Share

Bab 6

Author: Nia
Tidak bercerai.

Bersama seumur hidup.

Dulu, itu adalah mimpi indah yang dipupuk Kana seorang diri selama bertahun-tahun.

Namun, sekarang, melihat sikap Marcel yang seolah-olah sedang memberinya anugerah terbesar di dunia, Kana hanya ingin tertawa.

Setelah besok berlalu, semuanya akan berakhir.

Yang dia tunggu hanyalah mengantar ayahnya naik ke pesawat medis.

"Ya."

Kana menarik tangannya yang digenggam Marcel, lalu menyembunyikannya di balik selimut.

Kehangatan tubuh yang dulu begitu Kana dambakan, kini hanya meninggalkan rasa lengket yang menjijikkan bak ular berbisa.

Melekat erat seperti penyakit yang tidak bisa disingkirkan. Membuatnya muak.

"Nggak bakal terulang lagi. Nona Aline polos dan baik hati. Aku nggak bakal melakukan hal yang membuatnya sedih lagi."

Genggaman Marcel terasa kosong.

Dia sedikit mengernyit. Ada rasa gelisah yang samar-samar memenuhi dadanya.

"Bagus kalau kau sudah sadar." Marcel berdiri. "Mulai sekarang, di depan Aline, simpan sikap angkuhmu sebagai putri keluarga kaya."

Tidak lama setelah Marcel meninggalkan kamar pasien, Kana menerima pesan dari Paman Willy.

[Nona, proses perceraian sudah selesai. Semua uang sudah dipindahkan ke rekening Sweiss. Pesawat medis juga sudah siap. Besok pukul sepuluh pagi, kita bisa berangkat.]

Mata Kana langsung memanas.

Namun, pagi keesokan harinya, dia menerima telepon dari perawat yang menjaga ayahnya.

Suara di seberang telepon terdengar kacau dan ramai.

Nada bicara perawat itu penuh kepanikan. "Nona, cepat datang ke rumah sakit!"

"Saya nggak bisa menghentikan mereka. Ada seseorang bernama Nona Aline yang mengaku sebagai adik ipar tuan muda. Dia bersikeras membawa tuan besar keluar buat berjemur."

"Bagaimanapun saya mencoba menghentikannya, mereka nggak mau mendengarkan ...."

Tubuh Kana langsung gemetar hebat karena terkejut.

Ayahnya berada dalam kondisi koma berat dan hidup bergantung pada ventilator. Aline jelas sengaja ingin membunuh ayahnya.

Kana tidak berani menunda sedetik pun.

Dia segera menghentikan taksi dan bergegas menuju rumah sakit tempat ayahnya dirawat.

Di depan ruang ICU.

Aline sedang mendorong kursi roda. Di kursi roda itu, tubuh ayah Kana bersandar lemah dengan wajah pucat pasi. Wajahnya begitu tenang, seolah-olah dia sudah tidak bernapas.

Kaki Kana melemas. Hampir saja dia jatuh ke lantai.

Dia bergegas menghampiri dan langsung menampar wajah Aline.

"Apa kau sudah gila? Siapa yang mengizinkanmu menyentuh ayahku?"

Aline tidak sempat menghindar. Tamparan itu membuat kepalanya terhempas ke samping.

Kana juga langsung merebut kursi roda dari tangannya.

"Kakak." Aline menutupi pipinya. "Aku cuma berniat baik. Karena kau dirawat akibat keracunan alkohol, aku datang membantu menjaga paman. Nggak berterima kasih pun nggak apa-apa, tapi kenapa kau malah menamparku?"

Tubuh Kana gemetar karena marah. "Kau yakin itu niat baik?"

"Ayahku koma berat! Buat apa kau membawanya berjemur? Kau mau membunuhnya?"

Aline menangis tersedu-sedu beberapa kali.

Kemudian, dia perlahan berdiri dan mendekat ke telinga Kana. Dengan suara pelan, dia berkata.

"Kau benar sekali. Aku memang mau membunuhnya. Lalu apa yang bisa kau lakukan padaku?"

Suara Aline terdengar dingin dan kejam. "Aku cuma mau melihat, kalau ayahmu mati, apa kau masih bisa berpura-pura nggak peduli."

