Home / Fantasi / Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya / Bab 4. Keheningan di kereta kuda

Share

Bab 4. Keheningan di kereta kuda

Author: Lovely Pearly
last update Last Updated: 2026-01-19 11:45:21

Valeriana duduk gelisah. Korset terkutuk ini benar-benar menyiksa. Setiap kali kereta berguncang melewati jalanan berbatu, kawat penyangganya menusuk rusuk tanpa ampun. Rasanya ia ingin sekali bersandar, merosot malas, atau mengangkat kaki ke kursi seperti kebiasaannya dulu saat naik angkot atau taksi online. Namun, itu mustahil. Tanpa smartphone untuk menggulir TikTok demi mengusir canggung, Valeriana akhirnya melakukan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan: mengamati suaminya.

Diam-diam, dari balik bulu mata lentik hasil perawatan mahal, ia mencuri pandang. "Gila", batinnya, nyaris menelan ludah. "Ganteng banget."

Dari jarak sedekat ini, hanya terpisah ruang kaki sempit. Ketampanan Kael terasa tidak manusiawi. Rahangnya tegas seolah dipahat seniman perfeksionis, hidungnya mancung sempurna, dan kulit eksotisnya yang terpapar matahari medan perang sangat kontras dengan para bangsawan ibu kota yang pucat. Valeriana benar-benar tidak habis pikir, bagaimana mungkin pemilik tubuh aslinya menyia-nyiakan pria selangka ini? Ia justru mengejar Pangeran Arthur, tipe “pangeran glowing rajin skincare”, padahal di rumah ada sosok “alpha male garang tapi soft boy” seperti Kael.

"Dasar rabun," rutuk Valeriana dalam hati. Selera laki-lakinya patut dipertanyakan.

Kael, dengan insting tajam prajurit, tentu sadar sedang diperhatikan. Biasanya tatapan Valeriana penuh cemoohan, namun kali ini berbeda. Tidak ada permusuhan, hanya ... kekaguman? Kael memberanikan diri melirik dan memergoki Valeriana menatapnya tanpa berkedip.

Mata mereka bertemu. Valeriana tersentak seperti maling ayam tertangkap basah. Ia buru-buru memalingkan wajah, pura-pura batuk kecil, lalu menunduk menatap sepatunya. Pipinya memerah karena malu ketahuan fangirling.

Kael mengerutkan kening sambil terus berpikir melihat perubahan sikap Valeria. “Ada apa dengan wanita ini? Demam? Atau menahan amarah?”

Suasana kembali hening, namun lebih canggung. Tak berani menatap wajah suaminya lagi, pandangan Valeriana jatuh pada tangan Kael yang terkepal di lutut. Tangan itu besar, kasar, dan penuh kapalan. Namun, matanya menyipit saat melihat sesuatu di sela telunjuk dan ibu jari kanan Kael. Noda merah segar yang merembes. Darah.

Luka itu tampak baru, mungkin akibat gesekan tali kekang saat memacu kuda tanpa ampun tadi. Kulitnya terbuka dan perih, menodai celana seragam hitam Kael. Kael tampak tak peduli, seolah rasa sakit sudah tak berarti baginya. Namun bagi Valeriana, luka itu sangat mengganggu. Bayangan Kael di akhir novel yang penuh bekas siksaan kembali menghantui.

"Tidak," batinnya tegas. "Aku harus melindunginya mulai dari hal kecil. Kalau luka begini dibiarkan, bisa infeksi atau diamputasi."

Tanpa berpikir panjang, Valeriana menggeser duduknya berpindah ke kursi di samping Kael. Gerakan mendadak itu membuat Kael tersentak, otot-ototnya menegang refleks siap menghadapi serangan cubitan atau pukulan. Namun, Valeriana justru menunduk menatap tangannya.

“Tanganmu,” ucap Valeriana pelan.

Kael mengikuti arah pandangnya. “Ini hanya goresan, Duchess. Tidak perlu dipeduli—”

Kalimatnya terputus saat tangan halus Valeriana menyentuh kulitnya. Sensasi hangat dan lembut itu menyambar seperti sengatan listrik, kontras dengan tangannya yang kasar. Kael refleks ingin menarik tangan.

