ログインAku terbangun di dalam novel yang kubaca, sebagai istri kedua pangeran kejam yang mati di bab 80. Seorang wanita lemah, hanya alat untuk melahirkan pewaris, lalu dibunuh oleh permaisuri bermuka lembut. Masalahnya, jiwa di tubuh ini adalah mahasiswa Kriminologi dengan mental baja dan nalar tajam. Aku tahu cara membaca kebohongan dan tahu siapa yang akan membunuhku. Jika kematian adalah akhir yang ditulis untukku, maka aku akan mematahkan takdir itu! Kali ini, yang akan mati bukan aku.
もっと見る“Kau hanya perlu menjalankan tugasmu! Hamil dan melahirkan. Jangan pernah berharap ada cinta di dalam pernikahan ini,” peringat Alex Harrington pada Isabella Laurent tepat sebelum pergi meninggalkan pesta pernikahan.
Isabella tidak tercekat. Ia justru tersenyum tipis. “Saya mengerti, Yang Mulia. Namun … saya juga berharap Yang Mulia memahami bahwa seorang wanita yang melahirkan pewaris tetaplah manusia … bukan benda tak bernyawa.”
Tatapan Alex mengeras. Jelas, ia tidak menyangka wanita yang sejak tadi tampak patuh itu berani bicara seperti itu, terlebih di hari pernikahan mereka.
...
Brak!
Daun pintu itu terbuka kasar.
Seorang wanita bertubuh gempal menerobos masuk ke dalam kamar, napasnya memburu seolah tak punya waktu untuk bersabar. Langkahnya cepat dan berat, gaun linennya menyapu lantai tatkala ia berhenti di tepi ranjang berkanopi. Tatapannya yang tajam langsung tertumbuk pada seorang gadis yang terbaring di atas ranjang.
Wanita itu maju selangkah, kedua tangan bertolak di pinggang. “Kenapa kau belum juga berganti pakaian?” suaranya dingin dan intimidatif.
Di atas ranjang, Isabella Morrison tersentak bangun mendengar suara yang memekakkan telinga itu. Ia mengangkat wajah dengan mata kebingungan. Tatapannya kosong seperti seseorang yang baru terbangun dari mimpi buruk. Namun tak berselang lama, ekspresi di wajahnya melunak dan kembali tenang.
Argh, ia lupa sudah empat bulan lamanya, ia memasuki tubuh barunya, Isabella Laurent. Salah satu tokoh novel yang ia baca.
Isabella Laurent adalah istri kedua Pangeran Alex Harrington dalam novel The Virtuous Empress, seorang karakter sampingan yang mati dibunuh oleh permaisuri setelah melahirkan pada bab delapan puluh.
“Isabella?” wanita itu mengerutkan kening, suaranya meninggi. “Apa kau tuli? Hari ini kau akan pergi ke istana. Jangan buat ayahmu makin malu!”
Kalimat itu cukup untuk membuat dada Isabella mengencang. Argh, ia benar-benar lupa tanggalnya. Hari ini adalah hari di mana dia akan pergi ke istana lalu menikah dengan pangeran kerajaan Ashmond.
“Kenapa kau bengong? Dasar anak bodoh! Cepat! Waktu kita tidak banyak,” sungut wanita bernama Olivia dengan menghentakkan kakinya kesal, meninggalkan gadis itu.
Isabella termangu beberapa detik setelah pintu kamar tertutup. Ia menegakkan punggungnya lalu turun dari ranjang dan berjalan menuju cermin berbingkai perak yang berada di atas nakas.
Wajah asing itu menyambutnya lagi. Rambut tebal berwarna coklat madu dan manik mata berwarna sebiru langit. Sudah empat bulan lamanya, akan tetapi setiap kali ia menatap pantulan dirinya di depan cermin, ia tetap merasa seperti seorang penumpang gelap.
“Aku benar-benar tidak bisa kembali, ya,” monolognya dengan helaan napas panjang.
Isabella termangu sesaat. Tangannya terulur, menggenggam gaun sederhana milik Isabella Laurent—gaun yang seharusnya tidak pernah ia kenakan.
