Short
Sepanjang Hidup Ini, Kuharap Kita Tak Bertemu Lagi

Sepanjang Hidup Ini, Kuharap Kita Tak Bertemu Lagi

By:  EverCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
8Chapters
2views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Selesai ujian masuk perguruan tinggi, aku tidak sengaja melihat sebuah unggahan. [Kalau bisa mengulang, jurusan apa yang akan kamu ganti kali ini?] Di kolom komentar, banyak sekali orang yang ingin berganti jurusan dan alasan penyesalan mereka juga bermacam-macam. Ada satu komentar yang terlihat begitu berbeda di antara sekian banyak jawaban. [Aku akan memilih jurusan Sastra dalam negeri.] [Dengan begitu, aku dan dia nggak perlu melewatkan empat tahun yang harusnya bisa kami lalui bersama tiap waktu, cuma karena mikirin si beban itu.] Aku pun tersenyum. Baru saja hendak menggeser layar, tiba-tiba aku melihat foto profil dan akun yang sama persis dengan Nadya Jiandra, teman masa kecilku. Saat aku mengekliknya, profil pribadinya juga sama persis, hanya saja usianya sepuluh tahun lebih tua. Hatiku langsung terasa hampa. Ternyata, inilah Nadya sepuluh tahun kemudian. Pantas saja, saat tahu kami diterima di jurusan yang sama, hanya aku satu-satunya yang bersorak gembira. Pantas saja, saat melihat teman masa kecilku, Aldo Prasetya, menerima surat penerimaan dari jurusan Sastra dalam negeri, Nadya terdiam begitu lama. Ternyata, akulah yang menjadi beban bagi Nadya, yang menyebabkan begitu banyak penyesalan dan kekecewaan di hatinya. Jika seperti itu …. Aku dengan tenang mengeklik tombol konfirmasi dan menerima surat penerimaan kuliah yang seluruhnya ditulis dalam bahasa asing itu. Jika seperti itu, biarkan aku mengakhiri kesalahan ini sepuluh tahun lebih awal.

View More

Chapter 1

Bab 1

[Siapa yang kamu maksud sebagai beban itu?]

Di depan layar, aku menarik napas dalam-dalam dan mengetik kalimat tersebut.

Tidak sampai beberapa detik setelah mengirimkannya, balasannya pun muncul.

[Seseorang yang menemaniku tumbuh dewasa.]

[Lebih tepatnya, dia itu setengah penolongku.]

[Orang tuanya meninggal waktu menyelamatkanku dulu dan orang tuaku mengadopsinya untuk balas budi.]

[Tapi, dia manfaatin rasa bersalah keluarga kami dengan selalu mengikutiku ke mana-mana tiap hari. Bikin orang-orang mengira kalau dia itu calon suamiku, yang dirawat keluargaku.]

[Padahal sebenarnya, aku sama sekali nggak menginginkan beban, yang selalu nempel kayak dia!]

Aku pun mengerjap.

Di tengah rasa getir itu, aku teringat pada kedua orang tuaku yang sudah lama terabadikan dalam foto.

Dalam insiden tanah longsor waktu itu, Ayah meninggal tertimpa batu besar, saat mendorong Nadya agar menjauh.

Ibu mengerahkan seluruh tenaga untuk mengangkat Nadya ke atas, hingga akhirnya dirinya sendiri tertimbun longsoran.

Nadya pernah berkata, mulai sekarang Keluarga Jiandra juga keluargaku.

Lalu, dirinya adalah anggota keluarga yang akan selalu menemaniku seumur hidup.

Namun, pada akhirnya, ternyata di dalam hatinya, aku cuma orang yang menyebalkan, yang memanfaatkan budi orang lain untuk mendapatkan keuntungan.

[Paling benci sama orang yang maksa orang lain, dengan alasan budi. Selamat pada pembuat postingan, karena berhasil keluar dari penderitaan!]

[Nggak mau dengar hal-hal yang menyebalkan itu, maunya baca cerita manis! Tanya dong, gimana caranya pembuat postingan bisa bersatu sama cinta sejatinya?]

Balasan di kolom komentar terus bermunculan. Setelah terdiam beberapa saat, Nadya pun menuliskan kalimat.

[Sederhana saja. Waktu pria itu mau tunangan denganku, aku berterus terang kepadanya.]

[Aku bilang padanya, kalau aku sudah tidur dengan orang yang benar-benar kusukai.]

Jari-jariku langsung gemetar, tanpa bisa kukendalikan.

[Wah! Tokoh utama wanita ini benar-benar blak-blakan!]

[Lalu, pria yang terus menempel padamu itu langsung mundur begitu saja, tanpa bikin keributan?]

[Dia bikin keributan.] Nadya membalas.

[Tapi, nggak ada gunanya.]

[Kelemahannya ada di tanganku. Perusahaan tempat dia kerja waktu itu, punya pamanku.]

[Neneknya sakit parah dan biaya untuk operasinya masih kurang, sementara aku menahan bonus kerjanya.]

[Jadi, pada akhirnya, dia cuma bisa melepaskanku begitu saja.]

Emosi yang selama ini kutahan langsung runtuh. Bahkan, napasku juga terasa sesak.

Bagaimana mungkin, bagaimana mungkin Nadya memanfaatkan keluargaku untuk menyakitiku seperti ini ….

[Lalu, gimana perkembangan pembuat postingan dengan pasangan saat ini, apa sudah menikah?] Yang lain ikut bertanya.

Detik berikutnya, sebuah foto yang memperlihatkan kedua tangan yang mengenakan cincin kawin dan saling bertautan, diunggah ke kolom komentar.

Hatiku langsung mencelos.

Tahi lalat di tangan itu, sama persis dengan tangan Aldo.

Sementara, gelang batu alam yang ada di pergelangan tangannya itu, pada detik ini, gelang yang satunya ada di tanganku.

Gelang itu pemberian orang tua Nadya untuk kami. Konon, gelang itu merupakan warisan turun-temurun dari leluhur, yang dapat membawa keselamatan.

"Masing-masing dari kita punya satu. Dengan begini, kita nggak akan pernah terpisahkan seumur hidup!"

Pada waktu itu, Nadya menggenggam tanganku dan berjanji. Namun, pada akhirnya janji untuk bersama selamanya itu justru diberikan Nadya kepada orang lain.

Aku menggertakkan gigi, menahan rasa sakit yang menusuk di dalam hati, lalu mengirimkan pesan pribadi ke akun tersebut.

[Halo.]

[Situasi kita mirip. Karena adanya seseorang, aku juga nggak bisa dapatkan orang yang kucintai.]

[Aku mau bicara denganmu, bolehkah?]

Aku ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi selama sepuluh tahun ini.

Tak lama kemudian, aku menerima balasan.

[Boleh.]

[Tapi, aku bukannya nggak bisa dapatkan orang yang kucintai.]

[Sebenarnya, waktu liburan setelah lulus SMA, aku diam-diam mendaftar ke agen tur pasangan dan berlibur berdua saja dengannya ke luar negeri.]

[Waktu itu, kami berdua sebenarnya sudah saling menaruh hati.]

Aku langsung menggenggam ponselku erat-erat.

Luar negeri, liburan ….

Nadya mengatakan, pada liburan setelah lulus, dia hanya ingin pergi seorang diri dan menikmati udara kebebasan dengan tenang.

Namun, ternyata, dia sudah menemani Aldo pergi ke pulau yang paling ingin kukunjungi.

Aku tertegun cukup lama, lalu akhirnya kembali ke halaman itu dan mengirimkan pesan kepada Nadya yang sekarang.

[Nadya, apa kamu memang memilih jurusan yang sama denganku secara sukarela?]

Nadya dengan cepat membalas.

[Kalau nggak gitu, terus apa lagi?]

[Bukankah Ayah dan Ibu sudah bilang, aku harus menemanimu seumur hidup.]

Menemaniku karena diminta, bukan atas keinginan Nadya sendiri.

Ternyata, kata-kata Nadya sudah lama berubah.

Aku pun tersenyum lega, lalu mengeklik tombol konfirmasi untuk menerima surat penerimaan kuliah yang seluruhnya ditulis dalam bahasa asing itu.

Tidak apa-apa.

Nadya, mulai sekarang, aku tidak lagi membutuhkan kehadiranmu.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status