Share

Menyerbu Kantor Papa

Penulis: Kara
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-11 18:34:09

Pagi itu, sinar matahari menyelinap lewat tirai jendela kamar Tama dan Aluna. Di meja kerja kecil di sudut kamar, beberapa dokumen penting sudah tertata rapi. Tama—atau Papa—baru saja menerima telepon dari asistennya yang mengingatkan bahwa hari ini ada pertemuan penting dengan para investor besar. Biasanya, ia akan berangkat sendiri dan memastikan rumah tenang. Tapi pagi itu berbeda: Aluna sedang ada janji dengan dokter gigi, dan pengasuh pembantu yang biasa datang mendadak izin.

“Bun, gimana ini? Aku harus berangkat sebentar lagi,” kata Tama sambil merapikan dasinya.

Aluna menoleh sambil menggenggam tangan Rajen yang baru bangun. “Aku nggak bisa batalin jadwal dokter. Mereka udah atur sejak bulan lalu. Kamu bisa nggak bawa mereka sebentar aja? Rapatnya kan nggak terlalu lama, ya?”

Tama memandang ketiga malaikat kecil yang sedang berguling-guling di atas karpet. Raka sudah memegang mobil mainan, Rama menarik bantal, dan Rajen sedang mencoba memakai kaus kebalik. Mereka tampak begitu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Mendadak Hamil Setelah Bangun dari Koma   Percakapan Tengah Malam

    Malam itu, rumah tertidur lebih cepat dari biasanya.Raka, Rama, dan Rajen tidak banyak protes saat lampu dimatikan. Tidak ada permintaan cerita tambahan. Tidak ada tawar-menawar lima menit lagi. Tubuh kecil mereka menyerah lebih cepat, seolah lelah hari itu bukan hanya di otot, tapi juga di sesuatu yang belum mereka pahami.Aluna berdiri lebih lama di depan pintu kamar anak-anak. Ia mendengarkan napas yang sudah teratur, memastikan tidak ada mimpi buruk yang datang diam-diam. Tangannya menyentuh gagang pintu dengan ragu sebelum akhirnya menutupnya pelan.Di ruang tengah, hanya satu lampu yang menyala. Redup. Cukup untuk membentuk bayangan, tidak cukup untuk mengusir sunyi.Tama duduk di sofa, punggungnya sedikit membungkuk, kedua telapak tangannya bertaut di depan. Ia tidak membuka ponsel. Tidak juga menyalakan televisi. Kepalanya penuh, tapi ia tahu, malam ini, tidak ada tempat untuk melarikan diri.Aluna duduk di sampingnya. Tidak terlalu dekat. Tidak jug

  • Mendadak Hamil Setelah Bangun dari Koma   Terpisah di Mall

    Akhir pekan datang dengan cara yang tidak istimewa.Tidak ada rencana besar. Tidak ada janji yang jauh-jauh hari disusun. Pagi itu hanya dimulai dengan Tama yang menutup ponselnya sebentar dan berkata, “Kita ke mall saja, yuk.”Kalimatnya terdengar ringan. Hampir santai.Aluna menoleh dari dapur, sendok masih di tangannya. Ia ragu—bukan karena tidak ingin, tapi karena tubuhnya masih terbiasa dengan ritme rumah yang sunyi di siang hari. Namun ia melihat ke arah anak-anak. Triplets langsung bereaksi, mata mereka berbinar seolah pintu dunia baru baru saja dibuka.“Mall?”“Yang ada mainannya?”“Yang banyak lampu?”Aluna tersenyum kecil. Ia tahu, belakangan ini mereka jarang pergi bersama. Terlalu banyak hari yang lewat begitu saja, masing-masing sibuk dengan versinya sendiri. Mungkin ini memang perlu.“Boleh,” katanya akhirnya. “Tapi pegangan tangan, ya.”Mall menyambut mereka dengan cahaya.Lampu-lampu putih menggantung tinggi. Etalase toko meman

