Mag-log inSetelah kematian tragis kedua orang tuanya, lady Catherine Percy hidup menderita dibawah asuhan paman dan bibinya. Suatu hari, keluarga paman bermaksud menjualnya pada seorang baron tua demi melunasi hutang judi. Catherine yang tak tahan lagi dengan semua kekejaman, akhirnya melarikan diri. Siapa sangka, dia justru jatuh ke tangan seorang bangsawan berhati dingin. Sementara itu, keluarga pamannya juga mulai merencanakan pembunuhan agar harta warisan Catherine jatuh ke tangan mereka. Terjebak antara keluarga jahat dan pria berhati kejam, takdir seperti apa yang menunggu Catherine?
view moreSekujur tubuh Catherine Percy luruh di atas lantai yang dingin. Baru saja sepupunya memaksa sang paman untuk menjualnya pada seorang baron tua demi melunasi hutang judi.
Gagasan ini seperti palu kematian yang menghantam jiwa. "Coba ayah pikirkan. Kita akan kaya raya begitu baron Cecil memberi mas kawin." Pamannya mendebat. "Catherine tak akan setuju. Umur baron Cecil terlalu tua. Lebih cocok jadi kakeknya." Catherine nyaris tertawa. Kalau cuma tua tak mengapa. Baron Cecil sudah kawin cerai berulang kali. Usia istrinya rata-rata separuh umurnya. Pernah juga terdengar kabar kalau baron ini terjangkit penyakit kelamin. "Siapa yang peduli tentang pendapatnya. Anggap saja balas jasa karena. Selama ini kita sudah menampungnya." Air mata Caroline jatuh begitu saja. Ayah kandungnya adalah Earl of Pembroke yang ketiga. Ketika umurnya baru tujuh tahun, kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan ketika mau menghadiri pesta musim semi di London. Kereta yang mereka tumpangi terjungkal ke dalam jurang. Ada dugaan kalau semuanya sudah direncanakan. Sepuluh tahun sudah berlalu tetapi pihak berwenang belum juga menemukan titik terang. Karena ayahnya tak punya anak laki-laki, maka gelar beserta seluruh aset jatuh ke tangan sang paman. Hanya harta pribadi ayahnya yang diwariskan untuknya. Bisa diklaim ketika umurnya tujuh belas tahun. Pintu ruang perpustakaan tiba-tiba terkuak. Lewat celah sempit tempatnya mengintip, Catherine melihat bibinya masuk dengan wajah masam. Gaun sutra yang indah tampak menjuntai dengan sulaman mawar kelopak besar. Gaun ini baru sampai semalam. Dalam rangka pamer, bibinya sudah bersiap sejak pagi untuk berkunjung ke kediaman keluarga lain. Sebab itu, perdebatan antara anak dan suami, cukup membuatnya terganggu. "Sekelompok lelaki pengacau. Masih pagi dan kalian sudah bikin keributan." Suara sepupunya mendadak lembut. "Ibu, tolong jangan marah. Anda harus menolong saya. Kalau tidak, saya akan dipenjara." "Oh, Edgar sayang. Jangan bicara sembarangan. Memangnya siapa yang berani bertindak kasar pada putraku?" Sepupunya mendekat lalu memijit bahu bibinya. Namun belum sempat dia bercerita, pamannya sudah lebih dulu buka mulut. "Dia kalah judi. Sekarang utangnya hampir dua puluh ribu poundsterling." Wajah tersenyum bibinya mendadak beku. Matanya menatap Edgar tak percaya. Butuh sekian menit agar mulut itu bisa bersuara. "Kau mau membunuhku? Bagaimana kita hidup sekarang? Para penagih hutang akan datang dan berlomba-lomba mempermalukan kita." Sejurus kemudian terdengar bunyi pukulan diikuti raung kesakitan Edgar. Bibi rupanya sangat marah hingga sanggup memukul buah hati. "Ibu, jangan marah dulu. Masalah ini bukannya tanpa solusi." Nafas Edgar tersengal saat melanjutkan kalimatnya. "Sebenarnya... baron Cecil akan berkunjung kemari. Anda juga tahu bahwa beliau sangat kaya dan berpengaruh." "Jangan bertele-tele. Katakan apa maumu?" "Bagaimana kalau... Catherine kawin dengannya? Bukankah semua masalah akan teratasi? Beliau adalah pemilik tanah terluas di Bath. Mustahil tak bisa memberi mas kawin yang besar." Ruangan kembali hening. Saat Catherine menahan rasa sesak di dadanya, bibinya bertanya dengan hati-hati. "Sudah berapa banyak yang kalian bicarakan?" "Memangnya kenapa?" ujar Edgar tak sabar "Bodoh! Aku menyuruh anak yatim itu membersihkan perpustakaan. Jangan-jangan dia masih di sini." "Tidak mungkin!" raung paman. "Waktu kami kemari tempat ini sudah kosong." Ketakutan bibi berganti kemarahan. "Keponakanmu memang pemalas. Sudah hidup menumpang tetapi tidak tahu diri. Setiap hari hanya makan dan tidur, seolah ada yang gratis di dunia." Bibinya menyerocos tanpa henti sementara Catherine beringsut sambil membekap mulut agar isaknya tidak terdengar. Makan tidur katanya? Setiap hari dia bangun paling awal dan tidur paling larut demi membantu pekerjaan rumah. Hidupnya bahkan lebih buruk dari pelayan. Setidaknya, pelayan dapat gaji. Makanan dan pakaian yang dia dapat cuma sisa yang tidak diinginkan sepupunya. Padahal dia adalah pewaris sesungguhnya. Hanya karena terlahir perempuan, makanya tak punya hak jadi seorang Earl. Satu-satunya alasan bibi masih menahannya pasti karena surat wasiat almarhum ayahnya yang mengatakan bahwa harta perwalian baru boleh dicairkan ketika umurnya sudah tujuh belas tahun. Kalau tidak, mungkin saja dia sudah dilempar ke jalanan. "Ibu, bisakah kita fokus pada masalah penting saja?" Edgar menghentikan ocehan ibunya yang tak kunjung siap. "Waktuku tak banyak." Barulah bibinya menarik nafas panjang. "Tentu saja kita harus melakukan itu. Sayang sekali jika Catherine dibesarkan secara cuma-cuma." "Jangan terlalu kejam Inggrid. Catherine satu-satunya anak kakakku." Pamannya membantah perkataan bibi. "Lagi pula, semua yang kita nikmati sekarang adalah hak-nya." "Tutup mulutmu, Edward." Bibinya menyahut lebih keras. "Memangnya berapa lama kita bisa bertahan dengan situasi keuangan? Jangan berlagak suci. Kita semua ada dalam perahu yang sama." Oh, betapa Catherine mau membujuk pamannya agar menolak keinginan bibi Inggrid. Sayang sekali, semua ini cuma angan-angan. Meski dalam pamannya mungkin masih tersisa sedikit kasih sayang kekeluargaan, kepentingan pribadi tetap yang paling utama. "Terserah kalian saja. Tapi aku tak mau terlibat." "Hmph, dasar pengecut." Inggrid menyahut suaminya ketus sebelum melanjutkan perbincangan dengan putranya mengenai rencana mereka. "Untuk sekarang, ibu dan kedua adikku baik-baik saja pada Catherine agar dia tak curiga." Bibi Inggrid memotong perkataan sepupunya. "Dasar tolol! Justru kita harus bersikap biasa saja. Lagi pula, yatim itu sangat bodoh. Selalu menuruti kata-kataku. Kalau pun disuruh lompat ke jurang, dia akan melakukannya tanpa ragu." Hati Catherine mendadak dingin. Bibi Inggrid menanamkan padanya bahwa orang yang merencanakan kecelakaan orang tuanya masih berkeliaran dan sedang mengincar nyawanya. Agar aman, dia harus menyamar. Tak diizinkan keluar atau bertemu orang lain. Setiap kali ada tamu yang berkunjung, Inggrid akan mengenalkannya sebagai salah satu kerabat jauh dari kampung. Bibinya bilang, statusnya akan berubah ketika situasi sudah aman. Sekarang, mendengar beliau bicara begitu kejam, ternyata dia cuma dimanfaatkan jadi babu gratis. "Kalau kalian terus bersikap kejam, takutnya dia kabur. Kalau sampai terjadi, bagaimana menyelesaikan masalah ini?" Bibi Inggrid langsung menepis keraguan sepupunya. "Aku sudah bilang dia terlalu bodoh untuk itu. Sekarang tenanglah dan jangan coba-coba berjudi lagi. Kalau tidak, aku akan membunuhmu dengan tangan sendiri." Sejurus kemudian, bibinya mulai menguap. "Aku pergi dulu. Teman-teman sudah menungguku untuk mengobrol." Ketika semua orang sudah pergi, Catherine terduduk lemah, memeluk kedua lututnya dalam kesunyian yang pahit. Sadar hidup menumpang, dia selalu bersikap baik. Menyenangkan hati semua orang sampai merasa amat lelah. Orang yang dianggapnya kerabat selalu merendahkan, bahkan pelayan di manor juga bersikap kurang ajar. Pada akhirnya, hanya nasib buruk yang mengejarnya terus-menerus. "Ayah, ibu, maafkan aku. Tidak sudi lagi jadi anak baik.""Sepertinya keluarga Stuart memperlakukan keponakanku dengan sangat baik," ujarnya penuh penekanan. "Aku sampai kehabisan kata-kata."Muka countess dan menantunya berubah kaku. Istri baru Rupert membantah perkataannya. "Apa maksud anda, My lady? Bukankah gadis kecil itu baik-baik saja? Anda datang-datang langsung memojokkan orang lain.""Tutup mulutmu!" bentak countess Stuart. "Beraninya bersikap kasar pada duchess."Setelah itu dia menoleh ke arah Catherine. "My lady, anda salah paham. Bocah ini memang suka ngompol. Juga tak berani lihat orang. Kami selalu memperlakukannya dengan baik."Apakah Catherine orang yang sabar menghadapi omong kosong? Tentu saja tidak!Dia memotong perkataan countess. "Baik atau tidak, hanya kalian yang tahu. Tetapi mulai sekarang saya akan menempatkan seorang pelayan untuk mengurus anak Meredith. Saya juga akan mengirim uang untuk membayar kebutuhan hidupnya. Kalau masih keberatan, kalian bisa mengir
"My lady, ada tamu yang cari anda."Gerakan tangan Catherine yang tengah menepuk-nepuk pundak Andrew terhenti. Dia menatap wajah tampan putranya yang tengah pulas sebelum melirik ke arah Geralda. "Siapa yang datang?"Gadis itu terlihat ragu. "Nona Meredith dan Caroline."Sejak kehilangan gelar bangsawan, sepupunya tidak berhak lagi dipanggil lady. Mereka tak ubahnya rakyat jelata. "Suruh pulang saja. Aku tak punya apapun untuk dibicarakan."Pengalaman sudah mengajar Catherine dengan baik. Berurusan dengan keluarga Percy tak pernah memberi keuntungan. Buat apa cari masalah untuk diri sendiri. "Kenapa masih berdiri di sana? Kata-kataku kurang jelas?" ujarnya ketika melihat tak ada tanda-tanda Geralda akan pergi. "Tetapi my lady... mereka benar-benar ingin ketemu anda. Wajah lady Meredith sangat menyedihkan. Dia bahkan memohon-mohon pada saya."Adalah pengetahuan umum bahwa hidup kedua nona Percy sanga
Setahun kemudian... Kastil Hardy yang biasa sepi, kini ramai oleh tangisan bayi. Catherine melahirkan sepasang anak kembar, laki-laki dan perempuan. Keduanya bukan majikan yang mudah dilayani. Suara tangisan langsung bergema jika sedikit saja lapar, haus, atau pakaian lembab. Akibatnya Catherine tidak lagi keberatan dengan keberadaan suster di dekatnya. Tanpa bantuan orang-orang ini dia pasti jadi mayat hidup karena tak bisa istirahat dengan tenang. "Astaga! Tak habis pikir bagaimana tangisan mereka begitu kencang ketika yang dimakan cuma susu." Catherine memijit pelipisnya. Hidungnya mengernyit mencium aroma susu basi dari daster yang dipakainya. Melawan kebiasaan nyonya kalangan atas, dia menyusui bayi sendiri. Sebab itu tubuhnya selalu beraroma susu. Syukurnya sekarang musim panas jadi bisa sering-sering mandi.Tiba-tiba terdengar suara lady Emma menaiki tangga. Catherine langsung gelagapan. Mertuanya suka usil
Dunia memang dipenuhi hal aneh namun perilaku baroness adalah yang paling jauh. Seorang suami jadi cacat tetapi istri malah kasih hadiah. Kalau bukan gila, apa lagi sebutannya? "Anda yakin soal ini?" Catherine tak menutupi rasa heran. "Bukankah seharusnya anda marah?"Baroness tertawa ringan. "Sudah kubilang tidak ada alasan untuk marah. Malah duke sudah seperti pahlawan untuk keluarga kami."Wanita itu membuka kotak hadiahnya. "Lagi pula ini bukan barang mahal. Cuma cake buatan sendiri. Semua orang bilang rasanya enak. Semoga cocok untuk lidah anda."Hadiahnya mungkin tak mahal tetapi memasak sendiri membuktikan ketulusan. Apa lagi nyonya kalangan atas hampir tak pernah menyentuh dapur. "Terima kasih. Anda baik sekali."Begitu kotak penutup cake dibuka, Catherine bisa membayangkan betapa lezat rasanya. Apa lagi dengan irisan strawberry yang melimpah. Aroma menteganya sangat kuat. Dia benar-benar mau muntah
Hanya dalam tempo tiga hari, kejahatan keluarga Percy akhirnya masuk persidangan. London gempar. Jarang-jarang mendengar kejahatan yang begitu parah di kalangan bangsawan. Sebab itu ruang sidang sudah padat pengunjung sejak pagi.Sidang dimulai dengan pembacaan kronologi kejahatan oleh Jaksa penun
Seminggu kemudian, pernikahan megah berlangsung di gedung paling besar di London. Sebagai ucapan turut bersukacita, sang ratu sudah mengirimkan hadiah pernikahan berupa satu set perhiasan dua hari sebelumnya. Benda yang kini menghiasi tubuh Catherine dengan agung.Dia sengaja cuma pakai
Acara jamuan makan itu berlangsung sampai sore. Ketika semua tamu pulang, Catherine nyaris tak mampu menyanggah tubuhnya sendiri. Dress yang dipakai sangat berat sedang korset ketat juga membuat jalan nafasnya terganggu. "Bisakah kita pulang sekarang, Frederick? Aku sangat lel
Atas desakan calon ipar, Catherine memutuskan pergi ke pesta perjamuan terakhir musim musim ini yang diadakan keluarga Wesley.Pesta ini untuk merayakan ulang tahun sang duchess yang keempat puluh. Duke Wesley adalah orang yang dihargai sang ratu karena kehebatannya di bidang politik, maka dari itu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RebyuMore