MasukAres melepaskan sisa pakaiannya dengan satu gerakan cepat, menampakkan tubuh kokohnya yang berotot di bawah cahaya remang lampu tidur. Ia tidak langsung mengambil kendali. Sebaliknya, Ares merebahkan tubuhnya di atas tumpukan bantal, membiarkan dirinya menjadi fondasi bagi istrinya. Matanya yang gelap dan tajam menatap Raya, menantang dan memuja di saat yang bersamaan. "Kemari, Sayang," bisiknya, suaranya serak tertahan di tenggorokan. Ares meraih tangan Raya, menuntun istrinya untuk merangkak naik dan duduk di atas pangkuannya. Posisi ini membuat Raya berada di atas, menatap suaminya dari posisi yang dominan. Rambut Raya yang berantakan jatuh menutupi bahunya, menambah kesan liar yang jarang ia tunjukkan. Ares menggenggam pinggul Raya, namun ia tidak menggerakkannya. Ia justru memberikan kendali penuh pada tangan kecil istrinya. "Malam ini, aku milikmu sepenuhnya. Lakukan apa pun yang kamu mau padaku," gumam Ares sambil mengecup perut Raya. Raya menarik napas panjang, menatap
Begitu pintu lift terbuka di lantai penthouse, Ares tidak membuang waktu sedetik pun. Dengan satu gerakan dominan, ia menyusupkan lengannya ke bawah lutut Raya dan mengangkatnya ke dalam gendongan bridal style. Raya memekik kecil, mengalungkan tangannya erat pada leher Ares sementara bibir mereka tetap bertaut, seolah napas yang satu adalah nyawa bagi yang lain. Langkah kaki Ares berderap cepat di atas karpet tebal koridor sunyi itu. Begitu sampai di depan pintu Presidential Suite, ia menempelkan kartu akses dengan tidak sabar. Pintu terbuka, dan Ares menendangnya hingga tertutup rapat, menguncinya dari dalam. Ia tidak membawa Raya ke tempat tidur, melainkan menghimpit tubuh istrinya ke daun pintu yang dingin. Kontras antara punggungnya yang dingin dan dada Ares yang membara membuat Raya mendesah keras. "Ares... pelan-pelan..." bisik Raya parau, namun tangannya justru menarik rambut di tengkuk Ares, menuntut lebih. "Tidak bisa, Raya. Aku sudah menunggu sepanjang malam," geram
Tarian mereka semakin intim, tubuh saling menempel mengikuti irama musik yang menghentak. Lampu strobe yang berkedip menciptakan bayangan-bayangan di wajah mereka, membuat momen ini terasa seperti mimpi. Ares tidak lagi peduli dengan sekitar. Tangannya yang tadinya hanya bertengger sopan di pinggang Raya kini mulai bergerak lebih berani—mengusap punggung, meremas pinggang, turun ke lengkungan tubuh istrinya. Lalu tanpa peringatan, Ares menarik Raya lebih dekat dan menciumnya—ciuman yang penuh, dalam, dan sama sekali tidak peduli bahwa mereka berada di tengah kerumunan. Bibirnya menuntut, lidahnya mengeksplorasi, tangannya meremas pantat Raya dengan possesif. Raya tersentak kecil, tapi kemudian tertawa di sela-sela ciuman—tawa yang lepas dan bahagia. Tangannya melingkar di leher Ares, membalas ciuman dengan sama bernafsunya. Saat ciuman terlepas, Raya terengah sambil menatap mata suaminya yang gelap penuh hasrat. "Ares! Kita di tempat umum!" "Aku tidak peduli," gumam Ares sambil m
"Aku ingin mengajak Kelana ke pantai," ucap Raya sambil menatap pemandangan laut di luar jendela. "Dia belum pernah ke pantai yang betulan. Yang ada pasir putih dan air laut yang bersih." "Kita bisa ke Bali," usul Ares. "Atau kalau mau lebih privat, kita sewa villa di Maldives. Pantainya cantik, airnya jernih, dan tidak terlalu ramai turis." Raya menatap suaminya dengan mata berbinar. "Maldives? Serius?" "Sangat serius," jawab Ares. "Kita sudah lama tidak liburan keluarga yang benar. Kelana juga perlu melihat dunia di luar Jakarta." "Tapi bukankah Maldives sangat mahal—" "Raya," potong Ares sambil menggenggam tangan istrinya lebih erat. "Aku punya uang. Dan aku tidak akan menghabiskannya untuk hal lain selain kebahagiaan keluargaku. Kamu, Kelana, dan momen-momen berharga bersama kalian—itu investasi terbaik yang pernah aku buat." Raya merasakan air matanya menggenang. "Kenapa kamu selalu bisa membuat aku mau menangis dengan kata-kata manismu?" Ares tertawa pelan. "Karena itu f
Mobil meluncur keluar dari kompleks rumah sakit, memasuki jalanan San Francisco yang dipenuhi tanjakan dan turunan khas kota itu. Sinar matahari sore mulai meredup, langit berubah menjadi gradasi oranye keemasan yang memantul indah di gedung-gedung pencakar langit. Ares menyalakan musik—jazz lembut yang mengalun pelan dari speaker. Tangannya yang bebas meraih tangan Raya, menggenggamnya di atas console tengah. Raya menatap keluar jendela, melihat pemandangan kota yang begitu berbeda dari Jakarta. Bangunan-bangunan bergaya Victoria, trem kabel yang naik turun bukit, orang-orang berjalan dengan santai. Untuk pertama kalinya dalam berhari-hari—mungkin berminggu-minggu—Raya merasakan kedamaian. "Kamu tahu," ucap Ares sambil melirik Raya sekilas, senyum tipis di bibirnya. "Sejak kita menikah, kita belum pernah benar-benar santai berdua. Selalu ada saja drama yang mengikuti kita." Raya menoleh, menatap profil wajah suaminya yang tampan. "Iya. Rasanya kita dari satu masalah ke masalah la
Ares tersenyum tipis mendengar nada kesal di suara istrinya. Ketegangan di bahunya sedikit mengendur. Ia menarik Raya ke dalam pelukan singkat di dalam lift yang mulai bergerak turun. "Aku janji," bisiknya sambil mengecup puncak kepala Raya. "Aku berjanji, Raya. Semua ini akan segera berakhir. Lulu mungkin melarikan diri, tapi dia sudah kehilangan segalanya—harta, nama baik, dan akses padaku. Dia hanya tikus yang sedang bersembunyi di lubang gelap," ucap Ares dengan nada yang menenangkan namun penuh keyakinan. Raya menarik napas panjang, mencoba mengatur detak jantungnya yang masih tidak keruan. Ia sempat menoleh ke belakang, ke arah pintu bangsal yang baru saja mereka tinggalkan. Wajahnya yang tegas tadi kini berubah lelah, menyisakan sisi kemanusiaan yang mendalam. "Tapi... Tania. Apa dia akan baik-baik saja?" tanya Raya pelan. "Maksudku, setelah semua drama tadi... apakah dia benar-benar akan mendapatkan bantuan yang dia butuhkan?" Ares sempat terdiam sejenak. Kilasan kekh