Dalam ingatan cerita itu, wanita yang seharusnya menikah dengan Alex Harrington adalah kakaknya, Alice Laurent. Bukan dirinya. Namun kakaknya menolak mentah-mentah pangeran itu karena citra buruknya sehingga dia yang menggantikannya.
Sebuah pikiran nekat menyusup tiba-tiba. Bagaimana jika aku melarikan diri saja?
Jika ia tetap menikah, ia tahu persis apa yang menantinya. Cerita hidupnya berakhir di bab delapan puluh dengan sangat mengenaskan. Betapa tidak, ia akan mengalami hamil lalu melahirkan. Setelah itu permaisuri membunuhnya dengan cara yang keji dan merebut anaknya.
Namun pikirannya terhenti saat ia melirik ke luar jendela berpetak. Beberapa prajurit berjaga di halaman depan, berdiri tegak dengan tombak terhunus di sisi tubuhnya. Tatapan mereka waspada, seolah menunggu siapa pun yang berani melangkah keluar tanpa izin.
Mereka datang bukan untuk menjemputnya dengan hormat. Namun, mereka datang untuk memastikan ia tidak kabur.
Yang lebih mengerikan, keluarga Laurent bisa dihukum mati jika melanggar perjanjian dengan istana. Sebuah perjanjian yang ditandatangani ayahnya demi menyelamatkan bisnis keluarga yang bangkrut.
Memikirkan itu semua, Isabella meneguk salivanya, tenggorokannya terasa kecut.
Melarikan diri bukanlah pilihan. Itu hanyalah khayalan konyol dari seseorang yang baru saja menyadari bahwa takdirnya telah ditentukan sejak awal.
Nasibnya seperti seekor kerbau yang dicucuk hidungnya. Ia harus menghadapi takdir pernikahan itu dan menemukan cara agar bisa mengubah alur cerita agar ia tidak mati mengenaskan seperti dalam novel.
…
Satu jam kemudian Isabella sudah berada di dalam kereta berornamen emas khas kerajaan Ashmond. Ia duduk gelisah. Sesekali ia memilin jari jemarinya tanpa sadar.
“Kau kenapa?” Olivia menatapnya dalam, kerutan tajam membelah dahinya. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya, mengamati mimik muka putri bungsunya.
Isabella menelan salivanya. Otaknya bekerja cepat, menyaring kata-kata agar tidak memicu amarah wanita itu. “Ibu, apakah pangeran benar-benar tidak keberatan?” tanya Isabella spontan.
Olivia mengangkat satu alisnya. “Keberatan apa?”
Isabella menarik napas dalam lalu mengembuskannya perlahan. “Aku bukan Alice. Dia pasti kecewa calon pengantinnya berganti,”
Dalam novel, Isabella pernah menanyakan pembatalan pernikahan dan hasilnya … adalah tamparan keras. Dan, ia tidak mau mengulangi kesalahan itu.
Olivia menarik napas dalam sebelum menimpali. “Pangeran Alex tidak mempermasalahkannya. Yang penting, kau masih darah keluarga Laurent. Itu sudah cukup.”
Isabella menundukan wajahnya. Jemarinya meremas rok gaunnya pelan. Satu hal yang ia sadari, istana sama sekali tidak peduli pada siapa wanita yang berdiri di sisi pangeran. Istana hanya membutuhkan wanita yang bisa melahirkan pewaris.
Dan ketika tugas itu selesai, Isabella mungkin tak akan diberi kesempatan untuk hidup setelahnya.
