Share

Bab 3. Permintaan maaf yang aneh

Penulis: Lovely Pearly
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-19 11:36:43

Pangeran Arthur, yang semula sudah siap melontarkan kalimat sinis berikutnya, mendadak terdiam. Matanya membelalak. Kael, yang menangkap perubahan itu dari sudut matanya, seketika menegang. Apa yang akan Valeriana lakukan? Pikirnya panik. Apakah ia akan melempar sepatu ke Arthur? Atau meludahi Elena?

Namun, dugaan Kael meleset jauh. Valeriana menggenggam sisi rok gaun merahnya yang mengembang dengan kedua tangan. Kaki kanannya mundur selangkah, anggun. Lalu, dengan gerakan luwes, meski sedikit terhambat korset sialan yang mencekik pinggang-ia menekuk lutut dan menundukkan kepala dalam-dalam.

Ia melakukan curtsey. Sebuah penghormatan khas wanita bangsawan dan sangat dalam, jauh melampaui batas etika biasa. Kepalanya tertunduk hingga dagunya nyaris menyentuh dada.

"S-saya ... ." Suara Valeriana terdengar, sedikit bergetar, namun jelas. Tidak ada nada tinggi khas Valeriana yang asli. "Saya juga meminta maaf. Saya telah merusak suasana pesta yang indah ini."

Suasana mendadak hening. Seandainya sebuah bom meledak di rerumputan saat itu, suaranya pasti akan terdengar jelas. Para bangsawan yang menyaksikan kejadian itu melongo. Kipas-kipas bulu berhenti berayun di udara. Pangeran Arthur tampak seperti baru saja melihat hantu di siang bolong. Bahkan Elena lupa melanjutkan tangisannya; mulut mungilnya ternganga membentuk huruf 'O' kecil.

Valeriana? Wanita angkuh yang hidungnya selalu terangkat ke langit? Meminta maaf? Dan membungkuk di samping suaminya?

Di sisi Valeriana, Kael yang masih berada dalam posisi membungkuk sedikit menoleh. Mata abu-abunya yang biasanya tenang kini bergetar hebat. Ia menatap puncak kepala istrinya dengan tatapan tidak percaya.

Apakah ini mimpi? Atau Valeriana kerasukan? Atau mungkin kepalanya terbentur sesuatu dalam perjalanan ke sini?

"Valeriana ... kau ...." Arthur tergagap, kehilangan seluruh kalimat pedas yang telah ia siapkan. Bingung harus menanggapi bagaimana musuh yang tiba-tiba menyerah tanpa syarat.

Valeriana tidak menunggu jawabannya. Ia perlahan menegakkan tubuh, bersamaan dengan Kael. Saat mereka kembali berdiri tegak, Valeriana sempat melihat keringat dingin di pelipis Kael.

Ia tahu, dirinya tidak bisa berlama-lama di sini. Akting sebagai "wanita bertobat" ini akan runtuh jika Arthur kembali memprovokasi-atau jika perutnya tiba-tiba berbunyi karena lapar. Ia harus kabur. Sekarang juga. Tangan Valeriana bergerak lagi, kali ini cepat menyusup ke lengan kekar Kael, melingkarkan jari-jarinya erat di sana.

Ia mendongak, menatap Kael dengan mata yang sengaja dibuat berkaca-kaca. Sebenarnya matanya perih karena debu, tetapi momennya sempurna.

"Kael ...," bisiknya, cukup keras untuk didengar Kael dan orang-orang di sekitar mereka.

"Ayo pulang. Di sini banyak orang menatapku dengan tatapan jahat ... Aku takut."

Pertahanan mental Kael runtuh seketika. Kata takut yang meluncur dari bibir merah Valeriana memiliki daya hancur yang lebih dahsyat daripada meriam musuh. Otaknya seolah korslet. Istrinya takut ditatap orang? Padahal biasanya Valeriana menikmati perhatian. Semakin banyak mata tertuju padanya, semakin ia merasa seperti ratu semesta.

Namun tangan yang mencengkeram lengannya kini benar-benar gemetar. Dan tatapan mata hijau itu tampak rapuh, memohon perlindungan.

"Ah ...." Kael membuka mulut, tetapi tidak satu pun kata cerdas keluar. Sang ahli strategi perang kehilangan seluruh kosakata.

Di belakang Kael berdiri seorang pria jangkung berambut cokelat, berkacamata bingkai perak. Dialah Sir Lucas, ajudan setia sekaligus sahabat Kael sejak masa akademi militer.