“Jangan bergerak,” perintah Valeriana. Nadanya bukan bentakan, melainkan omelan ibu yang khawatir. “Lihat, darahnya menetes ke celanamu. Lukanya kotor.”

“Aku baik-baik saja. Nanti kubersihkan di rumah,” sanggah Kael kaku.

“Di rumah masih satu jam lagi. Keburu infeksi,” bantah Valeriana keras kepala. Ia menahan tangan Kael dengan kedua tangan, tak memberi celah untuk kabur.

Tangan kanannya merogoh saku tersembunyi di balik gaun dan mengeluarkan sapu tangan sutra putih bersih. Sulaman benang emas membentuk inisial ‘V & A’ berkilau di sana. Valeriana dan Arthur. Sapu tangan couple sepihak yang ditolak Pangeran, benda yang disulam Valeriana dengan penuh cinta dan harga setara gaji setahun prajurit.

Kael mengenal benda itu. Dadanya berdenyut nyeri. “Gunakan sapu tangan lain,” ucapnya dingin, matanya tertambat pada huruf ‘A’ dengan rasa tak suka. “Itu barang berhargamu untuk Pangeran. Jangan kotori dengan darahku.”

Valeriana terdiam menatap inisial norak itu. "Benar juga. Ini barang keramat Valeriana. Tapi di mataku? Ini cuma kain lap mahal."

“Kau benar,” gumam Valeriana.

Kael tersenyum pahit dalam hati. "Tentu saja. Dia tak rela menodai benda cintanya."

“Ini terlalu besar dan ribet,” lanjut Valeriana santai.

Detik berikutnya, suara robekan kain terdengar nyaring. KREK!

Mata Kael membelalak, nyaris meloncat dari duduknya. Di hadapannya, Valeriana dengan wajah tanpa dosa baru saja merobek sapu tangan sutra itu menjadi dua, tepat memisahkan inisial ‘V’ dan ‘A’ secara brutal.

“Nah, sekarang ukurannya pas,” gumam Valeriana puas. Ia melempar potongan kain berhuruf ‘A’ ke lantai kereta bak tisu bekas, lalu dengan telaten melilitkan sisi kain yang bersih ke tangan Kael.

Kael membeku. Pandangannya bergantian antara potongan huruf ‘A’ yang tergeletak mengenaskan dan wajah Valeriana yang serius membalut lukanya. “Kau ....” Suaranya tercekat. “Kau ... merobeknya?”

“Hm?” Valeriana mendongak sekilas. “Iya. Kenapa? Kurang rapi, ya?”

“Itu untuk Pangeran Arthur. Kau menangis tiga hari tiga malam saat salah satu benang emasnya putus bulan lalu,” ujar Kael pelan, memastikan istrinya waras.

Valeriana menyelesaikan simpul terakhir, lalu menepuk pelan tangan Kael. “Itu masa lalu, Kael,” jawabnya santai, meski jantungnya berdebar memainkan peran ini. Ia menatap mata suaminya dalam-dalam.

“Sekarang, luka di tangan suamiku jauh lebih penting daripada inisial nama pria lain.”

Kael terdiam. Ia menatap perban sutra yang kini ternoda darah, lalu menatap istrinya yang kembali bersandar lega seolah baru menyelamatkan dunia. Logikanya berteriak curiga. Tidak mungkin orang berubah secepat ini. Pasti ada maunya.

“Kenapa kau melakukan ini?” tanya Kael rendah, penuh waspada.

“Apa yang kau inginkan, Valeriana? Perhiasan baru? Gaun baru? Atau kau ingin aku tidur di barak militer agar tak perlu melihat wajahku?”

Pertanyaan itu menusuk hati Valeriana. Sebegitu buruk citranya sampai kebaikan kecil pun dianggap transaksi. Ia menghela napas panjang; kepercayaan memang barang mahal yang sudah lama dibangkrutkan Valeriana asli.

“Aku tidak mau perhiasan,” ucap Valeriana pelan seraya menoleh ke jendela, menatap jalanan menuju kediaman Duke. “Aku juga tidak mau kau tidur di barak.”

Ia kembali menatap Kael, menyunggingkan senyum tipis yang tulus. “Aku cuma ingin kau tidak sakit. Itu saja. Apa seorang istri benar-benar butuh alasan untuk mengobati suaminya?”

