LOGINApa yang akan kamu lakukan saat terbangun dari koma dan mendapati dirimu hamil? Itu terjadi padaku dan yang kulakukan hanya mencoba mencerna semuanya karena sialnya semua ingatanku juga tidak ada yang tersisa. Aku masih berpikir kenapa aku bisa ada disini? Dan sebenarnya apa yang sudah terjadi padaku? Walau sudah kucoba untuk mengingat tapi hasilnya nihil. Semuanya blur. Hanya ada dia yang menemaniku sepanjang waktu. Pria yang mengaku suamiku dan merawatku, meski percakapan yang terjalin antara kami sangat minim. Apa bisa hubungan ini disebut sebagai hubungan pasangan? Aku mencoba menyamankan diri walau sulit. Pria itu tidak menceritakan sedikitpun tentang kecelakaan yang aku alami. Jadi bagaimana aku bisa tahu apa yang terjadi? Haruskan aku tetap diam tanpa membantah?
View MoreHari itu seharusnya tidak berjalan lebih sederhana dibandingkan hari-hari sebelumnya. Hari ini tidak ada panggung besar yang dipasang berhari-hari. Tidak ada juga undangan yang dicetak rapi. Hingga, tidak ada lampu sorot atau pakaian khusus yang harus dikenakan di hari ini. Sekolah memang mengadakan acara, tapi itu hanya sebuah pentas kecil di kelas. Dimana anak-anak akan bernyanyi bersama seraya berdiri di depan papan tulis, memakai topi kertas buatan tangan mereka sendiri. Namun sejak pagi, rumah terasa berbeda. Raka bangun lebih awal dari biasanya. Ia kini sudah berdiri di depan cermin kamar sambil mencoba merapikan kerah bajunya dengan wajah serius, seolah hari itu menuntut keberanian ekstra. Rama berlarian kecil sambil memegang topi kertasnya, memastikan hiasan di atasnya tidak lepas. Rajen duduk di tepi tempat tidur, memperhatikan topinya lama-lama sebelum bertanya pelan, hampir berbisik, “Kalau aku nyanyi pelan, boleh?” “Boleh,” jawab Aluna sambil tersenyum. “Yang penting
Pagi itu berjalan dengan ritme yang tampak biasa, tapi mengandung banyak lapisan. Aluna melangkah memasuki halaman sekolah negeri tempat Rama, Raka, dan Rajen belajar. Sekolah itu tidak besar. Cat dindingnya sudah beberapa kali diperbarui, warnanya tidak lagi terang. Halamannya sederhana, tanpa lapangan luas atau bangunan tambahan yang mencolok. Tapi pagi itu hidup. Anak-anak berlarian kecil, menyebut nama temannya, tertawa tanpa beban. Suara bel belum berbunyi, namun udara sudah penuh energi. Aluna berjalan berdampingan dengan Tama. Mereka datang bersama, bukan karena diminta, bukan karena ingin dilihat, melainkan karena bagi mereka, pertemuan seperti ini penting. Tumbuh di lingkungan yang menganggap pendidikan sebagai fondasi membuat mereka terbiasa hadir di ruang-ruang seperti ini dengan sikap serius, meski tidak berlebihan. Raka berjalan sedikit di depan, tasnya bergoyang mengikuti langkah. Rama sibuk menoleh ke kanan dan kiri,
Raka tidak langsung sadar saat ada yang berubah. Perubahan itu terlalu kecil untuk diberi nama. Tidak seperti ulang tahun, atau pindah rumah, atau kejadian besar lain yang biasanya mudah diingat. Ini lebih seperti sesuatu yang bergeser pelan, hampir tak terasa, tapi membuat pagi berjalan sedikit berbeda. Hari itu, Raka bangun sebelum alarm berbunyi. Ia mengucek mata, mendengar suara dari ruang tengah. Bukan suara Mama. Suara itu lebih berat, lebih pelan. Ada bunyi piring diletakkan dan suara air yang mengalir sebentar. Raka duduk di tempat tidur. Ia masih mengumpulkan nyawa sambil masih memasang telinga. Mencerna bunyi-bunyi yang familiar. Biasanya, jam segini Papa sudah tidak ada. Kadang hanya meninggalkan bau kopi dan pintu yang sudah tertutup pelan. Tapi pagi ini, Raka masih melihat sosok Papa yang berdiri di dapur ketika ia keluar kamar. “Papa?” tanyanya, setengah ragu.
Pagi di depan gerbang sekolah selalu terasa lebih ramai daripada yang Aluna bayangkan. Bukan karena suara anak-anak saja, tapi karena orang dewasa yang berkumpul dengan wajah-wajah berbeda. Ada yang penuh semangat, ada yang lelah, ada yang tampak sudah hafal ritmenya. Seragam putih-merah bergerak seperti arus kecil yang tidak pernah berhenti, tas-tas tergantung di punggung mungil, sepatu hitam beradu dengan aspal. Raka, Rama, dan Rajen berdiri di samping Aluna. Rama mencoba terlihat santai, meski pundaknya sedikit tegang. Raka terus menoleh ke kiri dan kanan, mengamati anak-anak lain. Rajen menggenggam ujung baju Aluna sebentar, lalu melepaskannya sendiri. Sebuah keberanian kecil yang Aluna catat tanpa komentar. “Masuk ya,” katanya lembut. Mereka mengangguk. Tidak serempak. Tidak dramatis. Lalu berlari kecil ke dalam halaman sekolah, bergabung dengan kerumunan yang perlahan menelan mereka. Aluna tidak langsung pergi.
Suara pintu yang tertutup kencang membuatku menoleh. Aku mengernyitkan kening.Bi Susan? Kok cepat?Aku segera melangkah keluar untuk menyambutnya. Tapi ada dua suara yang kudengar. Mereka saling bersautan. Suara Tama dan seseorang yang tidak kukenal tentunya. Keduanya terlibat perdebatan.Aku mera
Mimpi itu datang...Semerbak asap rokok, lampu disko yang berpijar dan juga suara musik di club membuatku mabuk. Dan semakin bertambah mabuk setelah aku menyesap habis empat batang rokok dengan sebotol vodka di tangan kananku. Aku bergoyang mengikuti irama musik, pinggulku kuliukan dengan sengaja
Tentang aku, hubunganku, dan kehidupanku. Semuanya terlihat suram tidak ada kejelasan sama sekali. Orang yang seharusnya dapat menjelaskan banyak hal padaku hanya diam tanpa mau memulai untuk berkomunikasi.Dimana salahnya? Apa yang harus aku lakukan untuk mendapat jawaban yang pasti, jawaban yang
Aku memilih blouse yang potongan dadanya sedikit aman meski tidak terlalu aman dengan paduan hotpants. Karena selain kedua outfit tersebut yang lain amat sangat tidak aman untuk digunakan. Belahan dada yang terlihat saat menggerakan tangan bahkan ada gaun pesta yang bagian punggungnya terbuka lebar












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore