LOGINValeriana duduk gelisah. Korset terkutuk ini benar-benar menyiksa. Setiap kali kereta berguncang melewati jalanan berbatu, kawat penyangganya menusuk rusuk tanpa ampun. Rasanya ia ingin sekali bersandar, merosot malas, atau mengangkat kaki ke kursi seperti kebiasaannya dulu saat naik angkot atau taksi online. Namun, itu mustahil. Tanpa smartphone untuk menggulir TikTok demi mengusir canggung, Valeriana akhirnya melakukan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan: mengamati suaminya.
Diam-diam, dari balik bulu mata lentik hasil perawatan mahal, ia mencuri pandang. "Gila", batinnya, nyaris menelan ludah. "Ganteng banget." Dari jarak sedekat ini, hanya terpisah ruang kaki sempit. Ketampanan Kael terasa tidak manusiawi. Rahangnya tegas seolah dipahat seniman perfeksionis, hidungnya mancung sempurna, dan kulit eksotisnya yang terpapar matahari medan perang sangat kontras dengan para bangsawan ibu kota yang pucat. Valeriana benar-benar tidak habis pikir, bagaimana mungkin pemilik tubuh aslinya menyia-nyiakan pria selangka ini? Ia justru mengejar Pangeran Arthur, tipe “pangeran glowing rajin skincare”, padahal di rumah ada sosok “alpha male garang tapi soft boy” seperti Kael. "Dasar rabun," rutuk Valeriana dalam hati. Selera laki-lakinya patut dipertanyakan. Kael, dengan insting tajam prajurit, tentu sadar sedang diperhatikan. Biasanya tatapan Valeriana penuh cemoohan, namun kali ini berbeda. Tidak ada permusuhan, hanya ... kekaguman? Kael memberanikan diri melirik dan memergoki Valeriana menatapnya tanpa berkedip. Mata mereka bertemu. Valeriana tersentak seperti maling ayam tertangkap basah. Ia buru-buru memalingkan wajah, pura-pura batuk kecil, lalu menunduk menatap sepatunya. Pipinya memerah karena malu ketahuan fangirling. Kael mengerutkan kening sambil terus berpikir melihat perubahan sikap Valeria. “Ada apa dengan wanita ini? Demam? Atau menahan amarah?” Suasana kembali hening, namun lebih canggung. Tak berani menatap wajah suaminya lagi, pandangan Valeriana jatuh pada tangan Kael yang terkepal di lutut. Tangan itu besar, kasar, dan penuh kapalan. Namun, matanya menyipit saat melihat sesuatu di sela telunjuk dan ibu jari kanan Kael. Noda merah segar yang merembes. Darah. Luka itu tampak baru, mungkin akibat gesekan tali kekang saat memacu kuda tanpa ampun tadi. Kulitnya terbuka dan perih, menodai celana seragam hitam Kael. Kael tampak tak peduli, seolah rasa sakit sudah tak berarti baginya. Namun bagi Valeriana, luka itu sangat mengganggu. Bayangan Kael di akhir novel yang penuh bekas siksaan kembali menghantui. "Tidak," batinnya tegas. "Aku harus melindunginya mulai dari hal kecil. Kalau luka begini dibiarkan, bisa infeksi atau diamputasi." Tanpa berpikir panjang, Valeriana menggeser duduknya berpindah ke kursi di samping Kael. Gerakan mendadak itu membuat Kael tersentak, otot-ototnya menegang refleks siap menghadapi serangan cubitan atau pukulan. Namun, Valeriana justru menunduk menatap tangannya. “Tanganmu,” ucap Valeriana pelan. Kael mengikuti arah pandangnya. “Ini hanya goresan, Duchess. Tidak perlu dipeduli—” Kalimatnya terputus saat tangan halus Valeriana menyentuh kulitnya. Sensasi hangat dan lembut itu menyambar seperti sengatan listrik, kontras dengan tangannya yang kasar. Kael refleks ingin menarik tangan. “Jangan bergerak,” perintah Valeriana. Nadanya bukan bentakan, melainkan omelan ibu yang khawatir. “Lihat, darahnya menetes ke celanamu. Lukanya kotor.” “Aku baik-baik saja. Nanti kubersihkan di rumah,” sanggah Kael kaku. “Di rumah masih satu jam lagi. Keburu infeksi,” bantah Valeriana keras kepala. Ia menahan tangan Kael dengan kedua tangan, tak memberi celah untuk kabur. Tangan kanannya merogoh saku tersembunyi di balik gaun dan mengeluarkan sapu tangan sutra putih bersih. Sulaman benang emas membentuk inisial ‘V & A’ berkilau di sana. Valeriana dan Arthur. Sapu tangan couple sepihak yang ditolak Pangeran, benda yang disulam Valeriana dengan penuh cinta dan harga setara gaji setahun prajurit. Kael mengenal benda itu. Dadanya berdenyut nyeri. “Gunakan sapu tangan lain,” ucapnya dingin, matanya tertambat pada huruf ‘A’ dengan rasa