Lidah Kael kelu. Semua argumen logisnya runtuh. Perlahan, ia menarik tangan yang terbalut itu dan mendekapnya di dada, seolah melindunginya. Kehangatan dari kain sutra merambat naik, anehnya ikut menghangatkan dadanya yang selama ini membeku.

Sisa perjalanan dihabiskan dalam keheningan yang berbeda. Kael tak lagi menatap jendela. Diam-diam ia memandang perban di tangannya, sesekali melirik wanita di sampingnya yang mulai tertidur ayam karena lelah dengan kepala terangguk-angguk.

Tanpa sadar, Kael menggeser bahunya sedikit. Hanya sedikit. Agar jika kepala istrinya terjatuh, Valeriana akan mendarat di bahu bidangnya yang kokoh, bukan membentur dinding kayu yang keras. Tentu saja, Duke yang penuh gengsi itu tak akan pernah mengakuinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Choi Ruri
akhirnya nemu cerita yg berasa ditulis manusia, bukan hasil terjemahan mesin atau kecerdasan buatan. semangat kak! ditunggu selalu next nya ampe tamat...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 90. Pengakuan Valeriana

    Tatapan Valeriana bergetar nyaris tak terlihat.Lavender.Ia ingat dengan jelas saat menyelipkan kantung kecil berisi bunga lavender itu di bawah bantal Kael. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati agar pria itu bisa tidur lebih nyenyak tanpa terbangun.Namun ia tidak menyadari bahwa rencananya sudah gagal sejak awal.Kael tetap terbangun.Mungkin karena naluri seorang prajurit. Sebanyak apa pun ia tidur dengan nyenyak, jika ada pergerakan sekecil apa pun di sekitarnya, tubuhnya akan otomatis terjaga dan bersiap waspada.“Lalu aku pura-pura tidur,” kata Kael lagi. “Aku ingin tahu apa yang kau lakukan.”Angin bertiup sedikit lebih kencang, menggoyangkan ujung taplak meja.Valeriana menatap mangkuk sup di depannya, tetapi sebenarnya ia tidak benar-benar melihatnya. Kael tidak memalingkan pandangannya sedikit pun.“Aku melihatmu keluar dari kamar,” lanjutnya. “Aku melihatmu menuju sayap timur.”Kael berhenti sejenak. Cukup lama untuk membuat dada Valeriana terasa semakin sesak.“Dan kau

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 89. Kita perlu bicara

    Sebenarnya Kael sangat malas menghadiri pesta jamuan teh para bangsawan seperti itu. Baginya, tidak ada gunanya datang. Kegiatannya hanya minum teh dan berbincang dengan para bangsawan lain atau membahas kerja sama bisnis yang membosankan.Yang paling ia benci adalah sifat para bangsawan di sana yang bermuka dua. Kael tidak suka berhadapan dengan orang-orang seperti itu. Baginya, lebih baik pergi ke medan perang dan menghadapi musuh secara langsung daripada menghadapi orang yang menusuk dari belakang secara diam-diam.Dulu ia datang ke acara semacam itu hanya untuk mengawasi istrinya dari jauh. Saat itu Valeriana masih mengejar Pangeran Arthur. Jadi keberadaannya di sana lebih sering untuk membereskan masalah yang dibuat oleh istrinya.Namun sekarang Valeriana telah berubah. Dan kali ini, justru wanita itu yang mengajaknya pergi bersama ke pesta jamuan teh para bangsawan."Kau mau ikut, kan, suamiku? Ayolah. Aku tidak akan membuat keributan seperti dulu. Aku hanya ingin menikmati pest

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 88. Penyelamat Lucas

    "Suamiku!" teriak Valeriana, memecah suasana tegang di antara Lucas dan Kael.Saat itu juga Lucas menghela napas lega. Jantungnya berdebar kencang karena ia hampir saja membongkar rahasia antara dirinya dan Nyonya Duchess.Ekspresi lega di wajah Lucas tidak luput dari pengamatan Kael. Pria itu semakin yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Valeriana dan Lucas. Ia harus mengetahuinya. Namun Kael tidak berniat memaksa Valeriana. Nanti, ia akan membujuk istrinya perlahan agar mau menceritakan semuanya."Iya, istriku. Kenapa kau berada di sini? Apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Kael lembut.Ia merentangkan kedua tangannya tanpa ragu, meskipun para prajurit dan Lucas masih berada di sana, menyaksikan adegan itu. "Benar-benar ingin pamer kemesraan," cibir Valeriana dalam hati.Baiklah, jika Kael suka melakukan hal seperti itu, maka Valeriana akan mengimbanginya.Dengan manja, Valeriana langsung memeluk Kael erat dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu. Para prajurit,

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 87. Interogasi Kael

    Lucas membeku sepersekian detik. Ah, sialan. Baru saat itu ia sadar bahwa sejak tadi ia terlalu sering menggerakkan jari-jarinya. Tangan kanannya memang terasa sedikit nyeri setelah semalaman menyalin ratusan baris laporan.Lucas segera menggenggam tangannya di belakang punggung. “Tidak apa-apa, Tuan. Hanya sedikit kram.”“Kram?” ulang Kael datar.“Ya, Tuan. Mungkin karena … eh …” Lucas berpikir cepat. “Kemarin saya membantu para prajurit baru berlatih pedang terlalu lama.”Kael tidak langsung menjawab. Tatapannya turun ke arah tangan Lucas yang berusaha disembunyikan di belakang punggung. “Benarkah?”Lucas menelan ludah.“Biasanya orang yang terlalu lama berlatih pedang justru mengeluh bahunya sakit,” lanjut Kael tenang. “Bukan jari-jarinya.”Lucas hampir tersedak oleh napasnya sendiri. Tuan Duke ini benar-benar menyebalkan jika sedang mengamati orang.“Saya juga membantu bagian administrasi sebentar kemarin, Tuan,” tambah Lucas cepat. “Beberapa laporan logistik perlu disalin ulang.”

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 86. Saling menguji

    Valeriana menatap Petrus beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Senyumnya tidak berubah, tetapi matanya mengamati pria tua itu dengan saksama—cara ia berdiri, posisi tangannya, bahkan napasnya yang teratur seperti seseorang yang sudah terbiasa menghadapi interogasi.“Begitu ya?” jawab Valeriana ringan. “Kalau begitu mungkin hari ini aku harus mulai belajar memahami isi ruangan ini.”Beberapa juru tulis yang berada paling dekat langsung menundukkan kepala mereka kembali ke pekerjaan, pura-pura sibuk. Suasana ruangan yang tadinya ramai tiba-tiba terasa lebih sunyi. Hanya suara pena yang kembali menggores perkamen.Petrus tersenyum tipis.“Tentu saja, Nyonya. Namun saya khawatir laporan-laporan ini akan terasa sangat membosankan bagi seseorang yang tidak berkecimpung dalam urusan keuangan.”“Ah, jangan meremehkanku begitu,” balas Valeriana santai. Ia melangkah beberapa langkah mendekati meja kerja Petrus. “Aku hanya ingin tahu bagaimana orang-orang yang bekerja untuk suamiku men

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 85. Mengunjungi Petrus

    “Di mana Lucas?! Kenapa sampai jam segini belum datang juga?” tanya Kael kepada para prajurit yang tengah berlatih.Latihan mereka seketika terhenti. Semua saling berpandangan ketika tuan mereka menanyakan keberadaan Lucas—sang ajudan yang hampir selalu berada di sisinya setiap saat. Kini Kael berdiri sendirian, menatap mereka dengan tatapan tajam.“Kami tidak tahu, Tuan. Pagi ini saya belum melihat Lucas. Biasanya dia sudah berada di sini—”“Hadir, Tuan!!”Suara itu terdengar nyaring dari kejauhan. Lucas berlari tergesa-gesa menghampiri Kael. Ia datang terlambat akibat misi semalam bersama Sang Nyonya untuk menyalin data. Niatnya hanya ingin tidur dua jam dan bangun pukul enam pagi, tetapi tanpa sadar ia baru terbangun saat jarum jam menunjukkan pukul delapan. Dengan panik, ia segera bersiap dan bergegas menuju lapangan latihan.Napasnya terengah-engah ketika akhirnya tiba di hadapan Kael.Kael menatapnya dengan sorot mata curiga. Tidak biasa ajudannya datang terlambat seperti ini. P

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status