ANMELDENMalam sudah larut, Ares akhirnya sampai di kamar hotelnya. Jantungnya masih berdegup kencang, seolah baru saja berlari maraton. Napasnya tersengal, bukan karena lelah, tapi karena adrenalin yang masih memompa keras di pembuluh darahnya. Diraihnya ponsel dengan gerakan tergesa, jari-jarinya mengetik pesan untuk David dengan kecepatan luar biasa. Ares: David, segera cari vendor pernikahan yang bisa menggelar pernikahan minggu ini. Jangan pikirkan soal budget. Yang penting profesional dan bisa selesai cepat. Ares: Siapkan juga hantaran untuk lamaran hari Selasa. Lengkap. Sesuai tradisi Jawa. Tanya orang yang paham. Jangan sampai ada yang kurang. Bahkan sebelum David sempat membalas, Ares sudah mengetik lagi. Ares: Satu lagi. Perhiasan. Carikan yang terbaik. Berlian. Kirimkan katalognya biar nanti saya yang pilih. Ares meletakkan ponselnya di atas meja, lalu berjalan mondar-mandir di kamar dengan tangan di pinggang. Ia mengusap wajahnya kasar, menarik napas dalam berkali-kali, berus
Minggu pagi, suara ketukan pintu kembali terdengar. Kali ini Raya yang membukanya. Senyumnya langsung merekah melihat Ares berdiri di sana dengan kaos santai berwarna hijau tua dan celana jean. Tampilannya jauh lebih kasual dari biasanya. "Pagi, Sayang," sapa Ares ringan, senyum lebarnya membuat dada Raya menghangat. "Hei... pagi," jawab Raya manja, matanya berbinar. "Pagi banget udah sampai sini?" "Aku kangen. Gak boleh aku kesini pagi-pagi?" Ares mengulurkan tangan, menyelipkan anak rambut Raya ke belakang telinga dengan gerakan protektif. "Bolehlah. Kan aku juga kangen," jawabnya terdengar lebih manja. "Udah sarapan?" Ares mengangkat sebuah paper bag dari restoran ternama. "Belum. Makanya aku kesini, biar sarapan bareng," jawab Ares jujur. Raya mengernyit heran. "Loh? Jam segini mereka sudah buka? Biasanya buka jam sebelas siang?" Ares terkekeh. "Pemiliknya sahabatku. Aku memintanya menyiapkan ini dari semalam." "Ah... ternyata privilege orang kaya," sindir Raya jenaka,
Pembicaraan alot akhirnya mereda. Aura tegang di sekitar mereka perlahan luruh. Ada janji yang terucap—bukan sebagai paksaan, melainkan kesepakatan "Tidak ada sentuhan fisik apa pun sebelum sah. Dan Raya, kamu tidak boleh kembali ke Jakarta sampai kalian resmi menikah," ucap Ratih dengan nada yang tidak menerima tawar-menawar. Ares mengangguk patuh. "Saya akan menjaga Raya sampai hari itu tiba, Bu. Saya siap bolak-balik Jakarta-Surabaya setiap minggu demi menemuinya." Raya tersenyum pahit mendengar komitmen itu. Di satu sisi ia merasa dicintai, namun di sisi lain ia cemas membayangkan betapa melelahkannya perjalanan udara rutin yang harus ditempuh Ares di sela jadwal kerjanya yang padat. Setelah itu Ratih bangkit dan meninggalkan ruang tamu dengan alasan harus memeriksa masakan di dapur, keheningan singkat menyelimuti. Dio juga sudah pergi entah ke mana—mungkin ke rumah temannya seperti biasa. Tinggal Raya dan Ares. Berdua saja. Raya masih duduk di sofa yang berseberangan den
Tidak ada pembelaan. Tidak ada penjelasan berlapis. Hanya pengakuan yang jujur. Ares menangkap maksud kalimat itu. Ia menunduk sejenak. Ia kembali menatap Ratih dengan sorot mata yang tenang. "Saya gak pernah menyembunyikan putra saya," jawabnya tenang. "Saya hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkannya. Raya pasti sudah cerita soal kondisi ibu kandung Kelana, jadi saya—" Penjelasan Ares terpotong oleh kedatangan Raya menyimpan segelas kopi untuk Ares di meja, juga segelas teh untuk Ratih. Mata Ares seolah terkunci pada setiap gerak-gerik Raya. Ada binar kerinduan dan cinta yang begitu besar terpancar dari sana. Pemandangan yang tak luput dari pengawasan tajam Ratih. "Masuk lagi, Raya," perintah Ratih, suaranya pelan namun tak bisa dibantah. Raya terkejut. Ia sempat berharap bisa duduk dan ikut mendengar. Ia menoleh pada Ares, yang membalas dengan senyum lembut dan anggukan kecil. Isyarat agar Raya menuruti ibunya. Meski bibirnya mengerucut sebal, Raya tetap membalikka
Sabtu pagi itu, rumah Ratih terasa berbeda. Raya mondar-mandir dari ruang tamu ke dapur, merapikan bantal sofa untuk kesekian kalinya, memastikan tidak ada debu di meja, mengecek kembali tata letak camilan di atas nampan. "Kak, hari ini Pak Ares datang?" tanya Dio yang tiba-tiba muncul dari kamarnya, masih mengenakan kaus bola kesayangan dan celana training. Raya menoleh sambil merapikan taplak meja. "Iya. Udah jalan kesini. Setengah jam yang lalu pesawatnya mendarat." Ratih yang baru keluar dari dapur melirik putrinya sambil menggeleng-geleng kepala. "Udah rapi, gak usah dirapikan lagi." Ratih menatap putrinya dengan alis terangkat. "Dari subuh kamu sudah menyapu, mengepel, memasak, mencuci piring, sampai menyiram tanaman. Berasa mau Lebaran besok." "Biar lebih rapi aja, Bu," jawab Raya sambil menunduk, tersenyum malu. Hampir dua minggu berada di rumah ibunya, Raya kembali beraktivitas seperti sebelum mengenal Ares. Tak ada satu pun pekerjaan rumah yang terlewatkan. Jika ia
Pukul setengah dua malam, ruangan Ares yang biasanya gelap dan sunyi kini justru terang benderang. Lampu-lampu di lantai tiga menyala penuh, dan suara debat keras bercampur dengan suara radio walkie-talkie petugas pemadam kebakaran masih terdengar samar dari luar. Ares duduk di kursi putar, tubuhnya bersandar lemah. Kemejanya sudah kusut, kerah terbuka hingga dua kancing teratas, lengan digulung tak rapi hingga siku. Wajahnya tampak lelah luar biasa. Dari bandara ia langsung ke tempat kejadian kebakaran, lalu ke kantor utama. Di tangannya masih ada laporan sementara dari manajer operasional mengenai kerugian akibat kebakaran di gudang. Angka-angka itu berjejer rapi di atas kertas, tapi matanya sudah terlalu lelah untuk membaca. Ares menghela napas panjang, meletakkan kertas itu ke atas meja dengan gerakan berat. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, mencoba meredakan pusing yang mulai menusuk di pelipis. Baru saja ia hendak menutup mata sebentar, ponselnya di atas meja







