ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM

ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM

last updateLast Updated : 2026-05-24
By:  PiemarUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
10
13 ratings. 13 reviews
164Chapters
11.2Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Aku terbangun di dalam novel yang kubaca, sebagai istri kedua pangeran kejam yang mati di bab 80. Seorang wanita lemah, hanya alat untuk melahirkan pewaris, lalu dibunuh oleh permaisuri bermuka lembut. Masalahnya, jiwa di tubuh ini adalah mahasiswa Kriminologi dengan mental baja dan nalar tajam. Aku tahu cara membaca kebohongan dan tahu siapa yang akan membunuhku. Jika kematian adalah akhir yang ditulis untukku, maka aku akan mematahkan takdir itu! Kali ini, yang akan mati bukan aku.

View More

Chapter 1

Bab 1

“Nyonya, Pangeran Alex tidak akan datang malam ini.”

Jemari Isabella yang tengah berjuang melepaskan mahkota di kepalanya seketika berhenti. Matanya berkedip cepat. 

“Pangeran Alex memutuskan akan menghabiskan malam bersama Putri Helena,” lanjut pria itu dengan nada rendah dan hati-hati seperti sedang menyampaikan kabar dukacita. 

Seketika keheningan turun. Matteo sudah bersiap-siap jika istri kedua sang pangeran ini akan mengamuk atau minimal vas bunga Murano di atas meja akan mendarat di wajahnya. Namun, detik berikutnya, pundak Isabella justru berguncang. 

Isabella menoleh dengan mata yang berbinar terang. “Serius? Dia benar-benar ke tempat Helena dan tidak akan kembali ke sini sampai pagi?” Jawabnya dengan tawa kecil. 

Dahi matteo berkerut dalam, bingung. “Benar, Nyonya, Pangeran Alex minta maaf karena—”

“Oh, tidak perlu meminta maaf! Sungguh ini berita luar biasa,” potong Isabella nyaris melompat kegirangan. Kemudian ia merogoh kantong uangnya. Ada puluhan koin perak dan satu koin emas di dalamnya. Namun ia mengambil satu koin emas kemudian melemparkannya pada Matteo yang menangkapnya dengan gerakan reflek. “Untukmu karena sudah membawa kabar baik,” 

“Nyonya?” seru Matteo, matanya membulat. 

“Cepat, panggilkan Mona! Katakan padanya aku ingin anggur terbaik sekarang juga!?” titah Isabella tak memberi kesempatan pada pengawal itu untuk protes. 

Matteo langsung mengangguk patuh kendati isi kepalanya gaduh. Di matanya, Isabella anomali. Di saat para wanita lain berlomba ingin menarik perhatian sang pangeran, ia justru memilih menjauh seolah pangeran itu kuman. 

Matteo keluar dari paviliun dengan otak yang kosong. Ia menunggangi kuda miliknya menuju istana Rose, di mana Alex Harrington sedang berdiri mematung sembari menyesap anggur mahal dengan rahang yang mengeras. 

Alex sebetulnya merasa bersalah karena tidak menemui istri barunya di malam pertama mereka. Bagaimanapun, tanggung jawab politik memaksanya untuk bermalam di istri pertama. 

Ketika Matteo menghampirinya, Alex bertanya penasaran. “Bagaimana reaksinya?” 

Matteo terdiam beberapa saat. 

“Dia menangis? Dia pasti marah,” ucap Alex menyimpulkan. Helaan napas berat lolos dari bibirnya. 

Matteo berdehem canggung, tangannya meremas koin emas di sakunya. “Maaf, Yang Mulia. Nyonya Isabella tidak menangis atau marah. Beliau justru memberikan hamba koin emas sebagai hadiah karena membawa berita itu.”

Alex menurunkan gelas bertangkai di tangannya. Matanya memicing. “Hadiah?”

“Nyonya terlihat sangat bahagia, Yang Mulia. Bahkan hamba mendengar tadi ia mengucapkan syukur lalu menyuruh pelayan Mona untuk membawakannya anggur terbaik istana,”

Brakkk!

Alex menaruh gelas Venesia itu ke atas meja dengan keras hingga isi di dalamnya memercik. “Dia bilang apa? Syukur?” 

Seketika udara terasa menipis. Yang terdengar hanya deru napasnya sendiri.

“Menarik,” desisnya lirih, tatapannya lurus ke depan. Salah satu sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai tipis. 

Bahagia? Syukur? 

Seharusnya gadis itu kecewa dan sedih mendengar kabar suaminya tidak datang saat malam pengantin mereka, pikirnya. 

Alex berubah pikiran. Ia memutuskan untuk pergi ke paviliun Honeysuckle. 

Pria berwajah tampan tapi dingin itu menoleh ke arah pengawalnya. “Siapkan kuda sekarang!”

Dengan langkah cepat, sang pengawal menyeret kakinya untuk menyiapkan kuda untuknya. 

Kini Alex sudah berada di depan pintu Paviliun Honeysuckle. Ia mengetuk pintu dengan ritme pelan. 

Seorang pelayan terhenyak saat melihat kedatangannya. Sang putra mahkota berdiri dengan aura yang kharismatik dan intimidatif.  

Gegas, ia membungkuk hormat. “Yang Mulia—” kata-katanya terputus. Bahkan sebelum selesai berbicara.  

Hanya dengan melihat tatapan Alex, pelayan itu langsung menguak daun pintu dengan lebar, memberi ruang sang pangeran untuk masuk.  

Tanpa sepatah kata pun Alex melesak masuk ke dalam paviliun lalu berjalan menuju kamar tidur Isabella. Pangeran itu berhenti sejenak di depan pintu, jemarinya menyentuh cincin perunggu yang dingin. Perlahan ia mendorongnya. Dan, engselnya berdecit lirih. Rupanya, istri ke duanya tidak mengunci kamarnya.  

Ketika pintu terbuka, Isabella terkesiap melihat siapa yang datang. Cangkir porselen import yang dipegangnya nyaris jatuh. Untunglah, ia buru-buru menaruhnya di atas meja kendati dalam perasaan yang ketar-ketir akibat tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, melihat kedatangan pangeran yang tiba-tiba. 

“Yang Mulia,” seru Isabella menegakkan tubuhnya, terpaksa. Ia melakukan hormat sebagai formalitas. “Hamba mengira … Anda sedang berada di istana Rose bersama Putri Helena.”

Alex tidak menjawab. Ia justru melangkah maju, setiap hentakan sepatu duckbill miliknya di lantai terasa menyesakkan dada Isabella. 

Langkahnya berhenti tepat di depan istrinya. Sangat dekat. Isabella bahkan bisa menghidu aroma maskulin yang menguar dari tubuh liatnya. 

Alex menatap Isabella lekat. Matanya bergulir, memindai penampilannya dari pucuk kepala hingga ujung kaki. 

Isabella mengenakan gaun tidur sutra tipis berwarna putih yang hanya dilapisi jubah tidur yang longgar. Tentu saja, gaun itu memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Rambut madunya terurai berantakan. Sekilat, ia seperti seorang wanita yang memang sedang menantikan kehadiran suaminya. 

Namun, bagi gadis itu, tentu saja ini bukan tentang malam pertama yang senantiasa didambakan oleh kaum hawa, melainkan kekecewaan besar karena merasa waktu pestanya terusik. 

“Kau memberikan koin emas pada ajudanku hanya karena aku tidak datang, Isabella?” bisik Alex, suaranya parau di daun telinga Isabella. 

Isabella tercekat. Tubuhnya menegang, napasnya tertahan. 

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviewsMore

Nia Khair
Nia Khair
serius ini seru banget ceritanya... sangat menghibur dan tidak membosankan.. recommended buat di baca pokonya
2026-05-19 19:09:24
1
0
Andri Ati
Andri Ati
ceritanya seru....update terus thor...
2026-05-17 19:28:18
1
0
Leny Iswandi
Leny Iswandi
min,ini ceritanya sampai bab brp ya?
2026-05-13 17:19:07
3
1
Leny Iswandi
Leny Iswandi
menarik.kadang ada lucu2 nya
2026-05-11 15:27:37
3
0
MassAzfa
MassAzfa
Kisah Cinta Penuh Konflik Nanang Dan Lina Melawan Janda Gila. Judul : Sisi Liar Mas Nanang Izin Promo ya Author, Thanks U
2026-05-09 14:35:55
4
0
164 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status