LOGINDi Istana Selir Shofia, aroma dupa memenuhi udara, membungkus ruangan dengan ketenangan palsu yang rapuh.
Wanita itu duduk bersila di depan altar Buddha, tasbih kayu cendana melingkar di jemarinya.Bibirnya bergerak pelan melantunkan doa, namun tak satu pun kata benar-benar menenangkan hatinya.Wajah Selir Shofia tampak lebih pucat dari biasanya. Sorot matanya gelisah, seolah ada bayangan jaring besar yang perlahan menutup dari segala arah, siap menangkap dan menjDiana duduk dengan tenang di kursi kayu jati yang diletakkan tepat di samping ranjang besar milik Arthur. Jemarinya yang ramping bergerak perlahan, mengaduk sup obat di dalam mangkuk keramik kecil dengan gerakan ritmis yang konstan.Arthur, Sang Kaisar Norvenia yang biasanya tampak perkasa, kini berbaring dengan posisi yang diatur sedemikian rupa agar tampak seperti seorang pesakitan yang benar-benar tak berdaya. Lilitan perban di kening dan kakinya masih terpasang rapi—meskipun Diana tahu persis bahwa "luka parah" itu hanyalah tameng untuk menghindari kejaran para selir."Minum ini," ucap Diana pendek. Ia menyendokkan cairan kental berwarna gelap itu dan menyodorkannya ke arah bibir Arthur.Arthur menghirup aroma uap yang menguar dari sendok tersebut. Seketika, keningnya berkerut dalam, dan ia memalingkan wajahnya sedikit. "Baunya sangat menusuk, Diana. Bukankah luka-lukaku hanya di area luar? Mengapa aku harus meminum sup obat yang aromanya seperti empedu ini?"Diana menaikkan ali
Langkah kaki Denada di atas hamparan salju yang membeku terdengar seperti rintihan halus yang pecah di bawah beban berat hatinya. Perjalanan kembali dari Istana Isabella terasa jauh lebih panjang daripada saat ia berangkat. Di sekelilingnya, udara musim dingin Kekaisaran Delore begitu menusuk, seolah berusaha membekukan setiap jengkal kulit yang terekspos. Namun, rasa dingin itu tidak sebanding dengan kegaduhan yang sedang berkecamuk di dalam benaknya.Ucapan Isabella di meja teh tadi masih terngiang-ngiang, berputar seperti pusaran angin puyuh yang tak mau berhenti."Berhasil membuat pria itu jatuh cinta pada Anda... Dukungan militer klan Rumi akan menjadi pedang yang paling mematikan jika ia mengayunkannya demi cinta."Denada mencengkeram kain hanfu sutranya dari balik jubah mantel dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Itu gila, batinnya dengan napas yang mulai memburu. Bagaimana mungkin ia bisa memikirkan hal sekeji itu? Menggunakan perasaan seseorang—perasaan tu
Denada melangkah menyusuri selasar panjang yang menghubungkan paviliun utama dengan kediaman Isabella. Jubah mantelnya yang berwarna kelabu kebiruan menyapu lantai marmer dengan suara seretan halus yang ritmis. Di belakangnya, Cucu berjalan dengan kepala tertunduk, membawa kotak obat kecil yang berisi ramuan pemulih luka. Dan tepat di samping mereka, berdiri sosok yang kini seolah menjadi bayangan tak terpisahkan dari Denada, Althaf Rumi. Althaf melangkah dengan ketegasan yang tak tergoyahkan. Zirah ringannya berkilauan meski cahaya matahari terhalang kabut, dan tangan kanannya selalu siaga di dekat gagang pedang. Sejak kejadian di ruang kerja tempo hari, Alon seolah memberikan instruksi mutlak agar ksatria ini menjadi pengawal pribadi Denada. Denada sering mencuri pandang ke arah pria di sampingnya itu, bertanya-tengah dalam hati, apakah Alon benar-benar ingin melindunginya karena rasa "cinta" obsesifnya yang palsu, ataukah Althaf sebenarnya adalah mata-mata paling berbahaya
