Dia sangat tampan.

"Aku Gilbert, dari Galaxi. Bagaimana keadaanmu setelah tertidur selama satu minggu, Alpha Amoera?"

Mendengar nama itu disebutkan oleh Gilbert membuatku menatapnya penuh tanya, tetapi dengan santai ia tersenyum sambil mengganguk. Aku bingung, Amoera? Dahiku berkerut, kedua alisku menyatu membentuk garis lurus.

Sosok ini terasa sangat familiar, tetapi sulit buatku ingat masa bersamanya. Namun, berbeda dengan serigala saya. Laura begitu bersemangat menyambut aroma lupi ini.

'Apakah kau nyaman di sini, Laura?' tanyaku pada serigala saya.

'Lebih dari nyaman hingga seluruh luka ini mulai mengering, Amoera.'

'Amoera? Kau juga mengenal nama itu?'

'Tenangkan pikirmu, Amoera. Lambat laun kau akan mengerti.'

Aku mendengus kasar, bibirku kelu tidak bisa berkata apapun saat kenyamanan itu dirasakan oleh serigala saya. Hanya sesungguhnya siapa pria ini aku masih ragu dan bimbang mengambil keputusan.

Pesona Gilbert tak bisa aku singkirkan begitu saja, ia sangat hangat melebihi suamiku dulu. Namun, aura dan aroma lupi begitu kental membuat aku terlena.

"Jangan pernah ragu untuk mengambil keputusan, aku akan siap membantumu kapan pun kau perlu, Amoera."

Aku mengerutkan dahi, mencerna kalimat yeng terucap dari pria itu, "Aku tidak kenal dengan Anda, sebaiknya lepaskan saya."

Pria itu berpaling menatapku lalu menyerahkan paper bag. Setelahnya dia berbalik, lalu melangkah meninggalkan saya sendiri dalam hutan tanpa sepatah kata pun. Aku termangu menatap punggung lebar yang menjauh.

" Jika kau sudah memilihmu, maka semua akan lebih mudah." Meskipun tubuhnya sudah menghilang, tetapi suaranya masih mampu kudengar.

"Dia, begitu kokoh dan kuat. Apakah aku harus melangkah bersamanya?"

"Nona, masuklah ke dalam!" Suara Giyani terdengar olehku.

Aku berbalik, menatap wajah wanita tua itu, lalu perlahan kupinta sesuatu padanya. "Aku ingin mandi, Giyani. Bisakah kau siapkan air hangat untukku?"

Wanita tua itu tersenyum, "jangan khawatir, Alpha Gilbert sudah siapkan semua. Mari saya antar ke belakang!"

Aku pun mengikuti langkah Giyani dari belakang. "Aroma ini terasa sangat dekat, apakah sebenarnya tujuan pria itu membawaku ke tempat ini?"

Dalam setiap guyuran air selalu muncul bayangan hitam yang membuat kepalaku pusing, hingga akhirnya aku tidak tahan lagi. Kuputuskan untuk menyudahi mandiku, dengan berjalan menyamping aku keluar hingga kutemukan sosok Giyani yang berdiri di pintu dapur. Dengan lembut dia memberikan paper bag itu. Satu per satu pakaian yang ada di paper bag kupakai.

"Kau cantik sekali, Luna."

"Hah, bagaimana bisa pas sekali ukuran pakaian ini, sejak kapan pria itu tahu ukuranku?" gumam ku sendiri sambil melihat ke arah cermin usang. "Luna?"

Giyani tersenyum, "Benar. Lihatlah tampilan tubuhmu!"

Kutatap pantulan tubuhku pada cermin usang, lagi dan lagi. Sangat pas tanpa ada cacat sedikit pun, tubuhku seakan kembali muda membuat otakku berputar mencari kepingan kisah yang mungkin hilang.

"Sepertinya Alpha Gilbert sudah lama menyiapkan ini semua," ujar Giyani.

Aku mengulum senyum, menatap lagi wajah wanita tua itu. Meskipun keadaan gubug nya tidak layak huni tetapi semua perabotannya masih layak pakai dan terlihat elegan hingga membuatku bertanya dalam hati. Siapa sebenarnya wanita tua ini?

