Chapter: Bab 274. Terlambat dan Sesal | TAMATSatu minggu tepat ajakan menikah Arjuna, pria itu benar-benar mewujudkannya. Naura berdiri dengan gaun pengantin putihnya, bibirnya tersenyum tipis menatap sosoknya sendiri di cermin. Mela dan Kate berdiri di kedua sisinya, mereka ikut tersenyum bahagia. "Selamat, anakku yang manis. Jika ayahmu melihat ini, pasti dia menangis bahagia," ucap Mela, kedua matanya berkaca-kaca saat mengatakan ini. Naura tersenyum dan memeluk Mela. "Semua ini terjadi karena doa ibu yang selalu membantuku."Setelah Naura melepas pelukannya, kini giliran Kate yang menangis. "Ada apa, Kate?" tanya Naura sambil tersenyum tipis. "Saya merasa terharu, karena akhirnya nyonya bisa bahagia tanpa banyak pihak yang mengganggu," jawab Kate cepat di tengah isak tangisnya. Naura terkekeh, lalu memeluk Kate. "Terima kasih banyak karena selalu setia padaku, Kate.""Sebuah kehormatan untuk saya, nyonya," jawab Kate sambil menahan air matanya agar tidak jatuh mengenai gaun pengantin Naura. "Kalau begitu ibu akan kel
Dernière mise à jour: 2025-04-28
Chapter: Bab 273. Mari Menikah Minggu DepanZafir terbatuk keras sebelum akhirnya dia jatuh berlutut di lantai sambil menahan darah yang terus mengalir keluar melalui punggungnya. "Zafir..." ucap Naura, dia tetap mendekat meskipun Zafir menahannya. Kedua tangan Naura gemetar, matanya mulai menatap khawatir ke arahnya Zafir. "Kenapa kamu melakukan ini?""Karenamu, apa lagi?" jawab Zafir tanpa ragu di tengah kerumunan yang memperhatikan mereka. "CEPAT PANGGIL DOKTER! KENAPA KALIAN HANYA MELIHAT?!" Bentak Naura pada kerumunan yang hanya diam menonton. Sela tiba-tiba tertawa dari atas sana, kemudian dia berkata,"Aku tahu kamu akan dilindungin oleh siapapun itu."Naura kembali menatap Sela, kali ini tatapannya tajam. "Apa semua ini tidak cukup untukmu?""Berhenti menyakiti mereka, Sela! Bukankah aku yang ingin kamu hancurkan?!" Tiara mendekat ke arah Naura dan merentangkan tangannya untuk melindungi Naura dari bidikan pistol Sela. Sela hanya menatap datar Tiara, lalu tiba-tiba menarik pelatuk pistolnya kembali, namun kali ini b
Dernière mise à jour: 2025-04-28
Chapter: Bab 272. Ulang Tahun Keluarga BaraSatu minggu setelah pertemuannya dengan Tiara, Mansion Tirta kedatangan surat undangan perayaan ulang tahun keluarga Bara. Naura tengah bersiap-siap, wanita itu duduk tenang di meja riasnya seperti biasa. "Apa belum ada kabar dari Arjuna?" tanya Naura, hari ini genap tiga minggu dirinya dan Arjuna tak bertemu. Kate menggeleng pelan. "Belum, nyonya. Saya juga sudah mencoba mencari kabar beliau melalui tuan Damian, tetapi masih belum ada kabar juga."Naura mengangguk mengerti, lalu memilih untuk segera menuju mobil di halaman depan. Sudah tiga hari Arjuna jarang memberinya kabar, entah kesibukan seperti apa yang menimpa pria itu. Naura jelas berbohong jika dirinya tidak khawatir, namun yang lebih jelas lagi adalah dia percaya pada Arjuna. Sampai di Mansion Bara, karpet merah menjuntai menyambut kedatangan Naura. Begitu sosoknya turun dari mobil, jepretan kamera secara cepat menyambarnya. Naura tetap tersenyum dan terus melangkah maju melewati lautan wartawan di sisi kanan dan ki
Dernière mise à jour: 2025-04-28
