Share

126. Cinta

Penulis: pramudining
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-09 16:13:59

Happy Reading

*****

Ardha memegang kepalanya yang mulai berdenyut nyeri. Semakin dia mendengar suara tawa Zanitha, dia semakin membuat kepalanya sakit saja. Mungkin, karena rindu yang tak bisa disalurkan pada si kecil.

Lelah dengan semua halusinasi yang bersarang di kepala, Ardha duduk di sofa ruang keluarga. Tempat di mana dia sering menghabiskan waktu dengan kedua orang tuanya dulu, tempat bercengkerama, bercerita banyak hal, mempererat rasa sayang antar anggota keluarga.

Sayangnya, semua k
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Menggoda Suami Majikanku   178. Kenangan Indah

    Happy Reading*****"Hei, kok kamu ngaku-ngaku gitu, sih?" ucap Elang yang juga membulatkan mata saat mendengar kalimat Yandra.Sang pengacara menggaruk kepala yang tak gatal. "Kan kita sudah sepakat, Lang. Zanitha juga anakku. Jadi, kamu nggak boleh nyakitin dia."Yandra dengan cepat mengambil alih gadis kecil yang berada di genggaman Elang bahkan sang pengacara menggendongnya, melindungi diri dari amukan lelaki yang sampai saat ini belum bisa menemukan istri baruna.Suasana kembali mencair, semua orang bahkan tamu yang tadi sempat berwajah tegang kembali semringah karena ucapan klarifikasi Yandra. "Sayang, kok, kamu nggak mihak Papi?" ucap Elang masih dengan wajah memelas supaya si kecil tergerak hatinya untuk memberitahukan keberadaan Ardha. "Aku nggak mau mihak Papi, nanti malah kena marah Mami," sahut Zanitha cepat.""Sekarang, katakan di mana mamimu?" tanya Elang dengan suara yang jauh lebih rendah. Zanitha dengan cepat mengangkat kedua bahunya. Tak lama berselang, sebuah sua

  • Menggoda Suami Majikanku   177. Hilang

    Happy Reading ***** "Sayang, kamu di mana?" panggil Elang yang tak melihat siapa pun di ruangan tersebut, padahal dia sudah sangat ingin berjumpa dengan perempuan yang baru beberapa menit lalu sah menjadi istrinya. Sunyi, tak ada seorang pun di ruangan tersebut padahal jelas-jelas Elang menyiapkan kamar tersebut khusus untuk Ardha. Elang pun berbalik arah, hendak kembali ke tempat dia mengucapkan akad nikah. Namun, baru saja akan melangkahkan kakinya, suara seseorang terdengar memanggil. "Papi," panggil si kecil dari arah samping kanan tempat Elang berisi sekarang. Elang menoleh, mengerutkan kening karena melihat Zanitha yang berisi sendirian tanpa didampingi oleh siapa pun. "Za sendirian? Mami mana, Sayang?" tanya sedikit panik serta khawatir. "Coba Papi tebak. Kira-kira, Mami ada di mana?" Elang terdiam, tetapi pikirannya mengembara, begitupun dengan bola matanya, bergerak-gerak berusaha mencari keberadaan sang istri. Namun, sampai beberapa menit kemudian, Ardha tak ju

  • Menggoda Suami Majikanku   176. Sah

    Happy Reading*****"Apa, Dek?" sahut Harjuna lembut supaya emosi si adik tidak meningkat. Menatap tajam pada saudara kandung satu-satu yang dia punya. "Kakak ini. kenapa Adek selalu merasa Kak Juna nggak suka sama Mas Awan. Perkataannya selalu memojokkan."Elang cuma bisa tersenyum ketika Ardha membelanya seperti sekarang. Hal itu jelas membuktikan bahwa cinta yang dimiliki sang pujaan sama besar dengan cintanya. "Dengar itu, Jun. Kamu ini," ucap Elang, menegaskan perkataan Ardha."Hmm." Wajah Harjuna seketika berubah sedih. Kepalanya mulai menunduk, tak mau menatap lawan bicaranya lagi."Mas Awan juga salah. Ngapain coba pengen tidur di kamarku. Nunggu beberapa puluh tahun saja sanggup, masak nunggu di hari saja nggak sanggup," lanjut Ardha memarahi sang kekasih. Elang kembali menggaruk kepalanya. "Syukurin," ucap Harjuna tanpa suara, hanya gerakan bibir saja."Ya, kan cuma pengen, Dek. Biar tambah tenang aja di pikiran kalau tidur di kamarmu," alibi Elang supaya mendapat simp

  • Menggoda Suami Majikanku   175. Tidur bareng

    Happy Reading *****Siapa pun yang mendengar perkataan Ardha tadi, pasti akan tertawa. Demikian juga dengan seluruh anggota keluarga dan juga Danu. Semua orang menertawakan si bungsu."Hmm. Kalian ini, nggak ada yang percaya sama aku. Lihat saja beberapa berita yang viral sekarang. Sudah nggak jaman, perempuan ngejar laki-laki. Sekarang, kebanyakan laki-laki yang ngejar cewek tajir. Mas Awan nggak takut?" tanya Ardha. Wajahnya begitu serius."Mas yakin, Dek. Kamu nggak akan pernah melakukan hal itu apalagi sampai mengkhianati, Mas. Jadi, nggak ada alasan atau keraguan lagi," ucap Elang, kembali meyakinkan kekasihnya. "Hmm. Terserah Mas sajalah."Tak lama kemudian, Danu pamit karena memang sudah tidak ada lagi yang perlu mereka bahas. Sudah lewat tengah malam, tetapi Ardha belum juga bisa memejamkan mata. Pikirannya terus dibayangi dengan Elang. Tentang segala pemikiran lelaki itu yang membuatnya semakin jatuh cinta sekaligus takut jika dia tidak bisa membalas semua cinta yang dibe

  • Menggoda Suami Majikanku   174. Godaan Harta

    Happy Reading *****Elang terpaksa menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil tersenyum salah tingkah. "Mas, ditanya kok malah senyum-senyum sendiri gitu, sih?" kata Ardha yang juga penasaran dengan jawaban lelaki yang dicintainya itu. Mana mungkin seorang lelaki seperti Elang merasa terancam, ketakutan dan tidak bisa mengatasi permasalahannya. Namun, ucapannya tadi seolah dia benar-benar merasakan rasa tidak menyenangkan itu. "Ehmm, gimana ngejelasinnya, ya," kata Elang masih dengan gerakan menggaruk kepala yang sama sekali tak gatal. "Mas takut kamu cemburu, Dek. "Ya, udah ngomong aja, sih, Mas. Aku nggak bakalan cemburu, kok. Apa yang disarankan Ayah dan keluargaku ada benarnya juga. Kegagalan pernikahanku dengan Harsa nggak boleh terjadi lagi.""Duh, amit-amit. Mas nggak akan pernah melakukan itu, Dek. Kamu harus yakin," sambar Elang, menghentikan ucapan buruk yang mungkin muncul di kepala sang kekasih."Kalau gitu, cepat katakan kenapa," sahut Harjuna, keras.Elang diam seben

  • Menggoda Suami Majikanku   173. Perjanjian

    Happy Reading****Harjuna dan Wisnu saling pandang. Melati bahkan menatap aneh pasangan yang akan segera meresmikan hubungan mereka. "Kalian berdua ini ngomong apa, sih?" tanya Harjuna, sepertinya juga mewakili isi hati Wisnu dan Melati."Ayah nyuruh aku pulang cepet pasti karena Za, kan?" tanya Ardha masih dengan wajah panik dan penuh tanda tanya.Terdengar gelak tawa Wisnu dan Melati secara bersamaan. Entah apa yang lucu dari perkataan putrinya. "Kok, Ayah tertawa?" Raut Ardha seketika berubah, dari panik menjadi curiga. "Benar yang dikatakan Ardha, Om. Kalau Za baik-baik saja, nggak mungkin kami disuruh pulang cepat, kan?" tambah Elang membenarkan ucapan sang kekasih. "Kalian berdua ini, terlalu parno," sahut Melati."Benar kata mamamu, Dek," tambah Wisnu, "Ayah nyuruh kamu pulang cepat bukan karena Za, dia sudah tidur pulas setelah minum obat.""Terus kenapa Om minta kami pulang cepat?" Elang mulai tak sabar. Tanpa diperintah, lelaki itu sudah duduk di sebelah Harjuna, sedan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status