Share

Bab 2. Kedatangan sang suami

Penulis: Lovely Pearly
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-19 11:31:33

Pria itu berhenti tepat di batas antara kerumunan bangsawan dan "zona konflik" tempat Valeriana berdiri. Dia adalah Kael de Vallas, suami Valeriana.

Jika ilustrasi novel menggambarkan Kael sebagai pria tampan, melihatnya secara langsung terasa seperti serangan jantung visual. Tubuhnya menjulang nyaris seratus sembilan puluh sentimeter dengan bahu lebar yang tegap, terbungkus rapi seragam militer hitam beraksen perak. Namun, detail kecil yang luput dari perhatian orang lain justru membuat Valeriana terpaku. Dada bidang itu naik turun tak beraturan, keringat tipis mengalir di pelipis tegasnya, dan rambut hitamnya sedikit berantakan tertiup angin. Sang "Monster Perang" yang selalu tenang itu baru saja berlari.

Valeriana tahu betul, dalam plot aslinya, Kael seharusnya berada di barak militer pinggiran ibu kota. Fakta bahwa ia tiba secepat ini hanya berarti satu hal: ia memacu kudanya seperti orang kesetanan begitu mendengar kabar istrinya kembali membuat masalah.

“Yang Mulia Putra Mahkota,” suara Kael rendah, berat, dan sedikit serak. Ia membungkuk hormat—kaku namun sempurna. “Saya mendengar ada keributan yang melibatkan istri saya.”

Pangeran Arthur mendengus seraya melipat tangan di dada dengan angkuh. Tatapannya merendahkan, seolah menilai anjing penjaga yang gagal mendidik majikannya. “Akhirnya kau datang juga, Duke. Aku sudah bosan menunggu. Lihat apa yang dilakukan istri gilamu pada Elena. Dia menyiramnya dengan teh panas. Sengaja. Di depan semua orang.”

Mata abu-abu Kael bergerak pelan, melirik Elena sekilas tanpa minat, sebelum beralih sepenuhnya pada Valeriana.

Saat itu, Valeriana hampir memejamkan mata. Dalam ingatan tubuh aslinya, momen seperti ini selalu menjadi medan perang. Valeriana biasanya akan memaki Kael karena terlambat, menjerit histeris, lalu melayangkan kipas ke wajah suaminya. Kael, pria malang itu, tampak sudah bersiap. Otot rahangnya mengeras dan bahunya menegang, mengenakan zirah tak kasat mata demi menahan amukan verbal istrinya. Wajah datarnya adalah topeng sempurna untuk menutupi lelah dan malu.

"Ya Tuhan ... Kael pasti mengira aku akan memukulnya", batin Valeriana perih.

Saat Arthur kembali melangkah maju dengan wajah merah padam—seolah hendak memaksa Valeriana berlutut secara fisik—naluri bertahan hidup Kirana mengambil alih. Ia tidak ingin berdebat, tidak ingin menjadi tontonan. Ia hanya menginginkan perlindungan. Dan di tempat ini, hanya ada satu tempat yang terasa aman.

Tanpa berpikir dua kali, Valeriana memutar tubuh. Bukan menjauh, melainkan mendekat.

“Kael ....”

Nama itu meluncur sebagai bisikan rapuh. Ia menerobos jarak di antara mereka, berputar cepat, lalu bersembunyi di balik punggung lebar suaminya.

Detik itu juga, dunia seakan berhenti berputar bagi Kael. Tubuh tegap sang Panglima Perang membeku total. Mata abu-abunya yang dingin melebar sedikit—reaksi mikro yang nyaris mustahil muncul pada pria setenang dirinya. Ia merasakan sesuatu yang asing. Jemari kecil yang mencengkeram erat ujung jas belakangnya dengan gemetar, serta kehangatan tubuh seseorang yang menempel rapat, menjadikan punggungnya tameng hidup.