"Sebelum bertemu denganmu, aku kira kau adalah putri keluarga kaya yang keras kepala dan berani. Ternyata kau cuma orang yang kehilangan sandaran. Bahkan nggak tahu cara melawan. Membosankan sekali"

Aline menghalangi jalan Kana, dia tidak membiarkan Kana mendorong kursi roda kembali ke kamar pasien. "Jadi aku mau mengipasi bara dalam hidupmu. Bara itu adalah nyawa ayahmu. Kalau sekali gagal membunuhnya, masih ada dua kali. Kalau dua kali gagal, masih ada berkali-kali lagi. Aku mau melihat, kalau ayahmu mati, apa kau masih bisa bersikap setenang ini."

Amarah membakar seluruh tubuh Kana. Dia mengangkat kaki dan menendang Aline dengan keras.

"Minggir! Jangan menghalangi jalanku!"

Aline meringis kesakitan dan jatuh ke lantai.

Namun, senyum puas justru muncul di wajahnya.

Dia berteriak kepada para pengawal di belakangnya, "Kalian semua sudah mati, ya? Kalian cuma diam melihat dia menindasku?"

"Kak Marcel menyuruh kalian melindungiku. Siapa pun yang berani menyentuhku harus dibalas sepuluh kali lipat. Tendang dia sepuluh kali!"

"Kalau nggak, aku bakal bilang pada Kak Marcel kalau kalian ikut menindasku!"

Para pengawal yang semula ragu akhirnya bergerak. Tendangan pertama.

Tubuh Kana terlempar menghantam dinding dingin. Punggungnya langsung dipenuhi keringat dingin karena rasa sakit.

Tendangan kedua.

...

Tendangan kesepuluh.

Tulang-tulang di sekujur tubuh Kana terasa seperti akan patah.

Namun, dia tetap merangkak kembali ke depan ayahnya. Melindunginya mati-matian.

"Apa yang sedang terjadi di sini?"

Suara Marcel yang dingin terdengar dari belakang.

Aline langsung berlari ke pelukannya sambil menangis tersedu-sedu.

"Kak marcel, aku cuma mau membantu kakak membawa paman keluar buat menghirup udara segar. Tapi kakak langsung memukulku tanpa alasan. Para pengawal cuma melindungiku, jadi mereka terpaksa menyerangnya ...."

Marcel menoleh. Tatapannya sedingin es.

"Kana, baru kemarin aku memperingatkanmu. Apa perkataanku masuk telinga kanan keluar telinga kiri?"

"Marcel, apa kau buta?"

Suara Kana serak. "Ayahku hidup dengan bantuan ventilator. Dia mencabut selangnya. Menurutmu itu disebut menghirup udara segar?"

Marcel mengernyit.

"Aline juga berniat baik. Kalau kau nggak bisa bicara baik-baik, apa harus pakai tangan?"

Marcel menunduk melihat pipi Aline yang membengkak. Kemudian, dengan dingin memerintahkan para pengawal. "Tarik nyonya menjauh."

"Lakukan seperti yang Aline katakan. Bawa Tuan Oliver berjemur. Lima menit lagi baru kembalikan ke kamar pasien."

Kepala Kana berdengung hebat.

"Marcel, kau sudah gila? Kau bakal membunuhnya!"

"Nggak separah itu. Cuma lima menit. Dia nggak bakal mati. Anggap saja ini pelajaran kecil untukmu."

Setelah mengucapkan itu dengan dingin, Marcel memeluk Aline dan pergi tanpa menoleh lagi.

Kana ditekan kuat oleh para pengawal. Dia hanya bisa menyaksikan ayahnya yang tidak sadarkan diri didorong menuju teras yang disinari matahari terik.

Hantu perempuan itu terus menangis. Dia mati-matian mencakar dan memukul para pengawal itu. Namun, semuanya sia-sia.

Lima menit terasa seperti satu abad.

Begitu lama hingga Kana yang menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya hampir kehilangan kesadaran. Saat itulah suara Paman Willy akhirnya terdengar di telinganya.

"Nona ...."

"Tuan besar baru saja dibawa ke pesawat medis di lantai atas. Tunggu sebentar. Dokter bakal segera datang."