tak suka. “Itu barang berhargamu untuk Pangeran. Jangan kotori dengan darahku.” Valeriana terdiam menatap inisial norak itu. "Benar juga. Ini barang keramat Valeriana. Tapi di mataku? Ini cuma kain lap mahal." “Kau benar,” gumam Valeriana. Kael tersenyum pahit dalam hati. "Tentu saja. Dia tak rela menodai benda cintanya." “Ini terlalu besar dan ribet,” lanjut Valeriana santai. Detik berikutnya, suara robekan kain terdengar nyaring. KREK! Mata Kael membelalak, nyaris meloncat dari duduknya. Di hadapannya, Valeriana dengan wajah tanpa dosa baru saja merobek sapu tangan sutra itu menjadi dua, tepat memisahkan inisial ‘V’ dan ‘A’ secara brutal. “Nah, sekarang ukurannya pas,” gumam Valeriana puas. Ia melempar potongan kain berhuruf ‘A’ ke lantai kereta bak tisu bekas, lalu dengan telaten melilitkan sisi kain yang bersih ke tangan Kael. Kael membeku. Pandangannya bergantian antara potongan huruf ‘A’ yang tergeletak mengenaskan dan wajah Valeriana yang serius membalut lukanya. “Kau ....” Suaranya tercekat. “Kau ... merobeknya?” “Hm?” Valeriana mendongak sekilas. “Iya. Kenapa? Kurang rapi, ya?” “Itu untuk Pangeran Arthur. Kau menangis tiga hari tiga malam saat salah satu benang emasnya putus bulan lalu,” ujar Kael pelan, memastikan istrinya waras. Valeriana menyelesaikan simpul terakhir, lalu menepuk pelan tangan Kael. “Itu masa lalu, Kael,” jawabnya santai, meski jantungnya berdebar memainkan peran ini. Ia menatap mata suaminya dalam-dalam. “Sekarang, luka di tangan suamiku jauh lebih penting daripada inisial nama pria lain.” Kael terdiam. Ia menatap perban sutra yang kini ternoda darah, lalu menatap istrinya yang kembali bersandar lega seolah baru menyelamatkan dunia. Logikanya berteriak curiga. Tidak mungkin orang berubah secepat ini. Pasti ada maunya. “Kenapa kau melakukan ini?” tanya Kael rendah, penuh waspada. “Apa yang kau inginkan, Valeriana? Perhiasan baru? Gaun baru? Atau kau ingin aku tidur di barak militer agar tak perlu melihat wajahku?” Pertanyaan itu menusuk hati Valeriana. Sebegitu buruk citranya sampai kebaikan kecil pun dianggap transaksi. Ia menghela napas panjang; kepercayaan memang barang mahal yang sudah lama dibangkrutkan Valeriana asli. “Aku tidak mau perhiasan,” ucap Valeriana pelan seraya menoleh ke jendela, menatap jalanan menuju kediaman Duke. “Aku juga tidak mau kau tidur di barak.” Ia kembali menatap Kael, menyunggingkan senyum tipis yang tulus. “Aku cuma ingin kau tidak sakit. Itu saja. Apa seorang istri benar-benar butuh alasan untuk mengobati suaminya?” Lidah Kael kelu. Semua argumen logisnya runtuh. Perlahan, ia menarik tangan yang terbalut itu dan mendekapnya di dada, seolah melindunginya. Kehangatan dari kain sutra merambat naik, anehnya ikut menghangatkan dadanya yang selama ini membeku. Sisa perjalanan dihabiskan dalam keheningan yang berbeda. Kael tak lagi menatap jendela. Diam-diam ia memandang perban di tangannya, sesekali melirik wanita di sampingnya yang mulai tertidur ayam karena lelah dengan kepala terangguk-angguk. Tanpa sadar, Kael menggeser bahunya sedikit. Hanya sedikit. Agar jika kepala istrinya terjatuh, Valeriana akan mendarat di bahu bidangnya yang kokoh, bukan membentur dinding kayu yang keras. Tentu saja, Duke yang penuh gengsi itu tak akan pernah mengakuinya.Roda kereta kuda berlogo serigala perak itu akhirnya berhenti di atas jalanan berkerikil. Sir Lucas dengan cekatan membuka pintu dari luar, membiarkan cahaya senja menyelinap masuk ke dalam kabin yang temaram. Kael turun lebih dulu. Gerakannya tangkas dan efisien khas militer. Begitu sepatu botnya menapak tanah, ia berbalik. Tangan besarnya yang kini terbalut sapu tangan sutra robek dengan simpul berantakan—terulur ke arah dalam.Di dalam kereta, Valeriana tertegun menatap tangan itu. Desiran hangat yang asing merambat di dadanya. Dalam novel aslinya, Kael tak pernah melakukan gestur semanis ini. Biasanya, Valeriana asli akan menepis kasar tangan suaminya atau berteriak memanggil pelayan untuk dijadikan pijakan kaki. Namun, sejarah kali ini memilih jalur berbeda.Valeriana meletakkan tangan halusnya di atas telapak tangan Kael yang kasar namun hangat. “Terima kasih,” ucapnya lembut seraya turun.Kael tidak menjawab, hanya memberi anggukan kaku dengan wajah datar bak tembok benteng.Na
Valeriana duduk gelisah. Korset terkutuk ini benar-benar menyiksa. Setiap kali kereta berguncang melewati jalanan berbatu, kawat penyangganya menusuk rusuk tanpa ampun. Rasanya ia ingin sekali bersandar, merosot malas, atau mengangkat kaki ke kursi seperti kebiasaannya dulu saat naik angkot atau taksi online. Namun, itu mustahil. Tanpa smartphone untuk menggulir TikTok demi mengusir canggung, Valeriana akhirnya melakukan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan: mengamati suaminya.Diam-diam, dari balik bulu mata lentik hasil perawatan mahal, ia mencuri pandang. "Gila", batinnya, nyaris menelan ludah. "Ganteng banget."Dari jarak sedekat ini, hanya terpisah ruang kaki sempit. Ketampanan Kael terasa tidak manusiawi. Rahangnya tegas seolah dipahat seniman perfeksionis, hidungnya mancung sempurna, dan kulit eksotisnya yang terpapar matahari medan perang sangat kontras dengan para bangsawan ibu kota yang pucat. Valeriana benar-benar tidak habis pikir, bagaimana mungkin pemilik tubuh aslinya
Pangeran Arthur, yang semula sudah siap melontarkan kalimat sinis berikutnya, mendadak terdiam. Matanya membelalak. Kael, yang menangkap perubahan itu dari sudut matanya, seketika menegang. Apa yang akan Valeriana lakukan? Pikirnya panik. Apakah ia akan melempar sepatu ke Arthur? Atau meludahi Elena?Namun, dugaan Kael meleset jauh. Valeriana menggenggam sisi rok gaun merahnya yang mengembang dengan kedua tangan. Kaki kanannya mundur selangkah, anggun. Lalu, dengan gerakan luwes, meski sedikit terhambat korset sialan yang mencekik pinggang-ia menekuk lutut dan menundukkan kepala dalam-dalam.Ia melakukan curtsey. Sebuah penghormatan khas wanita bangsawan dan sangat dalam, jauh melampaui batas etika biasa. Kepalanya tertunduk hingga dagunya nyaris menyentuh dada."S-saya ... ." Suara Valeriana terdengar, sedikit bergetar, namun jelas. Tidak ada nada tinggi khas Valeriana yang asli. "Saya juga meminta maaf. Saya telah merusak suasana pesta yang indah ini."Suasana mendadak hening. Seand
Pria itu berhenti tepat di batas antara kerumunan bangsawan dan "zona konflik" tempat Valeriana berdiri. Dia adalah Kael de Vallas, suami Valeriana.Jika ilustrasi novel menggambarkan Kael sebagai pria tampan, melihatnya secara langsung terasa seperti serangan jantung visual. Tubuhnya menjulang nyaris seratus sembilan puluh sentimeter dengan bahu lebar yang tegap, terbungkus rapi seragam militer hitam beraksen perak. Namun, detail kecil yang luput dari perhatian orang lain justru membuat Valeriana terpaku. Dada bidang itu naik turun tak beraturan, keringat tipis mengalir di pelipis tegasnya, dan rambut hitamnya sedikit berantakan tertiup angin. Sang "Monster Perang" yang selalu tenang itu baru saja berlari.Valeriana tahu betul, dalam plot aslinya, Kael seharusnya berada di barak militer pinggiran ibu kota. Fakta bahwa ia tiba secepat ini hanya berarti satu hal: ia memacu kudanya seperti orang kesetanan begitu mendengar kabar istrinya kembali membuat masalah.“Yang Mulia Putra Mahkota
PRANG! Bunyi porselen mahal yang menghantam lantai marmer menggema nyaring, membelah keheningan sore. Pecahannya berhamburan, memantulkan sinar matahari layaknya serpihan berlian-indah namun berbahaya. Belum sempat gema itu hilang, jeritan melengking segera menyayat telinga. "KYAAAAA! Panas! Panas sekali!" Di tengah taman istana yang dipenuhi mawar bermekaran, seorang gadis muda berdiri kaku. Napasnya tercekat, sementara matanya mengerjap bingung berusaha mencerna realitas yang bergeser drastis. Namanya Kirana. Setidaknya, itulah yang ia yakini sedetik lalu. Ia ingat betul masih meringkuk di balik selimut kamar kos, ditemani hawa dingin AC suhu enam belas derajat dan keripik pedas usai menamatkan novel romance kerajaan. Namun kini, dingin itu lenyap. Aroma lavender kamarnya berganti udara panas yang menyengat kulit, bercampur wangi mawar pekat dan aroma teh Earl Grey yang menusuk hidung.Jantung Kirana berdegup liar saat menunduk menatap tubuhnya sendiri. Kaus oblong dan celana pe







