LOGINSelesai ujian masuk perguruan tinggi, aku tidak sengaja melihat sebuah unggahan. [Kalau bisa mengulang, jurusan apa yang akan kamu ganti kali ini?] Di kolom komentar, banyak sekali orang yang ingin berganti jurusan dan alasan penyesalan mereka juga bermacam-macam. Ada satu komentar yang terlihat begitu berbeda di antara sekian banyak jawaban. [Aku akan memilih jurusan Sastra dalam negeri.] [Dengan begitu, aku dan dia nggak perlu melewatkan empat tahun yang harusnya bisa kami lalui bersama tiap waktu, cuma karena mikirin si beban itu.] Aku pun tersenyum. Baru saja hendak menggeser layar, tiba-tiba aku melihat foto profil dan akun yang sama persis dengan Nadya Jiandra, teman masa kecilku. Saat aku mengekliknya, profil pribadinya juga sama persis, hanya saja usianya sepuluh tahun lebih tua. Hatiku langsung terasa hampa. Ternyata, inilah Nadya sepuluh tahun kemudian. Pantas saja, saat tahu kami diterima di jurusan yang sama, hanya aku satu-satunya yang bersorak gembira. Pantas saja, saat melihat teman masa kecilku, Aldo Prasetya, menerima surat penerimaan dari jurusan Sastra dalam negeri, Nadya terdiam begitu lama. Ternyata, akulah yang menjadi beban bagi Nadya, yang menyebabkan begitu banyak penyesalan dan kekecewaan di hatinya. Jika seperti itu …. Aku dengan tenang mengeklik tombol konfirmasi dan menerima surat penerimaan kuliah yang seluruhnya ditulis dalam bahasa asing itu. Jika seperti itu, biarkan aku mengakhiri kesalahan ini sepuluh tahun lebih awal.
View MoreNadya membawa banyak kue putu.Dahulu, makanan yang paling aku sukai adalah kue putu yang dijual di ujung gang. Waktu masih kecil, Nadya membelikannya untukku setiap beberapa hari sekali. Dia selalu merasa heran mengapa aku tidak pernah bosan memakannya.Hanya saja, setelah masuk SMA, Nadya tidak pernah membelikannya lagi untukku.Aku menyapanya dengan tenang. Pak Imran dan Bu Ratih juga tidak lagi mengatakan apa pun dan segera pergi meninggalkan kami berdua."Bayu."Nadya berdiri di tengah ruangan. Setelah empat tahun tidak bertemu, tubuhnya menjadi jauh lebih kurus dan agak terhuyung-huyung."Kamu sudah punya pacar?"“Hmm,” gumamku pelan.Nadya tiba-tiba tertawa dan matanya tampak memerah."Baguslah.""Bayu, waktu itu, Aldo mencampurkan obat ke dalam minumanku.""Bertahun-tahun setelahnya, aku memang sempat menjalin hubungan yang nggak jelas dengannya. Tapi, kami benar-benar nggak pernah tidur bareng lagi."Otakku membeku untuk sesaat. Barulah kemudian aku mengerti apa yang sedang di
Pak Imran dan Bu Ratih sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Mereka mengira Bayu pergi diam-diam tanpa memberitahu Nadya, sehingga Nadya merasa sedih untuk sementara waktu."Nggak apa-apa. Bayu nggak pergi selamanya. Lagian, kalau kamu rindu, kamu bisa ke luar negeri untuk menemuinya kapan saja, ‘kan?"Wajah Nadya tampak pucat pasi dan hatinya terasa begitu sakit.Bagaimana mungkin dia berani?Bagaimana mungkin Nadya masih punya muka untuk kembali mencari Bayu?[Kak, hati-hati di jalan.]Nadya memegang ponselnya. Selama beberapa menit, dia mengedit pesan itu. Namun, pada akhirnya hanya bisa mengirimkan kata-kata itu saja.Namun, di luar dugaan, aku tidak memblokirnya, melainkan langsung membalasnya.[Makasih.][Ke depannya, aku nggak pakai nomor ini lagi. Kalau ada apa-apa, bisa minta Paman dan Bibi untuk menghubungiku.]Saat ini, aku sudah mendarat di bandara negara asing.Aku memapah nenekku. Baru saja duduk di dalam taksi menuju apartemen, aku melihat pesan dari Nadya.Benar saja
Kepala Nadya terasa makin sakit.Kedua ingatan itu berbenturan di dalam dirinya, kepalanya seakan hampir pecah dan jiwanya bahkan terasa seperti tercabut keluar.Bagaimana mungkin Bayu bisa meninggal?Nadya sepuluh tahun yang lalu bertanya pada dirinya sendiri dan Nadya sepuluh tahun kemudian juga menanyakan hal yang sama.Nadya berdiri di depan pintu kamar jenazah, mendengarkan orang-orang rumah sakit jiwa menjelaskan kronologi kematian Bayu."Pasien ini terlalu beringas. Kami sama sekali nggak bisa mengendalikan dia.""Begitu dilepas, dia langsung lari ke jendela dan melompat ke bawah ….""Nggak mungkin, nggak mungkin …."Nadya langsung hendak menerobos masuk dan menyingkap kain putih yang menutupi tubuh Bayu.Akan tetapi, Aldo langsung menahannya dan berkata dengan nada pilu."Nadya, Bayu meninggal karena lompat dari gedung. Semasa hidupnya, dia paling mementingkan penampilan. Dia pasti nggak mau kamu melihat keadaannya yang sekarang!"Kepala Nadya langsung berdengung.Benar juga, B
Mereka pergi daftar ulang bersama-sama untuk mengambil kartu mahasiswa, lalu masuk ke grup obrolan kelas yang sama.Semuanya tampak begitu normal.Hanya saja, setelah kesibukan itu berlalu, Nadya terdiam di asrama sambil memandangi foto bersama mahasiswa baru jurusan Sastra dalam negeri.Oleh karena itu, satu jam kemudian, ketika Aldo bertanya apakah dia ingin pergi makan bersama, Nadya pun langsung menyetujuinya.Sesampainya di tempat tujuan, barulah Nadya menyadari jika itu adalah acara kumpul-kumpul jurusan Sastra dalam negeri dan dirinya adalah satu-satunya mahasiswi dari fakultas bahasa lain.Menurut Aldo, Bayu yang awalnya berjanji untuk ikut, tiba-tiba merasa tidak enak badan, sehingga akhirnya Bayu memutuskan untuk tidak datang.Di acara jamuan makan itu, Nadya dikerumuni oleh banyak orang. Nadya merasa sesak, lalu minum gelas demi gelas.Akhirnya, Aldo mengantar Nadya ke hotel terdekat untuk beristirahat.Begitu kamar dibuka, ciuman Aldo langsung mendarat di bibir Nadya.Dalam






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.