Partager

Bab 5

Auteur: Nia
Aline bahkan mengulurkan tangan, berniat menggandeng lengan putri Keluarga Asher, Rania Asher.

"Mulai sekarang, aku juga bakal lebih sering keluar dan berbaur. Sekalian memperkenalkan diri kepada semuanya. Namaku Aline, adik yang paling disayangi Marcel."

Rania mundur selangkah, menghindari tangan Aline seolah tengah menghindari sesuatu yang kotor.

Dia bahkan tidak sudi melirik Aline sedikit pun dan tetap melanjutkan percakapannya dengan Kana.

"Kana, kalau kau merasa nggak nyaman tinggal di rumah, vila di lereng bukit milikku lagi kosong. Kau bisa pindah ke sana kapan saja."

Pengabaian yang begitu terang-terangan itu membuat senyum Aline hilang, sementara sorot matanya dipenuhi kebencian.

Tiba-tiba, dia menarik lengan Kana dengan kasar.

Sambil menyeret Kana, dia menabrak menara sampanye setinggi tubuh manusia yang berada di samping mereka.

Prang!

Gelas-gelas kristal yang tidak terhitung jumlahnya jatuh dan pecah berserakan.

Minuman bercampur serpihan kaca dengan cepat menenggelamkan tubuh keduanya.

Aline terduduk lemas di atas pecahan kaca dengan wajah pucat pasi. Sambil menekan dadanya, dia terengah-engah, seolah napasnya akan putus pada detik berikutnya.

"Kakak, aku cuma mau berteman dengan kalian. Kenapa kau memaksaku minum alkohol?"

Saat Marcel berlari menghampiri, pemandangan itulah yang dia lihat.

Dia mendorong Kana yang sedang berusaha berdiri dengan sempoyongan, lalu dengan wajah marah mengangkat Aline ke dalam pelukannya.

Wajah Aline pucat pasi, seluruh tubuhnya gemetar dalam pelukan Marcel.

Dia mendongakkan kepala, memasang ekspresi rendah diri sekaligus ketakutan.

"Aku tahu aku nggak pantas berdiri di sini dan berbicara dengan kalian, tapi aku cuma mau mencoba berbaur dengan kalian .… Kakak, kenapa kau mendorongku?"

Mata Marcel memerah saat menatap Kana.

"Dia punya penyakit jantung bawaan. Setetes alkohol pun nggak boleh menyentuh bibirnya. Apa kau mau membunuhnya?"

Rania dan yang lainnya tercengang.

Dia bergegas maju dan membantu Kana yang tubuhnya penuh luka untuk berdiri.

"Marcel, apa kau sudah gila? Bagaimana bisa ini salah Kana? Jelas-jelas wanita itu yang ...."

"Minggir!"

Marcel sama sekali tidak mau mendengar, dia memotong dengan suara keras.

"Kana, aku sudah tahu. Semua sikap murah hati yang kau tunjukkan selama ini hanyalah sandiwara. Saat aku nggak melihat, ternyata begini caramu menindas Aline?"

Dia menyerahkan Aline kepada asistennya yang berdiri di belakang, lalu menarik Kana dari tangan Rania.

"Grup Ehren sudah lama menjadi perusahaan kosong. Hidup atau matinya ayahmu cuma bergantung pada satu perkataanku. Dari mana kau mendapat keberanian buat melakukan ini, hm?"

Setelah mengatakan itu, Marcel menunjuk botol-botol minuman keras yang berserakan di lantai dan memberi perintah kepada para pengawal yang mengikutinya.

"Karena nyonya begitu suka memaksa orang minum, biarkan dia sendiri yang minum sampai puas. Tuangkan semua minuman yang ada di lantai itu ke dalam mulutnya. Jangan sampai tersisa setetes pun."

Kana menatapnya dalam diam.

Kalimat "aku tidak melakukannya" tertahan di tenggorokannya.

Tidak ada lagi alasan untuk mengucapkannya, karena Marcel tidak akan percaya.

"Nggak perlu dipaksa." Suara Kana serak, seolah sedang menangis.

"Aku minta maaf. Ini salahku. Aku bakal minum sendiri."

Setelah mengatakannya, di tengah seruan kaget teman-temannya, Kana mendongak dan menenggak sebotol minuman keras tanpa ragu.

Seteguk demi seteguk.

Tenggorokannya terasa terbakar seperti disiram api.

Dua botol minuman habis masuk ke perutnya.

Tangan Kana terus gemetar, sementara pandangannya mulai kabur.

Rania memeluk dan menopangnya dengan hati yang hancur.

Ekspresi hantu perempuan itu juga dipenuhi kesedihan. Dia menelungkup di atas tubuh Kana, seolah sedang memeluknya erat.

"Kana yang baik, tidurlah. Setelah bangun nanti, semuanya bakal baik-baik saja."

Namun, Kana hanya menatap kosong ke arah hantu perempuan yang hanya bisa dilihat olehnya seorang.

