Share

Bab 7. Siapa dia?

Kafka pergi, bukan berarti Sheyra harus terpuruk setiap hari. Seperti Kafka yang berniat mengejar cita-citanya, maka Sheyra pun akan melakukan hal yang sama. Dia akan mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang yang pernah dia pelajari selama empat tahun ini, agar waktu belajarnya selama itu tidak berakhir dengan sia-sia.

Setelah dua minggu kepergian Kafka, Sheyra pun mulai mengirimkan surat lamaran kerja ke beberapa perusahaan yang bisa menjadi naungannya mencari uang. Dan untuk mengisi kekosongan waktunya yang saat ini masih menjadi pengangguran—karena surat lamaran kerjanya belum ada yang di terima, Sheyra akhirnya memilih menghabiskan waktunya dengan melakukan hal-hal yang positif.

Dia berusaha menyibukkan diri dengan melakukan olahraga pagi, membantu ibu kost menyiram bunga, membantu ibu kost membereskan kebun, dan Sheyra pun kembali melakukan hobinya di dunia pemotretan. Ya walaupun dirinya masih belum tergolong sebagai fotografer handal, tetapi di setiap jepretan yang dilakukan Sheyra nyatanya banyak yang suka dan mengatakan jika hasilnya begitu luar biasa.

"Kak Sheyra!" Panggilan dari arah luar kamar kostnya itu membuat Sheyra terburu-buru menyambar tas selempang dan tas berisi kamera yang telah disewanya. Ketika dia membuka pintu, Raditya sudah berdiri di sana sambil kedua tangannya yang berkacak pinggang.

"Katanya belum dapat kameranya? Ini apa?" tanya Radit sangsi.

Sheyra terkekeh menanggapi. "Di tempat rental yang biasa Kakak pinjam, kameranya udah dibalikin sama yang sewa," jawabnya memberikan alasan.

"Lagian, kenapa Kakak nggak minta duit ke Papa aja buat beli kamera? Aku yakin, Papa pasti kasih kok," ucap Radit seperti tanpa beban yang segera Sheyra tanggapi hanya dengan gelengan kepala.

Karena tak berniat untuk memperpanjang pembahasan mengenai sang Papa—yang mungkin telah melupakan Sheyra sebagai anak perempuannya, Sheyra pun mengajak Radit untuk berangkat ke lokasi pemotretan saat itu juga. "Berangkat sekarang aja, yuk! Kakak mau lihat-lihat lokasinya dulu biar nanti hasil fotonya bisa I*******m able."

Akhirnya, keduanya pun berangkat menuju lokasi yang sudah dikirimkan oleh teman Radit yang ingin menyewa Sheyra sebagai fotografer dadakannya. Katanya, mereka ingin membuat kenang-kenangan selagi masih bisa bersama, sebelum akhirnya mereka naik kelas dan mungkin akan terpisah karena sistem di sekolahnya yang di setiap kenaikan kelas, maka semua siswa akan diacak dan dibagi hingga beberapa ruangan.

Tidak membutuhkan waktu lama, Sheyra pun telah tiba di tempat lokasi serupa objek wisata buatan manusia berupa taman bernuansa alam bebas, dan mereka yang akan menjadi objek di dalam foto itu juga sudah datang tidak lama setelah Sheyra dan Radit tiba. Karena tak ingin menyia-nyiakan waktu yang hari itu sedang memiliki cuaca yang begitu cerah, Sheyra pun memulai pemotretannya.

Sekitar setengah jam pemotretan, hasil jepretannya pun tampak memuaskan. Sehingga, Sheyra memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu begitu juga dengan teman-teman Radit. Sambil menunggu mereka melihat-lihat hasilnya, Sheyra memutuskan untuk menelepon Kafka.

Sebelum itu, dia lebih dulu mempersiapkan diri dengan duduk pada bean bag yang berjajar rapi di atas rumput sintetis yang diletakkan di dekat pagar pembatas kaca. Dan saat Sheyra menatap lurus ke depan, netranya pun langsung terpana pada indahnya pemandangan ibu kota bila dilihat dari ketinggian yang di atas rata-rata.

"Gilak! Bagus banget!"

Namun, Sheyra harus segera mengakhiri rasa takjubnya karena waktunya tidak banyak dan setelah ini dia harus melakukan pemotretan lagi.

"Halo, Ka," sapa Sheyra setelah panggilan video call nya diterima, dan menampilkan wajah tampan Kafka yang memenuhi layar ponsel Sheyra.

Sheyra melihat jika saat ini mata Kafka tampak memicing, seperti sedang mengamati pemandangan yang berada di belakang Sheyra. "Kenapa? Kok bingung gitu?" tanya Sheyra yang membuat Kafka menggeleng pelan.

[Kamu lagi di mana? Kok tempatnya bagus banget?]

Pertanyaan dari Kafka itu segera Sheyra jawab. "Masih ada di daerah ibu kota kok. Lagi pemotretan. Teman-teman Radit sewa aku untuk jadi fotografer dadakan."

Terdengar kekehan renyah di seberang sana yang tanpa sadar telah membuat Sheyra menarik kedua sudut bibirnya ke atas membentuk bulat sabit.

[Udah kaya tahu bulat aja, di goreng dadakan.]

Mendengar itu, akhirnya Sheyra pun ikut tertawa. Namun, tawanya itu tak berlangsung lama setelah menyadari jika Kafka yang berada di seberang sana kedapatan sedang menatapnya dengan pandangan dalam.

[Ketawa aja. Kamu cantik banget kalau lagi ketawa gitu. Sampai mata kamu menyipit gitu. Mungkin kalau dekat, udah aku gigit pipi kamu dengan gemas deh.]

Helaan napas pelan pun Sheyra hembuskan. Dia tersenyum sendu sambil menatap layar ponselnya di mana wajah Kafka tampak di dalamnya. "Padahal baru dua minggu, tapi kangennya aku udah nggak ketulungan gini."

Tidak ada sahutan dari seberang, tetapi wajah Kafka masih mengisi layar ponselnya penuh dengan kelopak mata yang berkedip-kedip pelan. Saat Sheyra lihat Kafka berniat membuka mulutnya, tiba-tiba ada suara seorang perempuan diikuti wajah pemilik suara tersebut yang turut bergabung dan masuk ke dalam layar.

Hal itu pun seketika membuat jantung Sheyra rasanya telah berhenti untuk berdetak. Apalagi ketika mendengar sapaan akrab perempuan tersebut yang menggunakan bahasa Indonesia dan terdengar sudah begitu lama mengenal Kafka.

[Ka? Lagi teleponan sama siapa? Aku cariin kamu loh sejak tadi.]

Lalu, wajah Kafka pun menghilang dari layar dan yang terlihat saat ini hanyalah pemandangan dinding ruangan bernuansa maskulin. Sheyra tak bisa mendengar dengan jelas tentang pembicaraan antara Kafka dan perempuan itu, yang membuat perasaanya pun mendadak tak karuan.

Tidak berapa lama, sosok Kafka kembali muncul setelah sebelumnya layarnya bergerak-gerak tak jelas. Karena gerakan gusrak-gusruk itulah, sekilas, Sheyra bisa melihat benda yang letaknya berada di belakang Kafka, yang tidak lain merupakan ranjang tidur.

[Shey? Sorry, teleponnya aku tutup dulu ya? Aku ada urusan mendadak.]

Kafka berpamitan begitu saja, seperti tak berniat untuk menjelaskan sesuatu mengenai perempuan tadi—yang telah berhasil membuat Sheyra merasa cemburu. Belum sempat Sheyra menjawabnya, panggilan video itu sudah diputus secara sepihak oleh Kafka.

Dan yang bisa Sheyra lakukan saat ini hanyalah memandangi dengan nanar pada layar ponselnya yang semula menyala, tetapi kini sudah berganti menjadi gelap. "Siapa dia?" monolog Sheyra dengan perasaannya yang mulai tak karuan.

Kepalanya sibuk menduga-duga tentang urusan mendadak yang Kafka maksudkan. "Urusan mendadak? Bersama seorang perempuan, di dalam kamar?" Dan pikirannya mulai berkelana kemana-mana.

Apalagi bila mengingat bahwa Kafka memiliki nafsu yang cukup besar bila sedang bersamanya. Bahkan, laki-laki itu sampai tak sanggup menahan gejolak dalam dadanya hingga berakhirlah Kafka meniduri dirinya.

Tunggu! Jangan katakan jika Kafka tak mampu menahan nafsunya saat sedang berjauhan dengannya, sehingga yang dilakukan kekasihnya itu saat ini adalah berusaha melampiaskannya bersama perempuan lain?

Mengingat hal itu, sontak Sheyra pun mengepalkan telapak tangannya erat, merasakan dadanya yang bergemuruh hebat disertai denyutan nyeri yang menekan jantungnya dengan kuat. "Nggak mungkin," ucap Sheyra berusaha menenangkan isi kepalanya sendiri yang sudah berpikiran macam-macam.

Bersambung ..

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status