MasukPada Hari Anak Internasional, aku tiba-tiba menerima telepon dari putriku di masa depan. Sambil tersenyum, aku bertanya, "Nak, apa Mama dan Papa masih saling mencintai dan hidup bahagia?" Dengan bangga, gadis kecil itu menjawab, "Tentu! Papa dan Mama saling sayang. Mereka nggak pernah bertengkar. Papa bilang, Mama itu orang yang paling Papa cintai seumur hidup!" Wajahku langsung memerah. Dalam hati aku mengomel, sejak kapan Joel pandai mengatakan hal semanis itu di depan anak? Tenggelam dalam rasa bahagia, aku kembali bertanya, "Kalau gitu, margamu ikut Mama, Winata, atau ikut Papa, Gutama?" Gadis kecil itu terdiam sejenak, seolah kebingungan. "Aku ikut Papa, Gutama. Tapi Mama marganya Santoso. Namanya Olivia." Seketika tubuhku membeku. Olivia ... itu nama sahabat masa kecilku. Kemarin, dia bahkan sampai masuk rumah sakit karena membelaku saat bertengkar dengan Joel.
Lihat lebih banyakBegitu keluar dari bandara, Joel langsung menuju kantorku.Dia menunggu hingga malam. Saat aku dan Dennis keluar dari gedung perusahaan, barulah akhirnya dia melihat kami.Kami masih berjalan berdampingan sambil tertawa dan berdebat soal rencana kerja hari itu.Begitu melewati pintu keluar, langkah Dennis tiba-tiba terhenti.Aku mengikuti arah pandangannya dan melihat sosok yang begitu kukenal.Joel berdiri di bawah lampu jalan, menatapku tanpa berkedip.Refleks aku hendak berbalik ke arah lain. Namun Joel berlari menghampiri, bahkan nyaris tertabrak mobil yang melintas.Dia mencengkeram pergelangan tanganku begitu erat hingga terasa nyeri."Joel! Apa sebenarnya maumu?""Bukannya kamu sendiri yang nyuruh aku pergi? Aku sudah pergi. Lalu sekarang kenapa kamu malah datang nyari aku?"Matanya merah karena kelelahan. Tatapannya dipenuhi kepanikan.Dia buru-buru menggeleng. "Fiona, jangan begini. Aku tahu aku salah.""Pulanglah sama aku. Aku janji semua ini nggak akan terulang lagi. Olivia
Joel terdiam selama beberapa detik, seolah sengaja menungguku bertanya lebih banyak.Entah sejak kapan, dia mulai merindukan suaraku.Hanya mendengarnya sebentar saja sudah membuat hatinya merasa lebih tenang."Fiona, jangan marah lagi, ya. Cepat pulang.""Sekarang aku benar-benar butuh kamu."Aku hanya tertawa sinis. Di matanya, rupanya aku tak lebih dari seseorang yang bisa dipanggil kapan pun dia mau.Begitu dia merasa membutuhkan, aku harus selalu ada di sisinya.Keheninganku malah disalahartikan oleh Joel. Dengan suara yang jarang sekali selembut itu, dia kembali berkata, "Fiona, setelah semua ini selesai, aku akan menebus semuanya. Soal foto pernikahan yang dulu kamu inginkan, mau konsep tradisional ataupun gaya Barat, terserah kamu.""Atau kita ...."Aku sudah muak mendengarnya dan langsung menyela."Sudah cukup, Joel.""Kamu terlalu merasa dirimu penting. Memang, dulu aku pernah mencintaimu sepenuh hati selama bertahun-tahun. Tapi sejak tahu kamu mengkhianatiku, semuanya sudah
Menyadari Olivia sedang marah, Joel menghela napas panjang.Dia meraih Olivia ke dalam pelukannya dan memeluknya erat."Sudahlah, jangan bicara begitu hanya karena emosi. Kamu 'kan tahu, orang yang paling aku cinta tetap kamu. Fiona cuma sedang ngambek. Tunggu dua hari lagi, begitu amarahnya reda, dia pasti pulang. Aku tinggal minta maaf dan mengalah sedikit. Dia pasti akan dengan senang hati ngasih aku proyek yang lebih besar."….Setibanya di di Kota Losanya, aku beristirahat selama dua hari.Setelah itu, aku langsung mulai menyesuaikan diri dengan pekerjaan di kantor cabang.Orang yang ikut berangkat bersamaku adalah Dennis Saputra, putra tunggal Pak Fredy, Presiden Direktur Grup Saputra.Ayah bilang, begitu Pak Fredy mendengar aku akan dikirim ke luar negeri untuk menimba pengalaman,beliau langsung memutuskan mengirim Dennis agar ikut ditempa.Yang masih membuatku heran, Keluarga Saputra memiliki begitu banyak perusahaan sendiri. Kenapa justru dia dikirim berlatih di perusahaan mi
Langkah Joel langsung terhenti.Dengan wajah tak percaya, dia menatap Ayah yang berdiri di atas panggung, seolah tak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya.Dari berbagai penjuru ruangan terdengar tawa-tawa kecil yang menyakitkan, cukup jelas hingga menusuk telinganya.Perwakilan Grup Saputra berjalan melewatinya, sengaja menyenggol bahunya hingga dia terdorong ke samping.Tatapan pria itu penuh ejekan."Maaf ya, Pak Joel. Kesempatan kali ini jatuh ke tangan kami.""Proyek sebesar ini memang bukan perkara mudah. Mungkin Pak Andre khawatir Anda yang terbiasa hidup nyaman belum sanggup menanganinya."Selama ini Joel selalu diperlakukan bak tamu kehormatan. Penghinaan di depan banyak orang itu benar-benar membuat harga dirinya hancur.Dia terpaku di tempat, wajahnya memerah karena marah sekaligus malu.Begitu melihat kedua pihak hendak menandatangani kontrak dan membubuhkan stempel, dia langsung menerobos ke depan seperti kehilangan akal."Jangan! Kontrak itu nggak boleh ditandatanga






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.