“Apa? Dia meminta menu yang sama seperti menu yang aku makan?” Helena mendengus kesal setelah mendapat laporan dari Jehanne. Koki itu pergi melapor pada Helena di istana Rose saat malam ketika Isabella sudah tertidur. Ia merasa takut karena ancaman Isabella yang terlihat serius dan tidak main-main. Dan, ia tidak mau mengambil resiko mencuri bahan makanan yang berada di dapur utama. Oleh karena itu, ia memilih jujur pada Helena. Wajah Helena menegang. Otot-otot rahangnya terlihat jelas. Gigi geliginya gemeretak pertanda dia menahan kemarahan yang luar biasa pada Isabella. Ia membelakangi Jehanne, menatap jendela dengan tatapan yang membunuh. Ia menatap pantulan wajahnya yang tampak dingin dengan perasaan yang berkecamuk. Tidak terpikirkan olehnya sosok istri ke dua pangeran Alex ternyata tak ubahnya para wanita pada umumnya—para mistress raja atau kaum bangsawan di istana. Ya, kerajaan Barat memang tidak mengenal selir. Mereka biasanya menganut monogami, hanya menikahi satu istri k
Jamuan pagi telah usai. Isabella keluar dari balairung istana Ashmond ditemani pelayan wanita muda bernama Mona. Gadis itu bertugas melayaninya selama tinggal di paviliun Honeysuckel. “Nyonya, maafkan hamba tidak tahu kalau Anda sedang sakit. Jika tahu, hamba akan membuatkan minuman herbal untuk Anda,”Alih-alih merespon Mona, Isabella mencondongkan tubuhnya, mendekatinya. “Apa benar Putri Helena tidak bisa memberi pangeran Alex keturunan?”Mona tersentak, matanya bergerak gelisah seperti menunjukan secara tidak langsung tanda nonverbal dari seseorang yang menyembunyikan rahasia terbesarnya. Namun sedetik kemudian ia mengangguk. “Benar, Nona. Tapi … sebaiknya, Nona jangan bertanya lagi. Istana memiliki mata dan telinga.”Isabella mendengus kesal. Di kepalanya, ia tengah menyusun potongan teka teki tentang ‘kekuasaan.’ Jika Helena memang mandul, maka rahimku bisa menjadi ancaman sekaligus aset politik terbesar di Ashmond. Hem, pantas saja Helena langsung menyingkirkanku saat aku baru
Alex mulai mendaratkan kecupan singkat di ceruk leher Isabella. Seketika kepala gadis itu kosong. Ia harus melakukan sesuatu atau ia kehilangan kendalinya. Alex mulai melonggarkan ikatan jubah tidurnya sendiri, memperlihatkan perut rata dengan kontur otot yang jelas. Untuk sesaat, Isabella termangu. Wajahnya menegang. Bahkan ia merasa kesulitan hanya untuk bernapas. Dan, saat itulah tanpa ia sadari tubuhnya didorong pelan oleh pria yang kini menjadi suaminya hingga jatuh ke atas ranjang. “Aku tidak punya alasan untuk menunda malam pertama. Ayo kita selesaikan,” suaranya serak. Ia sendiri tidak tahu kenapa di depan gadis itu hasratnya naik begitu cepat. Ini benar-benar di luar ekspektasinya. Tujuan kedatangannya ke sana hanyalah karena ‘penasaran’.Detik berikutnya pria itu naik ke atas ranjang, menindih tubuh Isabella. “Yang Mulia,” kata Isabella tangannya berusaha menahan dada pria itu. Naasnya, dengan gerakan pelan, Alex mengunci ke dua tangannya di atas kepalanya. Tubuhnya men
“Apa yang kau katakan tadi?” tanya Alex singkat. Tatapannya tertumbuk ke arah pengawalnya. Pengawal itu menelan salivanya sebelum menjawab. Ia mengangkat mata lalu berusaha menjawab. “Duchess Isabella tampak bahagia ketika mendengar Yang Mulia tidak akan datang malam ini.”Seketika udara terasa menegangkan. Hanya deru napasnya sendiri yang terdengar. “Menarik,” gumamnya sembari menatap lurus ke depan. Ekspresinya tetap datar. Namun entah kenapa, kalimat itu terdengar aneh di telinganya. Atau lebih tepatnya tidak nyaman.Bahagia? Seharusnya gadis itu kecewa dan sedih mendengar kabar suaminya tidak datang saat malam pengantin mereka, pikirnya. Alex berubah pikiran. Ia—yang tadinya ingin bermalam bersama Helena memutuskan untuk pergi ke paviliun Honeysuckle. Ia menoleh ke arah pengawalnya. “Siapkan kereta sekarang!”“Euh.” Sang pengawal sampai terhenyak mendengarnya. Bukan tanpa alasan, sejak pesta pernikahan berlangsung, ia melihat Alex sama sekali tidak menunjukan rasa ketertarika






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.