Beranda / Fantasi / Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi / Bab 20 — Nama yang Tidak Ditulis

Share

Bab 20 — Nama yang Tidak Ditulis

Penulis: S.E
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-31 01:24:07

Tidak ada yang memanggil namaku pagi itu.

Namun aku tahu, langkah-langkahku tidak lagi sepenuhnya milikku.

Hari dimulai seperti biasa. Aku bangun sebelum matahari menyentuh atap bangunan wilayah kultivator. Udara masih dingin, tipis, dan bersih dari niat apa pun. Aku membersihkan tubuh, menenangkan napas, lalu duduk bersila seperti yang kulakukan sejak pertama kali aku memutuskan untuk tidak mati.

Qi kasar bergerak perlahan.

Ia tidak lagi memberontak seperti dulu. Tidak juga patuh sepenuhnya. Ia hanya… mengenalku. Atau mungkin, mengenali jejak yang tertinggal di dalam tubuh ini.

Aku membuka mata.

Ada perasaan halus yang tidak bisa kuterjemahkan. Bukan bahaya. Bukan peluang. Melainkan kesadaran bahwa sesuatu sedang menungguku bergerak.

Aku keluar kamar.

Tidak ada pesan. Tidak ada perintah tertulis. Namun kakiku berhenti di jalur yang berbeda dari biasanya. Aku menyadarinya setelah beberapa langkah berlalu ak
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 33 — Yang Tidak Terlihat

    Aku bangun sebelum langit sepenuhnya terang.Tidak ada rasa sakit tajam yang membangunkanku. Justru sebaliknya bahuku terasa tenang. Terlalu tenang. Saat aku menggerakkan lengan perlahan, tidak ada nyeri yang memaksa berhenti, namun ada rasa berat yang tertinggal, seperti sesuatu yang tidak ikut bangun bersamaku.Aku duduk bersila dan membiarkan napasku turun.Qi kasar bergerak.Ia tidak tersendat. Tidak juga melonjak liar. Alirannya tetap utuh, hanya saja jalur yang biasa ia lewati kini terasa lebih sempit. Bukan seperti terhalang, melainkan seperti tanah yang mengeras setelah terlalu sering diinjak. Masih bisa dilewati, tapi tidak lagi lentur.Aku tidak memaksanya.Beberapa putaran cukup untuk memastikan satu hal: tubuh ini masih bisa digunakan.Itu saja yang penting.Hari berjalan seperti biasa.Tugasku datang tanpa suara. Tidak ada orang yang menyampaikan. Tidak ada tanda khusus. Aku hanya tahu

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 32 — Luka yang Belum Ditutup

    Aku tidak pulang dengan tubuh yang utuh.Rasa perih di bahuku bukan luka terbuka, melainkan sisa gangguan jalur Qi akibat benturan sebelumnya belum sepenuhnya reda ketika langkahku kembali menyentuh wilayah tugas berikutnya. Kulitku tidak robek, namun jalur Qi di sekitar sendi itu masih terasa terganggu. Napasku masih tertahan di dada, bukan karena lelah semata, tapi karena Qi kasar di dalam tubuhku belum kembali ke jalur yang biasa ia lewati. Setiap tarikan napas terasa seperti menekan sesuatu yang seharusnya diberi waktu.Waktu itu tidak ada.Tidak ada yang memanggilku. Tidak ada perintah yang disampaikan. Namun pola dunia ini tetap berjalan. Jika aku berhenti, sesuatu akan menyesuaikan diri dan penyesuaian itu tidak pernah menguntungkan orang sepertiku.Aku bergerak.Benturan berikutnya datang tanpa pengantar. Tidak ada ruang untuk membaca niat lawan. Tidak ada jarak aman untuk mengatur napas. Saat langkah pertama kuambil, aku tah

