MasukWarning 21+!!! Harap bijak dalam memilih bacaan! Belum dewasa, dilarang baca! Kehidupan Acasha Ignatius berubah pasca insiden kecelakaan yang merenggut nyawa sang ayah. Ia dipaksa ibunya menikah dengan Tuan Orion Remo, pria asing yang tidak diketahui asal-usulnya. Namun, malam sebelum hari pernikahan tiba, Acasha kabur bersama pria bernama Demian. Sejak saat itu, banyak peristiwa aneh dan di luar nalar menimpa Acasha. Terlebih saat Acasha dan Demian tinggal di kediaman Tuan Athan Agathias, pemilik A2A Grup, perusahaan induk terbesar yang menaungi anak perusahaan di berbagai sektor di Negeri Ellinika. Siapa sangka pria tampan itu seorang vampir?! Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang terjadi dengan keluarga Acasha setelah dia kabur? Siapa dan kenapa Demian mengajak kabur Acasha? Apa hubungan Demian dengan Tuan Athan? Mengapa Acasha harus tinggal di rumah seorang vampir? Lalu, akankah tercipta cinta segitiga antara Acasha, Demian, dan Tuan Athan—sang vampir tampan yang memesona? IG @ruellaqwin
Lihat lebih banyakRintik hujan malam itu turun begitu deras, membasuh jalanan aspal Kota Metro dengan hawa sedingin es. Di sebuah gang sempit yang gelap dan terjepit di antara dua gedung pencakar langit, bau anyir darah segar menyengat udara. Di sanalah tubuh seorang pemuda bernama Rance Vaughn terkapar tak berdaya.
Wajahnya babak belur, pelipisnya robek memancarkan cairan merah yang langsung larut bersama air hujan. Tulang lengan dan lututnya patah, menyisakan rasa sakit luar biasa yang perlahan mulai memudar seiring dengan kesadarannya yang kian menipis. Di hadapannya, tiga orang pria berjaket kulit berdiri kokoh, menatapnya penuh cemooh sambil menggenggam balok kayu yang juga berlumuran darah. Pria yang berdiri di tengah, memiliki tato kalajengking hitam di lehernya, meludah ke samping dengan ekspresi jijik. "Cuma segini kemampuan pewaris sah keluarga Vaughn yang terbuang? Kakak tirimu, Tuan Muda Kevin, membayar kami sangat mahal hanya untuk mematahkan kaki dan tanganmu. Tapi melihatmu selemah cacing begini, rasanya uang itu terlalu mudah untuk kami dapatkan," ejek pria bertato itu. Dia mengangkat balok kayunya tinggi-tinggi, bersiap menghantam tempurung lutut Rance untuk memastikan pemuda itu cacat seumur hidup. Namun, tepat ketika balok kayu itu mulai mengayun membelah rintik hujan, sepasang mata Rance yang tadinya sayu mendadak terbuka lebar. Manik matanya yang hitam legam tiba-tiba memancarkan kilatan cahaya keemasan redup yang luar biasa dingin. Detik itu juga, waktu seolah membeku. Aura membunuh yang begitu pekat, begitu kuno, dan begitu mengerikan meledak keluar dari dalam tubuh kurus itu. Itu adalah aura yang telah ditempa di jutaan medan perang galaksi, sebuah kehadiran dari entitas yang pernah berdiri di puncak segala penciptaan. Deg! Ketiga preman itu mendadak menghentikan gerakan mereka. Tubuh mereka gemetar hebat secara instingtif. Jantung mereka berdegup kencang dengan irama yang tidak wajar, memompa adrenalin karena rasa takut yang teramat sangat. Bulu kuduk mereka meremang. Insting bertahan hidup mereka yang paling dasar berteriak histeris bahwa sosok yang terkapar di tanah di depan mereka bukan lagi manusia lemah yang bisa mereka injak, melainkan predator puncak yang sangat berbahaya. "A-ada apa? Kenapa berhenti? Cepat selesaikan dia!" bentak preman yang berdiri di belakang, suaranya bergetar menahan ngeri karena suasana gang mendadak mencekam dan udaranya terasa begitu berat untuk dihirup. Rance tidak menjawab dengan keluhan. Dia tidak memohon ampun, tidak juga berteriak kesakitan. Dengan ekspresi yang sangat tenang seolah jiwanya terpisah dari rasa sakit fisik, dia mulai bangkit berdiri. KREK! KREK! Suara mengerikan dari tulang-tulang yang bergeser dan menyatu kembali terdengar jelas di tengah kesunyian gang. Rance menggunakan sisa-sisa energi spiritual terkecil yang melekat pada jiwanya untuk memaksakan penyembuhan instan. Dia menatap telapak tangannya yang kotor oleh lumpur dan darah dengan tatapan yang acuh tak acuh. Jiwa yang berada di dalam tubuh ini bukanlah Rance Vaughn si pemuda tertindas lagi. Dia adalah The Sovereign, Dewa Perang absolut dari Alam Tinggi yang dikhianati oleh lingkaran dalamnya sendiri saat pertempuran kosmis, hingga membuatnya jatuh dan jiwanya terlempar ke bumi. Rance mengembuskan napas pendek, merasakan kerapuhan raga barunya. Di dunia fana ini, dia harus memulai segalanya benar-benar dari titik nol. Sambil menatap dingin ketiga pria di depannya, Rance memilah ingatan tentang sistem kekuatan yang ada di alam semesta ini, membandingkan kondisinya saat ini dengan puncak kejayaannya dahulu. “Tubuh yang sangat lemah...” batin Rance dingin. Saat ini, dia berada di Ranah Penguat Otot (Mortal Realm), tingkatan paling rendah dalam seluruh hierarki kultivasi. Di tingkat ini, kekuatan seseorang hanya sebatas batas maksimal fisik manusia fana—mampu menghancurkan beton atau mematahkan tulang, namun tubuhnya masih bisa terluka oleh senjata api. Di atas tingkatan paling rendah ini, ada Ranah Transendensi Otot & Darah (Iron Body), di mana kulit dan tulang mengeras sekeras besi hingga peluru pistol pun tidak akan mampu menembusnya. Lebih tinggi lagi di bumi, terdapat Ranah Master Energi (Qi Master), tingkatan di mana manusia bisa memanipulasi energi internal untuk menyerang dari jarak jauh atau menyembuhkan penyakit fatal—tingkatan yang membuat seseorang dianggap sebagai 'Dewa' oleh para konglomerat modern. Namun, semua itu tidak ada apa-apanya dibanding masa lalu Rance. Di atas ranah fana bumi, ada Ranah Keabadian (Immortal Realm), tingkatan makhluk yang mampu terbang dan meratakan gunung dengan sekali tebasan pedang. Dan yang paling tertinggi dari semuanya, puncak dari segala eksistensi kosmis, adalah Ranah Penguasa Bayangan Kosmis (Sovereign Realm). Puncak tertinggi di mana Rance dahulu berada. Sebuah tingkatan legendaris di mana dia bisa menghancurkan sebuah planet hanya dengan satu tatapan mata dan memanipulasi ruang serta waktu sesuka hatinya. Meskipun saat ini Rance terjebak di Ranah Penguat Otot yang merupakan tingkat paling rendah, pemahaman bertarung dan mentalitas seorang Sovereign tertinggi tidak pernah hilang dari jiwanya. "Siapa yang mengirim kalian?" tanya Rance. Suaranya rendah, datar, namun dipenuhi otoritas mutlak yang membuat bulu kuduk merinding. "B-bukan urusanmu! Mati saja kau bajingan!" Preman bertato kalajengking itu berteriak histeris demi mengusir rasa takutnya. Dia mengayunkan kembali balok kayunya sekuat tenaga tepat ke arah pelipis Rance. BRAK! Balok kayu tebal itu hancur berkeping-keping hingga menjadi serpihan kecil. Namun, bukan karena menghantam kepala Rance, melainkan karena Rance menangkap ujung balok tersebut hanya dengan satu tangan kosong. Tangan kurus Rance bahkan tidak bergeser satu milimeter pun dari posisinya. Sebelum preman itu sempat memproses apa yang terjadi, Rance melangkah maju. Gerakannya begitu efisien, cepat, dan tidak menyisakan ruang untuk drama. KREK! Satu cengkeraman kilat dari tangan Rance membuat pergelangan tangan sang preman patah seketika. Tanpa memberi jeda untuk teriakan sakit, Rance melepaskan satu tendangan lurus yang menghantam dada pria kekar itu. Tubuh berbobot hampir 90 kilogram itu melayang sejauh lima meter, menghantam dinding bata gang hingga retak, sebelum akhirnya tumbang ke kubangan air tanpa sempat bersuara lagi. Pingsan, atau mungkin mati—Rance tidak peduli. Dua preman sisanya langsung pucat pasi. Lutut mereka gemetar hebat hingga salah satu dari mereka terjatuh ke tanah. "Kau... kau monster..." salah satu preman mencoba merangkak mundur dengan panik, namun dalam sekejap mata, Rance sudah berdiri tepat di hadapannya, menghalangi cahaya lampu jalan. Rance menjulurkan tangannya yang kurus, mencengkeram leher pria itu, dan mengangkat tubuhnya ke udara hanya dengan satu tangan seolah tanpa beban sama sekali. Penggunaan teknik distribusi berat badan dari ranah Sovereign membuat kekuatan fisik di Ranah Penguat Otot miliknya menjadi berkali-kali lipat lebih mematikan. "Aku tidak suka mengulang pertanyaan," kata Rance sedingin es. Matanya yang tajam menatap lurus ke dalam manik mata pria yang kini megap-megap kehabisan oksigen tersebut. "Siapa?" "K-Kevin... Tuan Muda Kevin Vaughn..." jawab pria itu dengan suara tercekat, air mata dan keringat dingin ketakutan bercampur di wajahnya. "Bagus," ucap Rance pelan. KREK. Tanpa ragu atau perubahan ekspresi sedikit pun, Rance mematahkan leher pria itu dengan satu sentikan jari, lalu melemparkan jasadnya ke atas aspal seperti membuang seonggok sampah tak berguna. Dia kemudian menoleh ke arah preman terakhir yang kini sudah berlutut, mengompol di celana karena ketakutan yang teramat sangat setelah melihat dua temannya dihabisi dalam hitungan detik. Rance tidak berniat menghabisinya. Dia membutuhkan satu orang untuk menyampaikan pesan. Rance melangkah melewati pria yang sedang menangis ketakutan itu begitu saja, membiarkannya hidup dalam belenggu trauma seumur hidup. Sambil berjalan santai menembus derasnya hujan badai, Rance menyeka sisa darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan. Matanya yang sedingin es menatap lurus ke arah deretan gedung pencakar langit Kota Metro yang berkilauan dengan lampu-lampu megah di kejauhan. Tempat di mana keluarga Vaughn berada. “Kevin Vaughn... kau ingin bermain-main dengan Dewa Perang?” gumam Rance dengan seringai tipis yang mengerikan. “Mari kita lihat seberapa lama kau bisa bertahan sebelum aku merebut kembali apa yang kau curi, dan mendaki kembali ke puncak tertinggi alam semesta.” Malam itu, di sebuah gang sempit yang basah, penguasa bayangan yang sesungguhnya telah lahir kembali."Kurang ajar! Beraninya kau pada Tuan Orion!" teriak Gretta yang sejak tadi bersembunyi di balik bayangan Orion. Ia melesat cepat untuk melayangkan serangan kepada Acasha yang berdiri membelakanginya.Namun, dengan gesit, Acasha berpindah dari sana tanpa berhasil tersentuh barang seujung kuku. "Gretta, berhentilah! Aku tidak ingin menyakitimu."Mendengar ucapan Acasha, tubuh Gretta seketika menjadi kaku, kedua kakinya melekat erat dengan lantai dan anggota tubuhnya benar-benar tidak dapat digerakkan sama sekali."Ugh ... kenapa aku nggak bisa gerak? Apa yang kau lakukan padaku?! Lepaskan aku, jalang! Lepaskan aku!!" teriak Gretta sangat lantang."Gretta, apa tuanmu yang sudah mati itu tidak pernah mengajarimu sopan santun? Aku yakin dia sudah pernah mengajarimu, tapi sepertinya otakmu tidak sanggup menyerap pelajaran dengan baik," ucap Acasha dengan ekspresi dan suara bernada datar."Jaga bicaramu! Kau pikir, aku akan bersopan-santun padamu? Cih, jangan harap! Kau bukan Tuan Orion! Me
Deg ... deg ... DEGDEGDEGDEG ....Degup jantung pria yang tengah tertunduk, terkulai tak berdaya dalam cekalan rantai terkutuk pada kedua tangan dan kaki itu, mulanya sangatlah lemah akibat kehabisan darah. Namun, kini debaran di dada terasa semakin cepat, sangat cepat dan semakin intens seolah ingin meledak dan menghancurkan tulang rusuk menjadi berkeping-keping.Demian membuka mata. Ada kilatan merah di lensa birunya yang membelalak lebar. Keningnya berkerut dalam menahan sensasi sakit luar biasa tengah menggedor-gedor dada bidangnya. Peluh bercampur darah pun mengalir di pelipisnya."Khhh ...."Sesak! Paru-parunya terasa dihimpit batu besar dari dua arah berlawanan. Oksigen sama sekali tidak bisa masuk dengan benar memenuhi rongga-rongga udara seolah ia sedang tercekik dan tak sanggup pula untuk berteriak.Tubuhnya lantas memberontak. Bergerak-gerak dengan brutal dan tak terkendali akibat rasa sakit yang tak bisa didefinisikan lagi dengan kalimat apa pun. Tidak ada satu pun ungkapa
Angin berembus kencang menggoyangkan dahan dan ranting serta menerbangkan butiran salju berputar-putar di udara. Deburan ombak di laut tak kalah riuh menabrak batu karang juga dermaga seolah ingin melahapnya.Langit malam tampak cerah-berawan membawa kelam semakin mencekam saat rembulan perlahan kehilangan cahayanya dan berubah warna menjadi merah, semerah darah.Ialah Super Blood Moon. Fenomena yang terjadi setiap 195 tahun sekali, ketika matahari, bumi, dan bulan berada dalam satu garis lurus. Bulan akan masuk seluruhnya ke dalam bayangan inti atau umbra bumi, sehingga tidak ada sinar matahari yang bisa dipantulkan ke permukaan bulan.Dalam fenomena menakjubkan yang sedang berlangsung itulah, takdir baru sang vampir muda dimulai.Acasha terbangun dengan kedua warna mata berbeda. Iris ungunya telah berubah warna serupa merah darah, menatap lurus vampir berusia ratusan tahun yang tengah memangkunya."Acasha ...." bisik Athan tertegun melihat perubahan yang sudah pernah ia perkirakan s
"Dasar sinting!" umpat Chesy bersikeras memberontak dan mendorong tubuh Bedros ke depan. Namun, sang kaki tangan Orion yang setia itu justru mengunci tubuh Chesy semakin kuat dan menancapkan taring tajamnya di leher jenjang Chesy yang sudah sangat menggiurkan sejak tadi. Gluk ... Gluk ... Gluk .... Benar. Mirip tapi beda. Mirip dari rambut ginger-nya yang bersinar cerah bagai daun maple di musim gugur. Lalu, bedanya ... harum tubuhnya bak bunga gardenia yang bermekaran dan manis darahnya sangatlah nikmat, membuat siapa pun yang menghisapnya merasa tenang dan larut dalam kesejukan di setiap tegukan, tak terkecuali dengan Bedros. Aroma gardenia yang diterbangkan angin mencapai indra penciuman Gelsi. Ia pun menoleh. Tepat di depan mata, ia menyaksikan satu-satunya putri kesayangannya yang seorang Half Blood Klan Agathias tengah tak berkutik dalam rengkuhan Loyal Blood Klan Remo. Terpantiklah percikan api seketika mengobarkan kemurkaan di dalam diri seorang ayah vampir. "ENYAHK
Lagi-lagi, Acasha dibuat keheranan tentang fakta yang mengejutkan dari seorang Demian. Terlebih, fakta tersebut ia peroleh dari orang lain yang sama-sama tidak saling kenal. Tanda tanya besar semakin memenuhi pikiran Acasha. Yang ia tahu, Demian adalah utusan dari seseorang yang memiliki w
Acasha mendesahkan napas dan refleks tersenyum miring."Masa depanku?" gumamnya sembari menutup tirai.Tanpa keraguan, Acasha melangkah mendekati pintu, membuka kunci dan melebarkannya. Udara dingin berembus tatkala pintu terbuka, menerbangkan setiap helaian rambut putih Acasha yang panjang
"Ehem. Kami akan turun. Silakan panggil kami jika kalian butuh sesuatu," deham Varra seraya menarik lengan Gretta yang terpana melihat ketampanan calon kakak ipar. "Ayo, turun!" bisik Varra pada gadis yang masih enggan beranjak. "Mom! Gretta!" panggil Acasha yang tak nyaman diting
Tubuh Acasha terpaku, manik violetnya bergetar, tak berkedip. Kedua tangannya menutup mulutnya yang sedikit terbuka. Ia pun menelan saliva yang terasa gersang dengan susah payah. "G-gaun siapa ini? Kenapa ... ada gaun pernikahan di sini?" Ia pun memundurkan langkah dan kemba












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak