Share

Bab 141

Penulis: QueenShe
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-16 13:39:03

Raya masuk kembali ke ruangan, senyum kecil menghiasi wajahnya. Ia melihat buket mawar putih dan cokelat di sudut meja dan tatapan matanya langsung tertuju pada Ares.

​"Wah, siapa yang ulang tahun?" goda Raya, mendekat.

​Ares bangkit dari kursinya, berjalan mendekat, dan dengan gerakan yang sangat lembut, ia menyerahkan bucket itu pada Raya.

​"Tak ada yang ulang tahun," bisik Ares, mendekat, tangannya melingkari pinggang Raya. "Hanya hadiah untukmu yang sudah begitu pengertian."

​Raya tertawa kecil, bersandar di dada Ares. "Aku cuma keluar sebentar. Kenapa jadi begini?"

"Aku hanya ingin mengganti bucket bunga yang tadi dibuang. Itu dari pria lain, ini dariku," jawab Ares, suaranya sedikit lebih jujur daripada yang ia tunjukkan pada siapa pun. "Kalau mereka memberimu bucket, aku bisa melakukan yang sama. Bahkan aku bisa memberimu toko bunga."

​Ares menatap mata Raya dengan intens, seakan ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa posisinya aman di tengah kekacauan yang akan datang.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Iin Rahayu
penasaran apa yg terjadi di masalalu Ares, dan siapa yg ada di Amerika?
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 338

    Tengah malam, Ares melangkah keluar kamar. Tangannya menutup pintu kamar hotel dengan sangat pelan, memastikan Raya tetap terlelap di dalam. Ia melangkah ke koridor yang sepi, bersandar di dinding dengan satu tangan meremas tengkuknya sendiri. Ada lelah, marah, dan lega bercampur jadi satu disana. Ponselnya ia keluarkan, jempolnya menekan nama Brandon. Nada sambung pertama. Kedua. "Res," suara Brandon langsung menyahut, terdengar lelah tapi waspada. "Bagaimana Raya?" "Dia tidur. Dokter sudah memeriksa. Secara fisik... dia selamat." Suara Ares parau, seperti habis berteriak berjam-jam meski ia hanya berbisik. "Bagaimana di sana?" Brandon menghela napas panjang. "Prama sudah di kantor polisi. Teddy ikut, dan Kevin sedang mengurus dokumen. Tapi Res, jangan datang ke sini." Ares mengerutkan dahi. "Apa?" "Kamu dengarkan aku. JANGAN datang ke sini," ulang Brandon dengan nada tegas. "Kalau kamu lihat wajah brengsek itu lagi, emosi kamu pasti meledak. Dan aku tidak yakin aku bisa menah

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 337

    Raya langsung tertidur tanpa aba-aba. Satu detik yang lalu masih memeluk Ares erat, detik berikutnya napasnya sudah teratur, tubuhnya lemas sepenuhnya seperti mainan yang baterainya habis. Ares menatap wajah istrinya yang kini damai, bibir sedikit terbuka, alis yang tadi berkerut kini rileks. Ares tertawa kecil, campuran lega dan gemas melihat Raya. Rasa khawatir dan amarah yang tadi menguasainya perlahan luruh. "Setelah puas, langsung tidur. Kamu pikir aku pria macam apa?" gumam Ares bercanda, sambil menyingkirkan helai rambut yang menempel di pelipis Raya. Dengan gerakan hati-hati agar tidak membangunkan istrinya, Ares bangkit dari ranjang. Ia mengambil handuk kecil dari kamar mandi, membasahinya dengan air hangat, lalu kembali ke sisi Raya. Perlahan dan lembut, Ares mulai membersihkan tubuh istrinya. Mulai dari wajah yang basah oleh keringat dan air mata, turun ke leher yang masih memerah, lalu ke bagian tubuh lainnya. Setiap gerakan penuh kehati-hatian, seolah Raya sebuah kar

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 336 (21+)