Lucas, yang biasanya berwajah santai dengan senyum jahil, kini kacamatanya miring sebelah. Ia terlalu terkejut hingga lupa menjaga postur. Baru saja ia tiba sambil menuntun kuda Kael, dan pemandangan di hadapannya membuatnya meragukan kewarasannya sendiri.

"Itu Duchess Vallas? Wanita yang minggu lalu melempar vas bunga ke kepalaku hanya karena aku salah menyebut nama anjingnya? Dia bilang ... dia takut?" Batin Lucas histeris. Dunia pasti sudah mendekati kiamat.

"Kael?" panggil Valeriana lagi. Ia menarik ujung lengan seragam Kael, persis seperti anak kecil yang merengek minta dibelikan permen.

"Ayo ...."

Nada manja itu menyentak kesadaran Kael kembali ke bumi. Ia berdehem keras, berusaha mengumpulkan kembali wibawa yang sempat tercecer. Wajah datarnya kembali terpasang, meski ujung telinganya sedikit memerah.

"Ekhem! Benar," ucap Kael kaku. Ia menatap Arthur sekali lagi, lalu mengangguk singkat. "Istri saya sedang kurang sehat, Yang Mulia. Mohon permisi."

Tanpa menunggu tanggapan Arthur yang masih terpaku seperti patung. Kael memutar tubuh dan melangkah pergi. Langkah kakinya panjang dan mantap, hingga ia segera menyadari langkah Valeriana yang lebih kecil, kesulitan mengimbanginya dengan gaun berat itu. Tanpa disadari, Kael memperlambat langkahnya, menyesuaikan ritme dengan langkah kecil istrinya.

Valeriana bersorak dalam hati. Yes! Berhasil!

Mereka menjauh dari kerumunan, melewati barisan bangsawan yang menyingkir dengan wajah penuh tanda tanya. Valeriana terus menempel pada lengan Kael, merasakan otot bisep yang keras di balik kain seragam itu.

"Aduh, enak banget pegangannya. Suami orang memang beda–eh, lupa, ini suami aku sendiri," batin Valeriana cekikikan.

Sir Lucas bergegas menuju dua ekor kuda perang yang gagah dan sebuah kereta kuda berlogo keluarga Vallas yang terparkir tidak jauh dari sana. Saat Kael dan Valeriana mendekat, Lucas buru-buru membetulkan kacamatanya dan membungkuk hormat. Namun, sorot matanya penuh kecurigaan, seolah sedang memeriksa apakah sang Duchess menyembunyikan sesuatu yang berbahaya di balik gaunnya.

"Yang Mulia Duke, Duchess," sapa Lucas. "Kereta telah siap."

Kael mengangguk singkat, tetapi tetap tidak melepaskan lengan Valeriana. Bahkan, tanpa sadar, ia sedikit menekuk sikunya, membuat pegangan Valeriana semakin nyaman dan sulit dilepas.

"Kita langsung pulang, Lucas. Lewat jalan belakang agar tidak terjebak keramaian," perintah Kael.

"Baik, Tuan."

Lucas membukakan pintu kereta. Biasanya, Valeriana akan naik sendiri dengan angkuh, mengabaikan uluran tangan siapa pun. Atau menyuruh pelayan membungkuk untuk dijadikan pijakan.

Kini, ia berhenti di depan pintu kereta yang cukup tinggi. Pandangannya berpindah dari tangga pijakan ke gaunnya yang rumit dan berlapis-lapis.

"Duh, gimana caranya naik pakai baju segede tenda pramuka begini?" keluhnya dalam hati. Valeriana menoleh pada Kael.

"Kael?"

Kael, yang masih setengah linglung namun tetap siaga, menatapnya bingung. "Ada apa?"

"Tolong." Valeriana mengulurkan tangannya.

Wajah Sir Lucas makin pucat. Ia menahan napas, menunggu ledakan amarah yang biasanya menyusul permintaan seperti itu. Namun, makian tidak pernah datang. Kael terdiam sejenak, menatap tangan halus yang terulur padanya. Tangan yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan, atau yang biasanya menepisnya dengan kasar.

Dengan gerakan ragu, namun lembut, Kael menyambut tangan itu. Telapak tangannya yang besar, kasar, dan penuh kapalan membungkus tangan Valeriana yang mungil. Kehangatan menjalar perlahan dari sentuhan itu.

Kael membimbing Valeriana menaiki tangga kereta dengan hati-hati, memastikan gaunnya tidak tersangkut. Ia bahkan menahan pintu agar tidak tertutup sebelum Valeriana duduk dengan nyaman di dalam.