  • Mendadak Hamil Setelah Bangun dari Koma   Rumah yang Sunyi di Siang Hari

    Pagi itu sudah terasa berbeda bahkan sebelum matahari benar-benar naik. Aluna menyadari saat suara rumah tidak langsung meledak seperti biasa. Tidak ada teriakan berebut kamar mandi. Tidak ada kaki kecil berlari tanpa arah. Suara-suara itu tetap ada tapi tidak terdengar bising. Raka memanggil adiknya, Rama tertawa terlalu keras, dan Rajen mengeluh soal sepatunya. Tapi semuanya terdengar lebih teratur, lebih hati-hati. Seperti anak-anak yang tahu hari ini bukan hari biasa. Seragam mereka sudah rapi sejak malam. Kemeja putih yang masih kaku, celana yang belum sepenuhnya mengikuti bentuk tubuh kecil mereka. Tas-tas yang tergantung di punggung, tampak terlalu besar untuk bahu yang masih sempit. Sepatu hitam mengkilap, solnya bersih, belum banyak mengenal jalan. Aluna berdiri di depan mereka satu per satu. Tangannya bergerak otomatis. Mengecek ke

  • Mendadak Hamil Setelah Bangun dari Koma   Pagi yang Tak Cerah

    Malam datang lebih cepat dari yang Aluna sadari.Setelah mandi dan makan malam, triplets kembali menjadi diri mereka yang biasa. Mereka bercanda kecil, saling menyela, lalu mengantuk hampir bersamaan. Rutinitas malam berjalan seperti biasa tanpa hambatan yang berarti. Seolah kejadian sore itu tidak pernah ada.Aluna membantu mereka naik ke tempat tidur. Ia membacakan cerita singkat, dongeng malam yang menjadi rutinitas. Suaranya pelan dan sedikit serak. Tapi tidak membuat triplets protes, bahkan mereka masih mendengarkan dengan tenang. Tidak berselang lama, mata mereka setengah terpejam dengan tangan kecil mereka yang masih menggenggam erat ujung selimut.“Besok boleh main lagi?” tanya Rama memastikan, suaranya hampir tertelan kantuk.“Kita lihat besok, ya,” jawab Aluna lembut.Ia mematikan lampu kamar anak-anak, menutup pintu perlahan, lalu berdiri sebentar di lorong. Rumah terasa tenang, tapi kepalanya masih ramai. Ia mendengar suara Tama di ruang kerja. Pria i

  • Mendadak Hamil Setelah Bangun dari Koma   Main yang Tak Selalu Menyenangkan

    Sore itu datang dengan cuaca yang nyaris sempurna. Langit tidak terlalu terik, angin bergerak pelan di antara pepohonan kecil di pinggir jalan, dan halaman rumah terasa lebih hidup dari biasanya. Tawa anak-anak menggema, ringan dan jujur, memantul dari pagar ke pagar seolah sore memang diciptakan untuk mereka. Triplets bermain dengan anak tetangga. Aluna duduk di teras, secangkir teh hangat di tangannya. Ia mengawasi mereka dari kejauhan. Tidak terlalu dekat, tidak juga benar-benar lepas. Posisi yang selama ini ia anggap paling aman. Anak-anaknya tertawa keras, berlarian, sesekali jatuh lalu bangkit lagi tanpa drama. Ada satu anak dari rumah sebelah, sedikit lebih besar, geraknya lebih yakin, suaranya lebih dominan. Untuk sesaat, pemandangan itu terasa… indah. Aluna tersenyum kecil. Pemandangan seperti ini jarang ia nikmati tanpa rasa khawatir. Dunia anak

  • Mendadak Hamil Setelah Bangun dari Koma   Tetangga Baru (bag 2)

    Siang datang tanpa banyak perubahan, tapi kejadian pagi itu tidak benar-benar pergi dari benak Aluna. Wanita itu sudah berusaha menjalani hari seperti biasa. Ia menyapu halaman, menjemur pakaian, menyiapkan makan siang. Gerakannya rapi, teratur, seperti orang yang tahu persis apa yang harus dilakukan agar hari tidak berantakan. Namun sesekali, pikirannya melompat kembali ke halaman sebelah, ke kardus yang oleng, ke suara jatuh yang keras, ke tangis singkat yang terasa terlalu ramai untuk pagi yang seharusnya tenang.Ia menegur dirinya sendiri dalam hati.Tidak ada yang perlu dipikirkan terlalu lama.Tapi tetap saja, rasa itu masih tinggal.Triplets kini sudah bermain di ruang tengah. Sesekali mereka melirik ke jendela, memastikan truk pindahan masih ada. Kadang mereka bertanya, “Mama, Tante Mira lagi ngapain?” atau “Mama, nanti boleh main ke sana?” Aluna menjawab singkat, mencoba menjaga antusiasme mereka tetap terkendali.“Nanti, ya," selalu menjadi jawabannya.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status