MasukPangeran Arthur, yang semula sudah siap melontarkan kalimat sinis berikutnya, mendadak terdiam. Matanya membelalak. Kael, yang menangkap perubahan itu dari sudut matanya, seketika menegang. Apa yang akan Valeriana lakukan? Pikirnya panik. Apakah ia akan melempar sepatu ke Arthur? Atau meludahi Elena?
Namun, dugaan Kael meleset jauh. Valeriana menggenggam sisi rok gaun merahnya yang mengembang dengan kedua tangan. Kaki kanannya mundur selangkah, anggun. Lalu, dengan gerakan luwes, meski sedikit terhambat korset sialan yang mencekik pinggang-ia menekuk lutut dan menundukkan kepala dalam-dalam. Ia melakukan curtsey. Sebuah penghormatan khas wanita bangsawan dan sangat dalam, jauh melampaui batas etika biasa. Kepalanya tertunduk hingga dagunya nyaris menyentuh dada. "S-saya ... ." Suara Valeriana terdengar, sedikit bergetar, namun jelas. Tidak ada nada tinggi khas Valeriana yang asli. "Saya juga meminta maaf. Saya telah merusak suasana pesta yang indah ini." Suasana mendadak hening. Seandainya sebuah bom meledak di rerumputan saat itu, suaranya pasti akan terdengar jelas. Para bangsawan yang menyaksikan kejadian itu melongo. Kipas-kipas bulu berhenti berayun di udara. Pangeran Arthur tampak seperti baru saja melihat hantu di siang bolong. Bahkan Elena lupa melanjutkan tangisannya; mulut mungilnya ternganga membentuk huruf 'O' kecil. Valeriana? Wanita angkuh yang hidungnya selalu terangkat ke langit? Meminta maaf? Dan membungkuk di samping suaminya? Di sisi Valeriana, Kael yang masih berada dalam posisi membungkuk sedikit menoleh. Mata abu-abunya yang biasanya tenang kini bergetar hebat. Ia menatap puncak kepala istrinya dengan tatapan tidak percaya. Apakah ini mimpi? Atau Valeriana kerasukan? Atau mungkin kepalanya terbentur sesuatu dalam perjalanan ke sini? "Valeriana ... kau ...." Arthur tergagap, kehilangan seluruh kalimat pedas yang telah ia siapkan. Bingung harus menanggapi bagaimana musuh yang tiba-tiba menyerah tanpa syarat. Valeriana tidak menunggu jawabannya. Ia perlahan menegakkan tubuh, bersamaan dengan Kael. Saat mereka kembali berdiri tegak, Valeriana sempat melihat keringat dingin di pelipis Kael. Ia tahu, dirinya tidak bisa berlama-lama di sini. Akting sebagai "wanita bertobat" ini akan runtuh jika Arthur kembali memprovokasi-atau jika perutnya tiba-tiba berbunyi karena lapar. Ia harus kabur. Sekarang juga. Tangan Valeriana bergerak lagi, kali ini cepat menyusup ke lengan kekar Kael, melingkarkan jari-jarinya erat di sana. Ia mendongak, menatap Kael dengan mata yang sengaja dibuat berkaca-kaca. Sebenarnya matanya perih karena debu, tetapi momennya sempurna. "Kael ...," bisiknya, cukup keras untuk didengar Kael dan orang-orang di sekitar mereka. "Ayo pulang. Di sini banyak orang menatapku dengan tatapan jahat ... Aku takut." Pertahanan mental Kael runtuh seketika. Kata takut yang meluncur dari bibir merah Valeriana memiliki daya hancur yang lebih dahsyat daripada meriam musuh. Otaknya seolah korslet. Istrinya takut ditatap orang? Padahal biasanya Valeriana menikmati perhatian. Semakin banyak mata tertuju padanya, semakin ia merasa seperti ratu semesta. Namun tangan yang mencengkeram lengannya kini benar-benar gemetar. Dan tatapan mata hijau itu tampak rapuh, memohon perlindungan. "Ah ...." Kael membuka mulut, tetapi tidak satu pun kata cerdas keluar. Sang ahli strategi perang kehilangan seluruh kosakata. Di belakang Kael berdiri seorang pria jangkung berambut cokelat, berkacamata bingkai perak. Dialah Sir Lucas, ajudan setia sekaligus sahabat Kael sejak masa akademi militer. Lucas, yang biasanya berwajah santai dengan senyum jahil, kini kacamatanya miring sebelah. Ia terlalu terkejut hingga lupa menjaga postur. Baru saja ia tiba sambil menuntun kuda Kael, dan pemandangan di hadapannya membuatnya meragukan kewarasannya sendiri. "Itu Duchess Vallas? Wanita yang minggu lalu melempar vas bunga ke kepalaku hanya karena aku salah menyebut nama anjingnya? Dia bilang ... dia takut?" Batin Lucas histeris. Dunia pasti sudah mendekati kiamat. "Kael?" panggil Valeriana lagi. Ia menarik ujung lengan seragam Kael, persis seperti anak kecil yang merengek minta dibelikan permen. "Ayo ...." Nada manja itu menyentak kesadaran Kael kembali ke bumi. Ia berdehem keras, berusaha mengumpulkan kembali wibawa yang sempat tercecer. Wajah datarnya kembali terpasang, meski ujung telinganya sedikit memerah. "Ekhem! Benar," ucap Kael kaku. Ia menatap Arthur sekali lagi, lalu mengangguk singkat. "Istri saya sedang kurang sehat, Yang Mulia. Mohon permisi." Tanpa menunggu tanggapan Arthur yang masih terpaku seperti patung. Kael memutar tubuh dan melangkah pergi. Langkah kakinya panjang dan mantap, hingga ia segera menyadari langkah Valeriana yang lebih kecil, kesulitan mengimbanginya dengan gaun berat itu. Tanpa disadari, Kael memperlambat langkahnya, menyesuaikan ritme dengan langkah kecil istrinya. Valeriana bersorak dalam hati. Yes! Berhasil! Mereka menjauh dari kerumunan, melewati barisan bangsawan yang menyingkir dengan wajah penuh tanda tanya. Valeriana terus menempel pada lengan Kael, merasakan otot bisep yang keras di balik kain seragam itu. "Aduh, enak banget pegangannya. Suami orang memang beda–eh, lupa, ini suami aku sendiri," batin Valeriana cekikikan. Sir Lucas bergegas menuju dua ekor kuda perang yang gagah dan sebuah kereta kuda berlogo keluarga Vallas yang terparkir tidak jauh dari sana. Saat Kael dan Valeriana mendekat, Lucas buru-buru membetulkan kacamatanya dan membungkuk hormat. Namun, sorot matanya penuh kecurigaan, seolah sedang memeriksa apakah sang Duchess menyembunyikan sesuatu yang berbahaya di balik gaunnya. "Yang Mulia Duke, Duchess," sapa Lucas. "Kereta telah siap." Kael mengangguk singkat, tetapi tetap tidak melepaskan lengan Valeriana. Bahkan, tanpa sadar, ia sedikit menekuk sikunya, membuat pegangan Valeriana semakin nyaman dan sulit dilepas. "Kita langsung pulang, Lucas. Lewat jalan belakang agar tidak terjebak keramaian," perintah Kael. "Baik, Tuan." Lucas membukakan pintu kereta. Biasanya, Valeriana akan naik sendiri dengan angkuh, mengabaikan uluran tangan siapa pun. Atau menyuruh pelayan membungkuk untuk dijadikan pijakan. Kini, ia berhenti di depan pintu kereta yang cukup tinggi. Pandangannya berpindah dari tangga pijakan ke gaunnya yang rumit dan berlapis-lapis. "Duh, gimana caranya naik pakai baju segede tenda pramuka begini?" keluhnya dalam hati. Valeriana menoleh pada Kael. "Kael?" Kael, yang masih setengah linglung namun tetap siaga, menatapnya bingung. "Ada apa?" "Tolong." Valeriana mengulurkan tangannya. Wajah Sir Lucas makin pucat. Ia menahan napas, menunggu ledakan amarah yang biasanya menyusul permintaan seperti itu. Namun, makian tidak pernah datang. Kael terdiam sejenak, menatap tangan halus yang terulur padanya. Tangan yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan, atau yang biasanya menepisnya dengan kasar. Dengan gerakan ragu, namun lembut, Kael menyambut tangan itu. Telapak tangannya yang besar, kasar, dan penuh kapalan membungkus tangan Valeriana yang mungil. Kehangatan menjalar perlahan dari sentuhan itu. Kael membimbing Valeriana menaiki tangga kereta dengan hati-hati, memastikan gaunnya tidak tersangkut. Ia bahkan menahan pintu agar tidak tertutup sebelum Valeriana duduk dengan nyaman di dalam. "Terima kasih," ucap Valeriana tulus, disertai senyum manis. Kael terpaku di depan pintu kereta selama tiga detik penuh. Senyum itu … senyum tulus pertama yang pernah ia terima dari Valeriana. Bukan senyum sinis. Bukan seringai mengejek. Hanya senyum sederhana. "Tuan?" panggil Lucas pelan, menyadarkannya dari lamunan. Kael tersentak. Ia segera naik ke dalam kereta dan duduk berhadapan dengan Valeriana. Pintu ditutup. "Jalan!" seru Lucas kepada kusir. Roda kereta mulai berputar, membawa pasangan suami-istri paling canggung di dunia itu menjauh dari istana. Di dalam kotak kayu mewah yang berguncang lembut, keheningan yang menyesakkan perlahan merayap. Kael duduk tegak, kaku seperti tengah diinterogasi musuh. Tangannya terkepal di atas lutut, pandangannya lurus ke depan, berusaha tidak melirik Valeriana yang sibuk memijat kakinya sendiri sambil bergumam pelan. "Pegel banget ... ya ampun." Jauh di sudut hati Kael yang paling dalam, ada perasaan asing yang berdesir hangat. Perasaan yang muncul karena, untuk pertama kalinya, istrinya memilih pulang bersamanya, alih-alih mengejar pria lain. "Apa sebenarnya yang terjadi dengan wanita ini?" Batin Kael bergolak. "Dan apa rencananya dengan bersikap semanis ini? Taktik baru untuk membunuhku perlahan?"Roda kereta kuda berlogo serigala perak itu akhirnya berhenti di atas jalanan berkerikil. Sir Lucas dengan cekatan membuka pintu dari luar, membiarkan cahaya senja menyelinap masuk ke dalam kabin yang temaram. Kael turun lebih dulu. Gerakannya tangkas dan efisien khas militer. Begitu sepatu botnya menapak tanah, ia berbalik. Tangan besarnya yang kini terbalut sapu tangan sutra robek dengan simpul berantakan—terulur ke arah dalam.Di dalam kereta, Valeriana tertegun menatap tangan itu. Desiran hangat yang asing merambat di dadanya. Dalam novel aslinya, Kael tak pernah melakukan gestur semanis ini. Biasanya, Valeriana asli akan menepis kasar tangan suaminya atau berteriak memanggil pelayan untuk dijadikan pijakan kaki. Namun, sejarah kali ini memilih jalur berbeda.Valeriana meletakkan tangan halusnya di atas telapak tangan Kael yang kasar namun hangat. “Terima kasih,” ucapnya lembut seraya turun.Kael tidak menjawab, hanya memberi anggukan kaku dengan wajah datar bak tembok benteng.Na
Valeriana duduk gelisah. Korset terkutuk ini benar-benar menyiksa. Setiap kali kereta berguncang melewati jalanan berbatu, kawat penyangganya menusuk rusuk tanpa ampun. Rasanya ia ingin sekali bersandar, merosot malas, atau mengangkat kaki ke kursi seperti kebiasaannya dulu saat naik angkot atau taksi online. Namun, itu mustahil. Tanpa smartphone untuk menggulir TikTok demi mengusir canggung, Valeriana akhirnya melakukan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan: mengamati suaminya.Diam-diam, dari balik bulu mata lentik hasil perawatan mahal, ia mencuri pandang. "Gila", batinnya, nyaris menelan ludah. "Ganteng banget."Dari jarak sedekat ini, hanya terpisah ruang kaki sempit. Ketampanan Kael terasa tidak manusiawi. Rahangnya tegas seolah dipahat seniman perfeksionis, hidungnya mancung sempurna, dan kulit eksotisnya yang terpapar matahari medan perang sangat kontras dengan para bangsawan ibu kota yang pucat. Valeriana benar-benar tidak habis pikir, bagaimana mungkin pemilik tubuh aslinya
Pangeran Arthur, yang semula sudah siap melontarkan kalimat sinis berikutnya, mendadak terdiam. Matanya membelalak. Kael, yang menangkap perubahan itu dari sudut matanya, seketika menegang. Apa yang akan Valeriana lakukan? Pikirnya panik. Apakah ia akan melempar sepatu ke Arthur? Atau meludahi Elena?Namun, dugaan Kael meleset jauh. Valeriana menggenggam sisi rok gaun merahnya yang mengembang dengan kedua tangan. Kaki kanannya mundur selangkah, anggun. Lalu, dengan gerakan luwes, meski sedikit terhambat korset sialan yang mencekik pinggang-ia menekuk lutut dan menundukkan kepala dalam-dalam.Ia melakukan curtsey. Sebuah penghormatan khas wanita bangsawan dan sangat dalam, jauh melampaui batas etika biasa. Kepalanya tertunduk hingga dagunya nyaris menyentuh dada."S-saya ... ." Suara Valeriana terdengar, sedikit bergetar, namun jelas. Tidak ada nada tinggi khas Valeriana yang asli. "Saya juga meminta maaf. Saya telah merusak suasana pesta yang indah ini."Suasana mendadak hening. Seand
Pria itu berhenti tepat di batas antara kerumunan bangsawan dan "zona konflik" tempat Valeriana berdiri. Dia adalah Kael de Vallas, suami Valeriana.Jika ilustrasi novel menggambarkan Kael sebagai pria tampan, melihatnya secara langsung terasa seperti serangan jantung visual. Tubuhnya menjulang nyaris seratus sembilan puluh sentimeter dengan bahu lebar yang tegap, terbungkus rapi seragam militer hitam beraksen perak. Namun, detail kecil yang luput dari perhatian orang lain justru membuat Valeriana terpaku. Dada bidang itu naik turun tak beraturan, keringat tipis mengalir di pelipis tegasnya, dan rambut hitamnya sedikit berantakan tertiup angin. Sang "Monster Perang" yang selalu tenang itu baru saja berlari.Valeriana tahu betul, dalam plot aslinya, Kael seharusnya berada di barak militer pinggiran ibu kota. Fakta bahwa ia tiba secepat ini hanya berarti satu hal: ia memacu kudanya seperti orang kesetanan begitu mendengar kabar istrinya kembali membuat masalah.“Yang Mulia Putra Mahkota
PRANG! Bunyi porselen mahal yang menghantam lantai marmer menggema nyaring, membelah keheningan sore. Pecahannya berhamburan, memantulkan sinar matahari layaknya serpihan berlian-indah namun berbahaya. Belum sempat gema itu hilang, jeritan melengking segera menyayat telinga. "KYAAAAA! Panas! Panas sekali!" Di tengah taman istana yang dipenuhi mawar bermekaran, seorang gadis muda berdiri kaku. Napasnya tercekat, sementara matanya mengerjap bingung berusaha mencerna realitas yang bergeser drastis. Namanya Kirana. Setidaknya, itulah yang ia yakini sedetik lalu. Ia ingat betul masih meringkuk di balik selimut kamar kos, ditemani hawa dingin AC suhu enam belas derajat dan keripik pedas usai menamatkan novel romance kerajaan. Namun kini, dingin itu lenyap. Aroma lavender kamarnya berganti udara panas yang menyengat kulit, bercampur wangi mawar pekat dan aroma teh Earl Grey yang menusuk hidung.Jantung Kirana berdegup liar saat menunduk menatap tubuhnya sendiri. Kaus oblong dan celana pe