"Terima kasih," ucap Valeriana tulus, disertai senyum manis.

Kael terpaku di depan pintu kereta selama tiga detik penuh. Senyum itu … senyum tulus pertama yang pernah ia terima dari Valeriana. Bukan senyum sinis. Bukan seringai mengejek. Hanya senyum sederhana.

"Tuan?" panggil Lucas pelan, menyadarkannya dari lamunan. Kael tersentak. Ia segera naik ke dalam kereta dan duduk berhadapan dengan Valeriana. Pintu ditutup.

"Jalan!" seru Lucas kepada kusir.

Roda kereta mulai berputar, membawa pasangan suami-istri paling canggung di dunia itu menjauh dari istana. Di dalam kotak kayu mewah yang berguncang lembut, keheningan yang menyesakkan perlahan merayap.

Kael duduk tegak, kaku seperti tengah diinterogasi musuh. Tangannya terkepal di atas lutut, pandangannya lurus ke depan, berusaha tidak melirik Valeriana yang sibuk memijat kakinya sendiri sambil bergumam pelan.

"Pegel banget ... ya ampun."

Jauh di sudut hati Kael yang paling dalam, ada perasaan asing yang berdesir hangat. Perasaan yang muncul karena, untuk pertama kalinya, istrinya memilih pulang bersamanya, alih-alih mengejar pria lain.

"Apa sebenarnya yang terjadi dengan wanita ini?" Batin Kael bergolak. "Dan apa rencananya dengan bersikap semanis ini? Taktik baru untuk membunuhku perlahan?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 90. Pengakuan Valeriana

    Tatapan Valeriana bergetar nyaris tak terlihat.Lavender.Ia ingat dengan jelas saat menyelipkan kantung kecil berisi bunga lavender itu di bawah bantal Kael. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati agar pria itu bisa tidur lebih nyenyak tanpa terbangun.Namun ia tidak menyadari bahwa rencananya sudah gagal sejak awal.Kael tetap terbangun.Mungkin karena naluri seorang prajurit. Sebanyak apa pun ia tidur dengan nyenyak, jika ada pergerakan sekecil apa pun di sekitarnya, tubuhnya akan otomatis terjaga dan bersiap waspada.“Lalu aku pura-pura tidur,” kata Kael lagi. “Aku ingin tahu apa yang kau lakukan.”Angin bertiup sedikit lebih kencang, menggoyangkan ujung taplak meja.Valeriana menatap mangkuk sup di depannya, tetapi sebenarnya ia tidak benar-benar melihatnya. Kael tidak memalingkan pandangannya sedikit pun.“Aku melihatmu keluar dari kamar,” lanjutnya. “Aku melihatmu menuju sayap timur.”Kael berhenti sejenak. Cukup lama untuk membuat dada Valeriana terasa semakin sesak.“Dan kau

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 89. Kita perlu bicara

    Sebenarnya Kael sangat malas menghadiri pesta jamuan teh para bangsawan seperti itu. Baginya, tidak ada gunanya datang. Kegiatannya hanya minum teh dan berbincang dengan para bangsawan lain atau membahas kerja sama bisnis yang membosankan.Yang paling ia benci adalah sifat para bangsawan di sana yang bermuka dua. Kael tidak suka berhadapan dengan orang-orang seperti itu. Baginya, lebih baik pergi ke medan perang dan menghadapi musuh secara langsung daripada menghadapi orang yang menusuk dari belakang secara diam-diam.Dulu ia datang ke acara semacam itu hanya untuk mengawasi istrinya dari jauh. Saat itu Valeriana masih mengejar Pangeran Arthur. Jadi keberadaannya di sana lebih sering untuk membereskan masalah yang dibuat oleh istrinya.Namun sekarang Valeriana telah berubah. Dan kali ini, justru wanita itu yang mengajaknya pergi bersama ke pesta jamuan teh para bangsawan."Kau mau ikut, kan, suamiku? Ayolah. Aku tidak akan membuat keributan seperti dulu. Aku hanya ingin menikmati pest

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 88. Penyelamat Lucas

    "Suamiku!" teriak Valeriana, memecah suasana tegang di antara Lucas dan Kael.Saat itu juga Lucas menghela napas lega. Jantungnya berdebar kencang karena ia hampir saja membongkar rahasia antara dirinya dan Nyonya Duchess.Ekspresi lega di wajah Lucas tidak luput dari pengamatan Kael. Pria itu semakin yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Valeriana dan Lucas. Ia harus mengetahuinya. Namun Kael tidak berniat memaksa Valeriana. Nanti, ia akan membujuk istrinya perlahan agar mau menceritakan semuanya."Iya, istriku. Kenapa kau berada di sini? Apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Kael lembut.Ia merentangkan kedua tangannya tanpa ragu, meskipun para prajurit dan Lucas masih berada di sana, menyaksikan adegan itu. "Benar-benar ingin pamer kemesraan," cibir Valeriana dalam hati.Baiklah, jika Kael suka melakukan hal seperti itu, maka Valeriana akan mengimbanginya.Dengan manja, Valeriana langsung memeluk Kael erat dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu. Para prajurit,

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 87. Interogasi Kael

    Lucas membeku sepersekian detik. Ah, sialan. Baru saat itu ia sadar bahwa sejak tadi ia terlalu sering menggerakkan jari-jarinya. Tangan kanannya memang terasa sedikit nyeri setelah semalaman menyalin ratusan baris laporan.Lucas segera menggenggam tangannya di belakang punggung. “Tidak apa-apa, Tuan. Hanya sedikit kram.”“Kram?” ulang Kael datar.“Ya, Tuan. Mungkin karena … eh …” Lucas berpikir cepat. “Kemarin saya membantu para prajurit baru berlatih pedang terlalu lama.”Kael tidak langsung menjawab. Tatapannya turun ke arah tangan Lucas yang berusaha disembunyikan di belakang punggung. “Benarkah?”Lucas menelan ludah.“Biasanya orang yang terlalu lama berlatih pedang justru mengeluh bahunya sakit,” lanjut Kael tenang. “Bukan jari-jarinya.”Lucas hampir tersedak oleh napasnya sendiri. Tuan Duke ini benar-benar menyebalkan jika sedang mengamati orang.“Saya juga membantu bagian administrasi sebentar kemarin, Tuan,” tambah Lucas cepat. “Beberapa laporan logistik perlu disalin ulang.”

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 86. Saling menguji

    Valeriana menatap Petrus beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Senyumnya tidak berubah, tetapi matanya mengamati pria tua itu dengan saksama—cara ia berdiri, posisi tangannya, bahkan napasnya yang teratur seperti seseorang yang sudah terbiasa menghadapi interogasi.“Begitu ya?” jawab Valeriana ringan. “Kalau begitu mungkin hari ini aku harus mulai belajar memahami isi ruangan ini.”Beberapa juru tulis yang berada paling dekat langsung menundukkan kepala mereka kembali ke pekerjaan, pura-pura sibuk. Suasana ruangan yang tadinya ramai tiba-tiba terasa lebih sunyi. Hanya suara pena yang kembali menggores perkamen.Petrus tersenyum tipis.“Tentu saja, Nyonya. Namun saya khawatir laporan-laporan ini akan terasa sangat membosankan bagi seseorang yang tidak berkecimpung dalam urusan keuangan.”“Ah, jangan meremehkanku begitu,” balas Valeriana santai. Ia melangkah beberapa langkah mendekati meja kerja Petrus. “Aku hanya ingin tahu bagaimana orang-orang yang bekerja untuk suamiku men

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 85. Mengunjungi Petrus

    “Di mana Lucas?! Kenapa sampai jam segini belum datang juga?” tanya Kael kepada para prajurit yang tengah berlatih.Latihan mereka seketika terhenti. Semua saling berpandangan ketika tuan mereka menanyakan keberadaan Lucas—sang ajudan yang hampir selalu berada di sisinya setiap saat. Kini Kael berdiri sendirian, menatap mereka dengan tatapan tajam.“Kami tidak tahu, Tuan. Pagi ini saya belum melihat Lucas. Biasanya dia sudah berada di sini—”“Hadir, Tuan!!”Suara itu terdengar nyaring dari kejauhan. Lucas berlari tergesa-gesa menghampiri Kael. Ia datang terlambat akibat misi semalam bersama Sang Nyonya untuk menyalin data. Niatnya hanya ingin tidur dua jam dan bangun pukul enam pagi, tetapi tanpa sadar ia baru terbangun saat jarum jam menunjukkan pukul delapan. Dengan panik, ia segera bersiap dan bergegas menuju lapangan latihan.Napasnya terengah-engah ketika akhirnya tiba di hadapan Kael.Kael menatapnya dengan sorot mata curiga. Tidak biasa ajudannya datang terlambat seperti ini. P

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status