Istrinya tidak memukul, tidak memaki, dan tidak mendorongnya demi mengejar Pangeran Arthur.

“Lindungi aku ...,” bisik Valeriana lirih, membenamkan wajah ke kain seragam Kael yang beraroma maskulin—campuran angin, keringat tipis, dan kayu pinus yang menenangkan. “Pangeran ... dia menakutkan.”

Kalimat sederhana itu terdengar seperti dentuman meriam di telinga Kael. Istrinya takut pada Pangeran? Pangeran yang selama ini dipuja Valeriana siang dan malam? Kini, wanita angkuh itu justru berlindung padanya—pada suami yang kerap ia sebut sampah.

Jari-jari Kael mengepal di sisi tubuh. Otaknya yang terbiasa merancang strategi perang mendadak kosong. Tidak ada manual militer yang mengajarkan cara menghadapi istri galak yang tiba-tiba berubah menjadi kelinci ketakutan.

“Duke Vallas!” teriak Pangeran Arthur, memecah keheningan ganjil itu. Wajahnya tersinggung melihat Valeriana justru lari ke arah Kael. “Apa yang kau lakukan?! Jangan halangi aku! Istrimu harus diberi pelajaran sopan santun sekarang juga!”

Arthur melangkah agresif, tangannya terulur hendak meraih Valeriana. Namun, sebuah gerakan kilat menghentikannya.

Kael menggeser tubuh, hanya sedikit, namun cukup untuk memblokir jalan Arthur sepenuhnya. Gerakan itu naluriah dan protektif. Meski tangannya tidak terangkat menyerang, aura di sekelilingnya berubah drastis. Udara terasa lebih berat. Tatapan mata abu-abunya menajam setajam mata elang yang sarangnya diganggu.

“Maafkan saya, Yang Mulia,” ucap Kael. Suaranya tenang, namun dinginnya menusuk tulang. “Namun istri saya sedang gemetar.”

Arthur tertegun. “Apa?”

“Dia ketakutan,” lanjut Kael tanpa bergeming. Ia merasakan cengkeraman jemari Valeriana di punggungnya semakin erat, memicu naluri purbanya untuk menghancurkan siapa pun yang membuat tubuh kecil itu bergetar.

“Dia menyiram Elena!” bentak Arthur. “Dia pelaku, bukan korban! Kenapa kau melindunginya?!”

“Saya tidak buta, Yang Mulia. Saya melihat noda teh itu,” jawab Kael datar. Ia pria yang adil, tetapi ia juga seorang suami.

Perlahan, Duke Kael menegakkan tubuh, bersiap melakukan prosedur standar situasi ini. Ini bukan kali pertama Valeriana berulah, dan bukan kali pertama pula ia harus merendahkan harga diri untuk membereskan kekacauan. Biasanya skenarionya sama: Valeriana memaki, Kael meminta maaf, dan Valeriana meludahinya.

Kael menarik napas dalam, mengabaikan perih di hati yang sudah kebal. Ia melepaskan tautan tangan dari gagang pedang, lalu menatap Arthur dengan sorot profesional.

“Sekali lagi,” suara bariton Kael memecah keheningan, penuh penekanan. “Atas nama Keluarga Vallas, saya memohon maaf sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan istri saya di hari bahagia Anda, Yang Mulia.”

Pinggang kokoh Kael perlahan membungkuk. Itu adalah gerakan penghormatan sempurna yang menyakitkan. Seorang panglima perang penjaga perbatasan utara harus membungkuk dalam-dalam hanya karena kecemburuan buta istrinya.

Di balik punggung Kael, Valeriana merasakan otot-otot punggung suaminya menegang. Hatinya mencelos. Tidak. Dalam novel, Valeriana akan berdiri angkuh sambil mengipasi wajah, membiarkan suaminya dipermalukan sementara orang-orang menertawakan nasib sang Duke.

"Aku tidak bisa membiarkan dia menanggung ini sendirian", batin Valeriana. "Dia suamiku sekarang. Kalau dia malu, aku juga malu. Kalau dia merendah, aku tidak boleh mendongak."

Rasa hormat dan iba menggerakkan tubuh Valeriana sebelum otaknya sempat melarang. Saat Kael masih dalam posisi membungkuk, ia melepaskan cengkeramannya, melangkah ke samping, dan berdiri sejajar dengan suaminya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 90. Pengakuan Valeriana

    Tatapan Valeriana bergetar nyaris tak terlihat.Lavender.Ia ingat dengan jelas saat menyelipkan kantung kecil berisi bunga lavender itu di bawah bantal Kael. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati agar pria itu bisa tidur lebih nyenyak tanpa terbangun.Namun ia tidak menyadari bahwa rencananya sudah gagal sejak awal.Kael tetap terbangun.Mungkin karena naluri seorang prajurit. Sebanyak apa pun ia tidur dengan nyenyak, jika ada pergerakan sekecil apa pun di sekitarnya, tubuhnya akan otomatis terjaga dan bersiap waspada.“Lalu aku pura-pura tidur,” kata Kael lagi. “Aku ingin tahu apa yang kau lakukan.”Angin bertiup sedikit lebih kencang, menggoyangkan ujung taplak meja.Valeriana menatap mangkuk sup di depannya, tetapi sebenarnya ia tidak benar-benar melihatnya. Kael tidak memalingkan pandangannya sedikit pun.“Aku melihatmu keluar dari kamar,” lanjutnya. “Aku melihatmu menuju sayap timur.”Kael berhenti sejenak. Cukup lama untuk membuat dada Valeriana terasa semakin sesak.“Dan kau

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 89. Kita perlu bicara

    Sebenarnya Kael sangat malas menghadiri pesta jamuan teh para bangsawan seperti itu. Baginya, tidak ada gunanya datang. Kegiatannya hanya minum teh dan berbincang dengan para bangsawan lain atau membahas kerja sama bisnis yang membosankan.Yang paling ia benci adalah sifat para bangsawan di sana yang bermuka dua. Kael tidak suka berhadapan dengan orang-orang seperti itu. Baginya, lebih baik pergi ke medan perang dan menghadapi musuh secara langsung daripada menghadapi orang yang menusuk dari belakang secara diam-diam.Dulu ia datang ke acara semacam itu hanya untuk mengawasi istrinya dari jauh. Saat itu Valeriana masih mengejar Pangeran Arthur. Jadi keberadaannya di sana lebih sering untuk membereskan masalah yang dibuat oleh istrinya.Namun sekarang Valeriana telah berubah. Dan kali ini, justru wanita itu yang mengajaknya pergi bersama ke pesta jamuan teh para bangsawan."Kau mau ikut, kan, suamiku? Ayolah. Aku tidak akan membuat keributan seperti dulu. Aku hanya ingin menikmati pest

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 88. Penyelamat Lucas

    "Suamiku!" teriak Valeriana, memecah suasana tegang di antara Lucas dan Kael.Saat itu juga Lucas menghela napas lega. Jantungnya berdebar kencang karena ia hampir saja membongkar rahasia antara dirinya dan Nyonya Duchess.Ekspresi lega di wajah Lucas tidak luput dari pengamatan Kael. Pria itu semakin yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Valeriana dan Lucas. Ia harus mengetahuinya. Namun Kael tidak berniat memaksa Valeriana. Nanti, ia akan membujuk istrinya perlahan agar mau menceritakan semuanya."Iya, istriku. Kenapa kau berada di sini? Apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Kael lembut.Ia merentangkan kedua tangannya tanpa ragu, meskipun para prajurit dan Lucas masih berada di sana, menyaksikan adegan itu. "Benar-benar ingin pamer kemesraan," cibir Valeriana dalam hati.Baiklah, jika Kael suka melakukan hal seperti itu, maka Valeriana akan mengimbanginya.Dengan manja, Valeriana langsung memeluk Kael erat dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu. Para prajurit,

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 87. Interogasi Kael

    Lucas membeku sepersekian detik. Ah, sialan. Baru saat itu ia sadar bahwa sejak tadi ia terlalu sering menggerakkan jari-jarinya. Tangan kanannya memang terasa sedikit nyeri setelah semalaman menyalin ratusan baris laporan.Lucas segera menggenggam tangannya di belakang punggung. “Tidak apa-apa, Tuan. Hanya sedikit kram.”“Kram?” ulang Kael datar.“Ya, Tuan. Mungkin karena … eh …” Lucas berpikir cepat. “Kemarin saya membantu para prajurit baru berlatih pedang terlalu lama.”Kael tidak langsung menjawab. Tatapannya turun ke arah tangan Lucas yang berusaha disembunyikan di belakang punggung. “Benarkah?”Lucas menelan ludah.“Biasanya orang yang terlalu lama berlatih pedang justru mengeluh bahunya sakit,” lanjut Kael tenang. “Bukan jari-jarinya.”Lucas hampir tersedak oleh napasnya sendiri. Tuan Duke ini benar-benar menyebalkan jika sedang mengamati orang.“Saya juga membantu bagian administrasi sebentar kemarin, Tuan,” tambah Lucas cepat. “Beberapa laporan logistik perlu disalin ulang.”

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 86. Saling menguji

    Valeriana menatap Petrus beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Senyumnya tidak berubah, tetapi matanya mengamati pria tua itu dengan saksama—cara ia berdiri, posisi tangannya, bahkan napasnya yang teratur seperti seseorang yang sudah terbiasa menghadapi interogasi.“Begitu ya?” jawab Valeriana ringan. “Kalau begitu mungkin hari ini aku harus mulai belajar memahami isi ruangan ini.”Beberapa juru tulis yang berada paling dekat langsung menundukkan kepala mereka kembali ke pekerjaan, pura-pura sibuk. Suasana ruangan yang tadinya ramai tiba-tiba terasa lebih sunyi. Hanya suara pena yang kembali menggores perkamen.Petrus tersenyum tipis.“Tentu saja, Nyonya. Namun saya khawatir laporan-laporan ini akan terasa sangat membosankan bagi seseorang yang tidak berkecimpung dalam urusan keuangan.”“Ah, jangan meremehkanku begitu,” balas Valeriana santai. Ia melangkah beberapa langkah mendekati meja kerja Petrus. “Aku hanya ingin tahu bagaimana orang-orang yang bekerja untuk suamiku men

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 85. Mengunjungi Petrus

    “Di mana Lucas?! Kenapa sampai jam segini belum datang juga?” tanya Kael kepada para prajurit yang tengah berlatih.Latihan mereka seketika terhenti. Semua saling berpandangan ketika tuan mereka menanyakan keberadaan Lucas—sang ajudan yang hampir selalu berada di sisinya setiap saat. Kini Kael berdiri sendirian, menatap mereka dengan tatapan tajam.“Kami tidak tahu, Tuan. Pagi ini saya belum melihat Lucas. Biasanya dia sudah berada di sini—”“Hadir, Tuan!!”Suara itu terdengar nyaring dari kejauhan. Lucas berlari tergesa-gesa menghampiri Kael. Ia datang terlambat akibat misi semalam bersama Sang Nyonya untuk menyalin data. Niatnya hanya ingin tidur dua jam dan bangun pukul enam pagi, tetapi tanpa sadar ia baru terbangun saat jarum jam menunjukkan pukul delapan. Dengan panik, ia segera bersiap dan bergegas menuju lapangan latihan.Napasnya terengah-engah ketika akhirnya tiba di hadapan Kael.Kael menatapnya dengan sorot mata curiga. Tidak biasa ajudannya datang terlambat seperti ini. P

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status