MasukSetelah makan malam, rumah perlahan berubah. Riuh yang tadi memenuhi ruang mulai mengendap dan menyisakan suara-suara kecil yang akrab. Triplets duduk di lantai ruang tengah, mainan mereka kini tersusun setengah rapi, setengah ditinggalkan. Energi mereka belum habis sepenuhnya, tapi lelah yang mendera mulai mengalahkan antusiasme.Tama membantu membereskan meja makan. Gerakannya sedikit kikuk, seperti seseorang yang masih mencari posisi di ruang yang seharusnya miliknya. Aluna mencuci piring di wastafel, air mengalir stabil, menciptakan irama lembut yang menenangkan.Mereka bekerja berdampingan tanpa banyak bicara.Biasanya, Tama akan kembali ke ponselnya. Membalas pesan. Mengecek surel. Menyusun ulang jadwal esok hari. Tapi malam itu, ponsel tetap di saku jaketnya. Diam. Seolah dunia luar bisa menunggu.Ia melirik Aluna dari sudut mata. Wajah itu terlihat tenang, tapi terlalu teratur untuk benar-benar santai. Setiap gerakan seperti sudah dihafal amat sangat efisien,
Sore itu, Tama langsung buru-buru menutup laptopnya sebelum matahari benar-benar turun.Bukan karena pekerjaannya selesai. Justru karena masih ada terlalu banyak yang belum beres dan itu menjadi penyebab ia memilih untuk berhenti.Layar hitam di depannya memantulkan wajahnya sendiri. Mata yang lelah, rahang yang tegang serta garis halus di dahi yang semakin sulit disamarkan. Ia duduk diam beberapa detik, mendengarkan suara pendingin ruangan yang berdengung konstan, seolah kantor ini bernapas sendiri tanpa perlu kehadirannya.Ponselnya bergetar di meja.Satu panggilan masuk.Tama melirik layar sekilas. Nomor yang sangat ia kenal. Biasanya, ia akan langsung mengangkat. Biasanya, ia juga tidak pernah membiarkan satu panggilan pun terlewat. CEO tidak punya kemewahan untuk menghilang, begitu prinsip yang selama ini ia pegang, bahkan ketika tubuhnya sudah meminta jeda.Hanya saja sore itu, ia memutuskan untuk membalikkan ponsel. Memilih untuk tidak mau peduli.Layar padam.Getaran berhenti.
Keesokan paginya, untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, Tama tidak berangkat pagi. Biasanya, ketika matahari baru menembus sela tirai, ia sudah berdiri di depan cermin dengan jas yang rapi dan dasi yang sudah terikat sempurna. Tapi kali ini berbeda. Ia duduk di tepi ranjang, menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu menekan nomor sekretarisnya. Memberi tahu bahwa hari ini dia tidak akan pergi ke kantor.“Bilang aja saya WFH hari ini,” katanya tegas tapi tenang.Nada suaranya tegas khas seorang pemimpin, tapi di dalamnya ada kelembutan yang jarang muncul belakangan ini. Setelah menutup telepon, Tama menatap sosok istrinya yang masih berbaring.Aluna membuka mata perlahan. Wajahnya pucat, lemah, tapi masih berusaha tersenyum. Pandangan matanya sedikit kabur, seolah masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya. Biasanya, di jam seperti ini, suaminya sudah terburu-buru merapikan dasi, memeriksa laporan di laptop, atau menjawab panggilan dari klien luar negeri. Tapi pagi itu, pr
Pukul 09.20, Aluna sudah berkeringat.Ia sempat duduk sebentar di tepi tempat tidur, tapi pandangannya langsung jatuh pada keranjang cucian di pojok kamar—penuh hingga hampir meluber.“Ya ampun…” desahnya lagi.Ia tahu bisa menundanya, tapi tidak tahan melihat tumpukan itu. Jadi, ia berdiri lagi, menyeret keranjang ke kamar mandi.Baju kecil, seragam playgroup, celana rumah, saputangan, semuanya masuk ke mesin cuci.Sementara mesin berputar, ia menata rak handuk, menyapu lantai kamar mandi, lalu mengelap cermin.Tak ada jeda. Tak ada waktu duduk.Pukul 10.10, saat akhirnya ia menatap pantulan dirinya di cermin, ia baru sadar wajahnya pucat. Rambut yang tadi diikat kini lepas sebagian, menempel di pelipis basah oleh keringat.“Kayak orang habis olahraga,” gumamnya pelan, mencoba tersenyum pada diri sendiri.Namun, senyum itu cepat pudar ketika pandangannya berkunang sejenak.Ia bersandar pada wastafel, menutup mata
“Rakaaa, jangan rebutan sendok sama Rama!” seru Aluna dari dapur sambil mengaduk bubur ayam di panci kecil. Suaranya sedikit meninggi, tapi masih terdengar lembut khas seorang ibu yang berusaha sabar di tengah kekacauan pagi yang sering terjadi.“Tapi Rama duluan, Ma!” Raka bersuara keras, wajahnya cemberut, kedua tangannya berusaha merebut sendok yang kini dipeluk Rama di dada.Rama, si kembar kedua, menjawab cepat sambil melengos, “Karena aku lapar jadi aku ambil sendoknya duluan! Raka kan masih main mobil tadi!” Ia menekankan kata “main mobil” seperti menegaskan bahwa dirinya lebih pantas mendapat jatah pertama.Rajen duduk di kursi kecil di samping meja makan, diam tapi matanya berkilat geli. Ia memang jarang ikut berdebat, lebih suka mengamati dua saudaranya yang setiap pagi seolah berlomba jadi bintang drama rumah itu. Sesekali, dia menyuap susunya sendiri menggunakan sendok, kadang miring, kadang tumpah, tapi tak pernah protes.Aluna menari
Saat bel pulang berbunyi Rajen baru menyadari kalau amplop itu hilang. Ia panik, mencari di bawah bangku, di dalam tas, bahkan di dalam kotak bekalnya. Saku celananya pun tidak luput dia rogoh tapi amplop uang itu tidak ada. Matanya mulai berkaca-kaca.Seketika, napasnya tercekat. Ia menepuk-nepuk seluruh badan kecilnya, kembali membuka tas, memeriksa kotak pensil, lalu bekal makanannya. Dua kali dan tetap nihil.Amplop itu hilang.Ia menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang mulai naik ke pelupuk. Tak berani bicara, ia hanya berjalan pelan ke pagar sekolah, matanya terus menunduk ke tanah, berharap amplop putih itu muncul di antara kerikil atau rumput. Tapi sampai suara langkah teman-temannya menghilang, ia tak menemukannya juga.Ketika Aluna datang menjemput, wajah Rajen tampak berbeda dari biasanya. Tidak ada senyum lembut atau sapaan pelan. Ia hanya menatap ujung sepatunya sendiri.Aluna langsung tahu ada yang tidak beres.“