"Tak perlu kau ragu, aku bukan musuhmu," kata Giyani dengan nada rendah.

"Siapa sebenarnya dirimu, Giyani?"

Dia tidak menjawab pertanyaanku secara langsung melainkan hanya tersenyum saja sambil meraih lenganku, dengan lembut dituntunnya aku ke meja rotan di sudut ruangan. "Duduklah di sini!"

"Bagaimana bisa aku sampai di tepian hutan seperti informasi itu, Giyani?"

Tidak ada jawaban, wanita itu hanya menatapku sekilas lalu menuangkan air dalam gelas dan berjalan mendekatiku. Disodorkan gelas berisi air putih. "Minumlah!"

Ku terima gelas itu, lalu segera keteguk isinya hingga tandas. Tenggorokanku terasa basah, lebih dari kata itu. Ada sesuatu yang dikandung air tersebut hingga membuat tenagaku seakan mulai kembali.

"Air apa yang kau beri ini, Giyani?"

"Tidak ada, yang pasti bukan racun, Nona."

Aku menggeram, berusaha tetap tenang menghadapi wanita tua ini. Meskipun dia sangat baik dan tidak berkata jujur, aku merasa yakin bahwa Giyani adalah sosok penyembuh di Pack kekuasaan Alpha Gilbert.

Nama Giyani tidak pernah kudengar di kalangan Pack lainnya, tetapi melihat cara Gilbert memperlakukannya dapat ku tebak bahwa posisi wanita ini sangat penting di Pack Galaxi.

"Boleh aku bertanya padamu, Giyani?" Kutatap wajah tua tanpa keriput itu, "Apakah kau seorang penyembuh?"

Dia tersenyum, tetapi tidak suara lanjutan. Wanita itu justru melangkah meninggalkan aku sendiri dalam ruangan. Sepi, gubug ini terasa tidak asing bagiku meskipun auranya sangat sepi. Perlahan kudengar langkah seseorang mendekati pintu utama, kemudian pintu terbuka perlahan menampilkan wajah tampan sang alpha dengan beberapa pria berjubah hitam.

"Ada apa ini?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mencintai Untuk Membunuh, Pembalasan Sang Luna   100. segel yang mulai terbuka

    Pertarungan belum berakhir.Justru setelah perubahan itu, semuanya menjadi jauh lebih brutal.Edmundo menggeram dan kembali menerjang. Draven bergerak dari sisi berlawanan, sementara Gio mengambil posisi di belakang mereka. Tiga Alpha menyerang secara bersamaan, seolah sadar bahwa jika memberi Valen satu celah saja, keadaan akan berubah menjadi bencana.Aku menatap mereka. Inderaku menangkap setiap gerakan. Kecepatan mereka meningkat. Namun, kali ini aku mampu mengikutinya.Edmundo mengayunkan cakar membuat aku menunduk. Namun, dari arah kiri dapat kurasakan perubahan angin yang begitu cepat. Draven menyerang. Dengan cepat pula kuputar tubuh, tetapi dari arah belakang muncul Gio. Aku mengangkat tangan.BRAAAK!Serangan Gio tertahan. Aku menggertakkan gigi. Energi emas semakin deras mengalir melalui tubuhku. Energi apa ini. "Belum cukup..." gumamku.Bayangan serigala kuno di belakangku semakin jelas. Perlahan tapi pasti, tubuhku kembali mengalami perubahan.KRAK!Tulang-tulangku berg

  • Mencintai Untuk Membunuh, Pembalasan Sang Luna   99. suara itu muncul lagi

    Suara itu kembali menggema di dalam kepalaku. Tenang dan dalam. Seolah pemiliknya tidak pernah meragukan bahwa aku masih mampu berdiri.Aku memejamkan mata lebih erat. Sesuatu berdenyut di dalam dadaku. Bukan jantung. Bukan pula energi yang selama ini kukenal, melainkan sesuatu yang jauh lebih tua.Sesuatu yang selama ini tertidur di balik darahku."Apakah kau lupa sesuatu?"Aku menggertakkan gigi. Ingatan samar bermunculan. Sebuah ruangan gelap.Rantai.Darah.Sepasang mata keemasan yang menatapku dari balik kegelapan. Kemudian sebuah suara yang pernah kudengar bertahun-tahun lalu."Jika suatu hari mereka memaksamu berlutut, jangan bangkit sebagai Valen yang mereka kenal."Dadaku bergetar."Bangkitlah sebagai darah yang bahkan mereka takuti."BRAAAK!Sebuah ledakan menghantam tubuhku. Aku terlempar beberapa meter dan menghantam lantai batu."Valen!" Suara Zena terdengar samar melalui mind link.Aku membuka mata. 'Aku tidak apa, Zena.'Edmundo sudah berdiri di depanku, bersiap untuk m

  • Mencintai Untuk Membunuh, Pembalasan Sang Luna   98. situasi genting

    Tubuhku serasa mati rasa, bahkan seluruh kekuatanku terkuras akibat dua serangan mereka yang bersamaan di saat aku melamun. Kuhirup udara sebanyak aku mampu, kembali menata jalan napasku.Untuk beberapa saat aku tidak mampu bergerak dan berpikir, hanya menatap kedua pria itu yang menatapku penuh kemenangan."Bagaimana, Valen. Sebaiknya kau mengalah." Suara Draven terdengar begitu angkuh dan sudah berhasil mengalahkanku."Kali ini nyawamu sudah di ujung tanduk, mungkin akan lebih cepat melayang saat dia muncul." Sambung Edmundo seolah dia tahu ada sosok yang lain.Aku menyeringai, menatapnya penuh misteri. Aku sangat yakin bahwa sosok itu akan membelaku meskipun aku telah berbohong dan menyembunyikan rencana ini.Seluruh ruang utama itu menjadi porak poranda akibat serangan kedua Alpha. Aku berusaha bangkit dengan tenaga yang tersisa. Aroma anyir darah dan lolongan serigala kembali menyapa indera ku.Lolongan ini tidak biasa. Mereka mengabarkan kesakitan yang teramat sangat. Aku sangat

  • Mencintai Untuk Membunuh, Pembalasan Sang Luna   97. pertarungan tak imbang

    Seberkas sinar perak itu ternyata sebuah anak panah berujung perak kental dan pekat. Daya luncur yang tidak biasa, ini pasti bukan sembarang serigala.Untung saja aku masih sempat bergerak ke samping kanan sehingga anak panah itu melewati lenganku berjarak sangat tipis. Telat sedikit mungkin bukan hanya lenganku yang tergores melainkan jantungku tertusuk ujungnya.'Kau tidak apa, Luna?''Apakah kau melihat pemilik anak panah ini, Zena?''Gelap, hanya bayangan hitam tinggi besar memiliki taring sangat tajam.'"Sepertinya ada yang lebih inginkan kematianmu, Valen.""Ini akan lebih mudah untuk menyingkirkanmu setelah kematian Valen, Edmundo.""Jangan banyak suara, majulah kalian sekaligus. Satu, dua ataupun tiga tidak masalah buatku!"Aku coba menantang mereka secara bersamaan, ini sengaja kukatakan agar seseorang yang sedang sembunyi itu keluar. Namun, hingga waktu yang kuinginkan sosok itu sama sekali tidak tertarik untuk keluar.Sial!'Zena, kerahkan pasukanmu menuju ke gerbang barat.

  • Mencintai Untuk Membunuh, Pembalasan Sang Luna   96. sebuah konspirasi

    Aura emas di tubuhku mulai berubah. Kali ini lebih tajam dan dingin, bahkan aku sendiri sedikit terkejut atas perubahan yang begitu drastis. Sesaat kulirik sosok serigalaku yang berdiri tegak di antara tulang 3 dan 4.'Laura inikah....'Dan serigalaku itu tidak bereaksi sedikit pun, hanya menatapku dingin. Tubuhku berisik menerima tatapan itu. Kuhembuskan napas panjang, lalu kembali fokus pada dunia nyata. Dunia yang membesarkanku—dunia serigala. "Ini permainanmu, Draven."Senyum Draven melebar. Akhirnya, setelah beberapa detik bibir pria itu kembali bergerak, "Permainan?"Dia membuka kedua tangannya, lalu mengulum senyum penuh arti. Tatapannya menyapu seluruh kastil. Dan berhenti padaku. "Ini perebutan kekuasaan." Suaranya begitu rendah, tetapi penuh muatan tenaga yang besar. Jantungku berdetak lebih keras. Dia tidak datang untuk membantu Edmundo.Tidak.Dia juga tidak datang untuk menghancurkan Shadow Pack. Setidaknya bukan dengan cara biasa. Draven datang—Untuk mengambil alih.S

  • Mencintai Untuk Membunuh, Pembalasan Sang Luna   95. Serangan Balik

    Ilusi? Tapi ini sangat nyata, bahkan aku sama sekali tidak melihat adanya celah. Aku kembali memperhatikan mereka.Edmundo menyerang. Draven menghindar. Kemudian—DUAGH!Draven menghantam wajah Edmundo. Kepala Edmundo terpental ke samping.Darah keluar. Namun hanya beberapa detik kemudian—Darah itu menghilang.Tidak ada luka.Tidak ada memar.Seolah pukulan itu tidak pernah terjadi. Aku menyipitkan mata.'Zena.''Aku tahu.''Ini bukan pertarungan biasa.''Apa maksudmu?'Aku belum sempat menjawab. Karena Draven tiba-tiba menoleh. Tatapannya mengarah kepadaku. Dan untuk pertama kalinya—Senyumannya berubah."Valen."Aku tidak menjawab. Edmundo yang tadi masih berdiri beberapa meter darinya mendadak bergerak.SWISH!Cakarnya mengarah tepat ke tubuhku. Aku menghindar. Cakar itu menghantam lantai.BRAAAK!"Jadi akhirnya kau ikut campur juga."Aku menatap Edmundo dingin. Namun, sebelum aku bergerak—Draven sudah muncul dari sisi lain.Tangannya mengarah kepadaku. Aku memutar tubuh.DUAGH!Ser

  • Mencintai Untuk Membunuh, Pembalasan Sang Luna   19.

    Hari-hari berikutnya terasa berbeda. Tidak lagi dipenuhi kebingungan seperti awal aku tiba di sini. Setiap pagi dimulai dengan latihan ringan, makan teratur, dan malam yang hening, tetapi penuh kesadaran baru akan tubuhku sendiri.Selang beberapa hari, aku mulai merasakannya. Perubahan itu. Aliran

  • Mencintai Untuk Membunuh, Pembalasan Sang Luna   7.

    Perlahan bulir bening mengalir dari sudut mataku, aku menatap pada Gilbert. Pria ini begitu lembut memperlakukan tubuh dan serigalaku hingga dia tidak mempedulikan lagi seluruh aktifitasnya pada Pack.Aku mendesah pelan. Kuulurkan lenganku meraih wajah tampan itu."Percayalah, Amoera. Aku akan sela

  • Mencintai Untuk Membunuh, Pembalasan Sang Luna   6.

    Bagai angin topan, tubuhku terhempas begitu saja tanpa daya. Kekuatan ini sangat tinggi, aku masih belum mampu menguasai seluruhnya hingga berakibat fatal pada tubuhku.Perlahan tapi pasti, kucoba bangkit dan berdiri tegak menatap pada sosok Fernandes yang angkuh. Bibir wanita itu melengkung sinis,

  • Mencintai Untuk Membunuh, Pembalasan Sang Luna   5.

    Aku bergeming, tubuhku terasa lemas meskipun masih dapat berdiri tegak di hadapan Edmundo. Iya, suara itu milik Edmundo. Sekali lagi dia menolakku."Sudah jauh hari kau kubuang dan melarang untuk masuk ke wilayah Barion Pack. O ho, salah, saat ini Pack tersebut telah berganti nama menjadi The Shado

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status