LOGINKarra Widita(20) baru saja membuat sebuah kesalahan besar. Ia terlibat kecelakaan hingga seseorang mengalami koma. Hanya saja Karra tidak mengerti, mengapa yang datang menuntutnya justru sesosok pria beristri? Padahal seingatnya, yang menjadi korban kecelakaan di malam itu adalah seorang lelaki. Tanpa busana. Max Draven(36) tak menyangka, kecelakaan parah itu berhasil membuka tabir rahasia yang selama ini disimpan oleh Ghania(30)--istrinya. Maka tidak ada salahnya ia menikahi paksa gadis miskin bernama Karra itu, untuk membalas dendam.
View MoreHal terakhir yang Karra lihat adalah seorang pria tanpa busana di dalam mobil.
Lalu– Brak! Mobil yang ia tabrak meluncur begitu saja hingga jatuh dari atas jembatan, menimbulkan bunyi debum yang sangat menakutkan. Setelahnya, Karra kehilangan kesadaran. Saat akhirnya kembali membuka mata, Karra merasakan sakit di kepala dan sekujur tubuh. Cahaya perlahan memenuhi kamar bercat putih tempatnya berada saat ini. Gadis itu berusaha mengumpulkan ingatan dan kesadarannya perlahan. Malam itu, Karra tanpa sengaja bertemu kembali dengan sang ayah yang dulu meninggalkan ia dan ibunya demi seorang pelakor. Sampai kini, ayahnya hidup bahagia dengan keluarganya yang baru. Sementara Karra sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Ibunya pun sudah lama meninggal dunia karena tidak sanggup menerima sakitnya penghianatan. Lama tidak bertemu, bukannya meminta maaf, sang ayah justru memberikan penawaran bahwa ia bisa saja menerima Karra kembali asalkan Karra bersedia menikah dengan pria tua yang menjadi investor bisnis ayahnya–yang kalau dilihat dari berita yang beredar, sangat berengsek dan mata keranjang. Kecewa, gadis berusia 20 tahun itu melajukan mobilnya dan tidak sengaja menabrak mobil lain yang terparkir di tepi jembatan. Anehnya, mobil itu dengan mudah terpental hingga menjebol pembatas jalan. Setelahnya– "Aduh..." Karra mendesis. Kepalanya benar-benar sakit saat ini. “Akhirnya kamu sadar juga!" Suara asing itu semakin menyedot kesadaran Karra. Rupanya ia tidak sendirian di ruangan yang dingin ini. Karra menoleh, dan berhasil memindai sesosok pria tinggi tegap, berdiri tepat di samping tempat tidurnya. “Siapa….?” batin gadis itu. Kenapa wajahnya cukup familier? Dan setelah sedikit mengingat-ingat... “Paman Max?” Akhirnya satu nama terucap, dan sosok itu tampak tidak suka saat Karra menyebut namanya. Benar. Karra mengenal pria itu. Maxime Draven, seorang pengusaha kaya raya yang merupakan teman lama kedua orang tuanya. Seseorang yang sudah lama tidak Karra temui karena keluarganya sudah hancur sejak lama, jauh sebelum ibunya meninggal delapan tahun yang lalu. “Kenapa Paman di sini?” Suara gadis itu terdengar serak. Apakah Max hadir di sini sebagai walinya? “Paman, maaf merepotkan. Semalam … saya bertengkar dengan Papa. Lalu menyetir dalam keadaan emosi,” terang Karra sebisa mungkin. “Bagaimana keadaan pengemudi yang saya tabrak, Paman?” Sosok itu tidak menyahut. Ekspresi wajahnya dingin saat menatap Karra, membuat gadis itu langsung berpikir ulang. Apakah benar pria ini datang sebagai walinya? Namun, sikapnya sangat janggal. Dan Karra mulai bertanya dalam hati, kenapa pihak rumah sakit menghubungi pria ini untuknya? Toh mereka bukan keluarga dan tidak pernah bertemu selama bertahun-tahun. Tiba-tiba saja sebuah pemikiran melintas di otak Karra. “A-apa … Paman Max keluarga korban?” Max masih tidak menyahut. Sorot matanya semakin tajam, membuat jantung Karra kian berdebar karena takut. "A-apa orang itu baik-baik saja, Paman? S-sumpah, saya tidak sengaja. Dan lagi, berhenti di tepi jembatan seperti itu harusnya tidak boleh, kan?” Karra buru-buru menambahkan. "Berhenti mencari pembenaran dan berhenti memanggilku ‘paman’. Aku bukan pamanmu!" ucap pria itu dengan suara rendah, sarat akan kemarahan. Pria itu mencengkeram lengan Karra dan menariknya duduk. Gadis itu pun mendesis, mengaduh sakit. “Ah! Paman, saya minta maaf. Saya benar-benar–” “Dia koma.” Max berkata setengah menggeram. “Dia nyaris saja mati karena keteledoran gadis bodoh seperti kamu!” Lalu tanpa banyak kata, pria itu menarik Karra hingga berdiri. Gadis itu nyaris terjatuh dari tempat tidur, tapi tanpa ampun, Max menyeretnya sepanjang koridor rumah sakit. "Ah ... sakit!" Dengan lemah, Karra mengiba. Tubuhnya pun penuh luka, langkahnya tertatih mengikuti langkah Max yang tegas dan panjang. Mereka baru berhenti setelah sampai di depan ruangan ICU berdinding kaca. “Lihat baik-baik hasil perbuatanmu!” Max berkata penuh penghakiman. Di dalam ruangan ICU tersebut, seorang wanita tengah terbaring tak berdaya di tempat tidur. Ada banyak selang dan peralatan terpasang di tubuhnya. Namun, Karra tidak mengenali wanita itu. “P-Paman, dia siapa…?” tanya gadis muda itu takut-takut. Tubuhnya terasa menggigil saat telapak tangannya menyentuh dinding kaca itu. “Apakah korbannya ada dua orang?” tambah Karra dengan nada heran. Max mengernyit. “Omong kosong apa yang kamu katakan?” "Demi Tuhan, yang saya lihat malam tadi bukan wanita ini, Paman,” jelas Karra dengan suara pelan. Lalu, gadis itu mendongak menatap wajah Max. Selisih tinggi badan mereka cukup jauh. Karra hanya setinggi dadanya. “Saya yakin, malam tadi saya hanya melihat satu orang. Laki-laki, tidak pakai baju. Berarti jika istri Paman juga korban dalam kecelakaan itu, bukankah harusnya korban ada dua orang?” Wajah Max perlahan berubah. Pria itu beringsut maju dan satu tangannya segera menyambar leher gadis malang itu. "A-aaakh!! S-saya tahu saya bersalah, Paman. Tapi t-tolong, jangan begini!!" Karra menggeliat dan mencengkeram pergelangan tangan Max, berusaha melepaskan diri dari cekalan pria itu. "Jangan mengada-ada. Istri saya ditemukan sendirian di mobilnya!" "I-istri?" Karra mengerjap tidak mengerti. Ia jelas-jelas melihat seorang pria tanpa busana sesaat sebelum kesadarannya menghilang. Ia tidak mungkin berbohong soal ini. “Uhuk! Lepas, Paman,” sengal Karra saat ia merasakan cengkeraman Max makin keras. Ia sudah tidak bisa bernapas. Karra menggeleng, megiba. “S-saya ... tidak ... bohong!” Suaranya makin tercekat. “Lalu, kamu mengatakan kalau istriku selingkuh. Begitu?” Max sungguh ingin membuat gadis itu mati di tangannya. Tapi tidak sekarang. Ia harus memastikan sesuatu lebih dulu. Ia lempar gadis bodoh itu ke lantai lalu pergi begitu saja. "Uhukk!!" Karra terbatuk parah, dan meraup udara sebanyak-banyaknya. Tangisnya pecah, dan Karra tahu, setelah ini hidupnya tidak akan pernah sama lagi. * "Lihat, kan? Akhirnya kamu membutuhkan bantuan Papa!!" Pak Anggoro menatap Karra yang sepertinya tidak sudi membalas pandangannya. "Kalau kemarin kamu tidak kabur dan terima-terima saja, kamu tidak akan berakhir seperti ini, Karra. Tapi tenanglah. Kalau sekarang kamu mau menurut, Papa mungkin bisa bantu." Dalam semalam, Karra langsung menyandang status sebagai terduga pelaku atas kasus kecelakaan yang mengakibatkan seorang wanita mengalami koma. Rupanya polisi mampu menghubungi ayahnya--sosok yang seolah menghilang selama bertahun-tahun, hanya dalam hitungan jam. Namun, meski semua ini terasa pahit, ada hal lain yang lebih menyita pikiran Karra saat ini. Bagaimana bisa korbannya berubah menjadi seorang wanita? Andai dugaannya benar, mereka adalah pasangan selingkuh yang sedang lupa diri, lalu ... ke mana perginya si pria? -----++-----Karra buru-buru memakai riasan tipis di wajah. Namun saat riasan itu selesai, hatinya meragu. Ruth Boynton--ibu kandung Max tempo hari pernah memberinya hadiah sebuah tamparan saat mereka bertemu pertama kali. Karra tentu saja merasa gugup. "Ayo, Nona! Nyonya besar tidak suka menunggu lama," mohon Pak Rudy. Pria itu mengiringi langkah Karra yang bimbang hingga mereka sampai di ruang tamu. Nyonya Ruth tampak duduk tenang di sana, namun sorot matanya terlihat begitu tajam. Tapi Karra salut, sebab wanita itu tetap berdiri menyambut kedatangannya. "Maaf menunggu lama, Nyonya. Saya... sedang tidak enak badan," lirih Karra sembari mengangguk sopan. "Saya tau," balas wanita itu. "Saya sudah dengar, kemarin... kamu diculik oleh Harris--sepupunya Ghania. Saya memang tidak membenarkan tindakannya tapi... Harris melakukan itu mungkin karena dia marah. Semua orang marah mengetahui Max menikah lagi, termasuk Harris. Jadi... saya harap kamu mau membujuk Max untuk segera mencabut laporannya di k
Kevin menerobos masuk dan menghadang si penjahat wanita lebih dulu. Di tangan wanita itu masih terselip sebilah belati dan benda itu adalah tujuan utama Kevin kali ini. Rupanya tidak semudah yang Kevin bayangkan. Wanita itu mempunyai kemampuan bela diri yang mumpuni. "Kak, pergi!!" teriak wanita itu pada Harris. "Pergi??" sinis Max. "Dia tidak akan ke mana-mana!!" ucap Max seraya menghantam kaki Harris tepat di bagian pen, sama seperti yang Karra lakukan beberapa saat lalu. Harris kembali meraung, dan Max tidak membuang waktu lebih lama lagi untuk menyelamatkan gadisnya. Pria itu menggeram saat melihat luka di sudut bibir Karra. Karra terlepas, dan Max kembali menghajar Harris sampai pria itu terjatuh dari kursi roda. "Berhenti!!" Wanita bertubuh semampai itu berteriak histeris setelah melihat kakaknya terluka. Ia lengah, dan Kevin berhasil membekuknya. "Brengsek kalian!!" desis Kevin seraya mengikat tangan wanita itu. "Kalian yang brengsek!!" Si wanita malah membalas. "Peng
Karra mengikuti langkah wanita di hadapannya dengan perasaan tak menentu. 'Memangnya... Max ingin aku melakukan apa?' batinnya. Gadis itu semakin tidak mengerti saat mereka sudah menapaki lorong panjang yang sangat sepi, entah langkah ini akan bermuara di mana. "Sebentar lagi kita sampai, Nyonya!" ucap wanita tambun di depan Karra seolah tahu mangsanya mulai merasa gelisah. Dan akhirnya Karra menghentikan langkah. Gadis itu yakin, ini tidak benar. "Nyonya?" "Sebentar!!" Karra mengangkat dagu dan memandangi wanita itu. Ia harus bersikap layaknya seorang nyonya muda. Mengeluarkan ponselnya, lalu Karra membuat panggilan ke kontak Kevin. Max mungkin akan marah jika diganggu jadi tidak ada salahnya Karra memastikan segala sesuatu melalui Kevin--asistennya. "Ya, Nyonya??" "Mas Kevin!! Si pemarah itu... sebenarnya ingin saya melakukan apa?" tanya Karra. Wajah wanita di hadapannya berubah mengeras. Karra belum sempat mendengar Kevin merespon, tapi seseorang sudah menghantam tengkukn
"Jadi, Mas membawaku ke kantor untuk bertemu dengan laki-laki itu? Siapa namanya? Harris?" Karra bersuara setelah Max menutup rapat pintu ruangannya. Hanya ada mereka berdua, sebab Kevin sedang berjaga tepat di balik pintu. "Kurang lebih begitu!" jawab Max datar. "Saya ingin dia sedikit merasa terancam, jadi... mainkan peranmu. Ancam dia!" Karra menatap nanar. "Kenapa, kamu takut? Toh kodisi fisiknya masih seperti itu. Dia bukan lawan yang harus kamu takutkan!!" Max mengatakan itu sambil membuang pandangan ke arah foto pernikahannya yang terpajang di dinding. Foto itu sama persis seperti yang terpajang di rumah. "Baiklah!!" jawab Karra lirih. "Aku akan mengancamnya dengan penampilan seperti ini, dan... siapa tau dia tergoda. Biar aku pastikan sendiri sentuhan siapa yang lebih baik sampai-sampai Nyonya Ghania rela bertelanjang di dalam mobil, dengan dia!!" Mendengar itu, Max menoleh dengan rahang bertaut kuat. "K-kau..." "Kenapa?" Karra tertawa rendah. "Toh aku peremp






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews