MasukAku mencintai suamiku, mengejarnya seperti anjing gila, menurutinya bagai budak rendahan. Tapi di hari aku tahu selingkuhannya tengah hamil anaknya dan ingin merebut posisiku sebagai Marchioness, selingkuhannya membunuhku. Namun, aku hidup kembali tepat di hari pernikahan kami. Tak ingin mengulang kesalahan yang sama, aku mengganti calon pengantin pria di hari itu juga! Sang Duke dari Utara, yang kabarnya tak ada wanita yang bisa mendekatinya, bersedia untuk menikahiku. Anehnya, semakin aku menjauh dari mantan suamiku, semakin dia mengejarku gila-gilaan! Tapi suami baruku memelukku dengan posesif, "Tak akan kubiarkan sampah ini menyentuh istriku, bahkan seujung helai rambut pun!"
Lihat lebih banyakTubuh Alinea Tyranne terdampar di tanah, darah mengaliri sebongkah batu di belakang kepalanya. Rasa sakit yang hebat menjalar, hingga ia kesulitan bernapas.
Di atas sana, ia dapat melihat langit mendung terhampar luas, dan dua orang yang baru saja mendorongnya dari ketinggian balkon.
Wanita itu, Karina Granners, adalah selingkuhan suaminya. Dan di sampingnya… Marquess Haren Tyranne, suami Aline sendiri.
Hari ini, ia mengetahui kebenaran itu. Karin hamil anak Haren.
Demi menjaga martabat pernikahan mereka, Aline datang menawarkan tambang emas agar kandungan di luar nikah itu digugurkan. Untuk membicarakannya, ia mendapat undangan makan malam di balkon vila pribadi Haren.
Undangan yang ternyata sebuah jebakan.
“Apa kau tahu, Aline?” Bisikan Karin terngiang di telinga Aline sebelum ia didorong dari tepi balkon.
“Pernikahanmu dengan Haren hanyalah untuk balas dendam pada keluargamu yang sudah mengacaukan rencananya mengambil gelar Duke. Setelah menguasai harta keluargamu, dia sudah merencanakan caramu mati.”
“Dan di sinilah kamu akan mati.”
Karin membongkar semuanya, sebelum mengantarkannya pada kematian.
Haren tidak pernah mencintainya. Di masa lalu, orang tua Aline meninggal sebab mereka telah menyelamatkan nyawa Duke Daryl. Namun itu justru menjadi kegagalan rencana kudeta sang Marquess.
Oleh karenanya, Haren merencanakan balas dendam. Demi mengambil kuasa dan harta keluarga Baron Shanzai, ia pun menikahi Aline.
Setelah dibutakan oleh rasa cintanya pada Haren, bagaimana Aline harus menerima kenyataan itu?
Bahwa ia tidak hanya dibohongi, dikhianati, tapi suaminya bahkan merencanakan kematian istrinya di tangannya sendiri.
Aline mendongak, melihat Haren berdiri di sisi Karin di tepi balkon itu. Pria itu berdiri dengan tenang. Tidak ada sedikit pun kecemasan di wajah pria itu. Tidak ada penyesalan.
Hanya tatapan dingin yang memandangnya seperti seseorang yang tidak pernah berarti apa-apa.
“Kenapa…?” suara Aline serak.
Pria yang ia cintai, keluarga yang ia banggakan, bahkan pernikahan yang ia pertahankan mati-matian, semuanya hanya bagian dari permainan mereka.
Di akhir hidupnya, ia menyadari penyesalan terbesarnya.
Air mata menetes dari ujung matanya, bercampur dengan darah yang mengalir. Seluruh badannya bergetar dengan rasa sakit.
Mata Aline menutup, sebelum jiwanya benar-benar lepas dari raganya.
Lalu sunyi.
Hampa.
Kosong.
Untuk beberapa saat, sebelum sebuah suara memanggilnya kembali ke alam sadar.
"Aline?"
"Alinea Sei Shanzai! Kau mendengarku?!"
Suara itu terdengar memanggil dengan tak sabar. Tapi kenapa ia menyebut Aline dengan nama gadisnya sebelum menikah?
Aline membuka mata.
Aroma bunga putih memenuhi hidungnya. Suara riuh tamu terdengar samar.
Ia berdiri di halaman kediaman Baron Shanzai.
Di hadapannya, Haren mengenakan pakaian putih resmi. Penampilannya begitu tampan.
Aline terdiam. Ia juga menyadari bahwa kini, ia berdiri di hadapan pria itu dengan gaun pengantin putih yang anggun.
"Aku harus pergi. Karina mengalami kecelakaan kereta kuda. Kondisinya kritis. Tunda pernikahan ini. Kita lanjutkan setelah Karin sehat. Kau mengerti?" tajam tatapan Haren, mengisyaratkan keegoisan.
