LOGINSetelah mati dalam misi, Xinxin sang komandan militer bereinkarnasi ke tubuh putri lemah Li Lian Wei yang dibenci seluruh istana. Di dunia baru yang penuh intrik dan penghinaan, ia tidak lagi berniat bertahan—melainkan membalas. Satu per satu, mereka yang pernah menyakitinya akan membayar harga yang setimpal.
View MorePlak!
Suara tamparan keras menggema di dalam ruangan. Kepala Li Lian Wei terhempas ke samping. Rasa panas menjalar di pipinya, disusul denyutan tajam di kepala. “Oh? Kukira kau sudah mati di danau itu.” Suara dingin penuh ejekan terdengar. Gadis yang berdiri angkuh itu adalah Li Lien Hua, putri kedua kekaisaran, yang selama ini tak pernah melewatkan kesempatan untuk merendahkannya. Di sudut ruangan, seorang pelayan muda langsung berlutut panik. “Pu-putri kedua, mohon ampun…” suaranya gemetar. Dia adalah Mingmei, satu-satunya pelayan setia yang selalu berada di sisi Li Lian Wei. “Diam! Minggir!” bentak Lien Hua sambil mendorong Mingmei hingga terjatuh. “Berisik…” gumam Xinxin pelan. Xinxin sang Komandan Militer dari abad 21 yang mati tertembak saat menjalankan sebuah misi. Saat membuka mata ia sudah berada di tubuh seorang putri kerajaan lemah, Li Lian Wei. Kelopak mata Li Lian Wei bergerak, ia membuka matanya perlahan. Langit-langit kayu tua menyambut pandangannya. Bukan markas militer. Bukan rumah sakit dan jelas… bukan tempat yang ia kenal. Ia memegangi alisnya yang berkerut , kesadarannya belum sepenuhnya pulih, namun rasa sakit itu terlalu nyata untuk diabaikan. Ia menunduk dan melihat pakaiannya berbeda. Ini jelas bukan pakaian terakhir yang di pakainya. Jelas saat itu ia memakai dress biru sebagai penyamaran dalam misi terakhirnya. Sejenak ia memandangi tangannya yang lebih halus juga kurus. Dengan cepat ia menyadari bahwa tubuh ini bukan miliknya. Jantungnya berdetak lebih cepat. 'Bukankah aku sudah mati?' batinnya. "Pu-putri…?" suara Mingmei terdengar ragu, masih berlutut di sampingnya. Namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh— "Ahk—!" Nyeri tajam tiba-tiba menghantam kepalanya. Tangannya refleks memegang pelipis. Dalam sekejap potongan ingatan asing yang bukan miliknya membanjiri pikirannya. Air danau yang dingin, tubuh yang semakin lama tenggelam ke dasar danau. Juga suara tawa menghina dari permukaan danau yang terekam dengan jelas. Rasa kesepian yang menyesakkan dada, refleks ia memegangi dadanya yang sakit. Kehidupan yang dipenuhi penindasan, seorang putri yang di benci keluarganya sendiri. Di anggap sebagai pembawa sial dan di asingkan dari istana utama. Napasnya memburu. Perlahan rasa sakit itu mereda. Matanya yang semula kabur berubah menjadi tajam, dingin dan waspada. Kini ia mengerti tubuh ini milik seorang putri yang lemah, terbuang, dan diperlakukan seperti sampah di dalam istana, sangat berbeda dengannya. Pemilik tubuh ini sudah lama kehilangan jiwanya sampai pada saat jiwa Xinxin dari abad 21 merasuki tubuh ini. Senyum tipis terukir di bibirnya, 'Menarik…' "Pu-putri?" Mingmei menatapnya dengan cemas. Li Lian Wei mengangkat pandangannya. Tatapannya berubah, bukan lagi Lian Wei yang lemah lembut dan menerima perlakuan buruk dari orang sekitarnya. Ia menatap lurus ke arah Lien Hua tanpa rasa takut dan ragu. "Mulai sekarang…" suaranya pelan, namun tegas. "Hidupku tidak akan sama lagi." Ia mengepalkan tangannya perlahan, seolah sedang menggenggam takdir baru. Untuk sesaat ruangan itu sunyi. Bahkan Lien Hua pun terdiam, meski hanya sepersekian detik. Tanpa mereka sadari putri yang mereka kenal... telah menghilang, digantikan oleh seseorang yang tidak seharusnya mereka usik. Tatapan Xinxin masih tertuju pada Li Lien Hua. Tanpa rasa takut sedikit pun. Lien Hua mengernyit, jelas ia tidak menyukai tatapan itu. "Berani sekali kau menatapku seperti itu," ucapnya sinis. "Sepertinya jatuh ke danau tidak membuatmu sadar diri." Xinxin tidak menjawab ia hanya menatapnya lebih lama. Seolah sedang menilai dan mengukur, apakah wanita di depannya layak dianggap ancaman. "Kau yang menamparku tadi?" Pertanyaan itu sederhana, namun nadanya datar dan berbahaya. Lien Hua tersenyum mengejek. "Lalu kenapa? Kau mau membalas?" Ia melangkah mendekati Lian Wei, "Jangan lupa, kau hanya—" Plak! Suara tamparan menggema lagi, namun kali ini Lien Hua yang