MasukDiana mematung di posisinya.
Langkah Arthur terdengar jelas di telinganya, berat namun mantap, mendekat perlahan setelah pria itu menjatuhkan kepala singa ke tanah dengan suara gedebuk tumpul yang membuat beberapa bangsawan refleks mundur setapak.Bau darah segar bercampur tanah basah dan keringat memenuhi udara, menciptakan suasana yang menyesakkan.Lapangan utama perburuan mendadak sunyi.Tidak ada satu pun suara terdengar selain derap langkah Arthur danRoda kereta kencana yang dilapisi besi berderit pelan saat menggilas lapisan salju tipis yang menutupi jalanan berbatu pegunungan Fan Gu. Di dalam kereta Norvenia yang luas dan hangat, suasana terasa sangat berbeda dari ketegangan yang baru saja terjadi di luar gerbang kuil. Keheningan yang sempat tercipta mendadak pecah oleh suara tawa yang sangat renyah.Diana tertawa keras. Bahunya berguncang hebat hingga ia harus memegangi perutnya yang besar agar tidak terlalu terhentak. Tawa itu terdengar begitu lepas, seolah beban berat yang ia pikul selama ritual doa baru saja menguap ditiup angin.Di hadapannya, Arthur duduk dengan punggung tegak dan tangan bersedekap. Raut wajahnya telah kembali pada pengaturan dasarnya, datar, dingin, dan tidak tersentuh. Sepasang mata biru gelapnya menatap Diana dengan pandangan yang sulit diartikan, namun ada jejak kebingungan di sana."Apa yang membuatmu tertawa sehebat itu, Permaisuri?" tanya Arthur datar. Suaranya berat dan stabil, namun ada sedi
Dua ribu prajurit Tachi Norvenia dengan zirah hitam mereka membentuk pagar betis yang kokoh, sementara seribu prajurit Delore di bawah pimpinan Alon tampak waspada dengan tangan tak lepas dari gagang pedang. Di tengah pusaran militer itu, sebuah drama personal tengah berlangsung dengan intensitas yang tak kalah mematikan.Denada, yang sejak tadi terabaikan, melangkah maju dengan ragu. Pakaian putihnya yang sederhana berkibar ditiup angin pegunungan. Ia mencoba mendekati Alon, pria yang secara resmi adalah suaminya, namun sorot mata Alon yang jatuh padanya benar-benar hampa. Alon hanya meliriknya sekilas dengan tatapan dingin yang seolah menganggap Denada hanyalah bagian dari dekorasi kuil yang tak bermakna. Tidak ada sambutan, tidak ada pertanyaan tentang kondisinya, apalagi sebuah pelukan hangat.Di sisi lain, Arthur dan Diana seolah berada dalam gelembung mereka sendiri. Arthur tetap mendekap pinggang Diana, memastikan istrinya itu tetap hangat dan stabil di sisinya. Pria itu s
Cahaya matahari pagi yang pucat menembus kabut tipis yang menyelimuti Kuil Fan Gu. Salju yang telah turun semalam telah meninggalkan lapisan putih yang murni di atas atap-atap batu dan pelataran kuil, menciptakan suasana yang sunyi namun menekan. Diana Sinclair berdiri di ambang pintu kediamannya, menarik napas dalam-dalam. Udara dingin pegunungan terasa tajam menusuk paru-parunya, memicu rasa gatal yang familier, namun ia menekannya dengan segenap kekuatan kehendak.Hari ini adalah jadwal kepulangannya ke Ibu Kota Norvenia. Ritual doa telah tuntas dilakukan, dan meski tubuhnya terasa kian rapuh, tugasnya sebagai simbol stabilitas kerajaan telah terpenuhi. Ia mengenakan jubah perjalanan berbahan bulu domba berwarna biru tua yang tebal, kontras dengan kulitnya yang putih pucat."Semua sudah siap, Yang Mulia," lapor Bibi Erna dengan nada rendah. Matanya yang bijaksana memandangi Diana dengan kekhawatiran yang tak lagi
Hawa dingin di area belakang Kuil Fan Gu terasa kian menggigit, namun bagi Denada, sentuhan tangan Diana di bahunya jauh lebih mengejutkan daripada es yang membeku di aliran sungai. Selama sepuluh tahun ia dilatih untuk menjadi wanita yang tegar, seorang pengganti yang tak boleh memiliki cela, namun di hadapan wanita ini—pemilik asli dari wajah yang ia pinjam—seluruh pertahanannya runtuh berkeping-keping.Denada tersadar dari keterpakuannya. Rasa malu yang luar biasa mendadak menyengat dadanya. Ia merasa tertangkap basah sebagai seorang pecundang, seorang permaisuri gadungan yang sedang menangis tersedu-sedu di bawah pohon ek layaknya pelayan yang baru saja dihukum.Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Denada menyentakkan bahunya pelan, melepaskan tangan Diana. Ia segera bangkit berdiri dengan gerakan yang kikuk. Wajahnya yang sembab dan pipinya yang membiru akibat tamparan Raja Debi segera ia tutupi dengan jubah putihnya yang lebar.
Suasana di dalam kamar peristirahatannya yang tadi terasa dingin, kini mendadak terasa menyesakkan, seolah oksigen telah dihisap habis oleh kehadiran sosok pria paruh baya di hadapannya. Denada masih memegangi pipinya yang berdenyut panas. Rasa sakit akibat tamparan itu menjalar hingga ke telinganya, namun rasa sakit di hatinya jauh lebih tajam.Raja Debi tidak berhenti di sana. Matanya yang merah karena amarah menatap Denada seolah-olah wanita itu adalah kotoran yang menempel di sepatunya. Ia melangkah maju lagi, membuat Denada mundur hingga punggungnya membentur tiang ranjang yang keras."Kau pikir siapa dirimu, Denada?!" Raja Debi berteriak, suaranya menggelegar hingga debu-debu di langit-langit kuil seolah berjatuhan. "Aku memberimu nama, aku memberimu kemewahan, dan aku memberimu takhta Permaisuri Kekaisaran Delore! Semua itu kulakukan agar kau bisa menjadi wajah kekuasaan kita di hadapan Norvenia! Bukan untuk menjadi an
Aula Utama Kuil Fan Gu adalah sebuah ruang yang diselimuti oleh aura keabadian. Langit-langitnya yang tinggi ditopang oleh pilar-pilar batu hitam yang dipahat dengan relief teratai dan naga yang melilit. Di tengah aula, sebuah patung Buddha raksasa yang dilapisi emas murni duduk bersila, memancarkan ketenangan yang kontras dengan gejolak politik di luar tembok kuil. Ribuan lilin merah berjejer di rak-rak kayu, apinya menari-nari ditiup angin pegunungan yang menyelinap masuk, menciptakan bayangan yang bergetar di lantai marmer abu-abu.Aroma dupa cendana dan gaharu bercampur dengan wangi bunga teratai segar yang diletakkan di dalam jambangan perunggu. Suara detak muyun—kayu yang dipukul secara ritmis oleh para biksu—bergema di ruangan itu, menciptakan frekuensi yang memaksa setiap jiwa untuk tunduk dan merenung.Diana Sinclair dan Denada duduk berdampingan di atas bantal sutra putih di barisan paling depan. Keduanya
“Tuan Damar.”Suara Diana terdengar tegas, tidak keras, tetapi cukup untuk membuat udara kembali menegang.Tatapan matanya lurus, mengandung peringatan yang jelas.Tuan Damar yang masih membungkuk segera menundukkan kepala lebih dalam. “Maafkan saya, Putri. Pelayan rendah ini tidak terima karena di
Setelah segala persiapan selesai, Diana melangkah keluar dari paviliunnya dengan langkah mantap. Gaun hanfu berwarna biru pucat yang dikenakannya tampak sederhana, namun potongannya elegan dan jatuh sempurna mengikuti lekuk tubuhnya. Rambutnya disanggul rapi, dihiasi tusuk ram
Tiara seketika tampak pucat.Wajahnya yang tadi berseri karena sanjungan kini kehilangan warna, seolah darah dalam tubuhnya mengalir mundur. Matanya menatap wanita yang berteriak kesakitan itu dengan kebingungan yang nyata—bukan pura-pura.Diana yang berdiri paling dekat memutuskan untuk mendekat.
Aroma rempah dan daun kering memenuhi ruang pembuatan obat di kediaman Putra Mahkota. Uap tipis mengepul dari tungku tanah liat yang menyala stabil, sementara deretan botol kaca berisi ekstrak herbal tersusun rapi di rak kayu. Di tengah kesibukan itu, Diana duduk dengan lengan tergulung rapi, tan