Diana melangkah keluar dari lingkaran tirai peraduan Arthur. Aroma obat-obatan yang tajam masih menempel di ujung hidungnya, bercampur dengan aroma dupa krisan yang menenangkan. Namun, belum sempat ia melintasi ambang pintu untuk menuju selasar istana, sebuah tarikan lembut namun erat menahan pergelangan tangannya. Diana berhenti dan menoleh perlahan. Di atas ranjang, Sang Kaisar yang baru saja bersandiwara menderita luka parah meskipun keningnya memang benar-benar terluka itu kini menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan—sebuah tatapan yang penuh dengan tuntutan perhatian yang kekanakan di balik topeng wibawanya. "Kau juga ingin pergi?" tanya Arthur. Suaranya rendah, seolah sedang menimbang-nimbang apakah ia harus merajuk lebih jauh atau tetap pada skenario "sakit parah"-nya. Diana menatap tangan Arthur yang mencengkeramnya, lalu beralih menatap wajah suaminya itu dengan tatapan datar yang menusuk. "Bukankah sakit Yang Mulia cukup parah? Menurut diagnosa tabib tadi, And
Diana melangkah dengan martabat seorang Permaisuri yang tak tergoyahkan. Meskipun perutnya yang besar membuatnya harus berjalan lebih lambat dan hati-hati, aura otoritas yang dipancarkannya justru semakin tajam. Di halaman depan istana, pemandangan yang tidak biasa tersaji. Belasan selir dari berbagai tingkatan sudah berlutut gemetar di atas lantai marmer yang keras. Wajah mereka tertunduk dalam, tangan-tangan mereka saling bertaut erat, dan isak tangis kecil terdengar samar di antara desau angin.Diana mengerutkan keningnya dalam-dalam. Matanya menyapu barisan wanita-wanita cantik yang kini tampak seperti pesakitan itu. Perasaan jengkel mulai merayap di dadanya. Drama apa lagi yang diciptakan pria itu hari ini? batinnya ketus. Tanpa memberikan sepatah kata pun pada para selir yang ketakutan itu, Diana melanjutkan langkahnya masuk ke dalam istana, diikuti oleh Embun yang selalu sigap di belakangnya.Begitu memasuki ruang peraduan Kaisar, aroma obat-obatan herbal yang sangat menyen
Keheningan yang mencekam segera menyelimuti ruang kerja Alon begitu derap langkah sang Kaisar menghilang di balik pintu mahoni yang berat. Denada masih terduduk di atas meja jati yang berantakan, napasnya perlahan mulai teratur, namun tatapannya kosong menatap dinding pualam yang dingin. Dengan gerakan pelan, Denada turun dari meja. Kakinya yang telanjang menyentuh lantai marmer yang dingin, mengirimkan sensasi menggigil ke seluruh tubuhnya. Ia mulai memunguti helai demi helai pakaiannya yang berserakan—sutra hitam yang koyak di beberapa bagian, ikat pinggang yang terlempar jauh, dan jubah luar yang tergeletak malang. Ia memakainya kembali dengan tangan yang stabil, mengancingkan setiap simpul dengan ketelitian yang menakutkan. Tidak ada pelayan yang membantu, dan ia memang tidak menginginkan siapa pun melihat sisa-sisa "pertempuran" yang baru saja ia lalui.Setelah pakaiannya rapi kembali, Denada tidak segera beranjak pergi. Ia menunduk, menatap dokumen-dokumen yang tadi menjadi
Harsa mengendarai kudanya dengan tergesa, derap tapal kuda memecah keheningan halaman istana. Jubahnya berkibar tak beraturan, napasnya sedikit memburu—bukan karena jarak, melainkan karena nama yang terus berdengung di kepalanya sejak kabar itu sampai ke telinganya.Diana.Begitu ia mendengar bahw
Karin membuka matanya dengan sentakan tajam. Jantungnya berdegup keras bahkan sebelum telinganya benar-benar menangkap apa yang sedang terjadi. Udara di kamarnya terasa aneh—terlalu dingin, terlalu sunyi, seolah seluruh Istana menahan napas. Lalu suara itu terdengar lagi. Denting logam. Lang
Bangunan kayu itu berdiri sunyi di tengah hutan, sederhana dan nyaris tak mencolok jika tidak tahu keberadaannya. Dindingnya terbuat dari papan kayu tua yang tersusun rapi, atapnya rendah, dan hanya ada satu lentera kecil yang tergantung di depan pintu, memancarkan cahaya kuning temaram. Tempa
Keesokan paginya, cahaya matahari musim dingin menyelinap lembut ke dalam ruang makan Istana Putra Mahkota. Uap tipis mengepul dari hidangan hangat yang tersaji rapi di atas meja panjang, aroma kaldu dan daging panggang bercampur dengan wangi teh pagi yang menenangkan. Namun k







