Se connecterDanindra wijaya dipaksa mengambil alih tempat adiknya, Gladys, untuk menikah dengan Angga Pratama—seorang pria kaya dan berwibawa—setelah Gladys kabur diam-diam pada hari pernikahan mereka. Pernikahan ini semula disusun demi bisnis kedua orang tua. Angga yang sangat mencintai Gladys merasa dikhianati dan memendam kebencian mendalam terhadap danindra, menganggapnya turut serta dalam penipuan ini. Di tengah sikap dingin dan kejam suaminya, danindra berjuang bertahan dengan ketulusan serta kesabaran, perlahan mencoba meluluhkan hati yang membeku itu—tanpa menyadari bahwa adiknya yang pergi itu suatu hari akan kembali untuk merebut kembali apa yang ia tinggalkan.
Voir plusHadiah dan PenghinaanMatahari sudah naik tinggi, menyinari jendela kaca ruang rawat yang luas itu. Namun dua orang yang sedang beristirahat di sana belum juga bergerak. Jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, namun baik Angga maupun Danindra belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun.Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka perlahan. Bi Wati masuk dengan langkah berhati-hati, membawa kotak makan di tangannya. Ia berjalan mendekati ranjang Danindra, meletakkan kotak makan itu di meja samping tempat tidur, lalu berbalik menghampiri Angga yang sedang tidur di sofa.Dengan ragu-ragu, Bi Wati menyentuh bahu Angga pelan. "Tuan... Tuan, mohon maaf lancang membangunkan."Angga mulai terusik, perlahan membuka matanya. Ia duduk tegak, menatap jam di dinding, lalu menatap Bi Wati."Sudah pagi sekali, Tuan. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh," ucap Bi Wati dengan sopan. "Saya takut Tuan ada rapat penting dan terlambat.""Tidak apa-apa, Bi," jawab Angga suaranya masih berat namun t
Bayang Perhatian yang Mulai Tumbuh Pagi itu, udara masih terasa sejuk saat Angga melangkah keluar dari rumah sakit. Langkahnya tenang, namun di dalam hatinya ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya—siapa sebenarnya gadis yang berani melukai Danindra hingga harus dirawat di rumah sakit? "Rendra," panggil Angga saat masuk ke dalam mobil, suaranya datar namun tegas. "Cari semua informasi tentang Angel. Keluarganya dari mana, seberapa kaya mereka, apa saja latar belakangnya. Aku ingin tahu semuanya sampai ke akar-akarnya. Berani sekali dia melukai orang di bawah tanggung jawabku." "Baik, Tuan. Segera aku kerjakan," jawab Rendra sambil mencatat perintah itu di ponselnya. Sesampainya di kantor, jadwal Angga sangat padat. Tumpukan berkas menumpuk di atas meja kerjanya, diikuti satu per satu rapat penting yang tak bisa ia tinggalkan. Salah satu rapat terbesarnya hari ini membahas proyek kerjasama yang bernilai triliunan rupiah—dan di situlah ia harus berhadapan dengan Pak Haris,
Pagi yang Tak Terduga & Kedatangan Orang-Orang TerdekatHari masih terlalu pagi saat Danindra terbangun. Rasa berdenyut di kepalanya sudah hilang, hanya tersisa rasa pegal yang samar. Ia duduk di tepi ranjang rawat, matanya menyapu sekeliling ruangan—dan seketika terpaku pada sofa di sudut ruangan. Angga masih tertidur di sana, wajahnya tenang tanpa garis ketegangan yang biasanya selalu ada.Danindra turun dari ranjang perlahan, berjalan berjinjit mendekati sofa itu. Hatinya berdebar pelan. Dia menungguku semalaman? batinnya tak percaya. Ia berjongkok di samping sofa, menyamakan ketinggian wajah mereka. Dari dekat, Angga terlihat begitu tampan—namun dingin. Tampan, tapi dingin. Mulutnya juga bikin sakit hati, gumamnya pelan tanpa sadar. Tangan Danindra terulur perlahan, ingin menyentuh hidung mancung pria itu.Belum sampai jari-jarinya menyentuh kulit, Angga tiba-tiba membuka mata. Tatapan mereka bertemu. "Sedang apa kau berjongkok di depanku?" tanyanya serak, baru bangun tidur.Danin
Pertanyaan yang Tak Diharapkan dan Penjagaan yang DiamKeheningan di ruang rawat itu terasa begitu pekat. Danindra berbaring diam di atas kasur, matanya terpejam namun pikirannya berputar tak menentu. Di sudut ruangan, Angga masih duduk di sofa, menatap lurus ke arah jendela yang tertutup tirai tipis. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri, tak ada yang berniat memulai percakapan. Danindra berharap keheningan ini berlangsung terus hingga ia tertidur, namun tiba-tiba suara berat dan rendah memecah kesunyian malam ini."Kenapa dahimu bisa terluka?" tanya Angga.Danindra tersentak, matanya terbuka lebar menatap pria di hadapannya. Ia tak menyangka laki-laki sedingin Angga akan menanyakan hal sepele seperti ini. "Hah?" ucap Danindra tiba-tiba.Angga mengernyit, nada suaranya meninggi sedikit karena kesal. "Kamu tuli?"Belum berubah juga mulutnya yang kejam itu, batin Danindra. Ia segera menjawab singkat, "Hanya.... insiden kecil di kampus tidak perlu di pikirkan kok." "Kecil?


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.