Short
Selamat Tinggal, Mimpi Lama

Selamat Tinggal, Mimpi Lama

Oleh:  SilasTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Bab
223Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Pada Hari Anak Internasional, aku tiba-tiba menerima telepon dari putriku di masa depan. Sambil tersenyum, aku bertanya, "Nak, apa Mama dan Papa masih saling mencintai dan hidup bahagia?" Dengan bangga, gadis kecil itu menjawab, "Tentu! Papa dan Mama saling sayang. Mereka nggak pernah bertengkar. Papa bilang, Mama itu orang yang paling Papa cintai seumur hidup!" Wajahku langsung memerah. Dalam hati aku mengomel, sejak kapan Joel pandai mengatakan hal semanis itu di depan anak? Tenggelam dalam rasa bahagia, aku kembali bertanya, "Kalau gitu, margamu ikut Mama, Winata, atau ikut Papa, Gutama?" Gadis kecil itu terdiam sejenak, seolah kebingungan. "Aku ikut Papa, Gutama. Tapi Mama marganya Santoso. Namanya Olivia." Seketika tubuhku membeku. Olivia ... itu nama sahabat masa kecilku. Kemarin, dia bahkan sampai masuk rumah sakit karena membelaku saat bertengkar dengan Joel.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Tenggorokanku tercekat, sementara tanganku yang memegang ponsel gemetar tanpa henti.

Bagaimana mungkin?

Aku sudah mengenal Olivia lebih dari sepuluh tahun. Dia orang yang terus terang dan apa adanya.

Orang yang paling tidak dia sukai justru Joel. Menurutnya, pria itu hanya pandai menjaga citra dan tidak pernah benar-benar memperlakukanku dengan baik.

Karena itulah, setiap kali mereka bertemu, ujung-ujungnya selalu bertengkar.

Bahkan gara-gara Joel pernah menjelek-jelekkan Olivia, hubunganku dengan Joel nyaris kandas beberapa kali.

Lamunanku buyar oleh suara gadis kecil dari seberang telepon.

"Tante, Tante belum kasih tahu aku, kapan Papa akan pulang buat nemanin aku di Hari Anak?"

Sambil menahan nyeri yang mencengkeram dada, aku bertanya selembut mungkin, "Nak, sekarang umurmu berapa?"

"Enam tahun!"

Enam tahun ....

Kalau semua ini benar, berarti saat ini juga Olivia sedang mengandungnya.

Brak!

Ponselku terlepas dan jatuh ke lantai. Bulu kudukku seketika berdiri.

Baru kemarin kami pergi berbelanja, dan ukuran baju Olivia berubah dari M menjadi L.

Aku bahkan sempat menggodanya karena mengira dia mulai bertambah gemuk, sama sekali tidak menyadari kepanikan yang sempat melintas di wajahnya.

Tidak mungkin. Ini mustahil.

"Nak …."

Baru saja hendak bertanya lebih jauh, terdengar suara seorang pria dari seberang telepon.

"Nadya, lagi bicara sama siapa?"

Suara itu begitu familier. Suara pria yang telah tidur di sisiku selama empat tahun terakhir.

Nadya ....

Itu nama yang baru kupilih dua hari lalu.

Malam itu, aku memergoki Joel sedang membolak-balik kamus.

Katanya, dia sedang mencarikan nama untuk anak kami kelak.

Aku menggodanya. Kami bahkan belum menikah, kenapa sudah sibuk memikirkan nama anak?

Dia hanya menunduk sambil tersenyum, lalu berkata, "Nggak usah terburu-buru."

Tidak usah terburu-buru...

Rupanya karena anak itu memang bukan anak kami.

"Tante, aku sudah simpan nomor Tante. Nanti kita ngobrol lagi, ya."

"Sekarang aku mau rayain Hari Anak dulu!"

Sambungan telepon pun terputus. Aku segera menghentikan taksi dan pergi ke rumah sakit.

Saat melewati meja perawat, kulihat Joel berdiri di lorong ruang rawat.

Kemarin kami sempat bertengkar, lalu Olivia membelaku.

Mereka kembali berkelahi hingga akhirnya sama-sama masuk rumah sakit.

Asisten Joel bahkan mengatakan bahwa semalam dia sudah terbang ke Kota Nala.

Begitu Joel masuk ke ruang rawat, aku diam-diam menghampiri pintunya.

Dari balik pintu, kulihat Joel sedang memeluk Olivia dengan penuh kasih sayang.

"Kamu sudah terlalu banyak berkorban, Olivia. Demi menjaga kandunganmu, kamu bahkan harus ikut bersandiwara begini. Begitu aku berhasil dapatin proyek baru dari keluarga Winata, aku akan putus dengan Fiona. Setelah itu, kamu dan anak kita akan kujaga seperti harta paling berharga."

Aku berdiri terpaku di luar pintu. Kuku jariku sampai menancap ke telapak tangan sendiri saat aku berusaha mati-matian menahan air mata.

Olivia menghela napas pelan.

"Aku juga nggak mau semuanya jadi begini. Tapi Fiona sahabatku sejak kecil. Aku nggak mau dia terluka. Bukannya belakangan ini kamu baru kenalan sama beberapa bos besar? Nanti kenalin saja beberapa di antaranya sama Fiona. Anggap saja itu sebagai ganti rugi kita untuk dia."

Tenggorokanku rasanya seperti disayat ribuan serpihan kaca. Sakit, sampai aku tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Padahal para bos besar yang baru dikenal Joel belakangan ini tak ada satu pun yang usianya di bawah lima puluh tahun.

Bahkan ada yang sudah tiga kali bercerai.

Aku berbalik menuju tangga darurat sambil menghapus air mata, lalu menghubungi Ayah.

"Ayah, batalin semua proyek Grup Winata yang rencananya akan dikasih ke Grup Gutama."

"Soal ngambil alih kantor cabang di luar negeri ... aku berubah pikiran. Minggu depan aku yang akan berangkat."

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
9 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status