Aline sendiri masih memastikan kalau ini bukanlah mimpi, bukan pula ilusi, dia sungguh kembali. Ke hari pernikahannya yang batal dengan Haren.
Seolah tak didengar, Haren berucap lagi, memastikan wanita ini mengerti.
"Aline, dengar! Aku tidak butuh persetujuanmu, aku harus pergi, ini soal hidup dan mati Karina. Jangan berulah, kau mengerti?!" suara dingin, dengan kalimat diktator, anti-penolakan, seolah kata-katanya adalah keputusan yang mutlak.
Ingatan Aline jatuh dari ketinggian masih terasa nyata. Amis darah belum hilang dari radar hidungnya. Rasa sakit saat kepalanya menghantam batu masih jelas di benaknya.
Dia akhirnya sadar, ini bukan mimpi, tapi…
Ia kembali. Takdir memberinya satu kesempatan lagi.
"Tidak perlu ditunda," ucap Aline tenang. "Pernikahan ini batal saja. Pergilah, Tuan Marquess."
Haren menatapnya tajam. "Kau tidak bisa sedikit berempati? Karin kecelakaan karena datang demi pernikahan kita!"
"Aku tidak menahanmu." Ada yang berbeda dalam tatapan Aline kali ini.
Tidak ada lagi cinta. Tidak ada lagi harap. Hanya dingin.
Haren tersentak halus. Dia merasa ada yang berbeda dari Aline barusan, perbedaan yang membuat Haren tidak nyaman.
"Kau—"
"Tuan, kita harus segera ke sana! Itu kan Aline, ujung-ujungnya dia juga akan merengek memohon menikah pada Anda. Yang terpenting sekarang adalah Karin, kita harus pastikan kondisinya baik-baik saja," potong Jean, kakak sepupu Karina.
"Terserahmu saja, tunda pernikahan ini atau aku tidak akan menikahimu sama sekali!" ancam Haren, dia menghentakkan kakinya, melangkah tanpa ragu, pergi begitu saja meninggalkan altar pernikahan dan sang pengantin, tanpa menghiraukan respon para tamu undangan.
Meninggalkan rasa malu yang membekas untuk Keluarga Baron Shanzai.
Para tamu mulai berbisik-bisik. Sementara itu, sang Baron, kakek Aline, perlahan mendekati cucunya.
"Nak, tidak apa-apa, kita tunda saja—"
"Tidak perlu, Kakek, kalau calon pengantin prianya pergi, maka ganti saja. Kebetulan kita punya yang cocok di sini."
Aline menatap lurus ke arah pria yang berdiri tak jauh dari altar.
Pria tinggi dengan pakaian formal yang melambangkan tahta kekuasaannya. Wajahnya dingin, tenang, dan tetap berwibawa meski Aline memandangnya dengan tekad yang tajam.
Aline maju menuju pria itu, yang konon katanya paling tampan di kekaisaran ini.
"Duke Darryl Winter Sheldian, bersediakah Anda menjadi suami saya hari ini? Tidak bersedia juga harus bersedia, sebab kini aku menagih hutang budi keluarga Sheldian pada keluarga Shanzai."
"Anda datang ke sini, lagi? Bukannya Anda bilang akan tinggal di mansion Anda sendiri?" Kakek melirik Duke Sheldian, tampak tidak suka. Keduanya berdiri saling berhadapan di aula mansion keluarga Shanzai. "Untuk hari ini aku akan menginap di sini. Ada beberapa hal yang ingin aku diskusikan dengan calon istriku." Daryl menjawab tidak kalah angkuh. Sengaja dia menyebut calon istrinya dan bukan Nona Shanzai. "Tapi ini sudah malam. Dia ingin istirahat, dia sangat lelah. Anda tega memaksanya berdiskusi saat dia sedang lelah?" Kakek juga tak mau kalah. Status mungkin dia kalah, mungkin Daryl lebih tinggi. Tapi soal adu argumen, putar otak, dan berdebat, kakek jauh lebih berpengalaman. "Mana mungkin. Anda tahu saya tidak akan setega itu pada calon istri saya." "Makanya, silakan Anda kembali lain kali." Kakek tersenyum tipis. "Justru itu, makanya saya akan menginap di sini. Anda akan menerima saya, kan? Karena saya seorang Duke." Daryl menatap kakek penuh maksud, sudut bibirnya terangka
"Apa yang sebenarnya kau lakukan?" Suara Karin meninggi di dalam kereta kuda yang tengah bergoyang karena jalanan yang tidak rata.Kali ini Karin berada di dalam kereta kuda, tetapi dia tidak sendiri. Ada Sasya juga di hadapannya. Bukan karena Sasya ingin ikut, melainkan Karin yang menarik dan mulai memaksanya.Setelah pesta teh tadi sore, Sasya ingin kembali ke kediamannya, tetapi Karin langsung menariknya masuk ke kereta kuda, dan akhirnya di sinilah ia."Saya diundang oleh Lady—""Dia bukan mengundangmu, tetapi saudari tirimu," Karin menjelaskan."Dia mengundang Lady Liotte, kenapa malah kamu yang datang?" Karin terlihat emosi. Napasnya naik turun tidak stabil. Suaranya meninggi, tetapi belum sampai tahap membentak."Tapi di situ tertera jelas nama saya dalam undangannya. Bukan Lady Liotte, melainkan Nona Sasya Liotte. Hanya ada satu nama, dan itu nama saya." Jelas Sasya tidak mau kalah, karena sungguh undangan itu ditujukan hanya untuknya.Benar-benar untuk dirinya. Undangan spesi
Daryl berdecak kesal. Dia baru saja keluar dari ruangan kaisar. Padahal dia sudah meluangkan waktu untuk bertemu pria itu, tapi entah ke mana pria itu sebenarnya. Barangkali bersembunyi dari Daryl. Tidak mungkin juga dia berkeliling istana hanya untuk mencari sang kaisar. Rasanya buang-buang waktu. Jadi, dia memutuskan kembali ke kediaman Shanzai. Dia hanya akan datang ke sini setelah kaisar memintanya, mungkin. "Oh, lihat? Siapa yang datang ke sini? Sepupuku yang tersayang dan terbaik di seluruh dunia." Tiba-tiba saja Putri Adel menghalangi langkah Daryl. Gadis itu tersenyum simpul. Dia melipat tangan di dada, menatap angkuh pria yang beberapa tahun lebih tua darinya itu. "Menyingkirlah, aku sibuk," jawab Daryl. Tidak formal. Yang artinya sebenarnya mereka tidak terlalu asing, mungkin? Sebab sejak kecil dia sering menemani Adel bermain. Bagaimanapun juga, mereka adalah sepupu. "Aku juga. Aku sedang mempersiapkan pernikahanku, jadi aku sangat sibuk. Harusnya kamu merasa berun
Semua perhatian tertuju pada Sasya. Karin terlihat sangat panik, bahkan dia sendiri tidak sadar dengan ekspresi yang sedang diperlihatkannya.Sedangkan Sasya berdiri dengan canggung. Baru pertama kali dia mendapat perhatian dari orang sebanyak ini.Aline sendiri tetap tenang. Dia menarik sudut bibirnya tipis, cukup merasa puas.'Padahal aku tidak berharap banyak, tapi dia benar-benar terpancing.'Ucap gadis itu dalam hatinya. Suasana hati yang semula cukup buruk kini mulai membaik saat dia melirik ekspresi Karin.'Gadis itu benar-benar memakan telak umpan yang sudah aku persiapkan.'Tampaknya kedatangan Sasya ke pesta teh ini bukan sekadar kebetulan semata. Sepertinya ada campur tangan Aline di dalamnya.Pantas saja, meski suasana hatinya sedang buruk karena Daryl tadi, dia tetap memaksa hadir ke pesta teh ini. Karena ada hiburan menarik yang perlu dia saksikan."Nona Karin?"Tepat sasaran.Sasya langsung memanggil Karin. Dia berjalan mendekat, membuat Karin semakin gugup."Anda datan
"Tuan Duke?"Aline refleks mengusap air matanya. Dia berjalan perlahan menuju Daryl."Benarkah Anda menangis karena saya?" Daryl langsung bertanya pada intinya. Agak meyakinkan memang, melihat Aline yang baru saja menangis. Itu terlihat jelas dari wajahnya."Tidak. Itu tidak benar." Aline langsung
Daryl berjalan menuju kudanya. Dia harus pergi ke suatu tempat. Kepalanya terasa penuh, dia butuh tempat yang tenang.Namun, langkahnya melambat saat melihat Baron Shanzai ada di sana, sedang memberi makan kudanya. Tampak tenang, kuda Daryl yang terkenal sangat sulit ditaklukkan malah terlihat manj
Daryl diam.Dia tidak pernah benar-benar memikirkan ini sebelumnya. Dia juga tidak menyangka akan menerima pertanyaan itu dari Aline.Mencintai.Apa Daryl sungguh mencintai Aline?Sejujurnya, Daryl juga tidak mengerti apa yang benar-benar disebut sebagai cinta.Dia diam sejenak. Pertanyaan dari Ali
Pesta teh kali ini diadakan di kediaman Melody, salah satu putri Count yang belakangan sedang naik daun.Termasuk Aline dan Karin, mereka hadir dengan gaun terbaik masing-masing.Aline sedang tidak ingin berdebat, mencari ribut, atau adu argumen. Karena suasana hatinya sedang buruk, dia baru saja m






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak