INICIAR SESIÓNSesampainya di zona tersebut.Yan tidak langsung melangkah masuk.Zona itu terbentang di hadapannya seperti kesalahan yang dibiarkan terlalu lama. Tidak ada penanda jelas. Tidak ada batas tegas antara wilayah aman dan wilayah yang seharusnya tidak diinjak. Dunia di sekitarnya masih berfungsi angin bergerak, cahaya jatuh, bayangan terbentuk namun semuanya terasa setengah niat, seolah realitas hanya melakukan cukup banyak agar tidak runtuh.Yan berhenti di luar jangkauan pengaruh terkuat zona itu.Bukan karena takut.Melainkan karena ia telah belajar satu hal: setiap peluang yang tidak dijaga oleh bahaya, biasanya bukan peluang melainkan umpan.Ia berdiri diam, membiarkan tubuhnya menyesuaikan diri dengan ritme sekitar. Qi di dalam tubuhnya tidak ia dorong keluar. Tidak ia panggil. Ia hanya dibiarkan berputar dengan pola barunya patah, tidak simetris, namun konsisten. Dengan cara itu, Yan tidak “menyentuh” dunia. Ia hanya berada cu
Aku memasuki wilayah itu tanpa tanda.Tidak ada batas batu. Tidak ada perubahan langit. Bahkan arah angin tetap sama. Namun langkah pertama saja sudah cukup untuk membuatku mengerti zona ini memang tidak diciptakan untuk dikenali.Qi di sekitarku tipis. Bukan kosong, tapi seperti sengaja diratakan. Setiap aliran yang biasanya memberi petunjuk arah di dunia luar di sini teredam, seolah realitas sedang menghemat keberadaannya sendiri.Aku berjalan.Tidak cepat. Tidak pula berhenti.Retakan di intiku terasa lebih tenang di sini, tapi ketenangan itu tidak menenangkan. Ia seperti keheningan sebelum sesuatu diputuskan.Langkahku terhenti saat bau darah muncul.Samar.Bukan pekat seperti pertempuran besar, melainkan jejak tergesa luka yang belum sempat membusuk, napas yang dipaksa terus bergerak.Aku tidak berniat ikut campur.Namun zona ini tidak memberi ruang bagi niat untuk tetap bersih.
Yan berhenti bukan karena tujuannya telah tercapai.Ia berhenti karena tubuhnya memintanya melambat bukan dengan rasa sakit yang tajam, melainkan dengan ketidakselarasan yang semakin sering muncul setiap kali ia memaksa aliran Qi bergerak terlalu jauh.Kota itu muncul di hadapannya tanpa tanda istimewa.Tidak ada aura kuno. Tidak ada tekanan hukum yang berat. Tidak pula keheningan aneh seperti zona mati yang pernah ia lewati. Ia hanyalah sebuah kota persimpangan tempat orang datang, berhenti sejenak, lalu pergi tanpa membawa terlalu banyak jejak.Dan justru itu yang dibutuhkan Yan.Ia memasuki kota dengan langkah yang sengaja diperlambat. Untuk pertama kalinya sejak memilih jalan ketiga, ia menurunkan kehadirannya seminimal mungkin. Tidak menyembunyikan diri, tapi juga tidak menegaskan eksistensinya. Ia membiarkan dunia kembali menganggapnya sebagai satu individu biasa selama dunia masih mau berpura-pura.Di dalam kota,
Keputusan itu tidak datang dalam bentuk ledakan kehendak.Ia hadir sebagai keheningan yang akhirnya berhenti bernegosiasi.Aku berdiri cukup lama setelah proposal kedua dunia runtuh dengan sendirinya. Tidak ada penolakan dariku. Tidak ada persetujuan. Aku hanya membiarkan lintasan yang disediakan dunia berlalu tanpa kugenggam. Dan seperti semua hal yang tidak kugenggam lagi, ia mengalir pergi.Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, dunia tidak mencoba mengejar.Bukan karena ia menyerah.Melainkan karena ia tidak lagi tahu ke arah mana aku akan bergerak.Aku melangkah pergi.Tidak ke arah yang ditunjukkan hukum. Tidak pula menjauh dengan perlawanan terbuka. Aku memilih arah yang tidak memiliki makna simbolik apa pun jalur tanah yang tidak diberi nama, langit yang tidak disematkan fungsi, dan ruang yang tidak disiapkan untuk diuji.Setiap langkah terasa aneh.Bukan berat.Bukan
Aku tidak menerima apa pun. Namun dunia tetap melanjutkan tawarannya. Proposal kedua tidak datang sebagai tekanan langsung. Tidak ada perubahan mendadak pada tubuhku. Tidak ada hukum yang mencoba menyentuh inti atau kehendakku. Dunia belajar dari kegagalan sebelumnya: setiap upaya untuk memaksaku hanya akan mempertegas jarak yang telah tercipta. Maka ia memilih jalan lain. Lingkungan di sekitarku mulai stabil terlalu stabil. Tanah tidak lagi kehilangan detail. Udara tidak lagi terasa kosong. Bahkan aliran Qi di luar tubuhku tampak kembali mengikuti pola yang dapat dikenali. Jika aku hanya memperhatikan radius beberapa puluh langkah, dunia tampak seolah telah berdamai dengan keberadaanku. Namun aku merasakan sesuatu yang salah. Bukan di sini. Di tempat lain. Getaran halus merambat melalui struktur realitas, seperti gema yang datang terlambat dari kejadian
Aku menyadarinya bukan karena ada yang berubah.Melainkan karena terlalu banyak hal yang tidak lagi berubah secara acak.Lintasan di depanku menjadi rapi.Bukan rata. Bukan aman. Tapi tersusun seolah dunia tiba-tiba mengingat kembali cara menghemat kemungkinan. Retakan ruang yang sebelumnya muncul dan hilang tanpa pola kini hanya muncul di titik-titik tertentu. Angin yang dulu tak pernah benar-benar menyentuhku kini selalu berbelok dengan sudut yang sama. Bahkan bayanganku jatuh dengan keterlambatan yang konsisten.Ini bukan kebetulan.Dunia sedang bekerja.Namun bukan dengan cara lama.Tidak ada tekanan hukum yang turun. Tidak ada penunggu yang menampakkan diri. Tidak ada resonansi yang memaksaku menyesuaikan kehendak. Dunia ini tidak menuntutku kembali ke dalam jalurnya ia sedang mencoba menyusunkanku ke dalam sebuah model.Sebuah proposal.Bukan yang diucapkan.Yang dibangun.A