Suara hantu perempuan itu tidak lagi serak seperti seseorang yang menelan pecahan kaca. Kini terdengar jernih dan lembut.

Bekas cekikan berwarna ungu kebiruan yang mengerikan di lehernya pun telah menghilang sepenuhnya.

Senyum tipis terukir di wajah Kana.

Lihatlah, luka-luka di tubuh hantu perempuan itu mulai pulih.

Selama dia mampu bertahan melewati lima hari ini, masa depan akan berubah.

Dia dan ayahnya juga akan tetap hidup dengan baik.

Menahan pusing dan rasa sakit yang mengaduk-aduk perutnya, Kana menatap Marcel dengan tenang.

"Sekarang ... sudah cukup, 'kan?"

Setelah mengucapkan itu, tubuhnya langsung lemas dan jatuh ke lantai.

Saat dia membuka mata lagi, tiga hari telah berlalu.

Begitu sadar, orang pertama yang dilihatnya adalah Marcel.

"Kana, aku harap setelah pelajaran kali ini, kau berhenti mencari-cari masalah dengan Aline."

"Dia cuma gadis yang polos dan nggak punya niat buruk. Aku membawanya di sisiku cuma karena takut dia terluka. Kalau kau terus membuat keributan seperti ini, aku nggak bisa menjamin apa yang bakal kulakukan padamu."

"Termasuk teman-temanmu yang ikut menindas Aline malam itu. Nggak satu pun dari mereka bakal kulepaskan."

Kana menatapnya lama sekali.

Wajah tegas itu. Bibir tipis itu.

Kalau dipikir-pikir sekarang, sepertinya cintanya juga tidak sedalam itu.

Bagaimana bisa demi pria seperti ini, Kana sampai menempuh jalan buntu yang berakhir dengan kehancuran keluarganya?

Lamunannya membuat Marcel mulai kesal.

"Apa kau mendengarkan perkataanku?"

Kana tersadar dan kembali fokus. "Maaf, bisa kau ulangi sekali lagi?"

Marcel menarik napas dalam-dalam, seolah sedang menahan amarah. "Aku bilang, aku nggak bakal menceraikanmu."

"Aku nggak punya perasaan seperti itu pada Aline. Jadi berhentilah mempersulitnya. Grup Ehren sudah lama bergabung ke dalam Grup Davka. Seumur hidup ini, kita bakal tetap bersama."

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 17

    Di lantai satu gereja.Sosok hantu perempuan yang tidak dapat dilihat siapa pun berbisik di telinga Kana."Kana, mereka datang. Mereka ada di lantai dua ... jangan takut."Bulu mata Kana bergetar pelan, tetapi dia tidak menoleh ke lantai dua, apalagi menunjukkan kepanikan.Takut? Sejak lama dia sudah tidak takut lagi.Lima tahun lalu di Hangkang, dia nyaris berjalan melewati neraka.Hari ini, kemungkinan terburuk hanyalah kematian. Lalu apa yang perlu ditakutkannya?Dia menjawab hantu perempuan itu dengan suara lembut."Aku nggak takut.""Aku sudah menempatkan orang-orang di tempat tersembunyi. Aku bukan cuma nggak takut, aku juga bakal mengubah takdir kita dengan tanganku sendiri."Di sudut gelap lantai dua.Tangan Marcel yang menggenggam pistol terus bergetar."Tembak!" Pria berwajah penuh bekas luka itu mendesak sambil menggertakkan gigi. "Apa lagi yang kau tunggu? Bunuh Noah, dan dia bakal menjadi milik kita!"Jari Marcel sudah menekan pelatuk lebih dari setengahnya.Asalkan dia me

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 16

    Pria itu tidak mengatakan apa-apa.Setelah menyunggingkan senyum dingin, dia perlahan mengeluarkan sebuah pistol yang telah dipasangi peredam suara.Moncong pistol hitam pekat itu dengan tenang diarahkan ke tengah dahi Aline."Ditambah kali ini, aku sudah membunuhmu sembilan kali. Semoga ini yang terakhir."Suara pria itu tidak menunjukkan sedikit pun emosi.Seolah merenggut nyawa Aline hanyalah perkara sepele baginya."Nggak! Jangan! Tolong!"Aline menjerit putus asa.Namun, yang menjawabnya hanyalah bunyi pelan pelatuk yang ditarik.Detik berikutnya, darah muncrat ke segala arah.Mata Aline membelalak lebar. Tubuhnya jatuh keras ke lantai, lalu tidak bergerak lagi.Pria itu menyimpan kembali pistolnya dengan ekspresi dingin.Dia menatap mayat Aline dari atas untuk waktu yang lama, lalu berbisik dengan suara serak dan dingin."Kuharap, saat kita bertemu lagi, kau cukup tahu diri buat menjauh sejak awal. Jangan datang lagi mengganggu hubunganku dengan Kana."Setelah mengatakan itu, pri

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 15

    Teriakan Marcel yang menyayat hati, serta suara keras pagar rumah besar yang ditendang hingga roboh, memutus kehangatan yang baru saja mengisi taman itu.Senyum di wajah Kana seketika menghilang.Dia menoleh, menatap Marcel yang berjalan cepat ke arahnya.Lima tahun berpisah, kini kembali bertemu.Namun, yang memenuhi hati Kana hanyalah rasa muak yang samar.Sebaliknya, Marcel tampak sangat terguncang.Tangannya yang terulur untuk meraih Kana bergetar hebat.Sayangnya, sebelum sempat menyentuhnya, Noah yang berdiri di sisi Kana menepis tangan itu dengan keras.Namun, Marcel seolah tidak melihat keberadaan orang lain.Sepasang matanya yang memerah menatap Kana tanpa berkedip."Kana, aku sudah mencarimu selama lima tahun penuh. Pulanglah bersamaku."Nada bicaranya mengandung keyakinan seolah semuanya sudah sewajarnya seperti itu.Kepercayaan dirinya bersumber dari cinta Kana di masa lalu, cinta yang pernah diberikan tanpa syarat.Bahkan, tatapan Marcel kepada Noah pun dipenuhi penghinaan

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 14

    Setelah mengatakan itu, Marcel berbalik dengan cepat dan tergesa-gesa naik ke mobil.Mobil Maybach itu melesat keluar dari parkiran bawah tanah seperti orang gila.Sementara pria yang telah memberi pencerahan kepada Marcel itu perlahan menghilang ke dalam sudut yang gelap.Dia menatap diam ke arah lenyapnya lampu belakang mobil Marcel.Di dalam tatapan yang hampa dan tanpa kehidupan itu, bergejolak obsesi yang tidak sehat."Pergilah."Dia bergumam pelan, "Semoga kali ini kau masih sempat."Dia perlahan menundukkan pandangan. Ujung jarinya yang kasar mengusap pistol dingin di dalam saku.Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum menyeramkan."Kalau di garis waktu ini kau masih gagal memenangkan hatinya kembali ....""Maka aku ... cuma bisa mengakhiri hidupmu seperti beberapa sampah sebelumnya. Aku bakal membunuhmu dengan tanganku sendiri, membunuh kalian semua, hingga di seluruh garis waktu ini cuma tersisa aku."Pria itu mendongak menatap kehampaan, lalu berbisik lirih, seolah

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 13

    Asisten itu menundukkan kepala, suaranya bergetar. "Maaf, Tuan Marcel.""Kami sudah mengerahkan semua sumber daya lintas negara yang bisa digunakan. Jalur resmi maupun ilegal sudah kami telusuri, tapi nyonya ... seolah benar-benar menghilang dari muka bumi. Nggak ada catatan penerbangan, nggak ada riwayat transaksi, nggak ada jejak kehidupan apa pun.""Tuan Marcel, sepertinya nyonya telah mengeluarkan harga yang sangat besar buat menyembunyikan dirinya .... Dia benar-benar nggak mau kita menemukannya lagi."Ruangan itu seketika diliputi keheningan.Beberapa saat kemudian, Marcel mendadak murka.Dia menendang meja rias di sampingnya hingga terbalik."Omong kosong!"Mata Marcel memerah, suaranya serak."Kana mencintaiku sejak usia delapan belas tahun sampai sekarang. Mana mungkin dia rela meninggalkanku?""Asalkan aku bisa menemukannya dan membuatnya tahu bahwa di hatiku juga ada dirinya, dia pasti bakal kembali.""Cari ... terus cari dia." Suaranya bergetar hebat. "Pasang hadiah buronan

  • Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan   Bab 12

    Duar!Seolah ada petir dahsyat meledak di dalam kepala Marcel.Enam miliar.Demi enam miliar yang digunakan untuk menyelamatkan nyawa Aline itu.Dia pernah menundukkan kepala di hadapan Tuan Oliver, menandatangani perjanjian untuk masuk ke keluarga Oliver sebagai menantu matrilokal, lalu sejak saat itu membenci Kana sepenuh hati.Namun, ternyata ... semua itu adalah kebohongan Aline.Enam miliar itu hanyalah utang judi yang dia habiskan di kasino Makau.Amarah yang berkobar di dada Marcel nyaris merobek dirinya sendiri. Namun, di sudut bibirnya justru terukir senyum dingin.Dia bertanya dengan suara yang dingin, "Masih ada lagi?""Masih ada ...." Sang asisten membuka beberapa rekaman CCTV yang telah dipulihkan dengan susah payah melalui tablet.Rekaman pertama memperlihatkan sebuah kasino bawah tanah. Setelah sengaja mematikan ponselnya, Aline mengobrol santai dengan teman di sampingnya.Dia berkata dengan nada penuh kemenangan, "Kana memang pengecut. Dia sampai menyuruh orang menculik

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status