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 31 — Benturan Pertama

    Tidak ada yang memberitahuku bahwa wilayah itu sudah terisi.Tugasku datang seperti biasa tanpa suara, tanpa perantara. Sebuah lintasan patroli yang harus dipastikan bersih, satu titik gangguan kecil yang perlu diredam sebelum meluas. Bukan pekerjaan penting. Bukan pula tugas yang layak diawasi.Aku berangkat tanpa persiapan berlebih.Namun sejak menjejakkan kaki di batas wilayah, Qi kasarku memberi isyarat halus. Bukan ancaman. Bukan bahaya. Hanya ketidaksinkronan seperti udara yang telah dilewati aliran lain, namun belum sepenuhnya tenang.Aku berhenti.Jejak Qi masih hangat.Bukan milikku.Sistem tidak menarik tugasku.Tidak ada koreksi.Tidak ada penyesuaian.Aku mengerti terlambat.Dua fungsi dikirim ke ruang yang sama.Aku melangkah masuk lebih dalam.Di balik bebatuan rendah, seseorang berdiri dengan posisi yang terlalu siap untuk disebut kebetulan. Nafasnya teratur

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 30 — Tidak Lagi Netral

    Aku tidak menerima perintah hari itu.Namun sejak pagi, alur tugasku telah ditentukan.Bukan melalui kata-kata. Bukan melalui panggilan. Melainkan melalui jalur yang perlahan tertutup dan pilihan yang tersisa tanpa perlu dijelaskan.Beberapa tempat yang biasa kulewati kini tidak lagi membutuhkanku. Saat aku tiba, tugasnya telah selesai. Orang-orang bergerak tanpa menoleh. Tidak ada penolakan. Tidak ada larangan.Hanya ketidaksediaan.Di sisi lain, ada tugas-tugas baru yang muncul tanpa diumumkan. Tidak lebih berat. Tidak lebih berbahaya. Namun setiap tugas itu memiliki satu kesamaan: hasilnya mengalir ke arah yang sama.Aku mulai melihat pola yang sebelumnya tidak ingin kuakui.Aku tidak dipanggil untuk membantu.Aku ditempatkan untuk menyelesaikan.Dan setiap penyelesaian kecil itu, tanpa kusadari, mempermudah langkah satu pihak dan mempersempit ruang pihak lain.Aku tidak pernah dib

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 29 — Langkah yang Terlalu Jauh

    Tugas itu datang seperti biasa.Tidak ada perintah tertulis. Tidak ada panggilan. Hanya satu ruang kosong dalam alur hari yang secara alami menungguku untuk diisi.Aku berangkat tanpa menunda.Langkah kakiku ringan. Napasku stabil. Bahkan sebelum pikiranku selesai menyusun urutan kerja, tubuhku sudah bergerak lebih dulu, memilih arah, menentukan jarak, dan menyesuaikan ritme.Aku menyadari hal itu namun tidak menghentikannya.Tugasnya sederhana.Menjaga. Memindahkan. Mengantar.Tidak ada kesalahan. Tidak ada hambatan. Segalanya berjalan terlalu mulus, seolah dunia sudah menyiapkan jalur yang tepat agar aku tidak perlu menyesuaikan diri.Biasanya, pada titik tertentu aku akan merasakan tekanan samar tanda bahwa sistem menuntut lebih dari yang seharusnya.Hari ini tidak.Tubuhku mengikuti fungsi tanpa sisa.Saat tugas selesai, aku berdiri sejenak di tempatku berada.Tidak a

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 28 — Yang Diam Lebih Lama

    Tidak ada perintah baru setelah aku memilih jalur itu.Hari-hari berlalu tanpa perubahan mencolok. Tugasku tetap datang dengan cara yang sama tidak dipanggil, tidak diperintah, hanya muncul sebagai kebutuhan yang menungguku mengisinya. Dari luar, semuanya tampak normal.Namun justru ketepatan dunia itulah yang membuatku gelisah.Pintu yang seharusnya tertutup terbuka sebelum aku menyentuhnya. Jalur yang biasanya membutuhkan izin kini bisa kulewati tanpa penjelasan. Bahkan risiko yang seharusnya muncul dalam tugas berbahaya itu terasa bergeser tidak menghilang, hanya dipindahkan ke jarak yang aman.Tidak ada yang membantu secara langsung.Tapi tidak ada pula yang membiarkanku tersandung.Aku pernah merasakan pola seperti ini sebelumnya.Tenang. Terukur. Seolah seseorang telah menimbang langkahku lebih dulu, lalu memilih untuk tidak ikut campur secara terang-terangan.Nama itu muncul singkat di pikiranku.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status