terhuyung. Semua orang membeku, Mingmei bahkan menutup mulutnya, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Xinxin menarik tangannya perlahan. Ekspresinya tetap tenang seolah itu hal biasa. Sementara Mingmei segera keluar dan mencari tabib istana. "Sekarang impas," ucapnya dingin. Lien Hua memegangi pipinya yang merah karena di tampar, matanya membelalak penuh amarah tidak percaya. "Kau—! Berani sekali kau menyentuhku?!" Xinxin menatapnya tanpa ekspresi. "Kenapa tidak?" jawabnya singkat. Langkah kaki tergesa terdengar dari luar. Mingmei berlutut di samping Xinxin. "Pu-putri, hamba sudah memanggil tabib. Mohon tenangkan diri, tubuh putri masih lemah…" ucapnya. Xinxin meliriknya sekilas, tatapannya sedikit melunak namun hanya sesaat. Sampai saat pintu terbuka dan seorang tabib tua masuk, diikuti beberapa pelayan. "Salam untuk putri—" "Periksa dia," potong Lien Hua dengan suara tajam, menunjuk Xinxin. "Sepertinya otaknya rusak setelah jatuh." "Kalau begitu," katanya pelan, "pastikan kau memeriksanya dengan teliti." Tatapannya berubah menusuk. "Karena mulai hari ini… aku tidak akan bertindak seperti sebelumnya," ucapan itu sederhana, namun cukup untuk membuat suasana semakin mencekam. Bahkan tabib itu sempat ragu melangkah. Suasana ruangan masih tegang setelah tamparan itu. Mata Lien Hua penuh amarah, namun belum sempat ia meledak, langkah kaki berat terdengar dari luar. Seorang Kasim mengumumkan kedatangan kaisar. “Kaisar datang!” Pintu terbuka, kaisar masuk kedalam di ikuti dua pangeran dan seorang selir. Aura wibawa kaisar langsung memenuhi ruangan. "Bagaimana keadaan putri pertama?" suara berat itu menggema. Tabib, Lien Hua dan Mingmei segera berlutut. "Salam Kaisar, semoga Anda hidup seratus tahun lagi." Berbeda dengan mereka Xinxin tetap duduk. Tatapannya tenang dan acuh. Seolah pria di hadapannya bukanlah penguasa tertinggi di tempat ini. Alis Kaisar, langsung berkerut. "Di mana rasa hormatmu, putri pertama?" tegur Kaisar Li Jiazhen, ayah kandung Lian Wei. Xinxin tidak menjawab. Ia justru mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Seperti sedang mengamati dan menilai, kebiasaan yang sama ia lakukan saat sedang membaca medan perang. "Sepertinya jatuh ke danau membuatmu melupakan sopan santunmu," ucap Kaisar dingin. "Diam!" Satu kata itu keluar begitu saja, semua orang membeku. Bahkan Lien Hua pun terkejut. Namun detik berikutnya— "Ahk…! Lagi, kembali Xinxin memegangi kepalanya. Rasa sakit menyerang lebih kuat dari sebelumnya. Seolah sesuatu dipaksa masuk ke dalam pikirannya. "Adikku! Kau tak apa?" Li Jianying pangeran kedua langsung berlari dan memeluknya. "Tabib! Apa yang terjadi dengan adikku?!" cemas Jianying. Tabib gemetar ketakutan, "Me-menurut pemeriksaan hamba… kepala putri terbentur, sehingga menyebabkan beberapa memori hilang…" "Mohon ampun, Yang Mulia…" ucapnya berlutut pada kaisar. Namun Xinxin tidak lagi mendengar mereka. Dalam kepalanya ingatan asing yang dimulai pada saat ia berusia lima tahun. Seorang gadis kecil yang diabaikan. Tatapan hina para pelayan dan pengawal. Hingga ingatan terakhir saat tercebur ke danau yang dingin. Napas Xinxin memburu, tangannya mengepal kuat. Ia menatap lurus ke satu arah, tatapan itu penuh kepastian. Penuh amarah yang terkendali. "Kau!""Lalu kau dimana saat aku disiksa oleh para selir juga anak mu? Bahkan pelayan berani menghinaku. Jika ibu masih ada aku yakin ia akan membenci mu. Kau bukan ayah ku! Dimana kau, saat aku meregang nyawa? Kau bahkan menutup matamu terhadap ku." Kaisar dan semua orang terkejut, tidak menyangka jika Lian Wei berani mengatakan hal itu. Lian Wei menahan air mata dipelupuk matanya, mengingat bagaimana penyiksaan dan penderitaan yang dialami pemilik tubuh sebelumnya. 'Apa ini reaksi dari pemilik tubuh? Air mata sialan ini,' batinnya kesal karena ia sudah lama tidak menangis lagi semenjak ibunya meninggal dikehidupan lalu. "Kakak kandungku sendiri bahkan menatap penuh kebencian padaku. Jadi jangan sebut kalian keluarga ku, kalian bukan keluarga ku!" ucapnya tanpa terasa air mata yang menumpuk terjatuh dipipinya.Kaisar dan Xiuhuan melihat air matanya yang terjatuh, namun dengan cepat ia menyeka air matanya sendiri. Cadar yang menutupi wajahnya tidak bisa menutupi air mata yang menetes.
Dari ingatannya selama ini Zhaoyang dan Lien Hua sering diam-diam bertemu. Mereka menjalin kasih dibelakangnya. Perlahan rasa sakit dikepalanya mereda, ketika ia membuka matanya, kilatan penuh dendam terpancar dari matanya. Mingmei sempat merinding akan hal itu, ia belum terbiasa dengan perubahan Lian Wei yang tiba-tiba. "Mingmei aku tak apa, aku akan istirahat. Kau habiskan saja ini lalu istirahat." "Baiklah putri.""Sepertinya ada yang salah dengan tubuh ini?" curiganya, namun ia mengabaikannya. Keesokan harinya Mingmei membangunkan Lian Wei yang masih tidur. "Putri bangun." Lian Wei hanya bergumam saja, Mingmei terus mencoba membangunkan Lian Wei namun tak kunjung bangun, akhirnya ia menguncang tubuh Lian Wei. "Baiklah aku... lima menit lagi Mingmei..." ucapnya meracau tidak jelas. "Baiklah, aku akan membangunkan mu lima menit lagi. Aku akan pergi menyiapkan air." Hanya terdengar deheman dari Lian Wei, segera Mingmei menyiapkan air mandinya. Setelah siap ia menco
Lian Wei menyuruhnya pergi agar Mingmei tidak melihatnya kesakitan saat mengeluarkan racun dalam tubuhnya, mungkin saja akan membuat Mingmei takut. "Hah baiklah tapi berjanji padaku, apapun yang terjadi padaku jangan lakukan apapun, mengerti?" "Iya putri, hamba janji," janji Mingmei. Lian Wei menganggukkan kepalanya. Saat akan meminum ramuannya tiba-tiba pintu paviliunnya diketuk. Mingmei segera membuka pintunya dan melihat siapa yang datang, segera Mingmei memberitahu Lian Wei. "Siapa yang datang Mingmei?" "Tabib istana putri." "Untuk apa?" "Dia bilang ada hal yang perlu dibicarakan dengan mu. Tapi aku sudah menolaknya karena mengatakan kau ingin istirahat, namun ia tetap memaksa untuk menemui mu." Selagi Mingmei menjelaskan Lian Wei meminum ramuan buatannya. "Baiklah suruh dia masuk." Segera Mingmei menyuruh tabib masuk dan menutup pintunya. Begitu tabib masuk ia mencium bau racikan ramuan obat. "Salam untuk putri pertama." "Ya baiklah ada apa kau ke sini?" t
Bahkan ia saja mungkin tidak bisa menghentikan laju serangannya, namun gadis didepannya menghentikannya tepat waktu. Semua orang kembali tercengang dengan kejadian itu. Lian Wei menurunkan kakinya, segera Jingmi terjatuh lemas. "Kau beruntung aku tidak menendang kepala mu, jika aku benar-benar menendang kepala mu mungkin kau akan tidak sadarkan diri, hmm paling cepat seminggu." Mendengar perkataan Lian Wei semua orang menjadi takut. Mereka berjanji di masa depan mereka tidak akan menganggu putri pertama. Jika tidak mungkin mereka akan mati saat itu. "Ayo bangun, itu hanya serangan kecil saja. Aku tidak menaruh semua kekuatan pada serangan itu," ucapnya dengan mengulurkan tangannya pada Jingmi. Semua orang bergidik ngeri. Apa katanya tidak menaruh banyak kekuatan? Tapi itu saja sudah sangat kuat, bagaimana jika ia benar-benar menggunakan kekuatannya. Jingmi pasti sudah mati. Mereka tidak henti-hentinya mengagumi putri pertama. Beruntung mereka tidak seperti pelayan yang mengo






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews