Mag-log inTugas itu datang seperti biasa.Tidak ada perintah tertulis. Tidak ada panggilan. Hanya satu ruang kosong dalam alur hari yang secara alami menungguku untuk diisi.Aku berangkat tanpa menunda.Langkah kakiku ringan. Napasku stabil. Bahkan sebelum pikiranku selesai menyusun urutan kerja, tubuhku sudah bergerak lebih dulu, memilih arah, menentukan jarak, dan menyesuaikan ritme.Aku menyadari hal itu namun tidak menghentikannya.Tugasnya sederhana.Menjaga. Memindahkan. Mengantar.Tidak ada kesalahan. Tidak ada hambatan. Segalanya berjalan terlalu mulus, seolah dunia sudah menyiapkan jalur yang tepat agar aku tidak perlu menyesuaikan diri.Biasanya, pada titik tertentu aku akan merasakan tekanan samar tanda bahwa sistem menuntut lebih dari yang seharusnya.Hari ini tidak.Tubuhku mengikuti fungsi tanpa sisa.Saat tugas selesai, aku berdiri sejenak di tempatku berada.Tidak a
Tidak ada perintah baru setelah aku memilih jalur itu.Hari-hari berlalu tanpa perubahan mencolok. Tugasku tetap datang dengan cara yang sama tidak dipanggil, tidak diperintah, hanya muncul sebagai kebutuhan yang menungguku mengisinya. Dari luar, semuanya tampak normal.Namun justru ketepatan dunia itulah yang membuatku gelisah.Pintu yang seharusnya tertutup terbuka sebelum aku menyentuhnya. Jalur yang biasanya membutuhkan izin kini bisa kulewati tanpa penjelasan. Bahkan risiko yang seharusnya muncul dalam tugas berbahaya itu terasa bergeser tidak menghilang, hanya dipindahkan ke jarak yang aman.Tidak ada yang membantu secara langsung.Tapi tidak ada pula yang membiarkanku tersandung.Aku pernah merasakan pola seperti ini sebelumnya.Tenang. Terukur. Seolah seseorang telah menimbang langkahku lebih dulu, lalu memilih untuk tidak ikut campur secara terang-terangan.Nama itu muncul singkat di pikiranku.
Tidak ada yang menyebutnya sebagai pilihan.Dua pesan datang di hari yang sama, dengan nada yang sama, tanpa penekanan apa pun. Keduanya tidak ditujukan langsung kepadaku. Namaku tidak tertulis. Tidak ada panggilan resmi. Namun aku tahu, keduanya disiapkan untukku.Pesan pertama singkat.Tugas rutin di wilayah dalam. Risiko kecil. Waktu panjang. Tidak ada tenggat jelas.Pesan kedua bahkan lebih singkat.Satu tugas. Satu titik. Satu kali masuk.Risikonya tidak dijelaskan.Aku tidak perlu bertanya untuk tahu perbedaannya.Jika aku mengambil yang pertama, aku akan tetap hidup dengan lebih tenang. Tubuhku tidak akan dipaksa melampaui batas dalam waktu dekat. Namun itu berarti keberadaanku akan semakin sering dibutuhkan. Jalur yang kupijak akan menjadi jalur tetap.Jika aku mengambil yang kedua, aku mungkin terluka. Mungkin lebih dari itu. Namun setelah selesai, keterlibatanku akan berkurang. Setidaknya
Hari itu berjalan seperti tugas-tugas sebelumnya.Aku menyelesaikan satu pekerjaan kecil di wilayah yang jarang kudatangi. Tidak ada perintah langsung. Tidak ada penjelasan. Seperti biasa, aku hanya mengisi ruang kosong yang sudah menungguku sejak awal hari.Saat pekerjaanku selesai, aku berbalik untuk pergi.Seseorang berbicara.Bukan perintah. Bukan panggilan jelas. Hanya suara singkat dari belakang, ragu, seolah sedang memastikan sesuatu yang belum sepenuhnya ia yakini.Ucapannya terhenti di tengah.Aku tidak menoleh.Aku tahu, jika aku berhenti sekarang, jarak di antara kami akan berubah. Bukan secara fisik, tapi secara makna. Maka aku tetap melangkah, menjaga ritme yang sama, seolah tidak ada apa pun yang hampir terjadi.Namun aku mendengar cukup jelas bagian yang tidak jadi diucapkan.Itu hampir menjadi nama.Bukan julukan. Bukan sebutan fungsi.Nama.Langkahku tida
Tidak ada yang berubah pada hari-hari setelah retakan itu muncul. Tugas tetap datang dengan ritme yang sama. Tidak lebih sering, tidak pula berkurang. Orang-orang di sekitarku tetap bergerak seperti biasa, seolah tidak ada satu pun pergeseran yang patut dicatat. Dari luar, hidupku terlihat stabil. Justru kestabilan itulah yang membuatku sadar bahwa sesuatu sedang berlangsung tanpa suara. Pada tugas-tugas kecil, aku mulai merasakan perbedaan yang sulit dijelaskan. Gerakan yang dulu terasa ringan kini membutuhkan perhatian lebih. Qi kasarku tetap patuh, namun setiap kali kugerakkan, ada beban tipis yang tertinggal di tubuh. Bukan nyeri yang jelas. Bukan luka. Lebih seperti kelelahan yang tidak sepenuhnya pergi. Aku mencoba mengabaikannya. Aku tetap menjalankan tugas dengan cara yang sama
Perubahan itu tidak datang dari luar.Ia tidak muncul sebagai perintah baru, ancaman, atau tatapan yang berbeda. Dunia tetap bergerak dengan ritme yang sama, dan tugasku tetap datang tanpa variasi berarti.Namun pada suatu tugas rutin, aku menyadari sesuatu yang halus.Saat perintah itu sampai, aku tidak langsung bergerak.Hanya sepersekian napas.Terlalu singkat untuk disebut ragu.Terlalu kecil untuk dianggap penolakan.Namun jeda itu nyata.Qi kasarku tidak langsung mengikuti kehendak seperti biasanya. Ia bergerak sedikit terlambat, seolah menunggu konfirmasi yang sebelumnya tidak pernah dibutuhkan.Aku tetap menjalankan tugas.Gerakanku tidak meleset.Hasilnya tetap rapi.Tidak ada satu pun detail yang bisa disalahkan.Dari luar, tidak ada perbedaan.Tidak ada yang menoleh.Tidak ada yang mencatat.Tidak ada yang bertanya.Perbedaan itu hanya ada d