"Nggak perlu." Kana berpegangan pada tangan Paman Willy dan duduk dengan susah payah.

Dia mengangkat telepon genggamnya yang sejak tadi bergetar tanpa henti.

Suara Marcel yang dingin terdengar dari seberang sana.

"Untuk penyakit ayah mertua, aku sudah mengundang ahli dari luar negeri. Besok mereka bakal datang ke rumah sakit buat konsultasi. Asalkan kau nggak membuat masalah lagi, dia bakal segera membaik."

Senyum tipis muncul di bibir Kana. Dia menjawab dengan suara pelan, "Ya. Aku bakal menuruti semua yang kau katakan."

Setelah itu, dia memutuskan sambungan telepon dan melempar ponselnya ke samping.

Berpegangan pada tangan Paman Willy, Kana berdiri perlahan.

Rasa amis memenuhi tenggorokannya. Seteguk darah menyembur keluar, lalu dia menyekanya dengan pelan.

"Ayo, kita pergi."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 17

    Di lantai satu gereja.Sosok hantu perempuan yang tidak dapat dilihat siapa pun berbisik di telinga Kana."Kana, mereka datang. Mereka ada di lantai dua ... jangan takut."Bulu mata Kana bergetar pelan, tetapi dia tidak menoleh ke lantai dua, apalagi menunjukkan kepanikan.Takut? Sejak lama dia sudah tidak takut lagi.Lima tahun lalu di Hangkang, dia nyaris berjalan melewati neraka.Hari ini, kemungkinan terburuk hanyalah kematian. Lalu apa yang perlu ditakutkannya?Dia menjawab hantu perempuan itu dengan suara lembut."Aku nggak takut.""Aku sudah menempatkan orang-orang di tempat tersembunyi. Aku bukan cuma nggak takut, aku juga bakal mengubah takdir kita dengan tanganku sendiri."Di sudut gelap lantai dua.Tangan Marcel yang menggenggam pistol terus bergetar."Tembak!" Pria berwajah penuh bekas luka itu mendesak sambil menggertakkan gigi. "Apa lagi yang kau tunggu? Bunuh Noah, dan dia bakal menjadi milik kita!"Jari Marcel sudah menekan pelatuk lebih dari setengahnya.Asalkan dia me

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 16

    Pria itu tidak mengatakan apa-apa.Setelah menyunggingkan senyum dingin, dia perlahan mengeluarkan sebuah pistol yang telah dipasangi peredam suara.Moncong pistol hitam pekat itu dengan tenang diarahkan ke tengah dahi Aline."Ditambah kali ini, aku sudah membunuhmu sembilan kali. Semoga ini yang terakhir."Suara pria itu tidak menunjukkan sedikit pun emosi.Seolah merenggut nyawa Aline hanyalah perkara sepele baginya."Nggak! Jangan! Tolong!"Aline menjerit putus asa.Namun, yang menjawabnya hanyalah bunyi pelan pelatuk yang ditarik.Detik berikutnya, darah muncrat ke segala arah.Mata Aline membelalak lebar. Tubuhnya jatuh keras ke lantai, lalu tidak bergerak lagi.Pria itu menyimpan kembali pistolnya dengan ekspresi dingin.Dia menatap mayat Aline dari atas untuk waktu yang lama, lalu berbisik dengan suara serak dan dingin."Kuharap, saat kita bertemu lagi, kau cukup tahu diri buat menjauh sejak awal. Jangan datang lagi mengganggu hubunganku dengan Kana."Setelah mengatakan itu, pri

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 15

    Teriakan Marcel yang menyayat hati, serta suara keras pagar rumah besar yang ditendang hingga roboh, memutus kehangatan yang baru saja mengisi taman itu.Senyum di wajah Kana seketika menghilang.Dia menoleh, menatap Marcel yang berjalan cepat ke arahnya.Lima tahun berpisah, kini kembali bertemu.Namun, yang memenuhi hati Kana hanyalah rasa muak yang samar.Sebaliknya, Marcel tampak sangat terguncang.Tangannya yang terulur untuk meraih Kana bergetar hebat.Sayangnya, sebelum sempat menyentuhnya, Noah yang berdiri di sisi Kana menepis tangan itu dengan keras.Namun, Marcel seolah tidak melihat keberadaan orang lain.Sepasang matanya yang memerah menatap Kana tanpa berkedip."Kana, aku sudah mencarimu selama lima tahun penuh. Pulanglah bersamaku."Nada bicaranya mengandung keyakinan seolah semuanya sudah sewajarnya seperti itu.Kepercayaan dirinya bersumber dari cinta Kana di masa lalu, cinta yang pernah diberikan tanpa syarat.Bahkan, tatapan Marcel kepada Noah pun dipenuhi penghinaan

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 14

    Setelah mengatakan itu, Marcel berbalik dengan cepat dan tergesa-gesa naik ke mobil.Mobil Maybach itu melesat keluar dari parkiran bawah tanah seperti orang gila.Sementara pria yang telah memberi pencerahan kepada Marcel itu perlahan menghilang ke dalam sudut yang gelap.Dia menatap diam ke arah lenyapnya lampu belakang mobil Marcel.Di dalam tatapan yang hampa dan tanpa kehidupan itu, bergejolak obsesi yang tidak sehat."Pergilah."Dia bergumam pelan, "Semoga kali ini kau masih sempat."Dia perlahan menundukkan pandangan. Ujung jarinya yang kasar mengusap pistol dingin di dalam saku.Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum menyeramkan."Kalau di garis waktu ini kau masih gagal memenangkan hatinya kembali ....""Maka aku ... cuma bisa mengakhiri hidupmu seperti beberapa sampah sebelumnya. Aku bakal membunuhmu dengan tanganku sendiri, membunuh kalian semua, hingga di seluruh garis waktu ini cuma tersisa aku."Pria itu mendongak menatap kehampaan, lalu berbisik lirih, seolah

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 13

    Asisten itu menundukkan kepala, suaranya bergetar. "Maaf, Tuan Marcel.""Kami sudah mengerahkan semua sumber daya lintas negara yang bisa digunakan. Jalur resmi maupun ilegal sudah kami telusuri, tapi nyonya ... seolah benar-benar menghilang dari muka bumi. Nggak ada catatan penerbangan, nggak ada riwayat transaksi, nggak ada jejak kehidupan apa pun.""Tuan Marcel, sepertinya nyonya telah mengeluarkan harga yang sangat besar buat menyembunyikan dirinya .... Dia benar-benar nggak mau kita menemukannya lagi."Ruangan itu seketika diliputi keheningan.Beberapa saat kemudian, Marcel mendadak murka.Dia menendang meja rias di sampingnya hingga terbalik."Omong kosong!"Mata Marcel memerah, suaranya serak."Kana mencintaiku sejak usia delapan belas tahun sampai sekarang. Mana mungkin dia rela meninggalkanku?""Asalkan aku bisa menemukannya dan membuatnya tahu bahwa di hatiku juga ada dirinya, dia pasti bakal kembali.""Cari ... terus cari dia." Suaranya bergetar hebat. "Pasang hadiah buronan

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 12

    Duar!Seolah ada petir dahsyat meledak di dalam kepala Marcel.Enam miliar.Demi enam miliar yang digunakan untuk menyelamatkan nyawa Aline itu.Dia pernah menundukkan kepala di hadapan Tuan Oliver, menandatangani perjanjian untuk masuk ke keluarga Oliver sebagai menantu matrilokal, lalu sejak saat itu membenci Kana sepenuh hati.Namun, ternyata ... semua itu adalah kebohongan Aline.Enam miliar itu hanyalah utang judi yang dia habiskan di kasino Makau.Amarah yang berkobar di dada Marcel nyaris merobek dirinya sendiri. Namun, di sudut bibirnya justru terukir senyum dingin.Dia bertanya dengan suara yang dingin, "Masih ada lagi?""Masih ada ...." Sang asisten membuka beberapa rekaman CCTV yang telah dipulihkan dengan susah payah melalui tablet.Rekaman pertama memperlihatkan sebuah kasino bawah tanah. Setelah sengaja mematikan ponselnya, Aline mengobrol santai dengan teman di sampingnya.Dia berkata dengan nada penuh kemenangan, "Kana memang pengecut. Dia sampai menyuruh orang menculik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status