    Sentuhan Ares berpindah dari wajah ke bahu Raya, lalu turun menyusuri lengannya dengan gerakan yang begitu protektif. Setiap jengkal kulit yang disentuhnya seperti membersihkan dari memori buruk yang baru saja terjadi. Ia menciumi ceruk leher Raya, menghirup aroma tubuh istrinya yang bercampur keringat dingin, memberikan kecupan-kecupan kecil yang menenangkan sekaligus membakar. ​"Aku di sini, sayang. Hanya ada aku dan kamu," bisik Ares di telinga istrinya, suaranya berat dan serak. ​Tangan Ares bergerak turun menuju pinggang, mulai menarik perlahan satu-satunya penghalang yang tersisa. Namun, di tengah gerakannya, ia tiba-tiba teringat sesuatu. Ia menghentikan tangannya tepat di karet celana dalam Raya, menatap istrinya dengan kening berkerut ragu. ​"Tunggu sebentar, Sayang... Bukankah jadwalmu sedang datang bulan?" tanya Ares pelan, mencoba tetap rasional di tengah gairah yang memuncak. ​Raya, yang sudah berada di ambang batas kesabarannya akibat efek obat yang menyiksa, mengera

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 335

    Ares membaringkan Raya di atas ranjang hotel dengan hati-hati, seakan-akan istrinya terbuat dari kristal yang siap pecah kapan saja. Tapi begitu tubuh Raya menyentuh kasur, tangannya langsung melingkar ke leher Ares dengan kekuatan yang mengejutkan. "Sayang, tunggu—" Raya menariknya turun, bibir wanita itu menghantam bibir Ares dengan brutal, penuh keputusasaan, bukan gairah. Ciumannya liar, tak terkendali, seperti orang yang tenggelam mencari udara. Ares menarik tubuh Raya pelan, dan lembut, memutus ciuman itu dengan napas memburu. "Sayang, dengarkan aku. Tidurlah sampai dokter datang. Kamu harus diperiksa terlebih dulu—" "Gak bisa!" Raya menggeleng keras, air matanya mengalir deras. Tangannya meraih kemeja Ares, mencengkeram dengan kuat. "Aku gak bisa tidur... aku tidak tahan, Ares... tolong sentuh aku... kumohon... Badanku semuanya terasa panas. Aku gak nyaman, Ares..." Dengan gerakan frustasi, Raya mulai melepas jas yang membungkus tubuhnya. Jari-jarinya gemetar saat membuka

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 334

    Pemandangan di depan matanya adalah visualisasi dari neraka yang paling nyata bagi Ares Mahardika. ​Di atas ranjang besar dengan seprai kusut, Prama menaungi Raya dengan tubuh telanjang dada. Tangannya tengah meraba paha istrinya ketika dentuman pintu menghentikan gerakannya. Ruangan itu membeku. Tapi aura di sekitar Ares mendidih melampaui titik ledak. "Binatang..." Suara Ares seperti guntur, rendah, parau, bergetar oleh amarah yang melampaui batas kemanusiaan. Prama tersentak. Ia menoleh, lalu dengan sengaja menggeser tubuhnya ke samping, mempertontonkan hasil kerjanya. Raya tergeletak lemas. Kemeja sudah terbuka, hanya bra yang masih melindungi dadanya. Wajahnya merah membara, peluh membasahi pelipis dan leher. Matanya sayu menatap langit-langit dengan kekosongan yang mengerikan. Napasnya pendek-pendek, tersengal, seakan oksigen di ruangan itu telah habis. ​Prama menoleh dnegan senyum miring di wajahnya. "Ares lihatlah—" ​Belum sempat kalimat itu selesai, Ares sudah menerjan

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 333

    Jalanan gelap Bogor terasa mencekik. Ares duduk tegang di kursi belakang, rahangnya mengeras setiap kali mobil melambat karena tikungan. Jemarinya mencengkeram ponsel begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. David di kemudi terus memantau GPS sambil sesekali melirik spion, mengamati raut bosnya yang seperti singa terluka siap menerkam. "Kita sudah dekat dengan villa pertama, Tuan. Sekitar lima belas menit lagi," lapor David. Ares tidak menjawab. Matanya kosong menatap kegelapan di luar jendela, tapi pikirannya penuh dengan skenario terburuk tentang apa yang mungkin terjadi pada Raya. Dalam kepalanya, potongan-potongan kemungkinan terus berputar. Raya sendirian, ketakutan, sambil berharap menunggunya datang. Dada Ares naik turun pelan. Ia menekan napasnya sendiri, memaksa pikirannya tetap dingin. Panik tak akan menyelamatkan siapa pun. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Dua kali dering. Nama Prama terpampang di layar. Teddy yang duduk di samping Ares langsung menahan napas, tubuh

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status