Compartir

Bab 91 - Pulang.

last update Fecha de publicación: 2026-08-05 19:19:00

Jumat pagi.

Langit bahkan belum sepenuhnya terang ketika aku membuka mata.

Hari ini.

Hari yang sudah kupersiapkan selama beberapa malam terakhir akhirnya datang juga.

Aku bangun pelan agar tidak membangunkan Alka. Namun ternyata gadis kecil itu sudah lebih dulu terjaga. Ia duduk di atas tempat tidur sambil memeluk boneka kelincinya.

“Bunda, kita jadi pergi?”

Aku tersenyum.

“Iya, Sayang.”

Matanya langsung berbinar.

Alka segera turun dari tempat tidur. Aku memandikannya, mengeringkan rambutnya, l
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Mencintaimu Untuk Kedua Kalinya    Bab 123 - Kemenangan Alka.

    “Bunda, kenapa sekarang Ayah mau menelepon Alka?”Alka mengembalikan ponsel kepadaku.Aku menerimanya sambil tersenyum tipis.“Kenapa memangnya?”“Dulu Ayah jarang menelepon.”Aku mengambil sendok dan menyuapi Kenzie yang duduk di kursi makannya.“Mungkin Ayah rindu kamu, anak kesayangan Ayah.”“Rindu?”“Iya.”Alka mengangguk-angguk kecil.“Alka juga senang kalau Ayah telepon.”Aku tersenyum.Sudah beberapa minggu ini Mas Aldo memang lebih sering menghubungi Alka. Menanyakan sekolah, teman-temannya, bahkan sesekali bertanya tentang Kenzie.Aneh rasanya melihat perubahan itu.Namun aku memilih tidak banyak bertanya.Selama Alka bahagia, aku tidak punya alasan untuk menghalanginya.Waktu berlalu begitu cepat.Alka sekarang sudah kelas dua sekolah dasar, sementara Kenzie sudah berusia dua tahun. Rumah kecil kami tidak pernah benar-benar sepi sejak ada mereka.Aku tidak membutuhkan banyak hal lagi.Melihat keduanya sehat dan tumbuh dengan baik sudah cukup membuatku bersyukur.“Bunda.”“Hm

  • Mencintaimu Untuk Kedua Kalinya    bab 122 - Kerinduan Alka yang Mengendap

    Satu tahun lebih berlalu sudah sejak aku meninggalkan Jakarta. Tidak begitu banyak yang berubah. Sherly masih sering mengabarkan kesuksesan Mantan Suamiku. Mas Aldo masih menghilang dari kabar, juga masih tak pernah menanyakan keadaan Alka dan adiknya.Terutama ketika Alka mulai bertanya tentang seseorang yang seharusnya berada di sisinya.Malam itu Alka demam.Tubuh kecilnya terasa panas ketika kusentuh. Sejak sore dia sudah lebih banyak diam dan tidak mau makan. Aku sudah memberinya obat dan mengompres dahinya, tetapi menjelang tengah malam panasnya belum juga turun.Aku duduk di sisi tempat tidurnya, mengganti kompres yang sudah tidak lagi dingin.“Alka mau minum?”Dia menggeleng lemah.Aku menyentuh rambutnya yang basah oleh keringat.“Sedikit saja, Sayang.”Alka akhirnya membuka mulut dan meneguk beberapa teguk air dari gelas yang kuberikan.Setelah itu dia kembali merebahkan kepalanya.Aku pikir dia sudah tertidur.Namun beberapa saat kemudian bibir kecilnya bergerak.“Ayah…”Ta

  • Mencintaimu Untuk Kedua Kalinya    bab 121 - Akhirnya Dua Malaikat kecil menemani hidupku

    “Selamat ya, Kak. Anak laki-laki.”Aku yang masih terbaring lemah langsung menoleh kepada Dinda.“Laki-laki?”Dinda mengangguk dengan mata berkaca-kaca.“Iya. Alhamdulillah, Kak. Bayinya sehat.”Aku memejamkan mata sejenak.Ada rasa lega yang begitu besar memenuhi dada.Setelah semua rasa sakit yang kulewati, akhirnya aku memiliki sepasang anak.Alka dan adiknya.Dua malaikat kecil yang akan menemaniku menjalani hidup.Namun, di balik rasa syukur itu, ada ruang kosong yang tidak bisa kuabaikan.Mas Aldo tidak ada di sini.Dinda sepertinya memahami apa yang kupikirkan. Dia mengambil ponselnya dari meja.“Aku sudah kasih tahu Mas Aldo.”Aku membuka mata.“Dia jawab apa?”Dinda terdiam sebentar sebelum menunjukkan layar ponselnya kepadaku.Sebuah pesan singkat dari Mas Aldo.Selamat ya, aku ikut bahagia.Aku membaca kalimat itu berulang kali.Hanya itu.Tidak ada pertanyaan tentang bagaimana keadaanku.Tidak ada pertanyaan tentang bayi kami.Tidak ada keinginan untuk mendengar tangisan a

  • Mencintaimu Untuk Kedua Kalinya    Bab 120 - Hidup tak semudah yang dibayangkan.

    “Belum ada telepon dari Mas Aldo?”Sekali lagi aku bertanya kepada Dinda setelah Pak Franky dan Pak Irwan pergi.Dinda yang sedang mengaduk segelas susu untukku kembali menggeleng.“Belum, Kak.”Aku mengembuskan napas pelan.Sebenarnya aku tidak berharap Mas Aldo datang menjengukku. Aku hanya ingin dia menanyakan keadaan Alka.Bagaimana mungkin Mas Aldo dan ibunya semudah itu melupakan Alka?Bukankah selama ini mereka sangat menyayanginya?Ruangan VIP yang kutempati tiba-tiba terasa lebih dingin.Aku sadar, mungkin aku memang sudah bukan bagian dari keluarga itu lagi. Mas Aldo boleh membenciku. Dia boleh meninggalkanku dan menjadikanku mantan istrinya.Tetapi Alka tetap anaknya.Aku tidak ingin Alka ikut kehilangan ayah dan neneknya hanya karena pernikahan kami berakhir.“Sudahlah, Kak. Jangan dipikirkan terus.”Dinda meletakkan gelas susu di meja kecil di samping tempat tidur.“Ada beberapa pesan dari teman-teman Kakak.”Dia menyerahkan ponselku.“Tapi setelah ini Kakak istirahat, ya

  • Mencintaimu Untuk Kedua Kalinya    Bab 119 - Beliau membuatku merasa tenang

    Aku tidak tahu berapa lama mereka masih berbicara.Suara Pak Irwan perlahan menjauh.Kemudian hanya terdengar suara langkah kaki mendekat.Aku masih belum mampu membuka mata.Sampai sebuah suara memanggil namaku.“Karin.”Aku mengenal suara itu.Perlahan, kubuka mata.Pandangan masih buram. Namun sosok yang berdiri di samping tempat tidurku mulai terlihat jelas.Pak Franky menatapku, beliau berdiri tepat di hadapanku.Tegap dengan setelan yang masih terlihat rapi meskipun jelas baru menempuh perjalanan jauh. Wajahnya terlihat lebih tegas dari yang kuingat. Garis rahangnya jelas, sorot matanya tajam, dan ada wibawa yang membuat suasana di dalam ruangan seketika berubah hanya karena kehadirannya.Aku bahkan sempat lupa bahwa aku sedang terbaring di rumah sakit.Lalu tiba-tiba ucapan Chintya melalui telepon kembali terngiang di kepalaku.“Kamu benar-benar tidak menyadari perhatian Pak Franky kepadamu?”Aku langsung mengalihkan pandangan.Entah mengapa, mengingat kalimat itu saat beliau s

  • Mencintaimu Untuk Kedua Kalinya    Bab 118 - Beliau disini.

    Menjelang siang, tiba-tiba perutku terasa mengeras.Awalnya hanya sebentar.Aku mengira itu hal biasa.Tetapi beberapa saat kemudian rasa sakit itu kembali.Lebih kuat.Aku memejamkan mata sambil menarik napas panjang.“Dinda…”Adikku yang sedang duduk di dekat jendela segera menoleh.“Kak?”“Perut Kakak sakit.”Dinda langsung bangkit dan mendekat.“Sakitnya bagaimana?”“Aku juga nggak tahu.”Aku mencoba mengubah posisi duduk. Namun rasa nyeri justru semakin kuat. Perutku kembali menegang.Aku meringis.“Dinda… panggil perawat.”Wajah Dinda langsung berubah panik.“Iya, Kak.”Setelah itu semuanya berlangsung cepat.Perawat datang, kemudian dokter dipanggil.Aku hanya bisa menahan rasa sakit yang datang berulang kali. Tubuhku terasa lemas. Keringat dingin mulai membasahi pelipis.“Tenang, Bu Karin. Tarik napas perlahan.”Aku berusaha menurut.Namun rasa takut mulai memenuhi pikiranku.Bayiku belum waktunya lahir.Jangan sekarang.Tolong jangan sekarang.Aku memegang perutku dengan tang

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status