Chapter: Bab 271. Wanita"Maaf karena sebelumnya saya sempat tiba-tiba menghilang dan membuat Anda khawatir," ucap Tiara dengan raut wajah cemas. Naura tersenyum tipis dan mengangguk. "Saya mengerti, nyonya Bara."Tak lama senyum halus Tiara hilang, pandangan matanya pun perlahan turun. "Situasinya sedang sangat tidak baik."Naura memilih untuk tetap mendengarkan, menunggu wanita itu selesai menjelaskan. "Presiden menekan saya menggunakan adik laki-laki saya yang sedang berkuliah di Amerika. Tak satupun kerabat internal Bara yang bersedia membantu, kami semua takut." "Apa tidak ada kerabat yang sebelumnya--""Tidak ada, nyonya. Saya benar-benar tidak berdaya, mereka menganggap saya tidak mampu melindungi keluarga Bara, jadi mereka tidak berani mengambil risiko." Potong Tiara, membuat Naura kembali terdiam. "Yang membuatnya semakin sakit bukan karena saya teringat fakta bahwa suami saya selingkuh, tetapi saat saya sadar setelah semua usaha yang saya lakukan, saya tetap tidak bisa membuat orang-orang yang s
Dernière mise à jour: 2025-04-28
Chapter: Bab 270. Tirta-Bara"Apa yang membuat nyonya Tirta terhormat mengunjungi kediaman Bara kami?"Suara Jovan yang melayang dengan nada sarkas terdengar. Naura berdiri di hadapan mobil sedan hitam mewahnya, menatap dingin Jovan dan Sela yang 'menyambutnya'. "Di mana nyonya Bara?" tanya Naura langsung, tidak mengindahkan basa-basi Jovan. Jovan tersenyum dingin. "Istri saya kebetulan sedang ada perjalanan bisnis mendadak ke Mesir, nyonya. Sayang sekali, Anda--""Lalu mobil siapa yang terpakir di situ?" Potong Naura, lirikan matanya tertuju pada mobil limosin putih yang terpakir tak jauh dari mereka. Jovan sedikit tercekat, dia tidak tahu kalau Naura bahkan mengetahui mobil Tiara. "Istri saya--""Bisakah Anda tidak membuat waktu saya terbuang sia-sia? Cepat panggil nyonya Bara." Potong Naura saat Jovan hendak melontarkan alasan baru. Jovan menggeleng cepat. "Istri saya sedang tidak enak badan, nyonya Tirta. Tidak bisakah Anda berhenti ikut campur?" Tatapan dan nada bicara Jovan berubah lebih tajam. Naura
Dernière mise à jour: 2025-04-26
Chapter: Bab 269. Tawaran Zafir Naura tengah mendengarkan presentasi rapat di kantor utama Tirta, namun meskipun begitu tidak ada yang tahu kemana fokus pikirannya pergi. Sejak pagi dia hanya memikirkan Tiara, hatinya jelas merasa khawatir mengingat wanita itu tak memiliki dukungan apa pun dari internal maupun eksternal. "Bagaimana, nyonya Tirta?" tanya ketua divisi yang sedang melakukan presentasi tersebut, membuat Naura tersadar. "Iya, maaf? Oh... Bagus, teruskan." Setelah Naura menjawab, raut wajah puas dan bahagia segera terpancar dari para anggota divisi tersebut. Begitu rapat selesai, Naura dengan cepat bergegas keluar dan Kate seperti biasa mengikuti dari belakang. "Anda baik-baik saja, nyonya?" tanya Kate khawatir. Naura mengangguk singkat. "Iya, apa aku terlihat tidak fokus di rapat tadi?"Kate balas mengangguk juga. "Lumayan, nyonya. Anda ingin saya buatkan teh atau--""Nyonya Tirta!" Dari arah belakang muncul suara pria yang memanggilnya, membuat Naura dan Kate menoleh bersamaan. "Ada apa?" tanya
Dernière mise à jour: 2025-04-26
Chapter: Bab 46. Saat Bayangan Terbalik | Putri Terbuang Saat IniSuasana hening. Dalia melangkah masuk menuju kamar pribadi Salsa. Semua barang hancur dan berserakan di lantai, mata tajamnya hanya menyapu dengan tenang. Sampai di dalam, langkahnya berhenti di hadapan ranjang yang dikelilingi kelambu. Bayangan Salsa terlihat jelas, ia duduk menekuk lutut sambil memeluk diri sendiri. "Salsa." Panggil Dalia. Dari luar, bayangan Salsa menoleh ke arahnya. "Apa yang kau lakukan di sini? Wanita itu mengizinkanmu--!""Aku yang memaksa masuk, jangan salahkan Mimi." Sela Dalia. Salsa menggertakkan giginya marah, mencengkeram kain hanfu-nya sampai buku-buku jarinya memutih. "Kedatanganmu kemari untuk mencemooh ku, benar?" Dalia tetap datar, matanya menatap bayangan Salsa dingin. Ah... Waktu cepat sekali berlalu. Posisi mereka kini setara, bahkan mungkin dirinya lebih unggul sekarang. "Keluar, Dalia! Berhenti berlagak munafik! Tidak usah sok perhatian padaku! Aku tahu siasat busukmu!" Salsa mulai berteriak keras. Dalia masih diam, tidak langsung menj
Dernière mise à jour: 2025-08-31
Chapter: Bab 45. Guncangan Kereta Atau Perasaan?Puas mengelilingi pavilliun seni dengan Cahya sebagai moderator dadakan mereka, ketiganya pun memutuskan untuk keluar dari sana. Tetapi, belum sempat Dalia dan Dara naik ke dalam kereta kuda, Dara tiba-tiba membatu.Wanita itu terpaku di posisinya, tatapannya tampak cemas seolah menatap sesuatu yang mengerikan. Dalia mengikuti arah pandang wanita itu, ia hanya bisa bingung karena yang Dalia tatap penuh keterpakuan adalah seorang nyonya yang sepertinya sibuk mencari seseorang. Tak lama, suara Cahya yang berseru terdengar. "Bibi! Wanita itu ada di sini!"Dara dan Dalia menoleh cepat ke arahnya, Dalia pun mendapati Dara semakin panik. "Berengsek!" umpat Dara kasar. "Aku akan mencambuk bokongmu jika kita bertemu lagi!" lanjutnya. Dalia bingung, namun mendengar Cahya menyenut nyonya itu 'bibi', apakah... Sang nyonya adalah ibu milik Dara? "Dalia, maaf... Ini mendadak! Aku harus pergi, kamu akan diantar pulang oleh Cahya!" ujar Dara tiba-tiba, bersiap untuk kabur. "Apa? Kenapa?" tany
Dernière mise à jour: 2025-08-31
Chapter: Bab 44. Tentang Makhluk Paling IndahTiba di pasar, Dara penuh semangat mengajaknya kesana-kemari. Mereka mengunjungi tempat-tempat yang menarik perhatian. "Bagaimana dengan pavilliun seni?" tanya Dara, mereka berdua berdiri persis di hadapan gedung besar pavilliun seni. "Kamu tertarik dengan seni?" tanya Dalia balik, sebelumnya ia berpikir bahwa Dara hanya tertarik pada ilmu bela diri. Dara terkekeh. "Tidak juga, tetapi bukankah seharian ini kamu sudah mengikuti semua yang aku suka? Sekarang giliranmu. Lagi pula, bela diri... Itu seni juga, bukan?"Dalia terkekeh. "Benar, seni bela diri. Tidak ada yang salah." Mereka berdua memutuskan untuk masuk, dengan cepat aroma wangi bunga pulm yang semerbak tercium. Dalia tersenyum tipis, ini harum ibunya. Setelahnya ia teringat saat terakhir kali kemari bersama Hana sebelumnya. Perlahan, suara alunan musik kecapi terdengar. Iramanya lembut, membuai siapapun yang mendengarnya. "Sepertinya asal suara alunannya dari sana?" ujar Dara sambil menunjuk kerumunan tak jauh dari mer
Dernière mise à jour: 2025-08-31
Chapter: Bab 43. Cara Memanah"Kenapa pria itu selalu muncul di sekitarmu?" bisik Dara saat ia mengikuti Dalia membungkuk. Dalia tidak menjawab, bagaimana mungkin dirinya tahu? Tak lama suara gelak tawa jenderal besar Maneer, disusul Faqih dan Bima terdengar. Dara mengangkat pandangannya, tersenyum lebar menatap Ayahnya. "Ayah!"Jenderal besar Maneer balas tersenyum lebar. "Ini dia belati indah keluarga Maneer ku!" "Yang mulia, perkenalkan, ini putriku." ujar jenderal besar Maneer ketika telah berdiri di sebelah adipati Gara. Adipati Gara mengangguk singkat. "Saya pernah bertemu dengannya." Lalu menatap Dara. "Anda teman nona besar Ishraq?"Dara mengangguk lebih semangat. "Anda mengingat saya? Benar, saya yang waktu itu!"Dalia terkekeh melihat Dara penuh semangat, lalu matanya beralih ke adipati Gara lagi dan tertegun. Tidak ada satu detik penuh ia sebelumnya mendapati pria itu menatap Dara, kini adipati Gara sudah menatapnya lagi seperti biasa.Tatapannya seolah buas, siap menerkam. "Kalian sedang bermain
Dernière mise à jour: 2025-08-31
Chapter: Bab 42. Perhatian Yang MembelahKegiatan Dalia hari ini adalah memeriksa gudang pangan secara langsung. Dibantu Hana, ini pertama kalinya ia benar-benar bekerja sebagai penanggungjawab kediaman. "Minta penanggungjawab pangan untuk menambah stok beras, Hana. Sebentar lagi salju turun, harga pangan akan bertambah mahal, kita harus mengumpulkannya selagi harganya rendah," ujar Dalia. Hana mengangguk-angguk, berusaha mengingat-ingat seluruh perintah yang Dalia lontarkan. "Ada lagi?" tanya Dalia, menoleh ke arah Hana. Hana menggeleng. "Ini yang terakhir, nona."Dalia mengangguk puas, lalu berbalik keluar dari gudang pangan. Mengadah ke langit, udara terasa semakin dingin. Dalia memutuskan untuk segera kembali ke kediamannya, masih banyak urusan keungan yang belum ia periksa. Tetapi, di tengah jalan ia bertemu dengan Mimi, pelayan pribadi Salsa. Wanita berlari sangat cepat dengan kepala tertunduk, seolah sibuk menghindari sesuatu. BRUK!Mimi tidak sengaja menyenggol Dalia, ia dengan gemetar berlutut di tanah. "N
Dernière mise à jour: 2025-08-30
Chapter: Bab 41. Janji Langit | Ramalan Dua Naga Penguasa Daratan"Hati-hati, nona." Hana membantu Dalia menaiki tangga menuju aula altar leluhur keluarga. Dalia berlutut di hadapan altar ibunya, berdoa. Posisinya semakin tinggi sekarang, Dalia telah berhasil menstabilkan kekuatannya sebagai nona besar keluarganya sendiri. Tanpa menunggu peringatan dari pihak luar pun ia tahu, semakin dalam ia terlibat dengan sesuatu yang berbahaya, maka semakin besar pula kemungkinan nyawanya dalam bahaya. Tetapi, tindakan ini jauh lebih baik jika dibandingkan dengan masa lalunya yang hanya diam karena tidak mau membuat kerepotan lebih besar. Setidaknya sekarang dia berjuang, berusaha melindungi orang-orang yang ia sayangi. Kakak laki-laki pertamanya dan Hana. Sambil terus membakar kertas dupa, Dalia memperhatikan papan altar ibunya yang sudah usang. Menoleh ke Hana. "Apa menurutmu sebaiknya kita memnbeli papan altar yang baru?"Hana yang ikut berlutut di belakang Dalia mengangguk cepat. "Benar, nona. Saya yakin mendiang nyonya akan sangat bahagia di surga."
Dernière mise à jour: 2025-08-30