Masuk“Anna!” Christian berlari cepat sebelum tubuh Annalise ambruk ke lantai. Beruntung, ia berhasil menangkapnya tepat waktu. “Anna, kamu tidak apa-apa?” tanyanya cemas. Annalise masih sedikit sadar. Dengan susah payah, ia membuka mata dan menatap wajah pria di hadapannya. “Chris ....” “Aku akan membawamu ke klinik kampus.” Christian mengangkat tubuh Annalise dan menggendongnya dalam dekapan. Begitu tiba di klinik kampus, ia segera membaringkan gadis itu di ranjang pemeriksaan. Petugas yang berjaga langsung memanggil dokter untuk memeriksa kondisinya. Christian berdiri di samping ranjang dengan wajah tegang. Ia baru bisa sedikit tenang setelah dokter selesai memeriksa Annalise. “Dia hanya kelelahan. Sepertinya dia juga belum makan dengan cukup. Biarkan dia beristirahat di sini sampai kondisinya membaik,” jelas dokter singkat. “Baik, Dokter.” Setelah memberikan beberapa instruksi kepada petugas, dokter itu segera meninggalkan ruangan untuk menangani pasien lain. Chr
“Aku sangat terharu Nona langsung tahu kalau ini aku. Apa selama ini Nona Alena menyimpan nomorku?” Suara Alena begitu dingin. “Tuan Yovie, langsung saja. Kenapa Anda menghubungi saya?” Sifat angkuh Alena membuat Yovie bersemangat. Ia tersenyum miring sebelum menjawab. “Nona Alena, kau sangat tidak sabaran.” “Saya tidak mau membuang waktu, Tuan Yovie.” “Baik, baik. Aku tidak akan mengganggu waktu berharga seorang wanita cantik sepertimu.” Yovie menjentikkan jarinya, membuang abu rokok ke salam asbak. “Nona Alena, bukankah kau sedang mencari tahu sesuatu?” Dahi Alena mengernyit. Apakah pria itu menyadari bahwa dirinya sedang dicurigai? “Anda benar. Kalau begitu, saya akan langsung bertanya, kenapa malam itu Anda berada di kawasan perumahan tua?” Alena tidak ingin basa-basi. Malam itu saat mengunjungi rumah nenek Aidan, ia sebenarnya tidak melihat Yovie secara langsung. Yang dilihatnya adalah sebuah mobil mewah terparkir tidak jauh dari halaman rumah nenek Aidan.
Alena langsung pamit dan meminta sopir mengantarkannya ke kafe Sunflower. Begitu tiba, Noel sudah menunggunya di salah satu kursi di ruang privat. Pria itu mengenakan kaus hitam yang dipadukan dengan celana denim. Ia terlihat santai seperti biasanya. “Noel,” sapa Alena. Pria itu akhirnya mendongak dari layar ponsel. Seketika senyum lebar terpampang di wajahnya. “Nona, kau sudah datang?” Noel segera berdiri, mengitari meja lalu menarik satu kursi untuk Alena duduki. Setelah Alena duduk, ia memanggil pelayan dan memesan minuman. Kini di atas meja mereka terdapat dua gelas minuman dingin. Noel menatap Alena, lalu bertanya, “Nona, apa kau menemukan sesuatu di rumah Aidan?” Alena mengangguk. Ia menyerahkan kartu nama yang diberikan nenek Aidan. Begitu membaca nama dan nomor telepon yang tertera di kartu nama itu, dahi Noel mengerut. “Bukankah ini putra kedua gubernur Yohan?” Alena mengangguk lagi. “Aku curiga dia ada kaitannya dengan kasus ini.” Noel mengerti. “
Pagi hari, Alena sudah berada di toko furnitur. Ia berniat membelikan nenek Aidan sofa baru lantaran sofa di rumah mereka sudah lapuk dan tampak kurang nyaman. Alena berjalan menyusuri deretan sofa yang dipajang, memperhatikan warna dan desainnya satu per satu. Setelah mempertimbangkan beberapa pilihan, ia akhirnya menemukan sofa yang cocok. Warnanya sederhana dan terlihat nyaman. Alena segera meminta pegawai toko mencatat pesanannya. Ia juga membeli beberapa peralatan rumah tangga dan bahkan beberapa potong baju rajut hangat sebelum akhirnya pergi menuju rumah nenek Aidan. Namun, begitu sampai di halaman rumah tua itu, Alena dikejutkan oleh pemandangan yang mengiris hatinya. Rumah tua yang kemarin masih tampak rapi, kini terlihat berantakan. Beberapa kursi tergeletak di halaman, pot bunga pecah berserakan, sementara pakaian dan barang-barang lainnya terhambur di tanah. Bahkan, beberapa perabotan tampak rusak seolah-olah seseorang sengaja mengacak-acak tempat itu. Di tenga
“Tidak bisa.” Heinry langsung menjawab. “Aku tidak mau dimarahi Damian karena menyembunyikan kondisimu. Apalagi, pria itu sudah berpesan supaya aku mengawasimu selama dia tidak di sini.” Alena hanya bisa pasrah saat Heinry menelepon Damian. Kata “mengawasi” itu pasti bukan karena Damian mengkhawatirkannya. Pria itu mungkin hanya takut dirinya membuat masalah yang bisa mencoreng nama keluarga. Heinry tidak bisa membaca pikiran Alena, jadi ia tidak menjelaskan maksudnya. Ia menunggu Damian mengangkat telepon tapi sampai panggilan terputus pun pria itu tetap tidak mengangkatnya. Heinry akhirnya menyerah. Ia memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celana lalu menatap Alena. “Ayo, aku akan mengantarmu pulang.” Alena merasa lega karena Heinry tidak berhasil menghubungi Damian. Ia mengangguk dan berjalan di belakang pria itu. Saat mereka tiba di lobi, seorang dokter cantik berambut panjang berjalan ke arah mereka. Langkah kaki Alena terhenti karena Heinry tiba-tiba diam.
“Tuan Yovie, apa yang Anda lakukan?” Yovie tersenyum canggung. “Aku mengerti, Nona Alena memang bukan wanita manja. Kalau begitu, boleh tidak aku menumpang? Mobilku sepertinya harus diderek.” Alena tidak mau bersikap kasar, tapi ia juga tidak ingin sembarangan memberi tumpangan pada seorang pria. Apalagi pria yang sudah beristri. Jadi ia berkata, “Saya akan menghubungi seseorang untuk menjemput dan mengantarkan Tuan Yovie ke rumah. Tolong tunggu sebentar.” Alena bermaksud menghubungi Noel. Namun, Yovie tiba-tiba bicara. “Nona Alena, apa kau takut padaku? Setiap kali aku mendekatimu, kau selalu saja menghindariku seperti ini.” Yovie akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Sebenarnya, sudah lama ia menyukai Alena. Wanita tercantik di kota Mananta itu, sangat rugi jika ia tidak bisa mendapatkannya. Walaupun mereka sama-sama sudah menikah, apa salahnya bermain belakang asal tidak sampai ketahuan? Dahi Alena mengernyit halus. “Tuan Yovie, apa kamu baru saja mengaku sengaja m







