MasukDitinggalkan kekasihnya tanpa kabar saat mengandung, Aderyn harus menelan kenyataan pahit ketika ia diusir dari Akademi Kerajaan karena dianggap mencoreng kehormatan. Tanpa tempat kembali, ia bertahan hidup di jalanan hingga akhirnya melahirkan dalam keadaan nyaris tak tertolong—sampai seorang pria misterius datang menyelamatkannya dan memastikan bayinya lahir dengan selamat. Namun pertolongan itu datang dengan syarat, pria tersebut mengakui anak Aderyn sebagai miliknya. Demi mendapat perlindungan dan keselamatan bayinya, Aderyn menerima… tanpa tahu bahwa pria itu adalah Putra Mahkota Arkhavel! Dalam semalam, hidup Aderyn berubah drastis—dari wanita biasa yang terbuang, menjadi wanita yang berdiri di sisi Putra Mahkota dan menggemparkan seisi istana!
Lihat lebih banyakAderyn membeku di tempatnya berdiri, tatapannya terpaku pada satu orang yang baru saja muncul di ruangan ituVaelor.Pria itu berdiri di sana, namun di saat yang bersamaan juga berputar di kepala Aderyn seperti adegan film yang jelas dan nyata-- Aderyn yakin pria itu adalah orang yang sangat dia kenali. Tapi entah kenapa, sosoknya terasa… asing.“Sepertinya aku datang di waktu yang kurang tepat," ucap Varlor ringan. Untuk seperkian detik, Aderyn melihat ada yang berubah dari sorot mata pria itu--tapi dia tidak tahu apa. Aderyn menunggu.Aderyn terdiam, menunggu sesuatu. Mungkin dia menggu Vaelor menyadari keberadaannya, atau dia sedang menunggu reaksi yang berbeda dari pria itu. Namun tidak ada. Vaelor hanya berdiri di sana dengan tenang, bersikap seperti mereka bahkan tidak pernah bertemu sebelumnya. Serelith tersenyum tipis, lalu berkata, "sama sekali tidak. Kau datang di saat yang sangat… tepat.
Pagi-pagi sekali, Lady Marianne sudah mengetuk pintu kamar Aderyn. Menyuruhnya berganti pakaian, dan membawanya ke sebuah ruangan. "Kita akan memulai pelatihan untuk kelas bangsawan," ucap Lady Marienne seakan bisa membaca pikiran Aderyn yang sedang berjalan setengah langkah di depannya. Mereka tiba di ruangan berukuran kecil, hanya berisi beberapa kursi, meja kecil, dan cermin tinggi yang memantulkan setiap gerakan Aderyn terlalu jelas. Sedang di sudut dekat perapian, terdapat sebuah keranjang kecil di mana bayi Aderyn sedang tertidur pulas di dalamnya. Ruangan itu tak terlalu berbeda dengan kamar yang kini Aderyn tempati, kalau Aderyn boleh menebak, mungkin ruang itu dulunya merupakan kamar tamu. "Tiga hal yang selalu diperhatikan bangsawan sebelum mereka mendengar kata-katamu," ucap Lady Marienne di seberang ruangan dengan tangan terlipat rapi di depan perutnya. "Cara kau berdiri." Ia melangkah mengitari Aderyn. "Cara kau menundukkan kepala," tambahnya lagi. Langkahn
Semua orang terdiam. Putra Mahkota telah mendeklarasikan di depan para petinggi istana bahwa Aderyn adalah calon istrinya. “Tentu saja,” jawab Duke Harrington cepat dengan gugup, tidaka berani membantah sang Putra Mahkota. Sedang dari tempatnya duduk, sang Ratu menatap tajam. Tangannya menggenggam pisau dan garpu terlalu erat hingga kedua tangannya bergetar. Aderyn bisa merasakan tatapan tajam Ratu ke arahnya. Makan malam itu adalah makan malam tersulit yang pernah ia lalui di hidupnya. Setelah makan malam, Arkhavel mengantarkan Aderyn kembali ke kamarnya di sayap barat Istana. Ia ingin tahu bagaimana Adery diperlakukan. Arkhavel mendengar bagaimana seisi ruangan mentertawainya. Bagaimana pelayan-pelayan di istana bahkan membicarakannya seolah Aderyn naik ke atas ranjang Arkhavel seperti jalang--hal yang jelas-jelas tidak ia lakukan. Sejak Aderyn masuk ke sini, ia sudah menyadari bahwa istana bukan tempat yang ramah untuk Aderyn. Setelah masuk ke kamar itu, seorang pelayan
Para bangsawan langsung terdiam dan saling lirik, tidak menyangka kehadiran sang Putra Mahkota yang tiba-tiba. Bangsawan yang sejak tadi memulai hujatan pada Aderyn itu berdiri dan membungkukkan tubuhnya, "Hormat kepada Yang Mulia Putra Mahkota." Ia kembali berdiri tegap, tangannya berada di belakang tubuh seolah sedang menyembunyikan sesuatu. "Yang Mulia Putra Mahkota, kami hanya sedang sedikit memeriksa," lanjutnya. "Anda meragukanku, Lord Cassian Drevorn?" tanya Arkhavel. "Tentu saja tidak, yang Mulia Putra Mahkota... tapi tetap saja, identitas anak itu perlu." Perkataan dari pria bernama Cassian Drevorn itu membuat Arkhavel terdiam. Ia melirik bayi di gendongan Aderyn dengan ekor matanya. "Dengan dasar apa Anda mengharapkan kami menerima anak itu sebagai pewaris?” ulang Lord Cassian. Aderyn masih tidak mengerti. Ia hanya tahu bahwa semua mata kini tertuju padanya, dan bayi di gendongannya. “Dengan dasar pengakuanku, Lord Cassian,” jawab Arkhavel tegas. "Dia






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.